Al-Baqarah ayat 152

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 152by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 152SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 152   فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ [Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.] [Therefore remember Me, I will remember you, and be thankful to Me, and do not be ungrateful to Me]   1). Penggunaan huruf فَ (fa, […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 152

 

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

[Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.]

[Therefore remember Me, I will remember you, and be thankful to Me, and do not be ungrateful to Me]

 

1). Penggunaan huruf فَ (fa, therefore, maka dari itu atau karena itu) di awal ayat ini menunjukkan bahwa ayat ini masih merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya. Kalau kita baca rangkaian ayat dari ayat 124 sampai ayat 151 yang berbicara tentang tiga rusuk dari sebuah segitiga sama sisi (Imamah, Ka’bah, dan Rasulullah saw), maka Allah seakan hendak mengatakan begini: “Karena ketiganya merupakan bagian penting dalam kesempurnaan nikmat agama kalian, maka demi menjaga eksisistensi ketiganya—yang juga berarti menjaga eksistensi agama kalian—ingatlah selalu kepada-Ku, niscaya Akupun akan selalu mengingat kepadamu.” Ayat ini mirip dengan bunyi ayat 40 (yang diulangi kembali di ayat 47 dan ayat 122) yang merupakan permulaan dari cerita panjang Bani Israil yang selalu mengkhianati Khalifah Ilahinya yang menyebabkan runtuhnya eksistensi agama suci mereka; di situ Allah menyeru mereka: “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus takut (tunduk).”

 

2). Yang menarik, kaitannya dengan pemindahan kiblat, perintah mengingat Allah ini selalu muncul jika berkaitan dengan manasik haji—beribadah di sekitar Ka’bah. Dalam perjalanan dari Arafah ke Masy’aril Haram, Allah berfirman: “…Maka apabila kalian telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kalian sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” (2:198) Dan “apabila kalian telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kalian (dulu) menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu….” (2:200) Tetang mabit (bermalam) di Mina, Allah meminta: “Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.” (2:203)

 

3). Mengapa harus mengingat Allah? Dunia beserta segala pernak-perniknya ini merupakan ‘jelmaan’ dari Diri-Nya. Bagi Dia, dunia beserta alam ghaib dan alam syahadah-nya, bagai nyala api yang keluar dari batu api (flintstone, rijang). Nyala api itu benar-benar ada, tertangkap oleh panca indera, dapat disentuh dan dirasakan panasnya, punya banyak manfaat, bisa diukur dimensi, temperatur, dan kekuatan iluminasinya; tetapi begitu ditiup, langsung hilang tak berpuing. Kenapa nyala api itu menghilang begitu ditiup? Karena dia terlepas dari tempat bertenggernya yang sekaligus sumber energinya. Jadi selama api itu menyala selama itu pula ada hubungan yang tak terputus dengan pemasok energinya. Begitu hubungan itu terputus, maka nyala api dengan serta-merta menghilang. Begitulah manusia dengan Tuhannya. Firman-Nya: فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ (fadzkurŭnĭ adzkurukum, karena itu ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Akupun akan ingat kepadamu). Apabila manusia putus hubungannya dengan Tuhannya—dengan cara melupakan-Nya—maka pada hakikatnya meruntuhkan sendiri eksistensinya; dan orang seperti ini tidak punya nilai apa-apa di sisi-Nya. “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi.’ Kecuali (dengan menyebut): ‘Insya Allah’. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini’.” (18:23-24)

 

4). Setelah menyadari bahwa semua yang ada ini merupakan ‘jelmaan’ dari Diri-Nya, maka selanjutnya kita pun kemudian menyadari bahwa ternyata kita manusia benar-benar tidak punya apa-apa. Semua milik-Nya. Semua berasal dari-Nya dan akan kembali jua kepada-Nya. Manusia tidak punya alasan ontologis untuk mengigkari apa yang ada padanya dan yang ada di sekitarnya. Manusia mutlak bersyukur kepada-Nya. Di sinilah kita menemukan perintah ini menjadi begitu logis: وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ [wasykurŭlĭ wa lā takfurŭn, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku]. Dan, seperti telah dibahas sebelumnya, nikmat terbesar yang harus kita syukuri ialah: Imamah, Ka’bah, dan Rasulullah saw. Karena dari sinilah semua kesadaran rasional kita tentang semua realitas bermula. Tanpa ketiganya, kesadaran kita menjadi semrawut, tidak runtut, dan terpolarisasi. Lihatlah temuan para filosof yang murni hanya menggunakan perangkat-perangkat filosofis. Itu sebabnya dimana kita berjumpa ayat yang ada kata syukur-nya biasanya di situ juga kita berjumpa kata kufur (ingkar). “Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (14:7)

 

5). Hadis Nabi:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ عَنْ رَجُلٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ ثُمَّ تَفَرَّقُوا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ كَأَنَّمَا تَفَرَّقُوا عَنْ جِيفَةِ حِمَار

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman dari Muhammad bin ‘Amru bin Alqamah dari Seorang lelaki dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah saw bersabda: ‘Barangsiapa berkumpul dalam sebuah majlis lalu berpisah dan mereka tidak berzikir kepada Allah di dalamnya, maka seakan-akan mereka berpisah dari bangkai himar’.” (Musnad Ahmad no. 10010)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Menurut ilmu jiwa, ingatan adalah fungsi yang terlibat dalam mengenang atau mengalami kembali pengalaman masa lalu. Lalau bagaimana dengan “mengingat” Allah? Untuk yang Satu ini, bukan kita yang mengalami-Nya, tetapi Dia yang mengalami kita. Kita adalah ‘jelmaan’-Nya. Maka mengingat Allah artinya menyadari bahwa kita tidak mungkin keluar dari wilayah pengalaman-Nya. Melupakan Dia sama dengan mengingkari realitas diri sendiri.

Related Posts

Leave a Reply