Al-Baqarah ayat 156

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 156by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 156SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 156   الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ [(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innā lillāhi wa innā ilayɦi rāji’ŭn" (sesungguhnya kita semua milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kita semua akan kembali.] [Who say, when afflicted with calamity: "To Allah We belong, and to Him […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 156

 

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

[(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innā lillāhi wa innā ilayɦi rāji’ŭn" (sesungguhnya kita semua milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kita semua akan kembali.]

[Who say, when afflicted with calamity: "To Allah We belong, and to Him is our return".]

 

1). Penggunaan kata الَّذِينَ (alladzĭna, orang-orang yang) di awal ayat ini menunjukkan bahwa kandungan ayat ini merupakan jabaran dari kata الصَّابِرِينَ (ash-shābirĭn, orang-orang yang sabar) yang menutup ayat sebelumnya (155). Yakni bahwa ciri utama orang sabar itu ialah apabila suatu musibah menimpanya maka dia kembali kepada prinsip ma’rifah (pengenalan batin) dan syuhudi (penyaksian batin)-nya kepada seluruh realitas; bahwa semua yang ada ini (yang terinderai ataupun yang tidak) merupakan jelmaan dari Diri Allah Rabbul ‘Ălamĭn. Karena tidak ada sumber lain selain-Nya. Tidak ada ‘tempat’ kembali lain selain Diri-Nya. Tidak ada kehidupan selain kehiduapan-Nya. Tidak ada kematian tanpa perbuatan-Nya. Tidak ada yang nampak selain penampakan-Nya. Tidak ada yang membatin selain batin-Nya. هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [ɦuwal-awwalu wal-ākhiru wad-zhāɦiru wal-bāthinu wa ɦuwa bikulli syay’in ‘alĭm, Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (57:4)]. Sehingga ke arah manapun seorang yang sabar memandang dan apapun yang dia jumpai, maka yang dia pandang dan jumpai adalah Wajah-Nya (2:115) yang ‘mendongak’ keluar dari Dzat-Nya. Itu sebabnya, bagi الصَّابِرِينَ (ash-shābirĭn, orang-orang yang sabar), semua kejadian, semua musibah, selalu mencerminkan keberadaan-Nya. Sehingga tidak ada musibah—seberat apapun menurut ukuran manusia biasa—yang menyentakkannya, apalagi menimbulkan gejala psikosomatik dan phobia baginya. “Hanya kepadaNyalah kalian semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar dari Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.” (10:4)

 

2). Dalam pengertiannya yang paling dasar, kata مُّصِيبَةٌ (mushĭbah) berarti “sesuatu yang menimpa”. Berasal dari akar kata ) صابshāba) yang berarti “poured” (tertuang, tercurah) atau “teeming” (padat, sesak), atau صوب )sha-wa-ba) yang berarti sight (terlihat, pemandangan), shoot (memanah, menembak), range (jangkauan, cakupan, kisaran), dan shine (menembakkan, menyorotkan)—kedua pengertian ini diambil dari LingvoSoft Online Dictionaries (www.lingvozone.com). Dari sini nanti muncul kata الصيب (ash-shayyib, hujan lebat) seperti dalam ayat أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاءِ [aw kshayyibin minas-samāi, atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit. (2:19)], dan kata صوابا (shawāba, perkataan yang benar) seperti dalam ayat وَقَالَ صَوَاباً [wa qāla shawāba,dan dia mengucapkan perkataan yang benar (78:38)]. Dari akar kata ini pula lahir bentuk kata selanjutnya: اصاب (a-shā-ba) yang—menurut Kamus al-Munawwir—diantara artinya ialah “tepat, benar, memperoleh, menimpa, mendapatkan”; seperti dalam ayat مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ [mā ishābaka min hasanatin faminallaāɦi wa ma ishābaka min sayyiatin famin nafsika, kebaikan apa saja yang menimpamu maka itu dari Allah, dan keburukan apa saja yang menimpamu maka itu dari (kesalahan) dirimu sendiri (4:79)]. Jikalau kita rangkai semuanya, maka kata مُّصِيبَةٌ (mushĭbah) bisa berarti “sesuatu yang datang tercurah bagai hujan lebat atau bagai tembakan dengan presisi yang benar, menimpa orang yang tepat dalam kisaran peristiwa yang padat, sehingga kejadiannya menjadi pemandangan yang menimbulkan rasa takut dan dampak negatif lainnya seperti kelaparan, kekurangan harta, kematian, dan kehabisan bahan pangan”. Dalam Bahasa Inggeris مُّصِيبَةٌ (mushĭbah) itu disebut: “misfortune (kemalangan), disaster (bencana), calamity (malapetaka), adversity (kesulitan), scourge (penderitaan), affliction (kesengsaraan), catastrophe (kehancuran, kekacauan), tribulation (kesusahan), trial (ujian, cobaan), ordeal  (siksaan), woe (duka, nestapa), distress (kesulitan), blow (pukulan berat)”. Itu sebabnya al-Mu’jam al-Wasĭth mendefenisikan kata مُّصِيبَةٌ (mushĭbah) ini dengan: كل مكروه يحل بالانسان (kullu makrŭɦin yahullu bil-insān, setiap kesulitan yang mendera manusia). “Tiada suatu musibah yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (57:22)

 

3). Seberat apapun musibah itu, bagi orang sabar, itu adalah momentum yang tepat untuk melisankan kandungan hatinya, simpul perjalanan ruhaninya: إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ (innā lillāɦi wa innā ilayɦi rāji’ŭn, sesungguhnya kita semua milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya (jua)-lah kita semua akan kembali). Secara ortografi (cara penulisan), kata لِلّهِ (lillāɦi, milik Allah) berasal dari kata اللّه (Allāɦ) juga yang dihilangkan huruf ا (alif)-nya sehingga walaupun sesungguhnya ada sesuatu yang “masuk” di sana—yaitu huruf لِ (li, milik)—tetapi tulisannya justru menjadi utuh dan kompak. Menurut ilmu isyarat, ini menunjukkan bahwa Allah dan apa-apa yang dimiliki-Nya tidak pernah berpisah. Keduanya (Allah dan milik-Nya) utuh dan kompak, sinkron dan integral. Dan, memang, keadaan inilah yang bisa diterima oleh akal (rasio) dan hati (rasa). Kalau kita mengandaikan Allah itu “berpisah” dengan makhluk-Nya, berarti kita juga mengandaikan bahwa Allah itu berada di suatu posisi ruang-waktu tertentu sebagaimana makhluk-Nya berada di suatu posisi ruang-waktu tertentu yang lain, kemudian di antara keduanya pasti ada “jarak” ruang-waktu tertentu lagi. Sehingga, dengan begitu, di sana kita menyadari adanya tiga macam entitas: Allah, makhluk, dan jarak (antara keduanya). Kalau kita menerima pengandaian ini berarti, secara ontologi, kita pun menerima konsep TRINITAS atau TRIMURTI. “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya, dan (juga mengetahui) apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.” (57:4-5)

 

4). Itu ketika al-Qur’an bicara soal Allah. Tetapi ketika bicara soal manusia, al-Qur’an menggunakan kata إِلَيْهِ (ilayɦi, kepada-Nya). Dalam tulisan ini ada dua komponen yang jelas terlihat: kata depan إِلَي (ilā, ke atau kepada) dan kata ganti هِ (ɦi, Nya, Dia). Kata إِلَي (ilā, ke atau kepada) menunjukkan adanya ghāyah (tujuan) yang hendak dicapai, dan ghāyah (tujuan) itu sendiri ialah Allah yang diganti dengan dlamĭr (kata ganti) هِ (ɦi, Nya, Dia) tadi. Secara awam, manakala ada ghāyah (tujuan) berarti ada dua hal yang terpisah: sesuatu yang bergerak menuju ke tujuan, dan tujuan itu sendiri. Dalam konteks ayat 156 ini, sesuatu itu ialah kita manusia, dan tujuan itu ialah Allah. Sehingga, dengan begitu, dari sisi kita manusia—beda dengan dari sisi Allah seperti telah diterangkan di poin sebelumnya—seakan-akan ada ‘jarak’ dengan Allah. ‘Jarak’ itu adalah jarak kesadaran, karena pada hakikatnya secara eksistensial “jarak” itu sesungguhnya tidak ada. ‘Jarak’ ini berbeda bagi setiap orang. Jauh dekatnya tergantung pada jenjang perjalanan ruhani kita masing-masing dalam hal ma’rifah dan syuhidi. Dengan pengertian ini, maka bagi orang sabar, setiap ada مُّصِيبَةٌ (mushĭbah) selalu menjadi kesempatan berharga baginya untuk memperpendek ‘jarak’ perjalanan tersebut; dan artinya semakin mendekatkan dirinya kepada Dzat Yang Mahasempurna. Perjalanan itulah yang disebut رَاجِعونَ (rāji’ŭn, kembali). Disebut demikian karena perjalanan ruhani adalah perjalanan kembali ke Asal. Dan karenanya ucapan إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ (innā lillāɦi wa innā ilayɦi rāji’ŭn) disebut istirja’. “Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (31:15)

 

5). Di dalam Tafsir Jalalain dikutipkan sebuah hadits bahwa, “Barang siapa yang istirja’ (mengucapkan innā lillāɦi wa innā ilayɦi rāji’ŭn) ketika mendapat musibah, maka ia diberi pahala oleh Allah dan diiringi-Nya dengan kebaikan.” Juga diberitakan bahwa pada suatu ketika lampu Nabi saw padam, maka beliau pun mengucapkan istirja’, lalu kata Aisyah, “Bukankah ini hanya sebuah lampu!” Beliau menjawab: “Setiap yang mengecewakan (hati) orang mukmin itu berarti musibah.” Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kumpulan hadis-hadis mursalnya.

 

 

AMALAN PRAKTIS

Mungkin sifat sabar itu masih sangat jauh dari diri kita. Tetapi itu tidak boleh menjadi alasan untuk tidak membiasakan ucapan innā lillāɦi wa innā ilayɦi rāji’ŭn pada setiap ada musibah sekecil apapun. Maka mulai saat ini biasakanlah mengucapkan kalimat ruhani yang panuh makna ini. Kalau tidak, apakah Anda mau menunggu sampai orang lain mengucapkan itu kepada Anda???

Related Posts

Leave a Reply