Al-Baqarah ayat 101

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 12, 2011
0 Comments
1428 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 101

 

وَلَمَّا جَاءهُمْ رَسُولٌ مِّنْ عِندِ اللّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ كِتَابَ اللّهِ وَرَاء ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ

[Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab Suci) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab Suci (tersebut) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah).]

[And when there came to them a Messenger from Allah verifying that which they have, a party of those who were given the Book threw the Book of Allah behind their backs as if they knew nothing.]

 

1). Inilah al-Qur’an. Tidak ada yang tidak jelas. Ayat ini mempertegas seluruh pembahasan sebelumnya berkenaan dengan penolakan Bani Israil terhadap Khalifah Ilahi, yang kemudian tersimpul dalam apa yang disebut عَهْد (aɦd) di ayat yang lalu. Bahwa Janji Ilahi yang mereka ingkari ialah berkenaan dengan nubuwat Kitab Suci mereka akan kedatangan Nabi Muhammad (sebagai Khalifah Ilahi) beserta Kitab Suci (al-Qur’an) yang dibawanya; yang bahkan mereka selalu menyebut-nyebut namanya, bertawassul kepadanya, sebelum kedatangannya, seperti yang telah dijelaskan di ayat 89. Sehingga puncak dari عَهْد (aɦd) itu ternyata ialah pengakuan, penerimaan, dan kapatuhan kepada Khalifah Ilahi—yang menjadi konsep dasar penciptaan seluruh realitas. Namun demikian, kendati tertera dengan jelas dan terang-benderang di dalam Kitab Suci yang mereka sendiri agungkan, tetapi karena penyakit hati yang disebut بَغْي (baghyun, iri hati atau dengki) dan pemihakannya di belakangan Khalifah Duniawi, yang bermula dari CINTA DUNIA, maka bukan saja menentang kerasulan Muhammad dan Kitab Suci al-Qur’an, bahkan mencampakkan kandungan Kitab Suci mereka sendiri ke belakang punggung-punggung mereka, seolah-olah itu semua tidak pernah ada—mereka men-tahrif ayat-ayatnya dan bersikap fasiq kepadanya. Sesuatu yang tadinya mereka nanti-nantikan dan bangga-banggakan, kini mereka perolok-olokkan. “Dan tak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan yang sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya (dengan mendustakannya). Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al Qur’an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.” (6:4-5)

 

2). Penggunaan anak kalimat جَاءهُمْ رَسُولٌ مِّنْ عِندِ اللّهِ (jāaɦum rasŭwlun min ‘indillah, telah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah), menerangkan dengan sangat jelas bahwa: satu, Rasul sebagai Khalifah Ilahi, itu bukan hasil musyawarah dan permufakatan manusia, bukan bangsa dan kalangan tertentu yang memunculkannya, melainkan “datang” atau “diutus”, sehingga kalau kemudian dia atau mereka datang dari rumpun keluarga tertentu di suatu wangsa tertentu, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan primordialisme dan fanatisme. Apabila “sesuatu” sudah terbukti “kebenaran”-nya, maka dengan serta-merta “sesuatu” itu terlepas dari ikatan-ikatan kolektivisme (aliran, mazhab, dsb.); “kebenaran” bukan aliran, bukan mazhab.  Karena “kebenaran” itu bukan milik siapa-siapa; “kebenaran” adalah milik dirinya sendiri. “Kebenaran” tidak perlu disangga atau ditopang oleh aliran atau mazhab. Sehingga orang yang memilih dan menjadi pengikut “kebenaran” bukanlah sedang ‘menjadi’ pengikut aliran atau mazhab manapun. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (3:67) Dua, Rasul sebagai Khalifah Ilahi adalah مِّنْ عِندِ اللّهِ (min ‘indillah), “datang” atau “diutus” dari sisi Allah. Dia bukan “datang” sendiri, juga bukan “diutus” oleh dirinya sendiri. Kedatangan para Khalifah Ilahi adalah murni domain Ketuhanan. Allah-lah satu-satunya pemegang otoritas masalah itu. Itu bagian dari “amr”-Nya, yang tak bisa diintervensi oleh apapun dan siapapun. “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka men-jadilah ia.” (36:82) Tiga, kata ganti (dlamĭr) هُمْ (ɦum) dalam kata جَاءهُمْ (jāaɦum) adalah mengganti posisi Bani Israil. Sehingga Nabi Muhammad bukanlah Rasul untuk bangsa Arab saja, bukan untuk manusia selain Bani Israil saja. Nabi Muhammad saw adalah untuk seluruh manusia, termasuk Bani Israil. Maka pengingkaran Bani Israil kepada Nabi Muhammad sama dengan pengingkaran mereka kepada Allah sebagai “Pengutus” (al-Mursil). “Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab Suci (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (akan datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)’. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata’.” (61:6)

 

3). Ya, “Ini adalah sihir yang nyata”, kata Bani Israil. Karena نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ كِتَابَ اللّهِ وَرَاء ظُهُورِهِمْ [nabadza farĭyqan minalladzĭyna ŭwtul-kitāba kitāballahi, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab Suci (tersebut) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)-nya]. Dalam Kamus Arab-Indonesia Al-Munawwir, kata نَبَذَ (nabadza) diartikan dengan “membuang”. Jika dikaitkan dengan al-amr (urusan), diartikan sebagai “mengesampingkan”. Kalau dikaitkan dengan al-aɦd, artinya adalah “melanggar”. Ketiga arti tersebut cocok dengan kata نَبَذَ (nabadza) di ayat ini, karena mereka itu—demi mengingkari Nabi Muhammad dan al-Qur’an—rela ‘membuang’ (atau paling tidak, men-tahrif) ayat-ayat dari Kitab Suci mereka sendiri ke belakang punggung-punggung mereka, semata untuk “mengesampingkan” pengutusan rasul sebagai “amr”-Nya Allah; dan dengan begitu, mereka “melanggar” عَهْد (aɦd)-nya yang suci dengan Allah swt yang Maha Suci yang berkenaan dengan Khalifah Ilahi. Itu sebabnya perbuatan ini bukan saja khas Bani Israil. Perbuatan ini juga dilakukan oleh para tiran serta pendukung-pendukungnya, karena dengan begitu mereka bisa berkuasa dan memerintah sekehendak hawa nafsu mereka sendiri. Mereka keberatan dan menentang mati-matian konsep penunjukan Khalifah Ilahi oleh Allah, tetapi mereka—termasuk konco-konconya dari kalangan intelektual dan ulama—tidak pernah mempersoalkan penunjukkan anak-anak, keturunan, dan kerabat mereka (para tiran itu) sebagai pelanjut mereka sebagai Khalifah Duniawi (oleh diri mereka sendiri). Kepada orang-orang seperti inilah Allah berjanji untuk mencampakkannya juga ke dalam kebinasaan. “Dan berlaku angkuhlah Fir`aun dan bala tentaranya di bumi tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami campakkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.” (28:39-40)

 

4). Penggunaan klausa كَأَنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ (kaannaɦum lā ya’lamŭwn, seolah-olah mereka tidak mengetahui—bahwa itu adalah Kitab Allah) menarik. Karena kata كَأَنَّ (kaanna, seolah-olah)—yang bisa disetarakan dengan kata “sepertinya” dan “seakan-akan”—menunjukkan bukan yang sebenarnya. Jadi kalau dikatakan bahwa Bani Israil itu “seolah-olah mereka tidak mengetahui”, berarti yang sebenarnya ialah “mereka mengetahui” bahwasanya Muhammad itu adalah Nabi Allah dan al-Qur’an adalah Kitab Allah. Mereka mengetahui bahwasanya di dalam Kitab Suci mereka juga disebutkan dengan jelas dan terang-benderang mengenai nubuwat ini. Tetapi mereka sengaja mencampakkan kebenaran itu karena rasa dengki dan cinta dunia yang menguasainya. Mereka ketakutan kehilangan pengaruh dan pengikutnya. Mereka bukan berlindung kepada Allah, tetapi mereka berlindung kepada hawa nafsunya. “Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mu’min yang mengikutimu.” (8:64)

 

AMALAN PRAKTIS

Orang yang mengaku mengimani Kebenaran tetapi tidak menerapkannya secara sempurna di dalam seluruh aspek kehidupan padahal memiliki kekuasaan untuk itu, maka sikap mereka itu adalah sebuah kepura-puraan. Mereka adalah penganut filsafat “seolah-olah”. Yang terjadi sesungguhnya ialah mereka mencampakkan Kebenaran itu ke belakang punggung mereka seraya mengikuti hawa nafsunya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply