Al-Baqarah ayat 108

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 25, 2011
1 Comment
2730 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 108

 

أَمْ تُرِيدُونَ أَن تَسْأَلُواْ رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَى مِن قَبْلُ وَمَن يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاء السَّبِيلِ

[Apakah kalian menghendaki untuk meminta kepada Rasul kalian seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.]

[Rather you wish to put questions to your Messenger, as Musa was questioned before; and whoever adopts unbelief instead of faith, he indeed has lost the right direction of the way.]

 

1). Setelah serangan Bani Israil dan konco-konconya di kalangan Bangsa Arab yang dialamatkan kepada otentisitas Nabi dan kemurnian al-Qur’an kandas—setelah dijawab oleh ayat 106 dan 107—maka kini serangan mereka ditujukan kepada hal-hal yang lebih partikular dari kenabian dan Kitab Suci. Mereka—diantaranya Abdullah bin Abi Ka’ab, Rafi’ bin Huraimalah, Wahab bin Zaid, Huyay bin Akhtab, Abu Yasir bin Akhtab, dan sekelompok elit Quraisy, seperti dikutip al-Wahidi dan as-Suyuthi di dalam kitab Asbabun Nuzul-nya masing-masing—datang kepada Nabi seraya mengajukan berbagai macam permintaan dan pertanyaan. Ada yang meminta andai al-Qur’an diturunkan dalam bentuk utuh dan sudah tertulis menjadi sebuah buku kemudiaan didatangkan malaikat mempersaksikannya. “Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata’. Dan mereka berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat (untuk mempersaksikan kebenarannya)?’ Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun).” (6:7-8) Ada yang meminta agar Nabi meluaskan tanah Mekah, memancarkan sungai-sungai padanya, dan mengubah Bukit Shafa jadi emas. Ada yang meminta Nabi memperlihatkan Allah dengan jelas kepada mereka agar bisa melihat-Nya langsung. Permintaan dan pertanyaan mereka ini tidaklah muncul dari rasa ingin tahunya tentang kebenaran (Islam). Tetapi semata sebagai dalih untuk mempengaruhi yang lain guna menolak dan meninggalkan Nabi dan Kitab Suci yang dibawanya. Persis seperti yang Bani Israil dulu lakukan terhadap Nabi Musa. Maka dalam rangka menjelaskan kesamaan mereka, Allah menurunkan ayat ini: “Apakah kalian menghendaki untuk meminta kepada Rasul kalian seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.”.

 

2). Penggunaan kata كَمَا (kamā, sebagaimana) di permulaan ayat: أَمْ تُرِيدُونَ أَن تَسْأَلُواْ رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَى مِن قَبْلُ (am turĭydŭwna an tas’alŭw rasŭwlakum kamā suila mŭwsā min qabl, apakah kalian menghendaki untuk meminta kepada Rasul kalian seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu?) menunjukkan bahwa Nabi Muhammad akan mengalami ‘nasib’ sama dengan Nabi Musa. Yakni dia akan diperlakukan buruk oleh kaumnya sebagaimana dulu Nabi Musa diperlakukan buruk juga oleh kaumnya (Bani Israil). Tetang Hari Sabat di zaman Musa, Allah bertutur: “Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, padahal di hari-hari selain Sabtu ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan mereka selalu berlaku fasik.” (7:163). “Dan sungguh kalian mengetahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: ‘Jadilah kalian kera yang hina’.” (2:65) Tentang Hari Jum’at di zaman Nabi, Allah bertutur: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau kesenangan (duniawi), mereka bubar menuju ke sena seraya meninggalkan kamu (Muhammad) sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: ‘Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan’, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.” (62:11)

Tentang Taurat Allah berfirman: “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab Suci) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab Suci (tersebut) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)-nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah)”. (2:101) Tentang Nabi Muhammad, Allah berfirman: “Dan berkatalah Rasul (di hadapan Allah): Ya Rab, sungguh kaumku telah menjadikan al-Qur’an ini (sebagai sesuatu) yang ditinggalkan“. (25:30)

Tentang perintah Nabi Musa kepada pengikutnya, Allah menceritakan seperti ini: “Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja’.” (5:24) Sedangkan tentang perintah Nabi Muhammad kepada pengikutnya, diceritakan begini: “Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: ‘Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu’, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (4:66)

Tentang perpecahan sepeninngal Nabi Musa: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Kitab Suci (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya.” (45:16-17) Sementara sepeninggal Nabi Muhammad: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan (sepeninggalmu Muhammad), tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (6:159) “…(Apabila) tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing), maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.” (23:54)

Dan seterusnya……………………!!!

 

3). Orang yang memperlakukan Nabi Muhammad saw sama seperti Bani Isral memperlakukan Nabi Musa as, maka pada dasarnya telah menukar imannya dengan kekufuran, dan orang seperti itu—siapa pun orangnya—telah tersesat (melenceng) dari jalan yang lurus: وَمَن يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاء السَّبِيلِ (wa man yatabaddalil-kufra bil-ĭymān faqad dhalla sawā’as-sabĭyl, dan sesiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah tersesat dari jalan yang lurus). Alasannya? Sederhana. Apabila kita tidak sedang berada di jalan yang benar, berarti sedang berada di jalan yang salah. Itu sebabnya jalan yang salah itu banyak sekali, karena jalan apa saja yang tidak benar, pasti salah. Dan penalaran al-Qur’an memang sederhana. Matriks pilihannya hanya terdiri dari dua kolom sehingga orang yang paling awam sekalipun bisa memilih dengan mudah: Allah vs Sekutu, Haq vs Bathil, Benar vs Salah, Terang vs Gelap, Iman vs Kufur, Golongan Kanan vs Golongan Kiri, Adil vs Zalim, Surga vs Neraka. Begitu kita berada di kolom yang satu, berarti secara otomatis tidak sedang berada di kolom yang lainnya. Mengafirmasi yang satu berarti menegasi yang lainnya. Begitu juga sebaliknya. Orang yang tidak mengecam kezaliman, berarti menjadi bagian darinya. Maka kecaman harus dilakukan minimal dengan hati—dan itulah iman yang paling lemah kata Baginda Nabi. “Perbandingan kedua golongan itu (orang kafir dan orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang melihat dan mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)?” (11:24)

Kita telah melihat di poin 1 dan 2 bahwa pertanyaan yang banyak macamnya itu, tujuannya cuma satu: menggelincirkan manusia dari jalan yang benar. Ayat ini mirip dengan ayat yang menceritakan Bani Israil yang menukar perintah Nabi Musa dengan kalimat yang lain. “Lalu orang-orang yang zalim menukar perintah (atau wasiat) dengan (wasiat lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.” (2:59)

 

4). Di sini Allah menggunakan frase سَوَاء السَّبِيلِ (sawā’as-sabĭyl, jalan yang lurus). Tapi di Surat Shad (38) ayat 22 Allah menggunakan frase سَوَاء الصِّرَاطِ (sawā’as-shirāth, jalan yang lurus). Bentuk سَوَاء السَّبِيلِ (sawā’as-sabĭyl, jalan yang lurus), dalam al-Qur’an, muncul 6 kali (2:108, 5:12, 5:60, 5:77, 28:22, dan 60:1). Sedangkan bentuk سَوَاء الصِّرَاطِ (sawā’as-shirāth, jalan yang lurus) hanya muncul sekali; ada satu lagi (di 20:135) tapi dalam bentuk shifat wa maushuf (sifat dan disifati): الصِّرَاطِ السَّوِيِّ (ash-shirāth as-sawĭy, jalan yang lurus). Sebetulnya, frase سَوَاء السَّبِيلِ (sawā’as-sabĭyl) dan سَوَاء الصِّرَاطِ (sawā’as-shirāth), sesuai dengan bentuknya yang mudhāf-mudhāfun ilayh (sandar-disandari atau milik-dimiliki), secara harafiah artinya “lurusnya jalan” (bandingkan dengan “benarnya jalan”). Tetapi ini sangat janggal dalam rasa Bahasa Indonesia. Kendati begitu, terjemahan harafiah itu bisa menolong kita memahami makna yang sesungguhnya dari frase tersebut. Yakni bahwa inti pembicaraan kita dalam kedua frase itu bukan pada “jalan”-nya, tapi pada “lurus”-nya. Sebagai perbandingan: “pintunya sekolah”; berarti yang kita bicarakan di situ bukan “sekolah”-nya tapi “pintu”-nya, “sekolah” hanyalah sandaran yang membuat “pintu” menjadi jelas identitas partikularnya. Sehingga, bisa dipastikan bahwa, yang primer di dalam frase سَوَاء السَّبِيلِ (sawā’as-sabĭyl) dan سَوَاء الصِّرَاطِ (sawā’as-shirāth) bukanlah السَّبِيلِ (as-sabĭyl) dan  الصِّرَاطِ (as-shirāth)-nya tapiسَوَاء  (sawā’, lurus)-nya. Kalau untuk terjemahan harafiah “jalan yang lurus” maka yang paling tepat ialah الصِّرَاطِ السَّوِيِّ (ash-shirāth as-sawĭy, jalan yang lurus).

Menurut al-Qur’an, diantara ciri orang yang keluar dari سَوَاء السَّبِيلِ (sawā’as-sabĭyl, jalan yang lurus) ialah meninggalkan 12 orang pemimpin (pelanjut kenabian) yang dipilih oleh nabinya: “Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian; sungguh jika kalian mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kalian bantu mereka dan kalian pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan niscaya kalian akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus’.” (5:12) Sedangkan ciri orang yang berada di سَوَاء الصِّرَاطِ (sawā’as-shirāth, jalan yang lurus) ialah mereka yang mematuhi hukum yang ditetapkan oleh Khalifah Ilahi: “Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata: ‘Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus’.” (38:22)

Lalu apa perbedaan antara السَّبِيلِ (as-sabĭyl) dan  الصِّرَاطِ (as-shirāth)?  Kita akan bahas di kesempatan yang lain. Insya Allah!!!

 

 

AMALAN PRAKTIS

Ciri manusia ialah “berfikir”. Dan awal dari tindakan “berfikir” adalah “bertanya”. Maka kalau Anda ingin mencapai puncak kebenaran hakiki, jangan pernah berhenti bertanya. Dan agama yang hidup adalah agama yang melayani semua jenis pertanyaan. Pertanyaan yang terlarang ialah yang menggelincirkan penanya dari “jalan yang lurus”; yaitu yang sedari awal diniatkan untuk menentang kebenaran.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply