Al-Baqarah ayat 173

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 173by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 173SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 173   إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ [Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika) disembelih (disebut nama) untuk selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 173

 

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

[Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika) disembelih (disebut nama) untuk selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.]

 

[He hath only forbidden you dead meat, and blood, and the flesh of swine, and that on which any other name hath been invoked besides that of Allah. But if one is forced by necessity, without wilful disobedience, nor transgressing due limits,- then is he guiltless. For Allah is Oft-forgiving Most Merciful.]

 

1). Telah disebutkan sebelumnya bahwa orang beriman hendaknya dapat memastikan bahwa makanan yang dimakannya benar-benar berkategori طَيِّبَاتِ (thayyibāt, yang suci). Ini perlu perhatian ekstra hati-hati karena keadaannya tidak sejelas makanan-makanan yang dihalalkan. Bisa disederhanakan begini; semua jenis makanan yang tidak masuk kategori haram menurut Allah dan Rasul-Nya, berarti halal. Sementara makanan-makanan yang diharamkan tidak banyak dan sangat mudah dikenali oleh orang yang paling awam sekalipun. Firman-Nya: إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللّهِ [innamā harrama ‘alaykumul-maytata wad-dama wa lahmal-khinzĭri wa mā uɦilla biɦi lighyrillāɦi, sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi dan (binatang) yang disembelih untuk (tujuan) selain Allah]. Tentu ada lagi makanan tambahan yang diharamkan di dalam al-Qur’an ataupun di dalam riwayat-riwayat (hadits-hadits) yang bisa dipertanggungjawabkan sumbernya, tetapi 4 (empat) jenis inilah yang paling utama dan paling umum dijumpai di manapun di belahan bumi ini. “Diharamkan bagi kalian (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kalian menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan…. Mereka menanyakan kepadamu: ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah: ‘Dihalalkan bagimu hal-hal yang suci dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kalian ajar dengan melatihnya untuk berburu, kalian mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya’.” (5:3-4)

 

2). Dari 4 (empat) jenis makanan haram yang disebutkan ayat ini, 3 (tiga) diantaranya sangat jelas: bangkai, darah, dan daging babi. Semua hewan sembelihan yang berstatus halal namun mati sebelum sempat disembelih, terbilang bangkai. Baik matinya secara alamiah atau karena kasus lain, seperti tercekik, dipukul atau terpukul, terjatuh, ditanduk, dan diterkam binatang buas. Lalu apa maksud وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللّهِ (wa mā uɦilla biɦi li-ghyri-llāɦi)? Secara harafiah kalimat ini jelas-jelas berbeda dengan yang ada di ayat-ayat yang berbicara soal cara penyembelihan atau perburuan (5:4, 6:118, 6:119, 6:121, 6:138, 22:34, dan 22:36). Mari kita kutipkan salah satu contohnya: فَكُلُواْ مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ [fa-kulŭ mimmā dzukira-smu-llāɦi ‘alayɦi in kuntum bi-āyātiɦi mu’minĭn, maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kalian beriman kepada ayat-ayat-Nya] (6:118). Perhatikan penggalan: ذُكِرَ اسْمُ اللّهِ (dzukira-smu-llāɦi, disebut nama Allah). Pada ayat yang kita bahas sekarang (ayat 173) tidak ada ungkapan: اسْمُ اللّهِ (ismu-llāɦi, nama Allah). Yag ada ialah: لِغَيْرِ اللّهِ (li-ghyri-llāɦi); yang diartikan secara harafiah menjadi “untuk selain Allah”. Jika kita satukan kedua ungkapan yang berbeda ini, akan bermakna seperti ini: “Semua hewan sembelihan yang berstatus halal hanya boleh (halal) dimakan manakala disebut nama Allah saat menyembelihnya; tetapi kendatipun disebut nama Allah saat menyembelihnya namun sengaja diperuntukkan kepada selain (atau bertentangan dengan syariat) Allah maka statusnya juga haram”. Maka walaupun hewan itu termasuk hewan sembelihan halal dan disebutkan nama Allah saat menyembelihnya akan tetapi sengaja diperuntukkan untuk acara pesta miras (minuman keras) misalnya atau acara-acara lain (yang bertentangan dengan syariat Allah), statusnya tetap haram. “Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan. Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantahmu; dan jika kalian menuruti mereka, sesungguhnya kalian tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (6:120-121)

 

3). Untuk apa Allah membuat aturan-aturan yang terasa membatasi ‘kebebasan’ manusia ini? Yang pasti bukan untuk Tuhan, karena Dia sendiri sudah Maha sempurna, tidak butuh kepada apapun dan siapapun. Di dalam al-Qur’an Allah sering menyebut diri-Nya sebagai ar-Rahman (Yang Maha Pengasih). Maka aturan-aturan itu Allah buat semata untuk kepentingan manusia, makhluk yang Dia ciptakan paling sempurna, sebagai salah satu bukti kasih-Nya. Hewan-hewan adalah makhluk jasmani (tanpa ruhani) dengan kemampuan gerak. Malaikat-malaikat adalah makhluk ruhani (tanpa jasmani) dengan kemampuan gerak. Manusia adalah makhluk jasmani dan ruhani dengan kemampuan gerak. Demi menjaga agar ruhani manusia—hamba terbaik-Nya ini—tetap suci, Allah lantas memberi Panduan. Tetapi jikalau aturan di dalam Panduan (yang orientasi utamanya ke ruhani manusia) itu membahayakan tubuh jasmani manusia, maka Dia menyusulnya dengan aturan lain yang mendahulukan kelangsungan hidup jasmani tersebut. Karena jiwa manusia eksis di balik tubuh jasmaninya. Ungkap-Nya: فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ (fa-mani-dlthurra ghayra bāghin wa lā ‘ādin fa-lā itsma ‘alayɦi, tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya). Keadaan terpaksa yang dimaksud tentu saja yang berkaitan dengan nyawa manusia. Itupun dengan tamabahn kata-kata: غَيْرَ بَاغٍ (ghayra bāghin), dalam pengertian “tidak ada niat atau maksud sama sekali untuk melakukan pelanggaran” dan: وَلاَ عَادٍ (wa lā ‘ādin), tidak melampaui batas kebutuhan menurut yang sepatutnya. Apabila direncanakan dari awal untuk memasuki keadaan darurat tersebut, maka hukumnya tetap terlarang. “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan dan binatang yang (ketika) disembelih (disebut nama) untuk selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.” (16:115-116)

 

4). Pertanyaannya, kenapa Allah menyebut orang yang terpaksa memakan makanan yang jelas-jelas telah Dia sendiri haramkan sebagai: فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ (fa-lā itsma ‘alayɦi, maka tidak ada dosa baginya)? Di sini kita menemukan makna dari kata إِثْم (itsmun, dosa). Yaitu bahwa إِثْم (itsmun, dosa) ialah akibat buruk yang diterima oleh jiwa sebagai konsekuensi dari pelanggarannya terhadap hukum-hukum Allah, karena semua hukum Allah adalah demi kemaslahatan jiwa itu sendiri. Mari kita tengok cuplikan Surat al-Baqarah (2) ayat 283: وَلاَ تَكْتُمُواْ الشَّهَادَةَ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ [wa lā taktumŭsy-syaɦādata wa man yaktumɦā fa-innaɦu ātsimun qalbuɦu, dan janganlah kalian (para saksi) menyembunyikan persaksian; dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya dia berdosa jiwanya]. Dengan demikian, semakin sering seseorang melakukan pelanggaran hukum semakin rusaklah jiwa atau kalbunya. Terhadap orang yang “terpaksa”, tidak bisa lagi disebut berdosa sebab sudah ada hukum yang membolehkannya, sehingga tidak bisa juga disebut melanggar. Dari sisi inilah kita bisa mehami dengan benar rahasia nama Allah yang agung: إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (inna-llāɦa ghafŭrur-rahĭm, sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang). Yaitu, Allah tidak akan memberlakukan غَفُورٌ رَّحِيمٌ (ghafŭrur-rahĭm, Pengampun Penyayang)-Nya jikalau di dalam pelanggaran itu ada unsur kesengajaan. “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian mohon ampun kepada Allah, niscaya dia mendapati Allah Maha Pengampun Maha Penyayang. Barangsiapa yang mengerjakan إِثْم (itsmun, dosa), maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudaratan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui Maha Bijaksana.” (4:110-111)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ حُرِّمَ عَلَيْهِمْ الشَّحْمُ فَبَاعُوهُ وَأَكَلُوا ثَمَنَهُ

[Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Sa'id bin Musayyab dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah saw bersabda: "Semoga Allah mengutuk orang-orang Yahudi, sebab telah diharamkan lemak bangkai atas mereka, namun mereka tetap menjual dan memakan hasil penjualannya."] (Shahih Muslim no. 2963)

 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ عَبْدِ الْوَهَّابِ بْنِ بُخْتٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَثَمَنَهَا وَحَرَّمَ الْمَيْتَةَ وَثَمَنَهَا وَحَرَّمَ الْخِنْزِيرَ وَثَمَنَهُ

[Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah bin Shalih dari Abdul Wahhab bin Bukht dari Abu az-Zinad dari al-A'raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamer dan uang penjualannya, mengharamkan bangkai serta uang hasil penjualannya, serta mengharamkan babi dan uang hasil penjualannya."] (Sunan Abu Daud no. 3024)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Agama datang untuk memelihara dan melindungi jiwa dan masyarakat manusia dari hulu hingga ke hilir. Apabila ada sesuatu yang Allah haramkan, maka sesedikit apapun tetap haram. Kecuali dalam keadaan terpaksa, dan tidak diniatkan dari awal, maka Allah membolehkannya, asal tidak melampaui batas yang patut. Itulah wujud ampunan dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang hidup dalam ruang yang serba terbatas. Itu berlaku, selama Anda tidak melakukan pelanggaran hukum secara sengaja.

Related Posts

Leave a Reply