Al-Baqarah ayat 113

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
April 2, 2011
0 Comments
1413 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 113

 

وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَىَ شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَى لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ فَاللّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

[Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai sesuatu (dalam kebenaran)“, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu (dalam kebenaran),” padahal mereka (sama-sama) membaca Kitab Suci. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.]

[And the Jews say: The Christians do not follow anything (good) and the Christians say: The Jews do not follow anything (good) while they recite the (same) Book. Even thus say those who have no knowledge, like to what they say; so Allah shall judge between them on the day of resurrection in what they differ.]

 

1). Mari kita kutip kembali ayat 109: “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran….”. Maka berlomba-lombalah tokoh-tokoh Nasrani dan Yahudi datang untuk mempengaruhi Nabi, sambil mengklaim diri masing-masing yang paling benar. Mereka kemudian berkata (ayat 111): “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani. Rabi’ bin Huraimalah—seorang tokoh Yahudi—menyerang orang-orang Nasrani dari Najran: “Kalian tidak punya apa-apa dalam agama. Kalian justru ingkar kepada Nabi Isa dan Injil.” Tokoh Nasrani balik mengumpat Rabi’ bin Huraimalah: “Kalian (kaum Yahudi) yang tidak punya apa-apa dalam agama. Kalian mengingkari Nabi Musa dan Taurat.” Kata Ibnu Abbas, juga al-Wahidi, cela-mencela itu terjadi di depan Nabi, sehingga turunlah ayat 113 ini. Padahal keduanya punya agama yang serupa dan serumpun; sama-sama agama samawi dan sama-sama untuk Bani Israil. Adu klaim seperti ini terjadi karena agama di tangan mereka telah mengalami degradasi sedemikian rupa sehingga “nama” yang disandangkan pada agama tersebut tinggal “identitas” belaka saja yang tidak lagi mencerminkan “nilai”-nya. Telah terjadi inkonsistensi dan kesenjangan yang amat lebar antara “identitas” dan “nilai”; bahkan sangat mungkin “identitas” tersebut sudah kosong dari “nilai”. Dan keadaan seperti ini bukan saja terjadi pada mereka (Yahudi dan Nashrani), tapi sangat mungkin juga terjadi pada agama lain, termasuk Islam.  “Dan mereka berkata: ‘Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya).’ Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (24:47)

 

2). Hebatnya lagi, adu klaim itu justru terjadi pada saat di tangan mereka masing-masing ada Kitab Suci. وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ [wa ɦum yatlŭwnal-kitāba, padahal mereka (sama-sama) membaca Kitab Suci]. Disinilah kita melihat bahwa orang yang membaca Kitab Suci tidak secara otomatis tersinari jiwanya; tidak secara otomatis tertuntun haluan hidupnya. Bagi orang yang seperti ini, Kitab Suci hanya mengambang bagai busa di alam sadarnya. Dibaca, dialunkan, dilantunkan dengan suara yang merdu, bahkan mungkin dihafal, tapi isinya tidak hidup di dalam pikiran mereka. Sangat mungkin Kitab Suci dibaca panjang-panjang, berulang-ulang dan lantang-lantang sambil terisak tersedu saat ibadah suci, tapi ajarannya tidak membumi, tidak hidup dalam kehidupan nyata dan kasat mata. Medan kehidupan Kitab Suci hanya sebatas dinding-dinding tempat ibadah belaka. Kitab Suci hanya menjadi pemantik semangat emosionalitas, padahal sejatinya adalah pembangkit energi rasionalitas. Kitab Suci karenanya bisa menjadi alasan untuk saling menegasikan, saling menyikut, saling menjegal, saling menjatuhkan, seperti yang dipertontonkan oleh kaum Yahudi Madinah dan Nashrani Najran di depan Rasulullah saw. Inilah yang menerangkan mengapa pihak-pihak yang mengklaim diri memegang Kitab Suci yang sama tapi kenyataannya sulit bersatunya dalam cita dan realita. “Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka (masing-masing).” (30:32)

 

3). Allah menyebut mereka sebagai: كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ (kadzālika qālal-ladzĭyna lā ya’lamŭwna mitsla qawliɦim, demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu). Ini yang disebut ta’liq al-amm (notasi umum). Yaitu bahwa adu klaim seperti tadi padahal mereka membaca Kitab Suci (yang seharusnya bisa mencegah mereka dari sikap seperti itu), bukan hanya terjadi di kalangan Bani Israil yang beragama Yahudi dan Nasrani. Tapi siapa saja—termasuk kaum Muslim sendiri—yang mengatakan sesuatu yang dia tidak mengerti makna dari perkataannya sendiri. Jadi kini, karakter itu menjadi berlaku umum, siapa saja dan dimana saja. Inilah yang menjelaskan mengapa umat pembaca al-Qur’an yang bercita rasa keilmuan tinggi ini, tidak bisa memperlihatkan kapasitas dan kualitas keilmuannya secara kompetitif di hadapan umat-umat lain yang telah maju. Mereka underdog dan inferior di dalam perdebatan-perdebatan kelimuan kontekstual dan kontemporer. Dan sebagai excuse dan discourse-nya, mereka kemudian melarikan diri ke masa lalu, ke generasai awal, sambil berbangga-bangga dengannya. Agama tiba-tiba tidak kuasa menjangkau masa kini. Agama hanya bisa tumbuh di awan-awan dan tidak di bumi pertiwi. Agama yang seharusnya menjiwai dan memayungi seluruh tatanan hidup manusia, mulai dari struktur dan sistematikan keilmuan sampai konstruksi politik berbangsa dan bernegara yang berkeadilan untuk semua, sontak mengalami eliminasi yang teramat dalam sehingga hanya mampu (dan berhenti pada) mengurusi “kaki celana” dan “goyangan telunjuk” umatnya sendiri. Di sinilah agama menemukan titik sakratul-mautnya. Setelah tidak pernah lagi menemukan momen aktualitasnya. Agama pada akhirnya hanyalah batu nisan yang menyembul dari undakan tanah kuburan. Agama menjadi sebuah prasasti. Agama hanyalah fatwa bagi Khalifah Duniawi untuk mempertahankan status quo dalam menipu dan mengibuli rakyatnya sendiri. “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Tetapi setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka adalah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?” (9:75-78)

 

4). Tentang mana yang benar, orang Yahudi atau orang Nasrani, atau siapa saja, setelah mereka saling menegasikan, al-Qur’an bertutur: فَاللّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (fallahu yahkumu baynaɦum yawmal-qiyāmati fĭymā kānŭw fĭyɦi yakhtalifŭwn, maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya). Isyarat apa yang bisa kita tangkap di sini? Penggunaan anak kalimat فَاللّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ (fallahu yahkumu baynaɦum, maka Allah akan mengadili di antara mereka), menunjukkan bahwa ada “kebenaran” tunggal, yang akan menjadi standar benar-salahnya agama-agama dan klaim-klaim tersebut. Kalau tidak, Allah tidak perlu menghakimi mereka. Allah cukup membiarkan mereka pada kredonya masing-masing, seraya mendata kebaikan-kebaikan mereka saja. Dan “kebenaran” itu bisa diketahui dari sekarang, di dunia ini. Karena kalau tidak, maka apa alasan Allah menghakimi mereka? Sesuatu yang tak terjangkau di dunia ini, tentu mustahil Allah tuntutkan nanti di Akhirat. Yang Allah tuntut nanti di sana ialah kesungguhan dan kemampuan kita dalam menentukan dan mengikuti “nilai” dari “kebenaran” tunggal tersebut dengan mennggunakan semua prabot yang Allah telah berikan. “Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang BATIL untuk melenyapkan KEBENARAN dengan (yang BATIL) itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku?” (40:5)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Islam adalah agama kedamaian. Maka ajarannya sarat dengan dorongan untuk memelihara kedamaian seraya mengecam para pengganggu kedamaian tersebut. Diatara sikap yang menganggu kedamaian ialah saling merendahkan dan saling menegasikan. Maka parameter paling awam untuk mengetahui apakah Islam Anda sudah benar atau belum ialah apakah Anda sudah turut mendorong terciptanya kedamaian atau belum.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply