Al-Baqarah ayat 100

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 11, 2011
0 Comments
1582 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 100

 

 

أَوَكُلَّمَا عَاهَدُواْ عَهْداً نَّبَذَهُ فَرِيقٌ مِّنْهُم بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ

[Apakah (patut mereka beriman kepada ayat-ayat Allah)! Bukankah setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka mencapakkannya? Bahkan (sebenarnya) sebahagian besar mereka tidak beriman.]

[What! whenever they make a covenant, a party of them cast it aside? Nay, most of them do not believe.]

 

1). Para ahli tafsir mengaitkan ayat 99 dan 100 ini dengan Asbabun Nuzul yang berpangkal pada Ibnu Abbas, yang juga dikutip oleh Jalaluddin as-Suyuthi melalui Ibnu Abi Hatim dari jalur Sa’id atau Ikrimah. “Ibnu Shuriya berkata kepada Nabi saw, ‘Wahai Muhammad, engkau tidak datang dengan apa yang kami ketahui. Dan Allah tidak menurunkan ayat yang jelas kepadamu’.” Demi menjawab sangkalan Bani Israil ini, Allah lalu menurunkan ayat 99. Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menyebutkan, “Ketika Rasulullah diutus dan mengingatkan orang-otang Yahudi dan janji mereka kepada Allah serta perintah-Nya kepada mereka agar beriman kepada Nabi Muhammad saw, Malik bin Shaif berkata: ‘Demi Allah, Allah tidak memerintahkan kepada kami untuk beriman kepada Muhammad dan Allah juga tidak mengambil janji dari kami (untuk hal itu)’.” Lalu turunlah ayat 100. (Catatan: Ibnu Shuriya al-Quthwaini dan Malik bin as-Shaif adalah dua tokoh Yahudi Madinah. Ibnu Shuriya bahkan dikenal yang paling alim diantara mereka). Dari sebab turunnya kedua ayat ini bisa disimpulkan bahwa—untuk Bani Israil di Madinah—terma  آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ (āyātin bayyinātin, ayat-ayat yang jelas) adalah berkenaan dengan janji mereka (yang juga tertera dengan jelas di dalam Taurat mereka) mengenai kenabian Muhammad beserta al-Qur’an yang dibawahnya, sebagai kelanjutan dari nabi-nabi dari kalangan mereka beserta Kitab Suci yang menyertainya. Tetapi kemudian “mereka mencampakkannya…. (karena) sebahagian besar mereka tidak beriman”. Allah lalu menyindir orang-orang seperti ini: “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu (Muhammad) telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akan akibat-akibatnya).” (8:55-56) Karena kalau janji mereka saja kepada Allah mereka campakkan, apatah lagi kalau cuma janjinya dengan Nabi Muhammad. Dan siapa saja yang berani mengkhianati perjanjian dengan Nabi Muhammad, maka tentu terlebih lagi kalau cuma kepada pemimpin politik biasa.

 

2). Ayat ini agak ganjil dari ayat-ayat yang lain disebabkan oleh permulaannya yang berbunyi أَوَ (a-wa). Kalau seandainya huruf waw-nya di-sukun (dimatikan bacaannya), maka bunyinya menjadi أَو (aw), artinya pun menjadi jelas: “atau, or”. Sedangkan أَوَ (a-wa) tidak jelas artinya, bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasyāf-nya menyebutkan bahwa huruf “waw” di situ adalah ‘athaf (kata sambung) terhadap makna yang tak tertuliskan dari potongan ayat sebelumnya: وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلاَّ الْفَاسِقُونَ (wa mā yakfuru biɦā illal-fāsiqŭwn, dan tak ada yang ingkar kepadanya melainkan orang-orang yang fasik). Sehingga kalau kedua potongan ayat ini (99 dan 100) disambung oleh waw ‘athaf tersebut, maka kalimatnya seolah-olah menjadi: أكفروا بالآيات البينات وكلما عاهدوا [akafarŭw bil āyātil bayyināti wa kullamā ‘āɦadŭw, apakah mereka mengingkari ayat-ayat (Allah) yang jelas dan tiap kali mereka berjanji (dan seterusnya)]. Sedangkan kalau kata الْفَاسِقُونَ (al-fāsiqŭwn) yang merupakan bentuk fā’il (pelaku) di ayat 99 diubah menjadi fi’il (kata kerja), kemudian disambung dengan ayat 100, maka menurut Abu Sammāl, seperti dikutip Zamakhsyari, kalimatnya seakan-akan menjadi: وما يكفر بها إلا الذين فسقوا، أو نقضوا عهد الله مراراً كثيرة (wa mā yakfuru biɦā illal-fāsiqŭwn, aw naqadlŭw ‘aɦdallahi mirāran katsĭyratan, dan tiadalah yang mengingkari-nya kecuali orang-orang yang telah fasik, atau telah mengingkari janjinya dengan Allah berkali-kali). Artinya orang yang fasik, dalam konteks ayat 99, menurut bentuk kalimat yang terakhir, ialah orang yang telah mengingkari perjanjiannya dengan Allah berkali-kali (seperti yang disebutkan di ayat 100). Dan itu adalah para Ahli Kitab atau Bani Israil.

Menurut ar-Razi dalam Tafsir al-Kabir-nya, huruf  “أَ” (hamzah) di awal ayat adalah istifham (meminta kefahaman) yang bermaksud inkar (menolak) terhadap kemungkinan keberimanan mereka kepada ayat-ayat Allah yang begitu jelas, berdasarkan kebiasaan mereka yang sudah-sudah yang selalu mengingkari janjinya dengan Allah. Sehingga dengan begitu, Allah seolah-olah hendak menghibur Nabi bahwa pengingkaran Bani Israil kepadanya bukanlah yang pertama dalam riwayat hidup Bani Israil. Nabi-nabi sebelumnya pun telah mereka ingkari.

 

3). Kata عَهْد (‘ahd, janji atau perjanjian) sudah beberapa kali muncul. Yang pertama (di ayat 27) juga berbicara tentang orang-orang fasik. Yang kedua (di ayat 40) dan yang ketiga (di ayat 80) tentang Bani Israil. Kalau kita menstudikan semuanya, kita akan menemukan bahwa makna عَهْد (‘ahd, janji) yang terkandung di ketiga ayat tersebut hampir sama. Mari kita lihat.

(Orang fasik ialah)) orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah berikrar (untuk melaksanakan perjanjian itu), dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk dihubungkan (yaitu tali silaturrahim) dan membuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (2:27)

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janji-mu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus takut (tunduk).” (2:40)

Dan mereka (Bani Israil) berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.’ Katakanlah: ‘Sudahkah kalian menerima janji dari Allah (tentang pengakuanmu itu) karena Allah tidak akan pernah memungkiri janji-Nya ataukah kalian hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui?’.” (2:80)

Kata-kata janji dan perjanjian (yang ditulis miring-tebal dan bergaris bawah) adalah terjemahan dari kata عَهْد (aɦd). Semuanya mengacu kepada Allah. Sehingga makna tunggal yang kita bisa ambil dari ketiga ayat tersebut ialah bahwa yang disebut عَهْد (aɦd) adalah Jinji Ilahi. Janji yang begitu sakral dan suci, karena mengikat hamba dengan Tuhannya.  Makna itu jugalah yang dikandung oleh kata عَهْد (aɦd) di ayat 100 ini.

 

4). Lalu bagaimana cara Bani Israil mengingkari janji-nya dengan Allah yang begitu jelas dan terang benderang, yang terdokumentasi dan atau tersimpan di memori sejarah lisan mereka? Caranya ialah dengan “mencampakkannya” begitu saja. Tak menghiraukannya, menyembunyikannya, atau menghapuskannya. Tentu tidak semua mereka bersifat seperti itu, hanya sebagian. Cuma sayangnya yang sebagian itu mempunyai pengikut yang banyak jumlahnya. نَّبَذَهُ فَرِيقٌ مِّنْهُم بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ (nabadzahu farĭyqun minɦum bal aktsaruɦum lā yu’minŭwn, segolongan mereka mencapakkannya, bahkan (sebenarnya) sebahagian besar mereka tidak beriman). Alasan mereka mencampakkannya? Apalagi kalau bukan karena CINTA DUNIA. “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab Suci (yaitu): ‘Hendaklah kalian menerangkan isi Kitab Suci itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” (3:187)

 

5). Dari ayat 99 dan 100 kita berkenalan dengan tiga terminologi keagamaan yang teramat penting, yang ketiganya saling terkait satu sama lain; keterkaitannya seperti matahari, bumi, dan bulan. Ketiga terma itu ialah: kafir, fasik, dan mukmin. Orang kafir adalah orang yang menutup fithrahnya dengan hijab penolakan terhadap Allah beserta hirarki eksistenial yang telah dibangun-Nya (ingat ayat 98). Orang fasik adalah orang yang sengaja keluar dari atau melanggar satu, sebahagian, atau keseluruhan, ayat-ayat Allah setelah mengakuinya (ingat ayat 99). Baik yang fasik, apalagi yang kafir, pada dasarnya adalah orang yang tidak beriman. Mereka, karenanya, tidak pantas lagi disebut mukmin. Orang yang cinta akan keimanan dan benci akan kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan pertanda mengikuti Jalan Lurus. “Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kalian ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kalian akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (49:7)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Kalau sengaja melanggar satu ayat saja dari Kitab Suci sudah cukup membuat kita menjadi penyandang gelar FASIK. Bagaimana pula kalau seandainya bukan saja melanggarnya, tapi sengaja mencampakkannya karena memandang sudah tidak sejalan lagi dengan perkembangan zaman? Allah menyebut orang seperti itu sebagai “mereka tidak beriman.”.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply