Pengantar Surat Al-Baqarah

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Pengantar Surat Al-Baqarahby Muhammad Rusli Malikon.Pengantar Surat Al-BaqarahSURAT AL-BAQARAH (Turun di Madinah, sebanyak 286 ayat) PENGANTAR 1). Turun di Madinah. Nama surat ini diambil dari kata baqarah (sapi betina) yang tertera di ayat 67, 68, 69, 70, dan 71, yang berkenaan dengan pergulatan Nabi Musa dengan Bani Israil setelah mereka dituntun keluar dari Mesir, negeri dimana mereka ditindas dengan kejam oleh Fir’aun. […]

SURAT AL-BAQARAH

(Turun di Madinah, sebanyak 286 ayat)

PENGANTAR

1). Turun di Madinah. Nama surat ini diambil dari kata baqarah (sapi betina) yang tertera di ayat 67, 68, 69, 70, dan 71, yang berkenaan dengan pergulatan Nabi Musa dengan Bani Israil setelah mereka dituntun keluar dari Mesir, negeri dimana mereka ditindas dengan kejam oleh Fir’aun. Cerita ini bisa dianggap sebagai substansi dari surat ini. Selain karena cerita ini hampir memakan sepertiga dari total surat (dari ayat 40 sampai ayat 123), juga karena perintah penyemblihan sapi betina kepada mereka memunculkan beberapa hal. Pertama, mereka (Bani Israil) gagal memahami arti kenabian, terutama dalam hal bahwa nabi itu adalah pemegang otoritas wilayah ilahi yang melingkupi seluruh jiwa manusia yang mengimaninya. Kedua, akibatnya, meraka tidak menganggap perintah Nabi Musa itu sakral dan mengikat. Mereka bahkan mempermainkannya. Mereka lebih memilih pandangan subyektif mereka terhadap perintah tersebut ketimbang berserah diri secara total kepada kehendak ilahi melalui nabi-Nya. Sehingga Nabi Musa ‘merintih’ seperti ini: “Dan (ingatlah) tatkala Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, mengapa kalian menyakiti(hati)ku, padahal kalian sungguh mengetahui bahwasanya aku (ini) adalah utusan Allah kepadamu?’.” (61:5). Ketiga, kelihatannya sederhana, tapi dari sikap seperti inilah nantinya bisa difahami rusaknya agama-agama samawi.

2). Turun berserakan di berbagai tempat dan kesempatan. Kendati demikian, urutan ‘cerita’-nya mengikuti alur yang tegas. Bahkan bersambung dengan surat sebelumnya. Ayat 1 sampai 20 mengelaborasi ketiga golongan manusia yang dibicarakan di Surat al-Fatihah ayat terakhir. Ayat 21 sampai 29, perintah untuk memilih menjadi manusia golongan pertama (an’amta ‘alayhim) yang berjalan di shirathal mustaqym (Jalan Lurus) dengan mempedomani secara sempurna al-Qur’an sebagai hudan (PETUNJUK)—sebagaimana yang diminta di Surat al-Fatihah ayat 6. Ayat 30 sampai 39 mendemonstrasikan bagaimana para pemegang otoritas wilayah ilahi (khalifah) itu menerima limpahan ilmu langsung dari ‘langit’(yang menyebabkan malaikat pun harus sujud kepadanya); bahwa pemilihan mereka itu benar-benar menjadi domain ilahi. Barulah setelah itu (ayat 40-123) al-Qur’an bercerita panjang lebar bagaimana mereka (pemegang otoritas wilayah ilahi itu) dikhianati oleh pengikutnya sendiri yang berdampak pada rusaknya agama-agama samawi. Dan supaya agama samawi yang rusak ini bisa kembali lagi ke relnya semula (shirathal mustaqym), Allah menyusulkan cerita pengangkatan Nabi Ibrahim dan keturunannya sebagai Imam bagi seluruh manusia (ayat 124-158) dan peran pemimpin (yang berasal dari luar domain ilahi) dalam mengeluarkan manusia dari wilayah pemegang otoritas ilahi tersebut (ayat 159-177). Setelah itu barulah dibicarakan orisinlitas hukum-hukum syari’at (ibadah dan muamalah) yang telah dirusak (ayat 178-285). Yang menarik, surat ini ditutup dengan doa (ayat 286) agar kita tidak memikul beban seperti umat-umat terdahulu karena hal itu teramat sangat berat. Beban apakah itu? Rusaknya agama samawi. Karena dengan rusaknya agama samawi, fir’aunisme dan namrutisme akan kembali menempati singgasananya. Dan itu artinya penderitaan bagi manusia dan kemanusiaan.

3). Surat ini merupakan yang terpanjang dalam al-Qur’an. Disamping ayatnya yang berjumlah paling banyak (286 ayat), juga ayat-ayatnya yang memang rata-rata panjang-panjang. Ayat yang terpanjang juga ada di surat ini, yaitu ayat 282 yang mencapai satu halaman penuh. Walaupun panjang, isinya cuma satu tema: pentingnya menuliskan transaksi berjangka. Apa yang dimaksud berjangka? Yaitu transaksi yang tidak selesai sekarang, kini dan di sini. Yaitu transaksi yang memakan waktu, entah cepat entah lama. Transaksi yang bahkan bisa berlanjut hingga anak keturunan. Tujuannya: agar tidak timbul perpecahan di antara manusia. Karena tujuan agama samawi adalah mengembalikan manusia pada persatuan dan kesatuannya (2:213). Islam, melalui ayat ini, mengajarkan betapa pentingnya tindakan preventif. Karena kalau perpecahan sudah terlanjur terjadi, teramat sangat sulit untuk mengembalikannya seperti semula. Itu sebabnya, Allah menganggap ini sebagai bagian dari takwa, yang siapa saja mengejawantahkannya akan diganjar dengan ilmu yang lebih banyak lagi: “…Dan bertakwalah kepada Allah,  (niscaya) Allah akan mengajarmu (ilmu baru)….” (2:282) Ayat ini pasti tidak keluar dari konteks Surat al-Baqarah secara keseluruhan, yaitu rusaknya agama-agama samawi.

AMALAN PRAKTIS : Jika Anda membaca surat ini, petakan di pikiran seluruh rangkaian narasi yang tersaji di dalamnya. Karena dengan begitu Anda akan terbimbing seperti permintaan Anda di Surat al-Fatihah ayat 6. Sebagaimana petunjuk Allah di awal surat ini: “Itulah al-Kitab (al-Qur’an), (yang) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (2:2)

Related Posts

Tinggalkan Balasan