Al-Baqarah ayat 103

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 16, 2011
0 Comments
1428 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 103

 

وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُواْ واتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّه خَيْرٌ لَّوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ

[Seandainya mereka sungguh-sungguh beriman dan bertakwa, niscaya (mereka akan mendapati bahwa) pahala di sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.]
[And if they had believed and guarded themselves (against evil), reward from Allah would certainly have been better; had they but known (this).]

 

1). Perusak iman dan takwa adalah iri hati dan dengki. Hingga tak hanya tidak senang orang lain mendapatkan kebaikan, tapi bahkan berusaha mencelakai orang tersebut dengan segala cara, termasuk dengan sihir. Padahal, secara teoretis, perkara iman adalah perkara paling gampang, karena hanya pengakuan yang menyeruak masuk ke dalam kalbu. Setelah itu mengalir hingga ke Hulu dalam derap nafas “penyerahan diri” secara total kepada Yang Maha Tunggal. Apa yang salah dengan Nabi Muhammad dan al-Qur’an? Dia berjuang bukan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Bahkan dia mengorbankan segala yang ada padanya (dari kenikmatan material sampai kebahagiaan keluarga) demi kemaslahatan dunia-akhiratnya manusia. “Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalanganmu sendiri (manusia biasa seperti kalian), berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (9:128) Dia membangun tatanan yang berkeadilan, bukan strata-strata dan kasta-kasta berdasarkan determinasi sosial-eknomi. Dia memuliakan seseorang bukan berdasarkan mitos-mitos heroistik yang dibangun turun-temurun. Semua ajaran Nabi dan al-Qur’an adalah dalam rangka menghilangkan beban-beban dan memutus rantai-rantai yang membelenggu kemanusiaan. “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (7:157) Maka bisa dipastikan, semua perintang dan pencegah jalan kenabian pastilah pihak-pihak yang merasa kepentingan pribadi dan kelompoknya terganggu. Yang punya maksud-maksud tersembunyi untuk tetap mempertahankan tatanan yang berkezaliman, yang hanya menguntungkan pribadi dan kelompoknya, karena tertipu oleh angan-angan duniawi. Mereka inilah orang-orang yang terperangkap dalam pusaran ego pribadinya yang tak kan pernah terpuaskan. Itu sebabnya, Allah mengatakan: “Seandainya mereka sungguh-sungguh beriman dan bertakwa, niscaya (mereka akan mendapati bahwa) pahala di sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.”.

 

2). Kenapa musti iman? Karena iman adalah syarat mutlak akan pengakuan adanya “sesuatu” yang jauh lebh tinggi dari diri manusia. Apabila syarat ini tidak terpenuhi, maka manusia menempatkan dirinya pada posisi yang paling tinggi. Manusia niscaya akan melantik dirinya sebagai Tuhan terhadap dirinya sendiri, bahkan terhadap sesamanya. Ketika Musa datang kepada Fir’aun dengan bahasa yang indah dan elegan, Raja Mesir itu meresponnya dengan sikap seperti ini: “Maka dia (Fir’aun) mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil (rakyatnya). (Seraya) berkata: ‘Akulah Tuhanmu yang paling tinggi’.”. (79:23-24) Egosentrisme Fir’aun ini belakangan kemudian menemukan bentuknya yang paling baru di Eropa dalam kemasan yang lebih sistematis dan akademis, setelah beberapa filosof ‘berhasil’ membunuh ‘Tuhan’. Inilah sari dari pandangan eksistensialisme Barat, yang (setelah menikah dengan pragmatisme) kemudian mendorong manusia unatuk saling memangsa satu sama lain, hingga kini.

Tetapi kalau iman adalah penyerahan diri terhadap sesuatu yang ada ‘diluar’ diri sendiri, bukankah tindakan seperti itu akan mengebiri kreativitas manusia? Ada dua kekeliruan dalam cara pandang seperti ini. Pertama, menganggap Tuhan berada di luar sana, itu tidak tepat. Semua terma-terma ruang-waktu tidak berlaku bagi Tuhan. “Diluar”, “didalam”, “diatas”, “dibawah”, “disamping”, “dimuka”, “dibelakang”, “dulu”, “sekarang”, “nanti”, adalah istilah-istilah yang kita ciptakan sebagai wujud kesadaran kita dalam bingkai ruang-waktu, yang menunjukkan bahwa kita selalu berada di dalam “batas”. Batas-batas itulah yang memposisikan kita sebagai entitas yang “diliputi”. Diliputi oleh siapa? Ya, oleh batas-batas itu. Dan karena yang menciptakan batas-batas itu ialah Tuhan, maka sudah barang tentu Dia sendiri tidak dibatasi oleh batas-batas itu. Maka Tuhan mustahil “diliputi”. Sebaliknya, Dialah yang “meliputi” segala-galanya. “Dan Dialah Allah, Yang Ada di langit dan Yang Ada di bumi; Dia mengetahui rahasia kalian dan tampakan kalian, serta mengetahui (pula) apa yang kalian usahakan.” (6:3) Karena “…Dia Maha Meliputi segala sesuatu.” (41:54) Kedua, Tuhan adalah pencipta atau kreator, sehingga semua yang ada adalah ‘hasil’ kreativitasnya (dari kata “create”, mencipta, lalu menjadi “creativity”, kreativitas). Maka bagaimana mungkin “mendekati Tihan” dianggap sebagai mematikan kreativitas?  Justru sebaliknya, semakin mendekati Tuhan akan membuat orang akan semakin “creative”? Kalau ada orang yang mengaku sangat dekat kepada Tuhan tapi tidak kreatif, bisa dipastikan pengakuannya itu palsu.

Dengan begitu, orang yang tidak beriman adalah orang yang menjadikan dirinya pusat ego, sebagai tempat penampungan segala-galanya. Tampa mereka sadari, dirinya sebetulnya telah menjadi laut mati (dead sea) yang kadar garamnya sangat tinggi (alias tinggi darah) sehingga tidak meungkinkan adanya kehidupan—(anjuran: untuk memahami perumpamaan ini, baca risalah lengkap tentang Laut Mati yang ada di Timur Tengah sana). “Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi.” (27:4-5)

 

3). Kenapa musti takwa?  Karena manusia tidak mungkin menghindari gradasi. Sementara semua gradasi yang basisnya materi, pasti hanya akan menjebak manusia pada kasta-kasta. Pertama, kuantitas materi di dunia ini tidak mungkin bertambah lagi, sedangkan jumlah manusia terus bertambah. Sains dan teknologi hanya memungkinkan manusia mengubah satu bentuk menjadi bentuk yang lain, dari satu keadaan menuju ke keadaan yang lain, yang kemudian mempercepat pemiliknya melakukan transformasi kepemilikian secara besar-besaran. Buntutnya, akan ada pihak-pihak tertentu yang menguasai aset-aset material yang begitu besarnya ketika yang lain hanya memiliki alakadarnya, atau tidak memiliki sama sekali, atau bahkan banyak orang yang asetnya mines alias terutang sepanjang hayat (seperti rakyat di negara-negara pengutang). Mereka yang mayoritas ini, kalau tidak ‘kreatif’ niscaya akan kerkubang di kaki piramida sosial dan menjadi bangsa pariah selamanya. Kedua, siapakah gerangan segelintir kecil pihak yang ‘beruntung’ di puncak piramida sosial itu? Tentu mereka yang kebetulan telanjur menguasai sains dan teknologi—sebagai alat untuk melipatgandakan nilai tambah dan skala ekonomi—itu. Dari sinilah munculnya jenis kolonialisme baru yang bernama “fasisme sains dan teknologi”, dimana hanya negara dan bangsa tertentu saja yang ‘boleh’ memiliki dan mengembangkan kajian-kajian sains dan terapan-terapan teknologi. Yang lain ‘dipaksa’ untuk sekedar menjadi konsumen belaka saja. Karena, dengan begitu, ketergantungan mereka tetap bisa terjaga, dan kekayaan negara mereka tetap bisa disedot.

Karena manusia tidak bisa menghindari dari gradasi itulah sehingga Allah menawarkan gradasi yang basisnya bukan materi, tapi iman. Gradasi berbasis iman inilah yang disebut takwa. “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (49:13)

 

4). Kalau faktor iman dan takwa terpenuhi, Allah memastikan janji-Nya: لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّه خَيْرٌ [lamatsŭwbatun min ‘indillahi khayr, niscaya (mereka akan mendapati bahwa) pahala di sisi Allah adalah lebih baik]. مَثُوبَةٌ (matsŭwbatun) dari kata ثَوَابَ (tsawāb, imbalan atau pahala). Dalam benak kita, yang namanya pahala itu adalah urusan di akhirat nanti. Tetapi ternyata kata ثَوَابَ (tsawāb) ini tidak melulu soal akhirat saja. Orang bisa mendapatkan ثَوَابَ (tsawāb) di dunia. “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki imbalan di dunia, niscaya Kami berikan kepadanya imbalan dunia itu, dan barangsiapa menghendaki imbalan akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya imbalan akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: ‘Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan kuatkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’. Karena itu Allah memberikan kepada mereka imbalan  di dunia dan imbalan yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (4:145-148) Ayat ini sejalan dengan ayat berikut: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi (apabila) mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka (sendiri).” (7:96).

 

5). Janji Allah itu ternyata luar biasa; لَّوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ (law kānŭw ya’lamŭwn, kalau mereka mengetahui). Sayangnya, Bani Israil lebih memilih sihir ketimbang mengikuti nubuwat dan petunjuk Kitab Suci, baik Kitab Suci mereka sendiri maupun Kitab Suci yang dibawah Nabi Muhammad saw. “Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan.” (5:65)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Setiap pecinta dunia pasti menginginkan dunia. Sayangnya mereka lupa bahwa dunia inipun milik Allah. Apabila mereka mengejarnya tanpa menghiraukan agam-Nya, niscaya Allah akan menjadikan perolehannya sebagai alat untuk menghukumnya. Tapi kalau mereka beriman dan bertakwa, Allah akan berikan kepadanya imbalan di dunia dan di akhirat.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply