Al-Baqarah ayat 114

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
April 5, 2011
6 Comments
2924 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 114

 

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَاجِدَ اللّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُوْلَـئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَا إِلاَّ خَآئِفِينَ لهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

[Dan siapakah yang lebih zalim ketimbang orang yang menghalangi (manusia) dari mesjid-mesjid Allah untuk disebut nama-Nya di situ, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak pantas memasukinya, kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Bagi mereka, di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang besar].

[And who is more unjust than he who prevents (men) from the masjids of Allah, that His name should be remembered in them, and strives to ruin them? (As for) these, it was not proper for them that they should have entered them except in fear; they shall meet with disgrace in this world, and they shall have great chastisement in the hereafter].

 

1). Coba perhatikan runtutan ayat, seakan-akan tidak bersambung dengan ayat-ayat sebelumnya. Yang tadinya berbicara tentang perdebatan segitiga Yahudi-Nasrani-Islam, tiba-tiba sekarang berbicara soal masjid. Kalau kita membaca beberapa versi asbabunnuzul (sebab-sebab turunnya ayat), ada yang menilai bahwa ayat ini turun berkenan dengan larangan tokoh-tokoh kafir Quraisy Mekah kepada kaum Muslim untuk memasuki Masjidil Haram pada tahun ke-7 Hijriyah yang kemudian menjadi pencetus lahirnya Perjanjian Hudaibiyah. Artinya di sini tidak ada Yahudi dan Nashrani yang terlibat. Yang ada ialah Arab Quraisy dan Arab Badui yang bernegosiasi dengan Rasulullah sebagai pemimpin rombongan kaum Muslim pada waktu itu. Tetapi Ibnu Abbas mengatakan, seperti dikutip al-Wahidi, bahwa ayat ini bercerita soal kedatangan Thithus ar-Rumi bersama pasukannya dari kalangan Nashrani Romawi ke Yerussalem untuk menyerang Bani Israil. Setelah mengalahkan orang-orang Yahudi di sana, pasukan Romawi kemudian merobohkan Baytul Maqdis dan membakar Taurat. Tak masalah. Kedua versi ini bisa termuat di dalam ayat ini. Karena bukankah kata masji di ayat ini memang menggunkan bentuk jamak مَسَاجِدَ (masājid, masjid-masjid). Sehingga bisa bermakna Masjidil Haram di Mekah, Masjidil Aqsha di Yerussalem, Masjid Nabawi di Madinah, bahkan masjid-masjid manapun di dunia ini. “….Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (22:40)

 

2). Tetapi karena setiap ayat selalu terkait, langsung atau tidak langsung, dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, maka bisa dipastikan bahwa ayat ini pun ada hubungannya dengan ayat-ayat yang telah dibahas sebelumnya. Yaitu tentang klaim sepihak kaum Yahudi dan Nashrani, tanpa menutup fakta kejadian di seputar lahirnya Perjanjian Hudaibiyah. Kata kuncinya ada di kata مَسَاجِدَ (masājid, masjid-masjid). Kata ini berasal dari kata dasar  يسجد – سجد (sajada-yasjudu) yang berarti “bersujud” atau melakukan perbuatanالسُّجُود  (as-sujŭwd, sujud). Tempat “bersujud” disebut مَسْجِد (masjid, masjid).

Lalu apa yang dimaksyd dengan “sujud” (yang kemudian membutuhkan tempat yang disebut masjid) di sini? Baca kembali rangkaian pembicaraan tentang Khalifah Ilahi di ayat 30-34. Di ayat 34 Allah berfirman: “Dan (ingatlah) tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kalian kepada Adam, maka mereka pun bersujud kecuali Iblis; ia enggan dan istikbar (arogan) dan ia (pun) menjadi kafir”.  Bani Israil menolak “bersujud” kepada Khalifah Ilahi pilihan Allah dan Rasul-Nya buat mereka—yaitu Harun—dengan berpaling kepada Samiri sambil mengambil الْعِجْل (al-‘ijl, patung anak lembu yang terbuat dari emas) sebagai sembahannya. Belakangan kaum Yahudi dan Nashrani menolak “bersujud” kepada nubuwat kedatangan Nabi Muhammad serta Kitab Suci yang dibawanya seraya mengklaim satu sama lain sebagai yang paling benar. Padahal nubuwat itu tertera dengan jelas di dalam Kitab Suci mereka masing-masing (Taurat dan Injil). Dengan begitu, “bersujud” adalah istilah lain dari “…siapa saja yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, dan  ia berbuat baik, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Dengan kata lain “bersujud” ialah menyerahkan wajah (totalitas diri sepenuhnya) kepada Allah. Kaum Yahudi tidak “bersujud” atau tidak “menyerahkan wajahnya kepada Allah” saat menolak Nabi Harun, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad. Kaum Nashrani juga demikian saat menolak kebenaran Nabi Muhammad. Kesimpulannya, siapa saja yang menolak validitas Khalifah Ilahi, maka pada dasarnya tidak “bersujud” dan juga berarti tidak “menyerahkan wajahnya kepada Allah”, walaupun yang bersangkutan rajin melaksanakan praktek-praktek ritual agama. Sebagaimana Iblis yang rajin beribadah ritual kepada Allah, tetapi Allah menggelarinya istikbar dan kafir karena menolak “bersujud” kepada Nabi Adam ketika diperintah. مَسْجِد (masjid, masjid) sebagai tempat “bersujud” dalam pengertian seperti inilah agaknya yang dimaksudkan Allah di ayat 114 ini. Yaitu مَسْجِد (masjid, masjid) yang menjadi tempat berlakunya wilayah kekuasaan Khalifah Ilahi secara sempurna. Dimana di dalam مَسْجِد (masjid, masjid) itulah ada kesatuan gerak diantara seluruh ma’mŭm (pengikut setia Imam) di bawah komando SATU orang IMAM. Imamlah yang yang punya otoritas sepenuhnya kapan harus mulai salat (takbiratul ihram) dan kapan harus selesai salatnya (salam). Imam inilah yang punya kuasa sepenuhnya kapan harus berperang (takbir) dan kapan harus berdamai (salam). Semua anggota jamaah (ma’mŭm) hanya mengikut Imam saja. Siapa yang menolak mengikuti ‘gerak’ Imam berarti keluar dari مَسْجِد (masjid, masjid), keluar dari jamaah, keluar dari wilayah Khalifah Ilahi. Dalam kaitan inilah sehingga Rasulullah saw bersabda: “Salat itu tiangnya agama. Siapa yang menegakkan salat berarti menegakkan agama; dan siapa yang meninggalkannya berarti meruntuhkan agama.” Sebab inti dari salat ialah “bersujud”. Dan karena sistem ini harus berlanjut hingga Hari Kiamat, dengan Khalifah Ilahi yang silih berganti, maka bisa difahami kalau مَسْجِد (masjid, masjid) menggunakan bentuk jamaknya: مَسَاجِدَ (masājid, masjid-masjid). “Tidaklah mungkin orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka menyadari bahwa mereka sendiri ingkar (terhadap kepentingan agama Allah). Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyasaja yang (bisa) memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (9:17-18)

 

3). Dari pembahasan poin 2 kita menemukan makna Islam yang sesungguhnya. Yaitu sebuah ajaran kebenaran berupa sistem hidup yang tertata rapih yang membawa seluruh anasir-anasirnya bergerak dengan disiplin pribadi yang tinggi yang masing-masing menjadikan seluruh totalitas hidupnya “bersujud” kepada Allah swt. Miniasinya terlihat jelas di dalam salat berjamaah di sebuah مَسْجِد (masjid, masjid). Maka orang-orang yang menghalang-halangi manusia memasuki مَسْجِد (masjid, masjid) sama zalimnya dengan orang yang menolak ketika diajak kepada Islam. Coba bandingkan beberapa ayat berikut ini (berturut-turut, 2:114, 2:140, 29:68 dan 61:7): وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَاجِدَ اللّهِ (wa man azhlamu mimman mana’a masājidallah, dan siapakah yang lebih zalim ketimbang orang yang menghalangi (manusia) dari mesjid-mesjid Allah…). وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَادَةً عِندَهُ مِنَ اللّهِ (…wa man azhlamu mimman katama syaɦādatan ‘indaɦu minallaɦ, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?). وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِباً أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءهُ   (wa man azhlamu mimmaniftarā ‘alallahi kadziban aw kadzdzaba bil-haqqi lammā jā’aɦu, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya?…). وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الْإِسْلَامِ (wa man azhlamu mimmaniftarā ‘alallahil-kadziba wa ɦuwa yud’ā ilal-islām, dan siapakah yang lebih zalim ketimbang orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam?…). Kalau kita mencermati ayat-ayat tersebut, niscaya kita akan sampai kepada fahaman bahwa yang dimaksud di situ ialah satu: Islam yang sempurna yang teralegorikan di dalam kata مَسَاجِدَ (masājid, masjid-masjid), yang tidak bisa dimasuki kecuali oleh mereka yang memiliki sikap خَآئِفِينَ (khāifĭyn, penuh rasa takut kepada Allah). Dan siapa yang sengaja menentangnya, dengan menghalang-halangi manusia memasukinya, maka لهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (laɦum fiddun-yā khizyun wa laɦum fil-ākhirati ‘adzābun ‘azhĭym, bagi mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang besar).   

 

 

AMALAN PRAKTIS

Di awal seruannya di Mekah, Nabi menjadikan Masjidil Haram sebagai pusat perhatiannya. Ketika Nabi pertama kali sampai di Yatsrib, yang mula-mula dibangun ialah Masjid Quba. Waktu Nabi pertama kali menyeru umatnya salat lima waktu, qiblat pertamanya ke Masjidil Aqsha. Dan saat memulai pemerintahannya di Madinah, Nabi mengendalikannya dari Masjid Nabawi. Islam adalah masjid. Maka barangsiapa yang meninggalkan masjid, berarti meninggalkan urusan Islamnya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply