Al-Baqarah ayat 110

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 27, 2011
0 Comments
4300 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 110

 

وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللّهِ إِنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

[Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kalian usahakan bagi dirimu, tentu kalian akan mendapat pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kalian kerjakan.]

[And keep up prayer and pay the poor-rate and whatever good you send before for yourselves, you shall find it with Allah; surely Allah sees what you do.]

 

1). Selain memaafkan dan membiarkan mereka (Ahli Kitab yang hendak mengembalikan kaum Mukmin kepada kekufuran dengan berbagai macam cara) sampai Allah mendatangkan perintah-Nya, orang-orang Mukmin diminta—melalui ayat ini—untuk fokus pada pelaksnaan ibadah yang menjadi kewajiban bagi mereka, menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Huruf وَ (wawu) di permulaan ayat adalah ‘athaf (penyambung) terhadap potongan terakhir ayat sebelumnya: فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (fa’fŭw wa-shfahŭw hattā ya’tiyallaɦu bi amriɦi, innallaɦa ‘alā kulli syay’in qadĭyr, Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu). Artinya, jangan pernah terprovokasi oleh ulah mereka. Sebaliknya, alih-alih melayani usaha sistematis mereka, umat Nabi justru diminta untuk memaafkan dan membiarkan mereka seraya tetap istiqamah dalam melaksanakan salat lima waktu dan mengeluarkan zakat yang menjadi beban keagamaan personal bagi mereka. “(Tetapi) karena mereka (Bani Israil) melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) akan terus melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah mencintai orang Muhsin (orang yang senantiasa berbuat baik).” (5:13)

 

2). Sungguh memesona. Tak terbayangkan oleh kita betapa powerful-nya salat dan zakat. Oleh ayat ini, kedua jenis ibadah tersebut dijadikan senjata pamungkas dalam menghadapi rencana-rencana ‘busuk’ orang-orang yang tidak senang terhadap perkembangan Islam. Padahal Allah sendiri nanti (persis di sepuluh ayat ke depan, ayat 120) memberitakan apa sesungguhnya yang ada di ceruk benak mereka dalam menghadai kaum Mukmin. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kalian mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (2:110) Pertanyaannya, kenapa musti salat dan zakat? Pertama, salat selalu Allah jadikan pendamping sabar di dalam meminta pertolongan kepada-Nya (2:45 dan 2:153). Bahkan di 2:153, Allah sendiri yang mempertegas bahwa “… Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. Sabar yang bagaimana? Sabar yang tak terpisahkan dari pelaksanakan dan penegakan nilai-nilai salat. Tanpa sikap dan sifat sabar, kaum Mukmin akan mudah masuk ke dalam perangkap yang mereka pasang, dan Allah bahkan mengancam akan meninggalkannya. “…Dan sesungguhnya jika kalian mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.Kedua, setiap provokasi dan rencana-rencana busuk pasti ada biaya besar di sana. Apabila kaum Mukmin tidak terprovokasi maka sudah pasti biaya besar yang mereka keluarkan itu juga tidak membuahkan hasil, alias rugi besar. Semakin sering mereka memasang perangkap dalam bentuk provokasi dan gagal, semakin besar kerugian yang mereka derita. Sebaliknya, umat Nabi diminta untuk membayarkan zakatnya. Sehingga kita melihat dua gerakan terbalik. Di sana (di pihak mereka) semakin terkuras pundi-pundi perbendaharaannnya, sedangkan di sini (di pihak Mukmin) semakin membesar. Kita bisa membayangkan—melalui gerakan terbalik ini—apa yang akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Inilah diantara makna ayat berikut ini: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah tercerabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (14:24-27)

 

3). Penggunaan anak kalimat: وَمَا تُقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللّهِ (wa mā tuqaddimŭw li anfusikum min khayrin tajidŭwhu ‘indallaɦ, dan kebaikan apa saja yang kalian usahakan bagi dirimu, tentu kalian akan mendapat pahalanya di sisi Allah), mengisyaratkan bahwa selain memaafkan serta menegakkan salat dan menunaikan salat, tipu muslihat mereka sebaiknya dilawan dengan kebaikan. Ini sejalan dengan ayat yang lain, misalnya: “Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.” (28:54) Juga sejalan dengan teladan suci Nabi dalam menghadapi musuh-musuh personalnya. Tetapi harus disampaikan dengan cepat bahwa “kebaikan” yang dimaksud bukanlah “mengikuti kemauan mereka”, apalagi menjadi orang bayaran mereka dengan menjadi juru bicara mereka. “Kebaikan” yang dimaksud tidak boleh keluar dari prinsip: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Kalau tidak, maka kita pun, tanpa sadar, masuk ke dalam perangkap permainan mereka; kita tiba-tiba lebih peduli kepada mereka ketimbang kepada kaum Mukmin sendiri. Kita tiba-tiba menjunjung mereka sebagai kaum humanis seraya menyoraki saudara seiman sendiri sebagai kaum teroris. Kita tiba-tiba berdiam diri terhadap berbagai kejahatan politik yang mereka lakukan seraya menyumpahi korbannya sebagai orang-orang bodoh. Kita menyanjung ‘kebenaran’ mereka seraya mengutuk kebenaran Islam (sebagai agama yang hak). “Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Kitab Suci (Taurat dan Injil) semua ayat (yang menjelaskan tentang kebenaran), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan (hawa nafsu) mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (2:145)

 

4). Tetapi kendati mereka tidak akan mengikuti kebenaran Islam, kebaikan yang kita lakukan terhadap mereka tetap akan Allah siapkan imbalan di sisi-Nya. Karena, dalam Islam, kebaikan diperintahkan bukan karena sebuah harapan, bukan karena pamrih. Bukan dengan asumsi bahwa kelak mereka akan menjadi pemeluk Islam yang baik. Missionarime tidak dikenal di dalam Islam. Kebaikan diperintahkan karena kebaikan itu memang baik adanya. Kebaikan itu menyucikan, menyuburkan, dan meneguhkan jiwa. Makanya, dalam Islam, kebaikan dikatakan kebaikan manakala tumbuh di atas lahan sukma yang penuh keikhlasan. Apabila ‘kebaikan’ itu tumbuh di selasar jiwa yang penuh pengharapan terhadap penerima kebaikan tersebut, maka itu bukan kebaikan, itu adalah perdagangan. Pepatah menyebutnya, ada udang di balik batu, ada buah di balik daun. Keyakinan yang harus dimiliki dalam melakukan kebaikan ialah: إِنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (innallaɦa bimā ta’malŭwna bashĭyr, sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kalian kerjakan). Di penutup ayat sebelumnya (109), al-Qur’an menuturkan: إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (innallaɦa ‘alā kulli syay’in qadĭyr, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu). Di tempat lain, Allah memperkenalkan Diri-Nya: “Dan Dialah Allah, yang ada di langit yang ada di bumi; Dia mengetahui rahasia kalian dan ujaran kalian, dan mengetahui (pula) apa yang kalian kerjakan.” (6:3)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Syaitan itu makhluk ‘halus’. Dia bisa menyusup ke mana saja. Bisa masuk ke organisasi dan lembaga-lembaga. Bisa masuk ke institusi agama-agama. Bisa bercokol di negara-negara. Bisa masuk ke dalam dada dan kesadaran manusia. Bahkan bisa menyeruak ke balik jubah ulama. Maka jangan pernah terprovokasi dengan ulahnya. Lawanlah keburukan dengan kebaikan. Berlindunglah kepada Allah dengan keikhlasan. Karena “sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kalian kerjakan”.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply