Al-Baqarah ayat 122

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
April 19, 2011
0 Comments
2822 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 122

 

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُواْ نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

[Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah mengutamakan kalian atas seluruh alam.]

[O children of Israel, call to mind My favor which I bestowed on you and that I made you excel the nations.]

 

1). Ayat ini persis sama dengan ayat 47 dan mirip dengan ayat 40. Kedua ayat terakhir ini (47 dan 40) merupakan pembukaan dan sekaligus tema utama yang Allah tetapkan dalam pembicaraan soal Bani Israil di sepanjang ayat-ayat berikutnya sampai ayat 123. Sekarang diulangi kembali sebelum ditutup seluruh rangkaian cerita, agar kita tidak lepas konteks dalam memahami seluruh rangkaian ayat-ayat tersebut. Bahwa tujuan cerita ini ialah untuk mengingatkan kita—para pembaca al-Qur’an—tentang suatu wangsa manusia yang Allah hadirkan dengan bermula dari seorang individu luar biasa yang bernama Nabi Ibrahim, melalui anaknya, Ishaq. Dan karenanya Allah menyebutnya wangsa yang utama di atas seluruh alam. Tetapi, pada perjalanan sosiologis, politis dan historisnya, wangsa yang lahir dari rahim kenabian itu justru berubah menjadi penantang uatama para nabi. Sebahagian nabi mereka dustakan, sebahagian lainnya lagi bahkan mereka bunuh (ayat 87). Kalau toh mereka menerima agama yang dibawa oleh nabi tersebut, mereka distorsikan, deviasikan, dan biaskan terlebih dahulu, sebelum mereka distribusikan dari generasi ke generasi. Dengan watak pribadi dan ajaran agama yang sudah rusak seperti inilah mereka berjumpa Nabi Muhammad—keturunan Nabi Ibrahim dari pihak Ismail—di Madinah. Perjumpaan ini melahirkan gesekan yang amat serius dan prinsipil, apalagi dengan menggandeng orang-orang munafik yang ada di Madinah. Nabi akhirnya dipaksa untuk bekerja keras menghadapi mereka dari berbagai sisi. Sampai Allah memberikan pernyataan akhir kepada Rasul-Nya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti millah (pola hidup atau agama) mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan jika seandainya kamu benar-benar mengikuti hawa nafsu (kehendak) mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (ayat 120)

 

2). Allah tidak ingin kejadian itu juga terjadi pada diri Nabi Muhammad dan ajaran agama yang dibawanya. Dengan demikian tujuan penceritaan ini bukanlah untuk Bani Israil (ingat, Bani Isail tidak percaya kepada Nabi Muhammad dan al-Qur’an). Tujuan penceritaan ini adalah semata untuk kaum Muslim, agar mereka tindak mengulangi jejak Bani Israil dalam menyikapi dan mewarisi Rasul dan risalah-nya. Karena sikap yang positif terhadap nabi dan risalah-nyalah yang menyebabkan penganutnya menjadi mulia. Kepada Bani Israil Allah mengatakan: وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (wa annĭy fadhdhaltukum ‘alāl-‘ālamĭyn, dan sungguh Aku telah mengutamakan kalian atas seluruh alam). Kepada kaum Muslim Allah mengatakan (3:110): كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ (kuntum khayr ummatin ukhrijat linnās, kaian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk seluruh manusia). Tetapi karena Bani Israil menyalahi tugas ilahinya, bermula dengan menetang dan mengkhianati Khalifah Ilahi-nya, maka Allah menistakannya. “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kenistaan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (3:112) Lalu bagaimana dengan kaum Muslim? Coba perhatikan ayat yang barusan kita kutip (3:112) dan ayat yang mempredikati kaum Muslim sebagai umat terbaik (3:110), jaraknya cuma 1 (satu) ayat, bukan? Apa artinya ini? Siapapun Anda, pasti bisa mengetahui maksudnya. Yakni, kalau kaum Muslim juga berbuat seperti Bani Israil, mereka pun niscaya akan dihinakan dan dinistakan dimana saja mereka berada.

 

3). Di sepanjang cerita Bani Israil ada limabelas kali kata إِذْ (idz, ketika) muncul di awal ayat. Kalau tiap kata إِذْ (idz, ketika) kita asumsikan satu tema, berarti setidaknya ada limabelas tema yang dibahas sejauh ini. Dan yang terakhir dan sekaligus dibahas dua kali adalah yang berkenaan dengan pentingnya berpegang kepada Kitab Suci. “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kalian dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (lantas Kami berfirman): ‘Peganglah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!’ Mereka menjawab: ‘Kami mendengarkan tetapi kami mendurhakai’. Dan telah diresapkan ke dalam jiwa mereka itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: ‘Alangkah jahatnya perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kalian beriman (kepada Taurat)’.” (2:93, lihat juga 63). Jelas sekali bahwa sumber masalah terbesar mengapa Bani Israil menjadi wangsa yang keras kepala, mendustakan dan membunuh nabi-nabi, merusak risalah kenabian yang bersifat spiritualistik (menyembah hanya kepada Allah) menjadi materialistik (menyembah patung emas anak sapi), sehingga menjadi wangsa yang terhinakan, ialah karena mereka tidak berpegang teguh pada Kitab Suci. Mereka mengaku mengimaninya, tetapi mereka tidak menghiraukan kandungannya. Kitab Suci yang dipaksa bersujud kepadanya, dan bukan mereka yang memaksa diri bersujud kepada Kitab Suci: “Mereka menjawab: ‘Kami mendengarkan tetapi kami mendurhakai’.” Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya distorsi, deviasi, dan bias pada risalah agama samawi ibrahimik. Artinya, apa yang mereka praktekkan, kendati mengaku sebagai perwujudan nyata dari Kitab Suci, tapi faktanya sungguh berbeda jauh dari apa yang dirintis oleh Nabi Ibrahim dan keluarga sucinya. Dalam kaitan inilah di ayat 124 mendatang kita akan disuguhi cerita tentang risalah Nabi Ibrahim yang sesungguhnya, sehingga tuduhan al-Qur’an tidak bersifat semena-mena. Maka mengikuti certa tentang Nabi Ibrahim akan membantu kita mengindentifikasi kesalahan-kesalahan fatal yang telah dilakukan Bani Israil, seperti diterangkan di ayat-ayat sebelumnya. “Sesungguhnya al-Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israil sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya. Dan sesungguhnya (al-Qur’an) itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan perkara diantara mereka dengan keputusan-Nya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Sebab itu bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya kamu (Muhammad) berada di atas kebenaran yang nyata.” (27:76-79)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Apa yang terjadi pada diri kita (individu atau kelompok) mencerminkan siapa diri kita. Kalau kita terhinakan, itu karena kita sendiri menyimpang dari jalan kemuliaan. Dan orang atau kelompok yang hina hanya akan ‘memuliakan’ orang atau kelompok lain yang juga hina. Bani Israil terhinakan karena menyimpang dari risalah kenabian. Maka siapapun (individu atau kelompok) yang mendukung perbuatan hina Bani Israil, pasti juga telah menyimpang dari risalah agamanya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply