Al-Baqarah ayat 104

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 18, 2011
0 Comments
2641 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 104

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقُولُواْ رَاعِنَا وَقُولُواْ انظُرْنَا وَاسْمَعُوا ْوَلِلكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

 [Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian katakan (kepada Muhammad): ‘Raa’ina’, tetapi katakanlah : ‘Unzhurna’, dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir azab yang pedih.]

[O you who believe! do not say Raina and say Unzurna and listen, and for the unbelievers there is a painful chastisement.]

 

1). Inilah panggilan pertama Allah khusus kepada orang-orang beriman di sepanjang pembahasan kita selama ini (dari Surat al-Fatihah hingga sejauh Surat al-Baqarah ini). Yang mencengangkan ialah bahwa panggilan ini Allah serukan justru di tengah-tengah rangkaian narasi tentang Bani Israil dari zaman Nabi Musa as sampai zaman Nabi Muhammad saw. Ini pasti bukan tanpa maksud. Dan dengan menempatkan panggilan ini di sini, orang yang paling awam sekalipun akan dengan mudah memahami maksudnya; yaitu agar orang beriman, umat Islam, tidak mengikuti jejak Bani Isral dalam memperlakukan Nabi dan Kitab sucinya, dalam memperlakukan Khalifah Ilahi dan kebenaran agamanya. Coba telusuri cerita Bani Israil dari ayat 40 sampai ayat 103, isinya hanyalah pelanggaran demi pelanggaran, pengkhianatan demi pengkhianatan. Baru saja menyaksikan bagaimana Allah menyelamatkan mereka melalui peristiwa adialami (dengan terbelahnya Laut Merah), mereka sudah datang kepada Nabi Musa menyatakan secara terbuka keberatannya atas makanan yang hanya satu jenis saja. Setelah kepadanya diberikan Kitab Suci, Allah harus mengangkat gunung ke atas kepala mereka baru mau berjanji untuk berpegang teguh kepada Kitab Suci tersebut. Itu pun, tidak lama setelah itu, mereka kembali mengingkarinya lagi. Baru saja ditinggal Nabi Musa selama 40 malam, mereka sudah mengkhianati Harun sebagai Khalifah Ilahi yang ditunjuk Allah melalui Nabi Musa seraya mengikuti Samiri dan menjadikan patung anak sapi sebagai sembahannya. Kebenaran nubuwat akan kedatangan Nabi Muhammad mereka ingkari begitu saja dengan mencampakkan Kitab Suci ke belakang punggung mereka. Ajaran Kitab Suci yang mereka hidupkan hanya yang mengandung angan-angan kosong belaka. Mereka lebih percaya kepada sihir daripada kandungan Kitab Sucinya, demi memenuhi panggilan hawa nafsunya. Melalui ayat ini Allah menyeru orang mukmin untuk tidak bersikap serupa, karena tanda-tanda atau bahkan fakta-fakta ke arah itu sudah kelihatan. Inilah kejadian yang sudah-sudah: “Kalau (Yatsrib/Madinah) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: ‘Mereka tidak akan berbalik ke belakang (atau mundur, tapi nyatanya mereka lari di Perang Uhud)’. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungjawabannya.” (33:14-15)

 

2). Panggilan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ (yā ayyuɦālladzĭyna āmanŭw, wahai orang-orang yang beriman) adalah sebuah kalimat seruan yang mengandung makna pemuliaan dan penghormatan kepada pihak yang diseru. Dan yang memuliakan atau memberi kehormatan itu bukan sembarangan, tapi Allah swt, Pencipta segala sesuatu, Penentu mulia dan hinanya seseorang. Kalimat panggilan ini muncul 80 kali dalam al-Qur’an, semuanya turun di Madinah. Kenapa? Inilah yang menarik untuk kita singkap hikmahnya. Bukankah rukun iman yang 6 itu sudah harus terpenuhi secara sempurna sejak di Mekah (sebelum hijrah) bagi siapa saja yang datang kepada Nabi menyatakan keimanannya? Lalu kenapa mereka belum diseru dengan panggilan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ (yā ayyuɦālladzĭyna āmanŭw, wahai orang-orang yang beriman)? Dan Periode Mekah ini lebih lama daripada Periode Madinah—masing-masing 13 dan 10 tahun. Kalau diproratakan, maka tiap tahun 8 (delapan) kali Allah menyeru mereka dengan panggilan ini, atau rata-rata sekali per 1,5 (satu setengah) bulan. Periode Madinah ditandai bukan hanya oleh peristiwa hijrah (migrasi massal dari Mekah ke Yatsrib), tapi juga dengan ditandatanganinya sebuah traktat, Piagam Perjanjian Ketatanegaraan—yang populer dengan istilah صحیفة المدینه (Shahĭyfah al-Madĭynah, Piagam Madinah), oleh semua pihak yang bersepakat untuk membentuk suatu wilayah pemerintahan yang berdaulat dengan Kepala Negara yang jelas, dengan batas teritorial yang jelas, dan dengan rakyat (beserta segala keragaman budaya dan keyakinan agamanya) yang jelas pula. Di sini Nabi tidak lagi bertindak sekedar sebagai penyampai risalah, tapi sekaligus menjadi pemegang otoritas tertinggi semua instrumen kenegaraan—seperti peradilan, kemilitiran (yang menetukan perang dan damai), birokrasi pemerintahan, penunjukkan diplomat dan perwakilan negara, dan sebagainya. Di sini tugas Nabi sebagai Khalifah Ilahi benar-benar terwujud secara sempurna. Seperti juga yang terjadi pada masa Nabi Dawud as, sebagai salah satu nabi besar Bani Israil. “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (atas perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (38:26)

Kepada Nabi Muhammad saw, Allah berpesan: “Dan hendaklah kamu (Muhammad) memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (5:49-50) Dalam konteks inilah Allah menyapa kaum Muslim dengan panggilan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ (yā ayyuɦālladzĭyna āmanŭw, wahai orang-orang yang beriman), tentu dalam kaitan terjaganya kelangsungan pelaksanaan Khalifah Ilahi tersebut. Kalau tidak, maka yang akan muncul ialah Khalifah Duniawi dengan Hukum Jahiliyah, kendati dengan jubah dan simbol-simbol Islam. Fahamilah ayat ini dengan baik: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian ambil menjadi teman sejiwa orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kalian, klian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kalian, dan kalian beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpaimu, mereka berkata: ‘Kami beriman’; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadapmu. Katakanlah (kepada mereka): ‘Matilah kalian karena kemarahanmu itu’. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kalian memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kalian mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (3:118-120)

 

3). Kepada orang beriman dilarang menggunakan kata رَاعِنَا (rā’inā). Menurut al-Baghawĭy dalam Tafsirnya dan juga Ibnu Abbas, dulu kaum Muslim sering berseru kepada Nabi: “rā’inā yā rasulallah” (beri kesempatan atau tunggulah kami ya Rasulullah). Mereka mengungkapkan itu saat Nabi menerangkan sesuatu, dengan maksud agar mereka bisa mengejar atau mempunyai kesempatan untuk menyimak keterangan-keterangan Nabi tersebut. Setelah istilah ini populer di tengah-tengah orang Mukmin, orang-orang Yahudi juga ikut-ikutan menggunakannya tetapi dengan makna yang telah mereka pelesetkan, sehingga artinya menjadi “jadikanlah kami gila”, seperti tuduhan yang sering mereka alamatkan kepada Nabi: “Demikianlah, tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: ‘Ia (nabi itu) adalah seorang tukang sihir atau orang gila’;” (51:52) atau “jadikanlah kami bodoh” seperti tuduhan yang sering mereka alamatkan kepada orang-orang mukmin: “Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kalian sebagaimana manusia (lain) beriman’, mereka menjawab: ‘Pantaskah kami beriman sebagaimana orang-orang bodoh itu beriman?’….” (2:13). Atas dasar inilah sehingga Allah kemudian menyeru orang-orang beriman agar tidak lagi menggunakan kata رَاعِنَا (rā’inā) tersebut. Dan mereka disuruh menggunakan kata انظُرْنَا (unzhurnā) sebagai gantinya, dengan makna yang sama. Pertanyaannya: sebegitu pentingkah penggantian kata ini sehingga turun ayat untuk mengaturnya? Jawabannya: sangat penting; ditilik dari sisi bahwa al-Qur’an adalah آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ (āyātin bayyinātin, ayat-ayat yang jelas)—seperti yang telah kita terangkan di ayat 99—sehingga makna kata-katanya tidak boleh mendua. Dasar penting lainnya ialah bahwa umat Islam harus terus waspada terhadap plot musuh-musuh Islam yang tak henti-hentinya berusaha merusakkannya termasuk melalui pembiasan atau deviasi makna kata-kata dari ayat-ayat Kitab Sucinya. Kita misalnya melihat sekarang bagaimana upaya sistematis untuk membiaskan terma JIHAD menjadi sama dengan TINDAKAN TERORISME. Sehingga orang-orang Islam yang ber-JIHAD mempertahankan eksistensi dan kedaulatan negaranya—seperti di Palestina, di Lebanon, di Afghanistan, dan sebagainya—tiba-tiba tertuduh sebagai TERORIS. Karena itu Allah menambahkan seruan penggantian istilah itu dengan perintah: وَاسْمَعُوا (wa-sma’ŭw, dan dengarkanlah). Artinya, orang beriman tidak boleh menganggap enteng masalah ini.   

 

4). Bahaya penggantian makna ini lebih dipertegas oleh penutup ayat: وَلِلكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ (wa lil-kāfirĭyna ‘adzābun alĭym, dan bagi orang-orang kafir azab yang pedih). Artinya, kendatipun hanya membiaskan atau mendeviasi dengan sengaja makna satu ayat al-Qur’an, oleh Allah sudah berhak digelari “kafir” dan diancam dengan azab yang pedih. Apatah lagi kalau mencampakkan sebagian isi Kitab Suci seperti yang dilakukan Bani Israil demi mengingkari kebenaran Nabi Muhammad dan Risalah yang dibawahnya. Dalam hubungan inilah agaknya Hadits Nabi (yang sangat masyhur) berkenaan dengan pemalsuan kata-katanya, perlu dikutip: “Sesiapa yang berdusta dengan sengaja atas namaku, maka hendaklah mempersiapkan tempat duduknya di neraka” (al-Hadits).

 

 

AMALAN PRAKTIS

Islam adalah amanah Allah kepada kita semua yang menganutnya. Maka adalah kewajiban kita jugalah menjaganya dari berbagai penyalahmaknaan ajaran-ajarannya. Untuk itu, setiap usaha yang hendak meninjau ulang makna dari terma-terma ayat-ayat al-Qur’an perlu kita waspadai. Plot musuh teramat halus, sehingga perlu kehati-hatian tingkat tinggi untuk mengamatinya. Waspadalah…!!!

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply