Al-Baqarah ayat 111

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 28, 2011
1 Comment
1857 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 111

 

وَقَالُواْ لَن يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَن كَانَ هُوداً أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُواْ بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

[Dan mereka (Yahudi dan Nashrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan kosong belaka mereka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kalian adalah orang yang benar.]

[And they say: None shall enter the garden (or paradise) except he who is a Jew or a Christian. These are their vain desires. Say: Bring your proof if you are truthful.]

 

1). Setelah mereka (Bani Israil dari kalangan Yahudi dan Nasrani) tidak berhasil mendelgitimasi kenabian Muhammad saw serta otentisitas al-Qur’an, dan gagal mengembalikan kum Mukmin kepada kekufuran, tiba gilirannya kini kembali menggunakan dogma. “Dan mereka (Yahudi dan Nashrani) berkata: Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani’…. Mereka hendak mengatakan bahwa orang Islam tidak akan masuk surga, karena nabinya tidak benar dan Kitab Sucinya palsu. Dengan cara seperti ini mereka bermaksud menakut-takuti atau mengintimidasi orang Islam. Intimidasi bisa menggunakan teror, bisa menggunakan ancaman fisik langsung, bisa menggunakan cara isolasi. Dan inilah agaknya intimidasi yang paling elegan: mengancam orang lain tidak masuk surga selain diri atau kelompoknya, atau selain penganut agamanya. Tidak masalah. Toh surga sepenuhnya berada di bawah otoritas Allah. Tetapi, mereka lupa bahwa agama itu hujjah, argumentasi. Apabila agama nirargumentasi, maka runtuhlah seluruh konstruksi ajaran yang dibangunnya. Itu sebabnya, atas tuduhan dogmatik mereka, Allah menganjurkan agar orang Islam tetap bersikap tenang. Allah hanya menyuruh mereka untuk mengajukan satu pertanyaan kepada kaum dogmatis tersebut: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kalian adalah orang yang benar”. Manakala mereka tidak punya بُرْهَان (burɦān, bukti kebenaranmu dalam bentuk argumentasi atau dalil), maka klaim mereka dengan serta-merta jatuh statusnya sebagai “angan-angan kosong belaka”. Dan itulah dogma dalam pengertian yang sesungguhnya. Persis sama dengan orang yang menyembah selain Allah: “Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil-pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak akan beruntung.” (23:117)

 

2). Kata بُرْهَان (burɦān) dalam al-Qur’an tidak banyak. Hanya ada 8 kali: 3 dalam bentuk بُرْهَان (burɦān, 4:174, 12:24, 23:117), 4 dalam bentuk بُرْهَانَكُمْ (burɦānakum, 2:111, 21:24, 27:64, 28:75), dan 1 dalam bentuk بُرْهَانَانِ (burɦānāni, 28:32). Artinya juga bervariasi tapi maknanya sama. Bisa berarti sosok Nabi Muhammad saw beserta risalah yang dibawanya (4:174). Bisa berarti kehadiran Allah pada setiap eksistensi yang dikasikan melalui matabatin (12:24). Bisa berarti dalil, argumentasi, atau hujjah mengenai hakikat sesuatu (2:111, 23:117, 21:24, 27:64, 28:75). Bisa pula berarti mukjizat atau bukti kebenaran yang nyata (28:32). Dari pengertian-pengertian tersebut bisa kita lihat bahwa بُرْهَان (burɦān) ini bukan dalil sembarang dalil. Kata بُرْهَان (burɦān) ini mengandung makna hakiki mengenai kehadiran-Nya pada setiap jenjang gradasi wujud yang terafirmasi oleh dalil, argumentasi, atau hujjah yang kebenarannya tampak jelas melalui pancaindra, akal, dan dzauq (rasa batin), sehingga tidak ada dalil, argumentasi, atau hujjah lain yang bisa tegak di hadapannya. Sebagaimana tidak ada alat-alat pengetahuan (pancaindra, akal, dan dzauq) yang bisa menolaknya, kecuali karena kesombongan dan sikap kepala batu. “Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: ‘Tunjukkanlah hujjah-mu! (Al Qur’an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan orang-orang yang sebelumku’. Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui al-Haq (Kebenaran), karena itu mereka berpaling.” (21:24)

 

3). Setelah kata بُرْهَان (burɦān), menyusul klausa: إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ (in kuntum shādiqĭyn, jika kalian adalah orang yang benar). Ini menunjukkan bahwa dalil, argumen, atau hujjah yang mendukung kebenaran itu hakikatnya cuma satu. Dalil, argumen, atau hujjah seperti itulah yang disebut burɦān shiddĭq (proof of the veracious) yang kesaksian akan kebenarannya bersifat linear dan konsisten dari lingkup empirik (pancaindra), rasional (akal), hingga spiritual (matabatin). Tidak ada dikotomi, apalagi diskontinyuitas, di dalam gradasi antarlingkup dan jenjang-jenjang itu, sehingga tidak memungkinkan adanya celah untuk timbulnya keraguan. Semua entitas memiliki satu kesatuan mantiqi (rasional). Itu sebabnya, kepada Ahli Kitab yang mengklaim diri secara eksklusif sebagai penghuni surga, Allah menyeru kaum Mukmin untuk meminta mereka menujukkan burɦān shiddĭq (proof of the veracious)-nya:  هَاتُواْ بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ(ɦātŭw burɦānakum in kuntum shādiqĭyn, tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kalian adalah orang yang benar). Inilah al-Qur’an. Inilah Islam. Inilah kaum Mukmin. Yaitu Kitab Suci, agama, umat, yang martabatnya ditegakkan bukan dengan hardikan, bukan dengan pentungan, juga bukan dengan pedang, tapi dengan dalil, argumen, atau hujjah yang harus bisa dipertanggungjawabkan melalui perabot-perabot epistemaologi yang dimiliki manusia. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. (Karena) sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (17:36) 

 

4). Ini sebetulnya merupakan klaim ketiga mereka sejauh ini. Pertama, mereka mengklaim bahwa kejahatan apapun yang mereka lakukan, termasuk dengan memalsu Kitab Suci, hanya akan diganjar dengan neraka beberapa hari saja. “Dan mereka berkata: Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja. Katakanlah: Sudahkah kalian menerima janji dari Allah (tentang pengakuanmu itu) karena Allah tidak akan pernah memungkiri janji-Nya ataukah kalian hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui?’.” (2:80) Kedua, mereka mengklaim bahwa Alam Akhirat adalah secara khusus untuk mereka saja, dan tidak yang lain. “Katakanlah: ‘Jika kalian (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu (saja) di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka harapkanlah kematian (mu), jika kalian orang yang benar’.” (2:94) Yang ketiga adalah ayat 111 ini, yang mengklaim bahwa surga hanya Allah peruntukkan untuk mereka (Yahudi dan Nashrani) saja. Allah menganggap klaim-klaim seperti ini sebagai tidak berdasar, seraya menyebutnya sebagai أَمَانِيُّ (amānĭy) atau “angan-angan kosong belaka” saja.

 

 

AMALAN PRAKTIS

Kebenaran Islam sepenuhnya bersandar pada kekuatan argumentasi. Sehingga tidak ada tempat bagi “klaim”, dalam pengertian pengakuan tanpa dalil dan nalar. Dan argumen yang paling tinggi kadar kemampuannya ialah apa yang disebut burɦān shiddĭq (proof of the veracious). Yaitu argumen yang melihat semua entitas sebagai satu kesatuan wujud. Sayangnya, argumen yang satu ini meniscayakan kita memasuki alam syuhudi (alam penyaksian batin) terlebih dahulu.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply