Al-Baqaraah ayat 170

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 29, 2012
0 Comments
5757 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 170

 

 وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

[Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?]

[When it is said to them: “Follow what Allah hath revealed:” They say: “Nay! we shall follow the ways of our fathers.” What! even though their fathers Were void of wisdom and ance?]

 

1). Kita sudah mengutip ayat ini di pembahasan ayat 167 poin 2, ketika para pengikut yang kecewa terhadap pemimpin atau imamnya berandai-andai bisa kembali sekali lagi ke dunia untuk ber-تَبَرَّأ (tabarra’, berlepas diri) dari seluruh pemimpin atau imam yang tidak sejalan dengan kehendak-kehendak Allah, yang berarti juga tidak sejalan dengan Risalah yang dibawah oleh Rasul-Nya. Inti ayat ini ada di kalimat: اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ (ittabi’ŭ mā anzalallaɦu, ikutilah apa yang telah diturunkan Allah). Kata اتَّبِعُوا (ittabi’ŭ, ikutilah) merupakan bentuk “perintah” (amr) dari kata اتَّبَعُواْ (ittaba’ŭ, mereka yang mengikuti) yang muncul di ayat 167 dan kata اتُّبِعُواْ (ittubi’ŭ, mereka yang diikuti) di ayat 166. Melalui hubungan keserumpunan kata, dari ayat-ayat ini (166, 167, dan 170) dapat dimengerti bahwa pemimpin atau imam panutan manusia hanya ada dua macam: pertama, yang tidak mengikuti apa yang diturunkan kepada Allah dan Rasul-Nya; dan kedua, yang mengikuti apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Hubungan pengikut dengan para pemimpin atau imam jenis pertama ialah bersifat doktrinal (yakni mereka terima melalui warisan leluhur, pengetahuan kolektif dan emosi belaka); sementara pada jenis kedua menggunakan pendekatan intelektual (atas dasar kesadaran individual, pengetahuan rasional, dan petunjuk Allah melalui Kitab Suci-Nya). Setelah memperlihatkan di ayat 166-167 betapa perihnya nanti penyesalan orang-orang yang salah memilih pemimpin atau imam, maka di ayat ini (170) Allah mengingatkan bahwa kesalahan itu ada pada diri mereka sendiri, karena Allah sendiri sudah tak henti-hentinya mengutus nabi, rasul, dan para imam demi mengajak mereka untuk berdiri di belakang manusia-manusia pilihan tersebut. “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan Risalah-Nya. (Sampaikanlah, niscaya) Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (5:67)

 

2). Lalu apa jawaban golongan pertama dalam menanggapi permintaan Allah: اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ (ittabi’ŭ mā anzalallaɦu, ikutilah apa yang telah diturunkan Allah). Mereka menjawab dengan menggunakan dalil—yang dalam Ilmu Budaya disebut—cultural-determinsm (determinisme budaya), yaitu bahwa manusia tidak lagi punya pilihan kecuali mengikuti apa yang mereka dapati dari moyang-moyangnya: قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا [qālŭ bal nattabi’u mā alfaynā ‘alayɦi ābāanā, mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (kebiasaan) nenek moyang kami”]. Di sini, dengan prinsip ini, manusia membiarkan diri terpasung oleh masa lalunya. Mereka membiarkan free-will (kehendak bebas) dan free-choice (pilihan bebas)-nya, yang juga berarti membiarkan nasibnya, tergadai oleh “kehendak” (will) dan “pilihan” (choice) para pendahulunya. Mereka lupa bahwa masa lalu pun sebetulnya adalah hasil kreativitas kolektif dari masa ke masa, dari generasi ke generasi. Terkadang bahkan kreativitas itu dipengaruhi oleh pemegang otoritas kekuasaan yang korup dan zalim di zamanya, yang tidakan-tindakannya sama sekali tidak dalam rangka kemaslahatan manusia melainkan semata manipulasi-manipulasi opini demi menjaga kelanggengan jubah kemewahannya secara turun-temurun. Jawaban seperti ini muncul beberapa kali di dalam al-Qur’an dengan varian yang berbeda-beda. Jawaban yang persis sama kita temukan di S. Luqman (31) ayat 21. Sedangkan jawaban yang lebih ‘mematikan’ kita temukan di S. Al-Maidah (5) ayat 104: قَالُواْ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا [qālŭ hasbunā mā wajadnā ‘alayɦi ābāanā, mereka menjawab: “Cukuplah bagi kami apa yang telah kami dapati dari (kebiasaan) nenek moyang kami”]. Perkataan حَسْبُنَا (hasbunā, cukuplah bagi kami) menunjukkan betapa mereka telah menutup diri terhadap segala bentuk perubahan; ruang kreativitas telah mereka sumbat sepenuhnya. Mungkin lebih pantas kita sebut prinsip ini sebagai: “radikalisme masa lalu”. “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorangpun pemberi peringatan dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’.” (43:23)

 

3). Lantas apa tanggapan Allah terhadap para pemegang prinsip seperti itu? Lihatlah humanisme rasional dari al-Qur’an: أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ [awalaw kāna ābāuɦum lā ya’qilŭna syay-a wa lā yaɦtadŭn, (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?]  Kesan yang bisa kita tangkap dari tanggapan Allah ini ialah bahwa: “Tidaklah semua warisan luhur yang kita temukan dari para pendahulu itu harus ditolak, sebagaimana tidak semua kita terima begitu saja.”  Agar terjadi apa yang disebut kreativitas-progresif-rasional dari warisan kemanusiaan, maka Allah menghendaki terjadinya proses pewarisan secara selektif. Alat seleksinya ialah: akal dan Petunjuk Allah. Jadi penolakan Allah terhadap kepengikutan mereka dari moyang-moyangnya bukanlah berangkat dari asumsi bahwa semua yang berasal dari leluhur itu pasti salah. Anak kalimat “tidak mengetahui suatu apapun” atau “(their fathers) were void of wisdom” adalah terjemahan bebas dari لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً (lā ya’qilŭna syay-a). Jikalau penggalan ayat ini diterjemahkan secara harafiah, maka bunyinya begini: “mereka tidak menggunakan akalnya pada (objek ilmu) apapun”. Jadi apa yang mereka warisi ditolak bukan karena masalah “budaya” atau “leluhur”, tapi semata karena warisan budaya itu tidak terverifikasi oleh akal sehingga tidak pantas menyandang predikat “ilmu”. Bagi Allah, apa saja yang tidak berkategori “ilmu” pada dasarnya “jahil”; dan semua yang “jahil” pasti dari syaitan—siapapun sumber lahiriahnya. “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah’. Mereka menjawab: ‘(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati dari (perbuatan) nenek-moyang kami’. Dan apakah mereka (akan mengikuti nenek-moyang mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (31:21)

 

4). Selain karena tidak terverifikasi oleh akal, penolakan Allah terhadap prinsif mereka juga karena tidak mendapat Petunjuk: وَلاَ يَهْتَدُونَ (wa lā yaɦtadŭn, dan tidak mendapat petunjuk). Apa gerangan yang dimaksud يَهْتَدُونَ (yaɦtadŭn, mendapat petunjuk) di sini? Apakah “Petunjuk” yang dimaksud ialah yang “iktisabi” (diusahakan) atau yang “ghayr-iktisabi” (tanpa usaha, datang secara ujuk-ujuk)? Seperti telah difahami bersama bahwa nama lain dari al-Qur’an ialah الْهُدَى (al-ɦudā, Petunjuk), tetapi al-Qur’an yang sampai kepada kita ialah al-Qur’an yang sudah berbentuk sebuah Buku—sebuah Objek (sebagaimana juga sebuah Buku Hadits) yang merupakan kumpulan kata-kata dan kalimat-kalimat yang perlu difahami. Lalu dengan alat apakah manusia memahaminya? Tentu dengan alat yang Allah sendiri berikan kepada manusia, yaitu: AKAL. Jadi—harus dipertegas—AKAL berfungsi sebagai ALAT untuk mengetahui (suatu objek ilmu), sementara Buku Suci (al-Qur’an) ialah “Objek” ilmu itu sendiri. Maka ketika Allah mengatakan: لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ [lā ya’qilŭna syay-a wa lā yaɦtadŭn, mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak (pula) mendapat petunjuk], yang Allah maksudkan ialah bahwa mereka itu “tidak menggunakan akalnya sama sekali pada Kitab Suci sebagai objek pengetahuan paling terjamin derajat kebenarannya.” Agama beserta pernak-perniknya bagi mereka hanyalah warisan leluhur belaka. Sikap beragama seperti ini, kata Tuhan: لاَ يَهْتَدُونَ (lā yaɦtadŭn, tidak mendapat petunjuk). Dengan demikian, terkuak sudah, bahwa Petunjuk yang dimaksud ialah yang “iktisabi” (diusahakan). “Turunnya Kitab Suci (al-Qur’an), yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam. Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: ‘Dia (Muhammad) yang mengada-adakannya’. Sebenarnya dia (al-Qur’an) itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelummu; mudah-mudahan (dengan peringatan dari al-Qur’an itu) mereka mendapat petunjuk.” (32:2-3)

 

5). Seandainya kebiasaan lama yang dalilnya disandarkan kepada nenek-moyang mereka itu tidak menegasi fungsi akal dan Petunjuk Ilahi, tentu tidak ada masalah bagi Allah.  Dengarkanlah kembali jawaban anak-anak Nabi Ya’qub as: “Adakah kalian hadir saat Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya’.” (2:133) Jawaban anak-anak Nabi Ya’qub ini menyiratkan sikap positif al-Qur’an terhadap kebudayaan. Terlebih, memang, setiap budaya seyogyanya menjelma melalui tiga tahapan: Pertama, tahap gagasan, yakni kebudayaan ketika masih berada dalam wujudnya yang ideal, tersimpan dalam bentuk fahaman-fahaman di kepala-kepala anggota masyarakat. Di tahap inilah kebudayaan hendaknya mengalami proses rasionalisasi serta asimilasi dan asosiasi dengan Petunjuk Ilahi. Kedua, tahap aktivitas, yakni fase kebudayaan ketika apa yang difahami tadi diturunkan dalam bentuk tindakan sehingga terwujud apa yang disebut norma-norma, nilai-nilai, tata-krama, pola hubungan antar warga, yang membentuk suatu pola tertentu, masif dan berulang, sehingga bisa diamati dan didokumentasi. Di tahap inilah lahirnya “sistem sosial”. Ketiga, tahap artefak, yakni setelah aktivitas dan sistem sosial tadi teraplikasi ke dalam bentuk karya-karya nyata, konkret, positif, dan empirik. Di tahap inilah lahirnya produk-produk seni, bahasa, sastra, mistikisme, upacara, kenduri, dan sebagainya, yang selain menjadi kebanggaan masyarakat tersebut juga menjadi simpul-simpul trust (kepercayaan) yang akan menjadi social capital (modal sosial) untuk bergerak lebih progresif lagi. Jika sejak tahapnya yang pertama, kebudayaan sudah mengalami proses rasionalisasi serta asimilasi dan asosiasi dengan Petunjuk Ilahi, maka kebudayaan pada tahapnya yang ketiga ini pun akan bercorak rasional dan religius. “Mereka (kaum ‘Ad) berkata (kepada Nabi Hud as): ‘Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar’. Ia berkata: ‘Sungguh sudah pasti kalian akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu’. Apakah kalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu’.” (7:70-71)

 

6). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ أَدْرَكَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ فِي رَكْبٍ وَهُوَ يَحْلِفُ بِأَبِيهِ فَنَادَاهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ وَإِلَّا فَلْيَصْمُتْ

[Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Laits dari Nafi’ dari Ibnu Umar ra(ma) bahwa dia pernah mendapati Umar bin Khathab ketika di atas tunggangannya bersumpah dengan nenek-moyangnya, lalu Rasulullah saw menyeru kepada orang-orang: “Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nenek-moyang kalian, barangsiapa bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah atau kalau tidak, lebih baik ia diam.”] (Shahih Bukhari no. 5643)

 

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ الْمِنْهَالِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

[Telah bercerita kepada kami ‘Utsman bin Abi Syaibah telah bercerita kepada kami Jarir dari Manshur dari al-Minhal dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas ra(ma) berkata: “Nabi saw biasa memohonkan perlindungan untuk Alhasan dan Alhusein (dua cucu beliau) dan berkata: ‘Sesungguhnya nenek moyang kamu pernah memohonkan perlindungan untuk Ismail dan Ishaq dengan kalimat ini: A’ŭdzu bi kalimaatillāɦit tāmmati min kulli syaithāni wa ɦāmmatin wa min kuli ‘aynin lāmmah.’ (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan segala makhluk berbisa dan begitupun dari setiap mata jahat yang mendatangkan petaka).”] (Shahih Bukhari no. 3120)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Tidak ada seorang pun diantara Anda yang bisa melepaskan diri sepenuhnya dari pengaruh leluhurnya. Manusia adalah makhluk satu-satunya yang menjadikan kebudayaan sebagai habitat hidupanya untuk survive. Masalahnya, mana yang harus Anda lepas dan mana yang harus Anda pertahankan. Pertahankanlah warisan luhur kebudayaan Anda selama masih rasional dan sejalan dengan Petunjuk Ilahi.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply