Al-Baqarah ayat 138

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 138by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 138SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 138   صِبْغَةَ اللّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدونَ [Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.] [(Receive) the baptism of Allah, and who is better than Allah in baptising? and Him do we serve.]   1). Setelah berbicara tentang Nabi […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 138

 

صِبْغَةَ اللّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدونَ

[Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.]

[(Receive) the baptism of Allah, and who is better than Allah in baptising? and Him do we serve.]

 

1). Setelah berbicara tentang Nabi Ibrahim dan millah-nya yang hanĭyf (lurus) dan tidak musyriq, kini Allah menjelaskan alasan utama kenapa manusia diperintah mengikutinya. Hebatnya, alasan yang sangat mendasar itu diungkapkan di dalam ayat yang sangat pendek ini. Kuncinya ada pada kata: صِبْغَةَ (shibghah). Tentang kata ini, ada dua pandangan. Ada yang mengartikannya secara umum, yaitu yang ada dan sama pada semua manusia, yang disebut fitrah, seperti yang Allah ungkapkan di 30:30. Ada yang mengartikannya secara khusus, yaitu agama, sehingga bisa berarti shibghah Yahudi (agama Yahudi) atau shibghah Nashrani (agama Nashrani). Kalau kita menggunakan pengertian pertama, secara otomatis fithrah hanyalah nama lain dari shibghah itu sendiri. Artinya, keduanya hanyalah berbeda dalam sebutan namun sama dalam arti dan makna. Mengingat al-qur’an adalah Kitab Suci yang setiap kata-katanya haruslah memiliki fungsi “penjelas” (bayān), maka rasa-rasanya tidak mungkin Allah menggunakan kata yang berbeda untuk arti dan makna yang sama. Tuhan tidak mungkin mengalami surplus kosa kata dan defisit makna sehinga ‘terpaksa’ melakukan pengulangan makna untuk kata yang berbeda. Yang mungkin terjadi justru sebaliknya. Setelah Allah ‘memutuskan’ memilih Bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an, Dia sekaligus memperluasnya agar mampu mengakomodasi ilmu-Nya yang luas, dan agar mampu memdiasi Diri-Nya dengan hamba-Nya yang benar-benar hendak memahami rahasia-rahasia-Nya dengan benar, tanpa distorsi makna dan misinterpretasi. “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (14:4)

 

2). Kata صِبْغَةَ (shibghah), terambil dari kata صبغ (sha-ba-gha) yang artinya mewarnai, mencelup, mengecat, membaptis, dan menenggelamkan; sedang صِبْغَةَ (shibghah) artinya: macam, bentuk, agama, ajaran, kepercayaan, dan baptis (lihat Kamus al-Munawwir). Sedangkan Kamus al-Mawrid al-Qareeb mengrtikan kata صبغ (sha-ba-gha) dengan to dye, tint, tinge, color, paint, dan tincture; kemudian mengartikan صِبْغَةَ (shibghah) dengan tincture, cast, character, stamp, mark, color, tinge, shade, air, dan touch. Dari berbagai pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa yang diinginkan oleh kata صِبْغَةَ (shibghah) ialah “mencelup ke dalam suatu larutan warna atau mengecat dengan suatu jenis warna hingga seluruh warna yang digunakan menyerap ke seluruh bagian (luar dan dalam) dari barang yang dicelup atau dicat tersebut”. Dengan demikian ada dua keadaan yang terjadi pada barang yang dicelup atau dicat tersebut. Pertama ialah keadaan aslinya sebelum dicelup atau dicat. Kedua ialah keadaannya setelah dicelup atau dicat. Keadaan pertama dan kedua bisa berbeda tapi bisa juga sama, tergantung pada jenis warna larutannya. Kalau warna asli dan warna larutannya sama, maka tampilan di dua keadaan tersebut tetap sama. Sebaliknya, kalau warna larutannya beda dengan warna asli barang yang dicelup atau dicat, maka sudah barang tentu tampilan warna barang tersebut akan berubah, tidak seperti lagi warna aslinya. Hanya ada dua kata dalam al-Qur’an yang berasal kata صبغ (sha-ba-gha) ini. Maka jangan lupa pelajari juga ayat berikut ini: “Dan (Kami tumbuhkan) pohon (zaitun) yang ke luar dari Gunung Sinai, yang menghasilkan minyak, dan rempah (sebagai bahan pembangkit selera) bagi orang-orang yang makan.” (23:20)

 

3). Seandainya kata صِبْغَةَ (shibghah) kita artikan sama dengan kata فِطْرَة (fithrah), maka tentu Allah tidak perlu berdalil dengan gaya bertanya: وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ صِبْغَةً (wa man ahsanu minallaɦi shibghah, Dan siapakah yang lebih baik shibghah-nya daripada Allah?).  Karena bertanya seraya menggunakan tafdlil atau komparasi أَحْسَنُ (ahsanu, lebih baik) menunjukkan adanya lebih dari satu صِبْغَةَ (shibghah). Sedangkan فِطْرَة (fithrah) tidak pernah bisa dikomparasi karena memang hanya satu. Semua manusia mempunyai فِطْرَة (fithrah) yang sama (30:30); semua berasal dari فِطْرَةَ اللَّهِ. (fithrah Allah). Sedangkan tidak semua صِبْغَةَ (shibghah) berasal dari Allah. Cuma yang terbaik ialah صِبْغَةَ اللّهِ (shibghah Allah). Sama halnya dengan مِّلَّة (millah) dan دِين (dĭn); juga masing-masing lebih dari satu. Hanya saja yang terbaik ialah millah Ibrāɦim dan dĭnul Islām. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan (fitrah) Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (30:30)

 

4). Konteks صِبْغَةَ (shibghah) di ayat 138 ini tampaknya sama dengan konteks millah di ayat 120. Yaitu sama-sama mengacu kepada agama Yahudi atau Nashrani, yang al-Qur’an menyebutnya sebagai millah Yahudi dan millah Nashrani. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti millah (pola hidup atau agama) mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti hawa nafsu (kehendak) mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (2:120) Tetapi millah Yahudi dan Nashrani ini bukan lagi millah Ibrahim, tapi millah yang lahir dari hawa nafsu mereka, dan karenanya tidak sejalan lagi dengan fithrah manusia yang merupakan فِطْرَةَ اللَّهِ. (fithrah Allah). Lalu kenapa Allah memunculkan istilah صِبْغَةَ (shibghah) di ayat 138 ini setelah sebelumnya selalu menggunakan kata مِّلَّة (millah)? Karena mereka (terutama Nashrani) telah menjadikan baptisan atau صِبْغَةَ (shibghah, pencelupan ke dalam air) sebagai salah satu upacara sakramen penting mereka sebagai pertanda menerima Roh Kudus dan memasuki Kerajaan Allah. Kata “baptis” berasal dari Bahasa Yunani, babtizo (membaptis) yang berarti “menenggelamkan sesuatu ke dalam air”, baik sebagian anggota tubuh (Katolik) ataupun keseluruhannya (Protestan). “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah“. (Yohanes 3:5) Sedangkan di dalam Kisah Para Rasul (Kis 2:38) St. Petrus mengatakan “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.

 

5). Ayat ini ditutup dengan anak kalimat: وَنَحْنُ لَهُ عَابِدونَ (wa nahnu laɦu ‘ābidŭn, dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah). Kata عَابِدونَ (ābidŭn, menyembah) di sini setara dengan kata نَعْبُدُ (na’budu, kami menyembah). Hanya saja yang terakhir ini adalah kata kerja bentuk mudlari’ (present) yang terikat oleh waktu (sekarang), sehingga di waktu-waktu yang lain yang bersangkutan belum tentu masih menyembah. Tetapi dalam kata عَابِدونَ (ābidŭn, menyembah), faktor waktu sudah tidak ada, karena telah berubah menjadi kata benda, yaitu orang yang menjadi pelaku perbuatan, sehingga otomatis waktu tidak berpengaruh lagi; perbuatan menyembah telah mensifati dirinya. Lantas apa hubungannya dengan kata صِبْغَةَ (shibghah)? Allah hendak menjelaskan bahwa hanya orang yang mencelupkan dirinya ke dalam صِبْغَةَ اللّهِ (shibghah Allah)-lah yang sejalan dengan kebenaran, sejalan dengan فِطْرَة (fithrah) manusia, sehingga ibadahnya pun benar dan diterima. Dan صِبْغَةَ (shibghah) yang sejalan dengan  فِطْرَة (fithrah) inilah yang disebut: ISLAM. Sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (3:19) Sehingga “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agamanya itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (3:85)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Manusia mempunyai dua hal: fithrah dan agama. Fithrah bersifat given, karenanya sama pada semua orang. Sedang agama adalah pilihan, baik dipilhkan orang tua atau oleh diri sendiri. Agama adalah samudra, tempat kita mencelupkan diri ke dalamnya. Maka kedamaian batin hanya akan terwujud manakala agama pilihan kita senafas dengan fithrah kita. Agama seperti itulah yang disebut Agama Kedamaian. Kitab Suci menyebutnya: AL-ISLAM.

Related Posts

Leave a Reply