Al-Baqarah ayat 207

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 207by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 207SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 207 وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَاللّهُ رَؤُوفٌ بِالْعِبَادِ [Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.] [And there is the type of man who gives his life to earn the pleasure of Allah: And Allah is […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 207

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَاللّهُ رَؤُوفٌ بِالْعِبَادِ

[Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.]

[And there is the type of man who gives his life to earn the pleasure of Allah: And Allah is full of kindness to (His) devotees.]

 

1). Sekarang kita masuk pada manusia jenis keempat dan sekaligus terakhir. Yaitu manusia yang tujuan hidupnya tidak lagi diembel-embeli oleh kata dunia (beserta perhiasan-perhiasannya) dan akhirat (beserta imbalan-imbalannya). Orang ini tak memandang apapun selain Khaliknya. Dia menyadari bahwa, secara hakikat, yang ada secara sejati hanyalah Allah. Yang lain—apapun rupa dan wujudnya—hanyalah manifestasi dari keberadaan-Nya. Termasuk keberadaan dunia dan akhirat. Andaikan Dia tidak ada, secara otomatis dunia dan akhirat pun tidak akan ada. Maka yang asasi hanya Dia. Yang lain hanyalah ‘turunan-turunan’ yang tersembul dari Kehendak-Nya, yang mekanisme pemuculannya tak dipengaruhi oleh apapun dan siapapun karena Dirinya adalah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin (57:3). Maka, bagi manusia jenis keempat ini, dirinya (jiwa dan raga, kehendak dan kekuatan, ilmu dan pengalaman) muncul dari Diri-Nya dan mencari jalan untuk kembali kepada-Nya. Sehingga selayaknya, dan yang masuk akal, ialah menjadikan semuanya kembali kepada Khalik-nya, kepada Asal-nya. Karena jalan seperti itulah yang mereka sifati. Tinggal pada manusianya, sebagai penerima amanah atas semua itu, apakah kehendaknya disejalankan dengan semuanya atau diselisihkannya. Apabila kehendaknya mengarahkan semua intrumen-instrumen itu kembali dengan suka rela kepada Asal-nya, berarti yang bersangkutan sama dengan mengorbankan atau menjual dirinya semata untuk mencari keridlaan Tuhannya. Dan Allah akan membelinya dengan surga. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Alquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (9:111)

 

2). Dalam terjemahan Bahasa Indonesia, kata يَشْرِي نَفْسَهُ (yasyriy nafsaɦu) diterjemahkan dengan “mengorbankan dirinya”. Sementara dalam terjemahan Bahasa Inggerisnya, diartikan dengan “gives his life” (menyerahkan hidupnya). Secara harafiah, يَشْرِي نَفْسَهُ (yasyriy nafsaɦu) bermakna “menjual dirinya”. Semuanya bisa diterima. Frase “mengorbankan dirinya” bermakna ada sesuatu yang bernilai namun sengaja ditinggalkan atau dikorbankan demi cita-cita yang lebih mulia. Apa gerangan itu? Apatah lagi kalau bukan keinginan hawa nafsu yang selalu melihat segala sesuatunya sebagai berdimensi “sekarang”, dan tak pernah melihat—apalagi mengakui—adanya dimensi “nanti” atau “masa depan”. Hawa nafsu tak menyadari bahwa waktu itu mengalir lurus ke depan seraya meninggalkan secara pasti apa-apa yang ada sekarang. Maka hawa nafsulah yang menuntut manusia agar semuanya harus dinikmai sekarang. Dan, celakanya lagi, karena hawa nafsu itu—sesuai dengan namanya—berkoeksistensi dengan nafs (diri) manusia. Sehingga yang pertama menjadi korban dalam memperturutkan hawa nafsu tiada lain kecuali nafs (diri) itu sendiri. Dan agar petaka eksistensial itu tidak terjadi, si pemilik nafs (diri) harus berani mengorbankan keinginan hawa nafsunya demi kepentingan “nanti”-nya. Mengorbankan (keinginan) hawa nafsu—berdasarkan prinsip koeksistensi tadi—identik dengan mengorbankan nafs (diri) itu sendiri.

Sementara frase “gives his life” (menyerahkan hidupnya) bermakna hidup ini tidak pantas untuk diklaim secara subjektif. Karena kita lahir (baca: hidup) memang tak punya kontribusi sedikitpun. Yang memilih untuk melahirkan kita sekarang, bukan dulu atau nanti, benar-benar di luar wilayah kehendak kita. Sehingga, karenanya, tak ada yang pantas untuk kita sebut sebagai “milik”. Bukankah semua yang kita akui sebagai “milik” hanyalah konsekuensi logis belaka dari adanya “hidup”. Andai kita tidak dihidupkan atau dilahirkan, tak ada yang bisa mengakui apa yang ada itu sebagai “milik”. Tak akan ada yang berkata “ini keluarga-KU”, “ini sahabat-sahabat-KU”, “ini harta benda-KU”, “ini pangkat dan jabatan-KU”, dan seterusnya.

Alhasil, jenis manusia keempat ini rela dan tulus mengorbankan, menyerahkan, atau menjual kepentingan ego, pribadi, dan jangka pendeknya demi kepentingan nilai, sesama, dan jangka panjagnya. Dan mereka melakukan semua itu semata karena ingin berjumpa (atau menyatu) dengan Tuhannya dalam ke-ridla-an-Nya. “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia biologis (basyar) seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kalian ialah Tuhan Yang Esa. Maka siapa saja mengharap perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadat kepada Tuhannya’.” (18:110)

3). Kata yang tak boleh kita lewatkan di ayat ini ialah ابْتِغَاء (ibtighā-a, mencari). Tanpa pahaman yang benar terhadap kata ini, agama (Islam) bisa dipersepsi secara salah dan fatalistik. Tidak sedikit diantara kaum Muslim yang beranggapan bahwa Tuhan sudah menentukan apa yang harus manusia lakukan, sehingga setiap orang tinggal menunggu ‘pengarahan’ Tuhan mengenai apa yang harus dikerjakannya. Manusia tak kuasa memilih apa yang seharusnya dan tidak seharusnya diperbuat. Sehingga taufik, hidayah, dan ridla-Nya akan diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa aturan dan formula yang bisa dirumuskan. Semuanya serba gaib dan abstrak. Manusia cukup menunggu (pasif) saja. Walaupun berusaha maksimal dalam melakukan amalan-amalan ahli surga tapi kalau Allah telah menentukannya masuk neraka, maka pada akhir hayatnya akan melakukan amalan ahli neraka sebagai syarat untuk masuk ke dalam neraka. Begitu juga sebaliknya. Dan pendapat ini tidak berhenti pada persoalan surga dan neraka saja, tapi juga pada persoalan-persoalan lain di dunia ini; seperti pintar dan tidak pintar, kaya dan miskin, raja dan rakyat, pahlawan dan penjahat, dan seterusnya.

Munculnya kata ابْتِغَاء (ibtighā-a, mencari) di ayat ini melawan paham yang salah dan fatalistik tersebut. Yaitu bahwa segala sesuatunya, termasuk ridla Allah, harus dicari. Dan dalam pencarian itu harus ada pengorbanan. Siapa saja yang berobsesi untuk mendapatkan sesuatu yang di-ridla-i-Nya, harus يَشْرِي نَفْسَهُ (yasyriy nafsaɦu), harus bersedia mengorbankan dirinya. Bersedia mengorbankan waktunya. Bersedia mengorbankan tenaganya. Bersedia mengorbankan harta-bendanya. Bersedia mengorbankan pangkat dan jabatannya. Bersedia mengorbankan pikirannya. Bersedia mengorbankan perasaannya. Bersedian mengorbankan nyawanya. Bersedia mengorbankan segala-galanya. “Dan siapa berharap berjumpa dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (perjumpaan yang dijanjikan) Allah itu pasti akan datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Dan siapa saja yang bersungguh-sungguh (dalam usahanya), maka niscaya kesungguhnnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (29:5-6)

4). Kesimpulannya, apapun (urusan dunia ataupun urusan akhirat) harus dicari. Tetapi sebaik-baik perkara yang harus dicari ialah مَرْضَاتِ اللّهِ (mardlātillāɦ, ridla Allah). Karena inilah ‘tempat’ tujuan tertinggi sebelum sampai kepada-Nya. Semua yang sifatnya duniawi akan ditinggal, dan pada akhirnya akan binasa. Para penempuh jalan ruhani (sālik) disyaratkan melewati tahapan ini sebelum ‘menghilang’ (fana’) ke dalam Keesaan-Nya yang mutlak. Kata مَرْضَاتِ (mardlāt, ridla) ini muncul lima kali dalam Alquran, empat ayat yang disandarkan kepada Allah (2:207, 2:265, 4:114, dan 60:1), dan satu ayat disandarkan kepada manusia (66:1). Sedangkan kata مَّرْضِيَّةً (mardliyyah) muncul hanya satu kali (89:28) dan disandarkan kepada nafs (diri).

Dalam kamus Arab-Inggeris, kata مَّرْضِيَّةً (mardliyyah) diartikan dengan satisfactory (baik, memuaskan), pleasing (menyenangkan), dan sufficient (cukup). Sehingga frasa مَرْضَاتِ اللّهِ (mardlātillāɦ, ridla Allah) bisa dimaknai sebagai: “Amalan-amalan (lahir ataupun batin) yang dimaksudkan mencari ‘kesenangan’ dan ‘kepuasan’ Allah semata sehingga Allah pun merasa ‘cukup’ terhadap pelaku amalan-amalan tersebut.” Ada manusia yang tujuan amalannya mencari dunia saja. Ada yang mencari akhirat saja. Ada yang mencari dunia dan akhirat. Para pencari مَرْضَاتِ اللّهِ (mardlātillāɦ, ridla Allah) ini tidak masuk ke dalam jenis-jenis manusia itu. Yang mereka cari justru menyelaraskan kesenangannya, menyelaraskan kepuasannya, dengan ‘kesenangan’ dan ‘kepuasan’ Tuhannya. Dan merasa cukup dengan itu saja. Tidak lagi dengan selainnya. Meminjam kata-kata ar-Razi dalam tafsir Mafatihul Ghaib-nya, bahwa jika pada ayat sebelumnya berbicara tentang orang-orang yang mengorbankan agamanya demi dunianya maka ayat ini berbicara tentang orang-orang yang mengorbankan dunia, diri, dan hartanya untuk kepentingan agamanya. Mereka inilah nampaknya yang Allah maksud dalam penggalan ayat ini: رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ (radliyallāɦu ‘anɦum wa radlū ‘anɦu, Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya) yang terulang empat kali (5:119, 9:100, 58:22, dan 98:8).

Yang mereka perkarakan bukan lagi “tujuan” dari perbuatan itu, tetapi “sikap” jiwanya terhadap perbuatan tersebut–karena manusia jenis yang keempat ini persoalan “tujuan” sudah selesai. Yakni adakah jiwanya masih “keberatan” dengan perbuatan itu atau sudah tidak. Jika masih “keberatan”, pertanda masih adanya kepentingan hawa nafsu di sana; dan berarti masih melakukan aniaya terhadap dirinya. “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan siapa yang berbuat demikian karena mencari ke-ridla-an Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (4:114)

5). Ayat ini ditutup dengan kalimat pendek: وَاللّهُ رَؤُوفٌ بِالْعِبَادِ (wallāɦu raūfun bil-‘ibād, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya). Di sini Allah memperkenalkan dirinya sebagai رَؤُوفٌ (raūfun, Maha Penyantun). Muncul 11 (sebelas) kali dalam Alquran, 9 (sembilan) diantaranya berpasangan dengan رَّحِيمٌ (rahīm, Maha Penyayang atau penyayang di 9:128). Dua yang lainnya (2:207 dan 3:30) berdiri sendiri dan bersambung dengan kata بِالْعِبَادِ (bil-‘ibād, kepada hamba-hamba-Nya). Dengan memperhatikan keseluruhan kandungan ayat, kata الْعِبَاد (al-‘ibād, hamba-hamba) seharusnya dibatasi maknanya pada مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ (man yasyriy nafsaɦu ibtighā-a mardlātillāɦ, orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah) saja. Sehingga kepada mereka itulah agaknya Allah memberlakukan sifat رَؤُوفٌ (raūfun, Maha Penyantun)-nya; melampaui perlakuan Allah terhadap manusia jenis kedua, yang menginginkan kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Pada saat membincang manusia jenis kedua di ayat 202, Allah menutup rangkaian ayat dengan memperkenalkan Diri-Nya hanya sebagai: سَرِيعُ الْحِسَابِ (sarī’ul-hisāb, Maha cepat perhitungan-Nya). “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdo’a: ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (59:10)

6). Ada beberapa versi yang berkenaan dengan sababun-nuzul (sebab turunnya) ayat ini. Al-Wāhidī, as-Suyūthī, di dalam kitab Asbabun-Nuzul-nya masing-masing, beserta beberapa mufassir, berpendapat bahwa ayat ini berkenaan dengan Shuhaib bin Sinan pada saat akan berangkat hijrah (meninggalkan Mekah menuju Madinah). Mengetahui kalau dirinya dibuntuti oleh beberapa orang Quraisy, maulā Abdullah bin Jud’an ini lalu turun dari tunggangannya seraya mengeluarkan anak-anak panah dan berkata: “Wahai orang-orang Quraisy, bukankah kalian tahu bahwa aku adalah salah satu orang yang paling pandai memanah. Demi Allah, kalian tidak akan sampai kepadaku sebelum aku menggunakan anak-anak panah ini untuk membunuh kalian, kemudian aku akan menggunakan pedangku selama masih ada di tanganku. Setelah itu barulah kalian bisa melakukan apa yang kalian inginkan terhadapku. Tapi jika kalian mau, aku serahkan hartaku yang ada di Mekah asal kalian membiarkan aku melanjutkan perjalanan.” Menurut riwayat, begitu sampai di Madinah, Rasulullah saw lantas bersabda kepada Shuhaib: “Beruntunglah jual belimu wahai Abu Yahya….

Tapi tidak sedikit juga mufassir dan ulama—diantaranya: ar-Rāzi dalam Mafātihul Ghaib-nya, Thabari dalam Tarikh-nya, Ibnu Abil Hadid dalam Syarɦ Nahjul Balāghah-nya—yang berpendapat bahwa sababun-nuzul (sebab turunnya) ayat ini ialah Ali bin Abi Thālib pada persitiwa laylatul-mabit, di malam menjelang hijrahnya Nabi bersama Abu Bakar. Seperti diketahui bersama bahwa saat itu para algojo Quraisy mengepung Nabi. Pada tengah malam, saat para pengepung itu pulas, Nabi lalu meminta Ali tidur di ranjang tidurnya untuk mengecoh mereka agar dia dan Abu Bakar dapat meninggalkan rumah tanpa terendus. Tanpa pikir panjang, Ali langsung menyanggupi permintaan Nabi tersebut. Artinya, Ali melakukan tindakan يَشْرِي نَفْسَهُ (yasyriy nafsaɦu), mengorbankan, menyerahkan, dan menjual nyawanya demi kepatuhan mutlaknya kepada Sang Nabi. Karena dia tahu bahwa dalam kepatuhan mutlak kepada Kekasih Allah itulah letaknya مَرْضَاتِ اللّهِ (mardlātillāɦ, ridla Allah). Itu sebabnya, saat Allah menyebut orang-orang yang beriman dan beramal shaleh sebagai خَيْرُ البَرِيَّةِ (khayrul bariyyah, sebaik-baik makhluk) dan mengganjarnya dengan رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ (radliyallāɦu ‘anɦum wa radlū ‘anɦu, Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya), Thabarī dalam tafsir Jāmi’ul Bayān-nya, dengan mengutip sebua hadis, menyebut: أنْتَ يا عَليُّ وَشِيعَتُكَ (anta yā ‘alĭ wa syī’atuka, engkau wahai Ali dan syi’ah-mu).

7). Hadis Nabi saw.:

قَالَ وَشَرَى عَلِيٌّ نَفْسَهُ لَبِسَ ثَوْبَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَامَ مَكَانَهُ قَالَ وَكَانَ الْمُشْرِكُونَ يَرْمُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ وَعَلِيٌّ نَائِمٌ قَالَ وَأَبُو بَكْرٍ يَحْسَبُ أَنَّهُ نَبِيُّ اللَّهِ قَالَ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ انْطَلَقَ نَحْوَ بِئْرِ مَيْمُونٍ فَأَدْرِكْهُ قَالَ فَانْطَلَقَ أَبُو بَكْرٍ فَدَخَلَ مَعَهُ الْغَارَ

[…Berkata Ibnu Abbas: Ali Juga pernah mengorbankan nyawanya dengan memakai baju Rasulullah dan tidur di tempat beliau untuk menggantikannya padahal ketika itu orang-orang musyrikin melempari Nabi. Kemudian Abu Bakar datang ketika Ali sedang tidur; Abu Bakar mengira yang tidur adalah Rasulullah, (sehingga) ia memanggilnya: “Wahai Rasulullah!” Ali Menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah telah pergi ke sumur Maimun maka cepatlah engkau menyusul beliau.” Lalu Abu Bakar pun menyusulnya dan masukbersamanya ke dalam gua….] (Musnad Ahmad no. 2903)

 

AMALAN PRAKTIS

Setiap hasil selalu memustikan adanya pengorbanan sebelumnya. Anak ayam bisa lahir setelah telur mengorbankan dirinya dengan memecah cangkangnya. Kalau tidak, telur-telur berikutnya tidak akan pernah muncul lagi. Spesies ayam pun punah. Jika Anda tidak mau mengorbankan jiwa untuk mencari ridha Allah, maka sambutlah masa-masa punahnya kebahagiaan Anda. Karena jiwa hanya bisa merasa bahagia tatkala menjumpai Allah sebagai Asal Sejati yang dirindukannya.

Related Posts

Leave a Reply