Al-Baqarah ayat 150

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 150by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 150SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 150   وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنْهُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ [Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kalian […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 150

 

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنْهُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

[Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kalian berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kalian, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan supaya kalian mendapat petunjuk.]

[And from whatsoever place you come forth, turn your face towards the Sacred Mosque; and wherever you are turn your faces towards it, so that people shall have no accusation against you, except such of them as are unjust; so do not fear them, and fear Me, that I may complete My favor on you and that you may walk on the right course.]

 

1). Ayat ini mempertegas kembali urgensi kandungan ayat 144 dan 149. Betapa tidak, dua bentuk kalimat yang memerintahkan menghadapkan wajah ke Masjidil Haram tersebut terkumpulkan secara beriringan di ayat ini. Di ayat 144 Allah berfirman: : وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ (wa haytsu mā kuntum fa wallŭ wujŭɦakum syathraɦ, dan di mana saja kalian berada, palingkanlah mukamu ke arahnya). Dan di ayat 149: وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ (wa min haytsu kharajta fawalli wajɦaka syathral masjidil harām, dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram). Kemudian keduanya tergabungkan menjadi penggalan awal ayat 150 ini: وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ (wa min haytsu kharajta fawalli wajɦaka syathral masjidil harām, wa haytsu mā kuntum fa wallŭ wujŭɦakum syathraɦ, dan dari mana saja kamu ke luar maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, dan di mana saja kalian berada, palingkanlah mukamu ke arahnya). Penggalan awal ayat ini (yang serupa dengan ayat 149) menggunakan bentuk tunggal, sementara penggalan berikutnya (yang serupa dengan ayat 144) menggunakan bentuk jamak. Menunjukkan dengan tegas bahwa objek yang menerima perintah ini bisa perorangan ataupun kelompok-kelompok (dengan merek baju apapun) yang ada di dalam komunitas kaum Muslim. Siapapun Anda, dari mazhab atau organisasi manapun Anda, dari negara atau bangsa mana saja Anda, maka bersatulah dalam orientasi, bersatulah dalam cita-cita, bersatulah dalam ideologi, bersatulah dalam kiblat, bersatulah di Masjidil Haram, karena hanya dengan begitu Anda bisa menghentikan musuh-musuh Allah, musuh-musuh kemanusiaan, yang secara sistematis dan terselubung (bersama dengan penguasa-penguasa boneka mereka dan dengan modal besar yang ada padanya) tak henti-hentinya membuat makar di tengah-tengah umat demi menguasai Anda dan kekayaan negara Anda. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kalian jumpai mereka dengan rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kalian (hanya) karena kalian beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kalian benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah berbuat demikian). Kalian memberitahukan secara rahasia (berita-berita perjuangan kaum Muslim) kepada mereka dengan rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Dan siapa di antara kalian yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (60:1)

 

2). Tujuan penyatuan kiblat itu juga ditegaskan di dalam ayat selanjutnya: لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنْهُمْ (liallā yakŭna linnasi ‘alaykum hujjatun illal-ladzĭn zhalamŭ minɦum, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka). Secara sederhananya bisa diartikan: “agar manusia tidak lagi menyesali kalian”. Pertanyaannya, memang ada apa antara mereka dan kaum Muslim sehingga tuntutan dan sesalannya ditujukan kepada kaum Muslim? Jawabannya, karena Allah telah menugaskan kaum Muslim sebagai wasit bagi seluruh manusia. Ingat kembali ayat 143: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian”. Kerinduan manusia akan keadilan menunjukkan bahwa mereka—dari lubuk hatinya yang paling dalam—menuntut adanya satu komunitas yang bisa melakukan itu. Dan Allah menjawab tuntutan fitrawi mereka itu dengan menugaskan kaum Muslim sebagai pelaksananya (3:110, 16:89-90). Apabila tugas ini tidak terlaksana, maka manusia kelak akan menjadikan itu sebagai hujjah (argumen) untuk menuduh kaum Muslim di hadapan Allah sebagai tidak becus dan tidak bertanggungjawab. Tetapi manakala tugas ini terlaksana dengan baik maka tidak akan ada lagi hujjah kecuali dari mereka yang zalim. “Allah berfirman: ‘Masuklah ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kalian.’ Setiap suatu umat masuk (kedalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: ‘Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka’. Allah berfirman: ‘Masing-masing mendapat (siksaan), yang berlipat ganda, akan tetapi kalian tidak mengetahui’.” (7:38)

 

3). Tujuan kedua dari penyatuan kiblat ialah: وَلأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ  (wa liutimma ni’matĭ ‘alaykum, dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atas kalian). Tentang kata نِعْمَتِي (ni’matĭ) di ayat ini, pengertiannya telah kita bahas secara memadai di Surat al-Fatihah (1) ayat 7 dan Surat al-Baqarah (2) ayat 40, 47, dan 122. Yang menarik di sini ialah kata وَلأُتِمَّ (wa liutimma, dan agar Kusempurnakan). Berarti nikmat (keagamaan) atau tugas ilahiah umat Islam tidak akan sempurna sebelum men-SATU-kan seluruh orientasi keumatannya (teologi, sosiologi, dan ideologi) ke Masjidil Haram. Sebabnya, karena Masjidil Haram adalah PUSAT wilayah, yang kepadanyalah seluruh komponen keumatan menuju dan berlabuh. Tanpa PUSAT maka yang ada hanyalah kepingan-kepingan yang berserakan yang satu sama lain tidak terhubung secara organis, bahkan sangat mungkin saling menegasikan. Persis sama dengan wudlu, yang tanpanya salat seseorang—betapa pun sempurna gerakan dan khusyuknya—tetap dianggap tidak sah. Maka tentang wudlu ini, Allah pun berfirman: “… Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi (dengan wudlu itu) Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu.” (5:6) Dengan begitu, Masjidil Haram adalah PUNCAK atau ending dari seluruh derap langkah umat. Maka menjadi kecelakaan bagi umat manakala Masjidil Haram justru menjadi bagian dari wilayah pihak lain. Masjidil Haram akan menjadi periferal, terpinggirkan, dan hanya menjadi pelayan bagi kepentingan negara-negara imperialis. Masjidil Haram hanya menjadi dagelan politik penguasa-penguasa arogan. Dan, pada akhirnya, umat Islam sama dengan orang salat yang tidak punya wudlu. “Katakanlah: ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian, dari atas (kepala)-mu atau dari bawah kakimu atau Dia membiarkanmu menjadi berkelompok-kelompok (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kalian keganasan dari sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya)’.” (6:65)

 

4). Tujuan ketiga dari penyatuan kiblat ialah: وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (wa la’allakum taɦtadŭn, dan supaya kalian mendapat petunjuk). Dua kata ini selalu bergandengan; dimana ada kata تَهْتَدُونَ (taɦtadŭn) di situ juga ada kata لَعَلَّكُمْ (la’allakum). Sebanyak 6 (enam) kali anak ayat ini muncul di dalam al-Qur’an, seluruhnya terletak di akhir ayat. Kesemuanya mempunyai hubungan esensial dan menjadi syarat utama untuk mendapatkan petunjuk: a) 2:53 menjelaskan mutlaknya mengikuti Kitab Suci dan al-Furqan. b) 2:150 menyebutkan mutlaknya menjadikan Masjidil Haram sebagai kiblat. c) 3:103 mengenai mutlaknya berpegang teguh kepada tali (agama) Allah dan menghindari perpecahan. d) 7:158 berkenaan pentingnya mengimani dan mengikuti Nabi. e) 16:15 dan 43:10 tentang perlunya mengikuti jalan-jalan yang telah Allah berikan di bumi ini.

Kalau kita rangkum semuanya, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa untuk mendapatkan petunjuk maka ummat (beserta person-person yang membentuknya) harus menjaga ke-SATU-an dalam berbagai dimensinya, termasuk ke-SATU-an kiblat ke Masjidil Haram dimanapun dia berada dan dari manapun asalnya. “Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw bersabda kepada para sahabatnya ketika mereka ingin masuk ke Makkah untuk umrah setelah Hudaibiyah: ‘Sesungguhnya besok kaum kalian akan melihat kalian, maka perlihatkanlah kekuatan kalian kepada mereka.’ Ketika mereka masuk masjid (yakni Masjidil Haram), mereka beristilam (menyentuh, mencium atau berisyarat) kepada rukun, lalu berlari-lari kecil, dan Nabi saw bersama mereka hingga ketika sampai pada rukun Yamani mereka berjalan biasa hingga rukun Aswad. Mereka melakukan itu tiga kali, kemudian berjalan biasa empat kali.” (Musnad Ahmad no.2722)

 

5). Tentu akan sangat banyak pihak yang tidak senang dengan ke-SATU-an seperti itu, karena mereka faham betul bahwa hanya dengan perpecahanlah yang membuat mereka bisa melemahkan dan meguasai ummat ini beserta aset-asetnya. Mereka tak akan henti-hentinya berusaha—dengan segala cara (termasuk cara-cara yang paling jahat)—untuk menaburkan benih-benih perpecahan di dalam tubuh ummat melebihi usaha keras kita untuk memper-SATU-kannya. Maka dari itu, Allah meneguhkan hati kita dengan mengatakan: فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي (falā takhsyawɦum wakhsyawnĭ, maka janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku). Karena rasa takut ialah menyangkut urusan kejiwaan, maka bisa dimaknai bahwa jiwa kita pun mutlak berfokus dan bergerak menuju ke SATU tujuan, yaitu Allah, yang ‘menjelmakan’ Diri-Nya secara spesifik dalam bentuk Masjidil Haram. Sehingga tidak ada lagi pihak manapun, negara searogan apapun, yang pantas ditakuti. Semua rasa takut hanya pantas diorientasikan kepada Allah. Jika ada satu orang atau satu negara yang kita jadikak sebagai objek rasa takut, maka niscaya harkat dan martabat kita pun akan kita gadaikan kepadanya. “Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah Allah tetapkan baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku. (Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (33:38-39)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Setiap komunitas yang hendak mencapai cita-cita bersama, mutlak baginya terlebih dahulu mencapai kesatuan kiblat ideologis. Tanpa itu, mereka akan mudah dipecah-pecah dan ditakut-takuti, yang pada akhirnya dikalahkan dan dikuasai. Maka diantara ciri ummat yang menyatukan kiblat ideologisnya pada Masjidil Haram ialah dengan tidak takut kepada siapapun dan apapun. Yang mereka takuti hanya satu: Allah.

Related Posts

Leave a Reply