Al-Baqarah ayat 118

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
April 11, 2011
0 Comments
1565 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 118

 

وَقَالَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ لَوْلاَ يُكَلِّمُنَا اللّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

[Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang kepada kami tanda kekuasaan-Nya?” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; kalbu mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami (melalui Kitab Suci) kepada kaum yang yakin.]

[And those who have no knowledge say: Why does not Allah speak to us or a sign come to us? Even thus said those before them, the like of what they say; their hearts are all alike. Indeed We have made the communications clear for a people who are sure.]

 

1). Di ayat 116 dikatakan: “Mereka berkata: ‘Allah mempunyai anak’ …”. Di ayat 118 ini Allah merekam komentar mereka selanjutnya: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang kepada kami tanda-tanda kekuasaan-Nya?” Komentar ini bukanlah baru. Komentar serupa sudah kita dengarkan dari Bani Israil pada zaman Nabi Musa, “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sampai kami melihat Allah dengan jelas” (2:55). Walaupun kalimat-kalimatnya kelihatan berbeda tetapi kalau kita renungkan secara saksama niscaya kita akan menyadari bahwa kandungan kalimat-kalimat itu pada hakikatnya sama. Itulah sebabnya Allah menyimpulkan begini: “Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu”. Artinya, dari waktu ke waktu, zaman boleh berganti, nabi dan rasul datang dan pergi, namun pandangan ketuhanan mereka ternyata tetap tidak berubah. Mereka tetap memperlakukan Tuhan seperti manusia biasa. Mereka memandang Tuhan dengan kacamata antropomorfis (tasybih), Tuhan yang terperangkan ke dalam ruang-waktu dan menyejarah. Mereka (yang berpandangan seperti itu) bisa datang dari kaum, bangsa, negeri, dan generasi yang berbeda namun pada dasarnya, kata Allah di ayat ini, “hati mereka serupa”. Yaitu sama-sama tidak mampu menjangkau hakikat ketuhanan dengan benar. Sama-sama tidak berhasil mengenal Allah dengan kacamata yang bening. Tidak salah jika Allah kemudian menggelari mereka sebagai الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ (alladzĭyna lā ya’lamŭwn, orang-orang yang tidak mengetahui). “Tidakkah kalian perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (31:20).

 

2). Ketika Bani Israil meminta Nabi Musa agar memperlihatkan Allah kepada mereka dengan jelas, dengan mata kepala, tanpa mereka sadari mereka telah menempatkan Tuhan seperti objek-objek spasia-temporal lainnya yang punya materi dan bentuk yang menerima cahaya dari luar diri-Nya. Begitu juga orang-orang yang tidak berilmu lainnya yang diceritakan di ayat ini. Mereka mengasumsikan Allah dengan asumsi-asumsi manusiawi, menganggap Tuhan ‘bisa’ berbicara seperti kawan-kawannya berbicara kepada mereka. Mereka lupa bahwa wicara itu adalah material yang juga merupakan produk material. Wicara adalah konstruksi bunyi. Bunyi ada karena ada getaran. Getaran ada karena adanya minimal dua macam benda material yang bersinggungan satu sama lain. Bunyi yang kita dengar adalah hasil getaran yang merambat melalui udara yang kemudian diterima oleh gendang telinga kita. Saat mereka mengatakan “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami”, yang mereka maksudkan adalah agar Allah diatur oleh makhluk-Nya yang bernama getaran, bunyi, gelombang, dan udara. Kalau Allah diatur oleh makhluk-Nya, maka masih pantaskan Dia disebut Tuhan? Lalu bagaimana  dengan ayat-ayat al-Qur’an yang dengan jelas menyebut Allah “berbicara”? Semua perbuatan manusiawi Allah yang tersebut di dalam Kitab Suci-Nya harus dikembalikan kepada ayat ini: “…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (42:11). Maksudnya, setiap perbuatan manusiawi Allah tidak boleh dipersepsi sama dengan persepsi kita pada perbuatan manusia. Dengan pendekatan seperti inilah kita harus memahami ayat berikut: “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung” (4:163-164).

 

3). Mereka (kaum Musyrik dan orang yang sefaham dengannya) juga berkata: “atau (menagapa tidak) datang kepada kami tanda kekuasaan-Nya?”.  Frase “tanda kekuasaan-Nya” merupakan terjemahan bebas (versi Indonesia) dari kata aslinya: آيَةٌ (āyatan), yang di Indonesia—dalam kaitannya dengan isi Kitab Suci al-Qur’an—lebih populer dengan sebutan “ayat”.  Untuk itu ada dua makna yang bisa kita tangkap dari penggunaan آيَةٌ (āyatan) di sini. Pertama, mereka maunya diturunkan juga kepadanya Kitab Suci seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Sehingga dengan begitu mereka juga bisa melaksanakan tugas-tugas kenabian tanpa perlu menjadi pengikut Nabi. Dan tanpa mereka sadari, permintaan mereka itu justru menunjukkan ketidakfahamannya terhadap konsep kenabian. Kalau konsep kenabian saja mereka tidak faham, lalu bagaimanan mungkin mereka bisa menerima wahyu. Selain itu, motif mereka adalah ketidaksenangan, bahkan dendam kesumat, kepada Nabi. Mereka sama sekali tidak mengerti bahwa bagaimana mungkin wahyu diturunkan kepada seseorang yang hendak membalaskan dendamnya kepada orang-orang suci. Kebenaran tidak akan pernah bersua dengan kebatilan, sebagaimna terang-benderang tidak akan pernah bersua dengan gelap-gulita. “Katakanlah: ‘Siapakah Tuhan langit dan bumi?’ Jawabnya: ‘Allah.’ Katakanlah: ‘Maka patutkah kalian mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?’. Katakanlah: ‘Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?’ Katakanlah: ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa’.” (13:16)

Kedua, harapan mereka agar diturunkan juga mukjizat kepada Nabi Muhammad sehingga mereka bisa melihatnya langsung sebagaimana para pengikut nabi-nabi terdahulu yang menyertai nabinya juga menyaksikan keluarbiasaan seperti itu. Permintaan ini sebetulnya pengulangan dari apa yang sudah terjadi di Mekah, ketika tokoh-tokoh Quraisy penentang Nabi memintanya mendatangkan kepada mereka tanda kenabian, yang kemudian Nabi ‘mendemonstrasikan’ mukjizatnya dengan membelah bulan sebanyak dua kali—kejadian ini menjadi sebab turunnya ayat 1-2 dari Surah al-Qamar (54). Permintaan mereka ini lagi-lagi menunjukkan ketidakfahaman mereka terhadap konsep kenabian. Kenabian adalah pelaksanaan tugas bimbingan, pendidikan, pembinaan, dan pencerahan jiwa manusia, dan bukan ‘mendemonstrasikan’ mukjizat-mukjizat. Maka inti kenabian terletak pada AJARAN-nya, bukan pada mukjizatnya. Mukjizat diberikan kepada para nabi dalam keadaan “terpaksa” dan terdesak”. Itu sebabnya, mukjizat datangnya selalu dalam bentuk spontan. Itu juga sebabnya mengapa ayat 118 ini ditutup dengan pernyataan tegas: قَدْ بَيَّنَّا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ [qad bayyannāl- āyāti liqawmin yŭwqinŭwn, sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami (melalui Kitab Suci) kepada kaum yang yakin]. Artinya, untuk mengimani kebenaran akan kenabian cukup dengan mempelajari dengan sungguh-sungguh Kitab Suci tersebut. Lagi-lagi pantas kalau Allah menyebut mereka (kaum Musyrik dan orang-orang yang sefaham dengannya) ini sebagai الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ (alladzĭyna lā ya’lamŭwn, orang-orang yang tidak mengetahui). “Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (39:9)

Karena kata آيَةٌ (āyatan) ini adalah dalam bentuk tunggal, maka sangat mungkin yang mereka maksud adalah yang kedua. Semua kata “ayat”, kalau itu merujuk kepada al-Qur’an secara utuh, pada umumnya menggunakan bentuk jamak: آيَات (āyātun), termasuk yang ada di penghujung ayat 118 ini. “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (16:105)

 

4). Ketidakpuasan disertai sikap ‘mempermainkan’ nabi seperti itu selalu ada di sepanjang sejarah kenabian. Maka, nama dan generasi dari tokoh-tokoh penentang itu boleh berbeda, tetapi ‘penyakit’ jiwa mereka tetap sama. كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ (kadzālika qālal-ladzĭyna min qabliɦim mitsla qawliɦim tasyābaɦat qulŭwbuɦum, demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; qalbu mereka serupa). Penekanan harus diberikan pada anak kalimat تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ (tasyābaɦat qulŭwbuɦum, qalbu mereka serupa). Kalau orang-orang bejat sepanjang sejarah kemanusiaan mempunyai kalbu (jiwa, hati) yang sama, berarti oran-orang saleh juga begitu. Postur, generasi, dan identitas individual dari para nabi, rasul, dan orang saleh boleh berbeda, namun تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ (tasyābaɦat qulŭwbuɦum, qalbu mereka serupa). Dari sini kita bisa menarik garis demarkasi sepanjang kenabian bahwa di mana ada nabi, rasul, dan orang saleh yang berjiwa suci, maka di situ juga ada musuh-musuh mereka yang berjiwa bejat, baik dari kalangan kuffar (kafir) ataupun dari kalangan munafiq (hipokrit). Karena pembahasan kita sejauh ini adalah tentang Bani Israil kemudian masuk ke kedatangan Nabi dan Rasul terakhir dari Bani Ismail, menunjukkan bahwa apa yang terjadi pada Nabi Musa terjadi juga pada Nabi Muhammad. Ketika Nabi Musa dikhianati Khalifah Ilahinya, Nabi Muhammad juga dikhianati Khalifah Ilahinya. Ketika Nabi Musa ‘ditusuk dari belakang’ oleh pengikutnya sendiri dari kalangan Bani Israil, Nabi Muhammad pun diperlakukan sama oleh pengikutnya dari Bani Ismail. Zaman dan tokoh pelakunya berbeda tapi تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ (tasyābaɦat qulŭwbuɦum, qalbu mereka serupa). “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (6:112) Dan juga: “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang bejat. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” (25:31).

AMALAN PRAKTIS

Allah menciptakan manusia dalam rupa dan warna yang berbeda-beda. Tetapi Allah menjadikan padanya JIWA yang sama. Pada perkembangannya, jiwa itu bertumbuh menjadi dua jenis: baik dan buruk. Yang baik menjadi pengikut dan penolong para nabi dan orang saleh. Yang buruk menjadi pengikut dan penolong para tiran dan diktator. Maka kenalilah JIWA anda melalui kejadian-kejadian penting yang terjadi di berbagai tempat di dunia ini.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply