Al-Baqarah ayat 105

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 105by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 105SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 105   مَّا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلاَ الْمُشْرِكِينَ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْكُم مِّنْ خَيْرٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَاللّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ [Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepada kalian (kaum Mukmin) dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan secara khusus […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 105

 

مَّا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلاَ الْمُشْرِكِينَ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْكُم مِّنْ خَيْرٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَاللّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

[Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepada kalian (kaum Mukmin) dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan secara khusus siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.]

[Those who disbelieve from among the followers of the Book do not like, nor do the polytheists, that the good should be sent down to you from your Lord, and Allah chooses especially whom He pleases for His mercy, and Allah is the Lord of mighty grace.]

 

 

1). Melalui ayat ini, Allah hendak membuat segalanya menjadi defenitif. Yaitu bahwa penentangan Ahli Kitab (yang basis utamanya ada di Madinah dan sekitarnya, yang dipelopori oleh Bani Israil) dan Kaum Musyrik Arabia (yang basis utamanya ada di Mekah dan sekitarnya, yang dipelopori oleh Bani Umayyah) terhadap Nabi Muhammad dan apa yang diturunkan kepadanya (yakni al-Qur’an) selama ini adalah bersifat politis. Mereka tidak ingin kehilangan pengaruhnya. Karena perpindahan dukungan masyarakat ke Nabi Muhammad beserta Kitab Suci yang dibawahnya praktis akan menggerus kekuatan politik mereka, yang sudah barang tentu juga berdampak sangat besar terhadap peruntungan ekonomi yang selama ini mereka nikmati sebagai elit-elit yang bertengger di puncak piramida sosial. Kehadiran Nabi dan al-Qur’an yang mengajarkan egaliterianisme bernafas tauhid, jelas mendekonstruksi tatananan sosial yang mereka bangun dan petahankan selama ini. Piramida sosial yang mereka susun bata demi bata, kini terancam runtuh. Sekarang anggota masyarakat pinggiran dan para mantan budak belian yang telah dibebaskan Nabi bersama penganut Islam yang lain, tiba-tiba menjadi tokoh-tokoh penting di sekitar Nabi. Itu sebabnya, dhamĭr (kata ganti) yang Allah gunakan di ayat ini adalah untuk orang kedua jamak, كُم (kum, kalian); yakni kaum Mukmin.

Keadaan ini mengingatkan kita pada pengangkatan Thalut (dari kalangan masyarakat bawah) sebagai pemimpin Bani Israil oleh nabinya saat itu. “Nabi mereka mengatakan kepadanya: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi pemimpinmu’. Mereka menjawab: ‘Bagaimana mungkin Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripada dia, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang banyak?’ (Nabi mereka) berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi pemimpinmu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (2:247)

 

2). Dengan demikian titik tekan dari ayat ini terletak pada kata مَّا يَوَدُّ (mā yawaddu, tidak menginginkan) dan anak kalimat أَن يُنَزَّلَ عَلَيْكُم مِّنْ خَيْرٍ مِّن رَّبِّكُمْ [an yunazzala ‘alaykum min khayrin min rabbikum, diturunkannya suatu kebaikan kepada kalian (kaum Mukmin) dari Tuhanmu]. Pada kata مَّا يَوَدُّ (mā yawaddu, tidak menginginkan) tersimpan makna bahwa kejadian itu—yakni bangkitnya kesadaran egaliter bernafas tauhid di tengah-tengah masyarakat tradisional jahiliyah—benar-benar berda di luar radius skenario sosial-politik mereka (para elit kaum Kafir). Maksudnya, dalam skenario mereka, yang paling mereka tidak inginkan ialah munculnya kesadaran egaliter itu, karena jelas bertentangan dengan susunan masyarakat bersistem piramida. Sementara hanya pada susunan masyarakat bersistem piramida itulah terletak kekuatan dan kontinuitas kekuasaan mereka. Begitu susunan masyarakat seperti itu runtuh, maka runtuh pulalah seluruh harapan-harapan idealistik mereka. Itulah sebabnya kenapa Allah menyebut kenabian itu sebagai خَيْر (khayr, kebaikan), karena baik teori yang dikandungnya ataupun fakta yang ditampakkannya sungguh-sungguh mendatangkan kebaikan bagi manusia beserta  susunan masyarakatnya. Hebatnya lagi, kata خَيْر (khayr, kebaikan) di berbagai kesempatan juga diartikan sebagai harta benda. Sehingga bisa dimaknai bahwa dalam konsep kenabian itulah terletak kesejahteraan ekonomi dalam pengertiannya yang paling adil, yang memungkinkan semua anggota masyarakat berpeluang melakukan kebaikan. “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.’ Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (2:215)—perhatikan kata “harta” dan “kebaikan” yang ditulis tebal itu masing-masing terjemahan dari kata yang sama: خَيْر (khayr).

 

3). Mungkin mereka tidak keberatan seandainya konsep kenabian itu berdasarkan elitisme sosial. Sehingga yang dipilih jadi nabi ialah salah seorang dari mereka yang paling tinggi status sosialnya dan paling kuat pengaruh ekonominya. Maunya mereka kenabian itu bukan mendekonstruksi struktur sosial mereka, tapi bahkan memperkuatnya. Kenabian yang mereka inginkan adalah yang konsepnya sesuai dengan kehendak hawa nafsu mereka sendiri, yang mereka musyawarahkan bersama, yang mereka mufakati bersama, untuk kemudian mereka baiat bersama pula. Mereka lupa bahwa kenabian itu murni domain ilahi, yang sepenuhnya berada di dalam wilayah otoritas Allah: وَاللّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَن يَشَاءُ [wallahu yakhtashshu bi rahmatiɦi man yasyā’, dan Allah menentukan secara khusus siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian)]. Dan karenanya, kenabian berada di dalam bingkai keimanan, yang penerimaannya tidak bisa dipaksakan baik dengan retorika ataupun dengan senjata. Penerimaannya harus berdasarkan penalaran logika dan dengan dada yang terbuka. Itu sebabnya tidak pernah ada nabi yang datang memaksa manusia untuk mengimaninya, apalagi memerangi orang-orang yang tidak membaiatnya. Pembaiatan selalu dilakukan dengan sukarela, tanpa tekanan oleh siapapun dan dari pihak manapun. “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (2:256)

 

4). Kenabian, karenanya, merupakan inti masyarakat egaliter, yang tidak memungkinkan adanya seseorang atau sekelompok orang yang terpinggirkan, kecuali terhadap para pelaku kezaliman. Sehingga, kenabian,  merupakan karunia terbesar bagi kemanusiaan:  وَاللّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ [wallahu dzŭwl-fadhlil-‘azhĭym, dan Allah mempunyai karunia yang besar (dalam kenabian tersebut)]. Maka dari itu, bisa dipastikan, keadilan sosial dalam pengertiannya yang sejati tidak akan tegak tanpa kenabian. Manusia boleh membuat sistem sosialnya sendiri yang, katanya, disasarkan pada tegaknya tatanan sosial yang berkeadilan. Tetapi, camkanlah, selama bukan sistem kenabian, selama itu pula kelompok mayoritas manusia hanyalah menjadi korban dari gombal akademis itu. “Dan Janganlah kalian percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kalian  percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kalian percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu’. Katakanlah: ‘Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah. Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui’.  Allah menentukan secara khusus rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (3:73-74)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Pernakah Anda merasa tidak senang atas kebaikan yang Allah berikan kepada teman atau kerabat Anda? Kalau “ya”, berarti Anda termasuk memiliki ciri-ciri kekufuran. Cara menghilangkannya? Ketahuilah bahwa Allah memberikan karunia kepada siapa yang dikehandaki-Nya; maka jadilah diantara orang-orang yang dikehendaki-Nya, dengan mengikuti petunjuk-Nya dengan benar.

Related Posts

Leave a Reply