Al-Baqarah ayat 107

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 24, 2011
0 Comments
2043 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 107

 

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

[Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.]

[Do you not know that Allah’s is the kingdom of the heavens and the earth, and that besides Allah you have no guardian or helper?]

 

1). Untuk memahami ayat ini, sebaiknya kita baca penggalan terakhir ayat sebelumnya : أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللّهَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (alam ta’lam annallāɦa ‘alā kulli syay’in qadĭr, tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?). Coba perhatikan dengan baik, karakternya persis sama dengan penggalan awal ayat 107 ini: أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ (alam ta’lam annallāɦa laɦu mulkus-samāwāti wal-ardhi, tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah?). Sama-sama dimulai dengan huruf أَلَمْ (alam) yang merupakan istifhām ‘aradhi, yaitu meminta sesuatu dengan cara halus, yang bisa difahami sebagai suatu pertanyaan dengan nada negatif tetapi dalam maknanya yang positif. Hanya saja maksud yang terkandung di penggalan akhir ayat 106 menunjukkan kedalaman dan sifat kullĭ (universalitas jangkauan pada tiap entitas) dari kekuasaan Allah, sementara penggalan awal ayat 107 ini menunjukkan keluasan cakupan kekuasaan Allah. Tetapi keduanya sama-sama hendak menunjukkan ketidakmustahilan pelaksanaan konsep النَّسْــخ  (an-naskh, abrogation, annulment, penggantian, pembatalan, atau pemindahan), dengan alasan “Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,” karena “kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan-Nya.” Apabila Allah tidak sanggup melakukan النَّسْــخ  (an-naskh, abrogation, annulment, penggantian, pembatalan, atau pemindahan) atas suatu hukum, berarti Dia tidak berkuasa atas segala sesuatu di dalam wilayah kekuasaan-Nya sendiri. Dan itu mustahil, sebab, kalau begitu, berarti Dia telah dikuasai oleh hukum ciptaan-Nya sendiri, sehingga yang pantas jadi Tuhan bukan lagi Dia (Allah) tetapi hukum itu sendiri. Pandangan inilah yang dianut oleh sebagian filosof yang kemudian menilai bahwa Tuhan—sesudah menciptakan segala sesuatu—telah menyerahkan otoritas kekuasaan-Nya sepenuhnya kepada hukum-hukum-Nya. Sehingga Tuhan, setelah itu, menganggur dan tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan ciptaan-Nya. Bahkan yang lebih ekstrim, menganggap Tuhan sudah mati. Alam semesta beserta kehidupan yang berlangsung di dalamnya berjalan secara atomik dan mekanistik. Dan karenanya, agama tidak dibutuhkan. Kalau toh manusia masih ingin beragama, maka agama yang pantas baginya ialah sains.

 

2). Penyebutan klausa مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ (kerajaan langit dan bumi) menunjukkan bahwa konsep النَّسْــخ  (an-naskh) berlaku pada wilayah hukum yang menjadi tempat terjadinya interaksi manusia dengan lingkungan kehidupannya. Karena pada wilayah itulah berlangsungnya perubahan-perubahan, baik pada tingkat personal ataupun pada tingkat sosial. Maka ada dua hal yang bisa kita fahami dari penggunaan klausa ini. Pertama, bahwa otoritas penerapan konsep النَّسْــخ  (an-naskh) hanya ada pada Allah, dan tidak pada selain-Nya. Karena hanya Dia-lah pemilik tunggal alam semesta (langit dan bumi), medan berlangsungnya kehidupan ini. Maka diantara faedah penerapan konsep النَّسْــخ  (an-naskh) ialah untuk mengetahui sejauh mana manusia mematuhi perintah-perintah-Nya. Contohnya, pemindahan kiblat salat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, atau dari Baitul Maqdis menuju ke Baitullah. “…Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (secara nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (2:143) Di sini kita lihat bahwa pemindahan kiblat sama tujuannya dengan perintah Allah untuk sujud kepada Adam—yang seharusnya makhluk hanya boleh sujud kepada Pencipta-nya. Maka patuhlah Malaikat dan membelotlah Iblis.

Kedua, bahwa konsep النَّسْــخ  (an-naskh) hanya berlaku pada tataran kehidupan yang mengalami perubahan. Bahkan, karena perubahan di tataran ini bersifat mutlak, maka pelaksanaan konsep النَّسْــخ  (an-naskh) baginya juga bersifat mutlak. Andaikata tidak ada konsep النَّسْــخ  (an-naskh) ini, maka agama menjadi robot, yang tidak memiliki fleksibilitas. Agama akan ditinggalkan oleh masa dan tidak akan bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan (personal dan sosial). Agama, jika sudah ketinggalan begini, praktis sudah tidak punya hujjah lagi atas masanya, dan tidak bisa menyandang predikat “sempurna”. “Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.” (2:150)

 

3). Potongan ayat: وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ (wa mā lakum min dŭwnillaɦi min walyyin wa lā nashĭyr, Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong), mempertegas bahwasanya, satu, konsep النَّسْــخ  (an-naskh) adalah bagian dari caranya Allah memberikan perlindungan dan pertolongan-Nya kepada manusia. Perlindungan dari mana? Yakni perlindungan dan pertolongan untuk keluar dari perangkap kemestian terjadinya perubahan. Artinya, tanpa konsep النَّسْــخ  (an-naskh), agama menjadi tidak tahan terhadap serangan “perubahan” yang tak pernah berhenti. Agama akan kehabisan nafas dalam mengejar laju perkembangan zaman. Dua, tidak ada perlindungan dan pertolongan tanpa pelaksanaan konsep النَّسْــخ  (an-naskh). Yang bisa difahami di sini ialah bahwa perlindungan dan pertolongan Allah hanya datang kepada mereka yang menjadaikan agama sebagai ajaran yang hidup. Apabila agama telah terkubur di dalam suatu masa tertentu saja dan membid’ahkan seluruh yang datang sesudahnya, maka perlindungan dan pertolongan Allah tidak akan datang kepadanya. Agama, di tingkat ini, hanyalah bagian dari buku-buku sejarah. “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kalian yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikan kalian dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kalian ketahui. Karena itu, ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat -Ku.” (2:151-152)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Dalam kehidupan manusia secara utuh, ada hal-hal yang berubah dan ada yang tidak berubah. Memahami dua kategori itu sangat penting di dalam beragama. Kerancuan akan terjadi manakala yang dipaksa berubah adalah hal-hal yang justru tidak mungkin berubah. Begitu juga sebaliknya. Agar Anda tetapi dinamis dalam beragama, maka jangan pernah berhenti mempelajarinya hingga ajal menjemput.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply