Al-Baqarah ayat 112

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 30, 2011
0 Comments
2841 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 112

 

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

[(Tidak demikian) bahkan (yang benar ialah) siapa saja yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, dan  ia berbuat baik, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.]

[Yes! whoever submits himself entirely to Allah and he is the doer of good (to others) he has his reward from his Lord, and there is no fear for him nor shall he grieve.]

 

1). Ini bocoran dari ‘langit’, sekaligus jawaban atas klaim Ahli Kitab, tentang siapa yang berhak masuk surga, atau masuk ke dalam Rahmat Allah nanti di Akhirat. Dalam komunikasi antarsesama, nama dan identitas sangat penting. Tetapi, di sisi Allah, bukan itu yang paling penting. Yang paling penting ialah linearitas dan kontinuitas antara tiga perabot pengetahuan yang mencakup tiga lingkup: empirik (pancaindra), rasional (akal), hingga spiritual (matabatin)—hingga mencapai satu kesatuan logika. Ketiganya mewakili wilayah alamnya masing-masing: alam syahadah, alam syahdu, dan alam syuhudi. Alam syahadah penting bagi identitas karena obyek-obyek yang teridentifikasi adalah obyek-obyek lahiriah. Alam syahdu penting bagi penilaian karena akurasi kerja akal sangat tergantung pada suasana yang tenang, suasana tunggal, suasana yang tak terinterventi oeh yang lain. Alam syuhudi penting bagi “rasa” atau “pengalaman ruhani” sebab “rasa” hanya terjadi manakala ada pemenyatuan antara “yang merasakan” dan “yang dirasakan”.

Identitas hanya dibutuhkan di lingkup empirik. Sedangkan di lingkup rasional (akal) dan spiritual (matabatin) tidak. Yang dibutuhkan di lingkup rasional (akal) adalah “nilai” (pengetahuan intelek), dan di lingkup spirtual (matabatin) adalah “rasa” (pengalaman ruhani). Sementara sangat sering terjadi ketidaksejalanan antara apa yang menjadi “identitas” dan apa yang menjadi “nilai” dari identitas tersebut. Kalau terjadi inkonsistensi antara “identitas” dan “nilai”, maka bisa dipastikan “rasa” (pengalaman ruhani) yang dialami sangat mungkin keliru. Di sinilah para pengamal ruhaniah, termasuk penganut agama-gama, sangat sering menempuh jalan yang fatalistik. Maka Allah menjawab semua kegalauan itu dengan: “(Tidak demikian) bahkan (yang benar ialah) siapa saja yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat baik, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”.

 

2). Apakah dengan begitu berarti Allah menggelar karpet merah yang seluas-luasnya buat semua agama? Tidak. Karena, seperti diuraikan tadi, hanya ada satu “identitas” yang benar, sebagaimana hanya ada satu “nilai” yang benar. Yaitu “identitas” yang merupakan ekstensi (perluasan, pemunculan) dari “nilai” yang benar. Justru uraian tadi (di poin 1) bermaksud menjelaskan mustinya memilah dan memilih salah satu di antara identitas-identitas itu yang sejalan dan konsisten dengan “nilai” yang benar. Cobalah cermati ayat 112 ini bak-baik. Ada dua kriteria yang Allah sebutkan: مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ (man aslama wajɦaɦu lillaɦi wa ɦuwa muhsin, siapa saja yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, dan ia berbuat baik). Pertama, مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ (man aslama wajɦaɦu lillaɦi, siapa saja yang menyerahkan wajahnnya kepada Allah).  Kata أَسْلَمَ (aslama) yang dalam Bahasa Indonesia di terjemahan dengan “menyerahkan” dan dalam Bahasa inggeris dengan “submits” adalah merupakan salah satu asal-usul kata dari الإِسْلاَم (al-islām, agama ISLAM). Menyerahkan apa? Menyerahkan وَجْهَهُ (wajɦa-ɦu, wajah-nya), yang dalam Bahasa Indonesia keluaran Depag versi lama diartikan “diri”, sedangkan yang versi Syaamil al-Qur’an diartikan “diri sepenuhnya”. Di sini sengaja diterjemahkan dengan “wajah-nya” agar tetap sesuai dengan bahasa aslinya. Ingat, “wajah” yang kita kenal dalam Bahasa Indonesia sehari-hari adalah terjemahan bebas dari kata وَجْه (wajɦun, wajah) yang ada dalam al-Qur’an atau Bahasa Arab. Cuma kata وَجْه (wajɦun, wajah) yang kita temukan di dalam ayat ini—dan di beberapa ayat lainnya—sudah pasti tidak dalam pengertian bebasnya. Kata وَجْه (wajɦun, wajah) yang ada di dalam klausa مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ (man aslama wajɦaɦu, siapa saja yang menyerahkan wajahnnya) tentu dalam pengertiannya yang paling luas. Yakni bahwa  kata وَجْه (wajɦun, wajah) di situ hanyalah bentuk kinayah (perlambang, simbol, metonymy) yang menjadi “identitas” dari totalitas diri atau totalitas hidup yang diwakili oleh orientasi jiwa manusia sepenuhnya. Pertanyaannya kini, “menyerahkan totalitas diri sepenuhnya” kepada siapa? Kita harus bisa menjawab ini, karena tidak mungkin tidak ada jawabannya. Entitas hanya ada dua jenis: “Allah” dan “selain Allah”. Tidak ada tempat bagi “ketiadaan”, karena itu memang mustahil adanya. Maka, begitu tidak “menyerahkan totalitas diri sepenuhnya” kepada “Allah”, maka pasti kepada “selain Allah”. Untuk itu, al-Qur’an mempertegas: مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ (man aslama wajɦaɦu lillaɦi, siapa saja yang menyerahkan wajahnya kepada Allah). Dengan demikia, sangat klir, bahwa orang ISLAM yang sejalan antara “identitas’-nya dan “nilai”-nya ialah mereka yang dengan penuh percaya diri mengidentifikasi diri sebagai Islam tapi sekaligus “melakukan penyerahan totalitas diri sepenuhnya kepada Allah”, sehingga tidak ada satupun bagian dari dirinya (sekecil apapun itu) yang tak terorientasikan kepada-Nya. Kata kuncinya ialah “penyerahan diri” dan bukan “peng-aku-an diri”. “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada (Tuhan) yang menciptakan langit dan bumi dengan setulus-tulusnya, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik (mempersekutukan Allah).” (6:79)

Kedua, وَهُوَ مُحْسِنٌ (wa ɦuwa muhsin, dan ia berbuat baik). Kalau yang pertama ialah perbuatan batin, maka yang kedua ini ialah perbuatan lahir. Dengan demikian, perbuatan lahir yang benar menurut ayat ini ialah perbuatan yang merupakan refleksi dan proyeksi dari perbuatan batin. Dan perbuatan batin sendiri nanti bermakna—atau baru bisa dimaknai—apabila mengejawantah menjadi perbuatan lahir. “Dan carilah pada apa yang Allah anugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan nasibmu (tugas kemanusiaanmu) di dunia dan berbuat baiklah (kepada sesama) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (28:77)

 

3). Ada dua hal yang Allah siapkan kalau poin ke-2 tadi terpenuhi: فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ (falaɦu ajruɦu ‘inda rabbiɦi wa lā khawfun ‘alayɦim wa lā ɦum yahzanŭwn, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati). Yaitu, secara ukhrawi Allah siapkan bagi mereka imbalan (pahala) yang pantas di sisi-Nya; biasanya dalam bentuk Rahmat-Nya, Ridha-Nya, dan Surga-Nya: “Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.” (9:21). Sedangkan secara ruhani, Allah ‘menghibur’ jiwanya dengan meniadakan semua sumber kegelisahan: وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ (wa lā khawfun ‘alayɦim wa lā ɦum yahzanŭwn, dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati). Dari 14 kali kalimat ini muncul, sekarang adalah yang ke-3 setelah sebelumnya di ayat 38 dan 62. Setiap kali nanti kalimat ini muncul, tolong perhatikan karakter-karakternya. Karena dengan memperhatikan semuanya, akan memudahkan kita untuk melihat dan mengidentifikasi siapa sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang yang memiliki kualitas “lā khawfun ‘alayɦim wa lā ɦum yahzanŭwn” ini. “Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan berbuat saleh, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (6:48)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Titik tekan dari keberagamaan ialah “penyerahan diri” dan bukan “pengakuan diri”. “Pengakuan diri” melahirkan klaim, dan cenderung menggiring pelakunya pada kecongkakan, tidak toleran, menegasikan yang lain, dan anarkistis. Maka kalau Anda mengaku benar dalam agama Anda, tunjukkanlah buktinya dalam bntuk “menyerahkan totalitas diri Anda sepenuhnya” kepada Kebenaran tersebut.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply