SIMPUL MEMAHAMI TIMUR TENGAH

By Muhammad Rusli Malik
In Artikel Pendidikan
August 11, 2013
0 Comments
2813 Views

Proposal Bandar ke Putin: SIMPUL MEMAHAMI TIMUR TENGAH
*Muhammad Rusli Malik*

bandar dan putinPada 31 Juli lalu Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdulaziz Al-Saud menjumpai Vladimir Putin di Kremlin. Pada pertemuan yang langka itu, Ketua Badan Intelijen Saudi (Saudi Intelligence Agency, SIA) dan Sekertaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Arb Saudi (National Security Council of Saudi Arabia) itu menawarkan proposal pembelian senjata dari Rusia senilai $15 miliar (Rp150 triliun) asal Moskow mau menghentikan dukungannya kepada Basyar Assad dan tidak menentang resolusi Dewan Kemanan PBB tentang Syria. RT melaporkan bahwa jika proposal itu disetujui maka Arab Saudi tidak akan menandatangani kontrak yang merusak kepentingan Rusia dengan membiarkan negara-negara Teluk untuk mengalirkan gasnya melintasi Syria menuju Eropa.[1]
Kandungan proposal itu mengurai banyak hal ;
Pertama, perkara pembelian senjata kepada Rusia, apalagi dengan nilai sebesar itu, bukanlah kebiasaan Saudi. Karena negara yang namanya terpaut dengan keluarga Al-Saud itu merupakan sekutu berat Amerika di Timur Tengah setelah Israel, maka selama ini pemasok utama kebutuhan militernya juga Amerika. Bandingkan nilai itu misalnya dengan total pengeluaran militer Saudi di tahun 2013 ini menurut data SPIRI (Stockholm International Peace Research Institute) yang diunggah Wikipedia,[2] yang sebesar $56,7 miliar. Artinya, angka yang tertera di proposal itu lebih dari sperempatnya. Itu pasti punya makna yang besar dalam perimbangan kekuatan di Timteng. Amerika tidak mungkin membiarkan itu terjadi jika tidak punya tujuan besar dan sangat strategis.

Kedua, sehingga bisa dipastikan, kedatangan Bandar ke Moskow pasti bukan atas inisiatif pribadinya. Apalagi dengan mengingat profil Bandar selama ini. Keponakan Raja Abdullah itu menghabiskan 23 tahun usianya (1983-2005) menjadi Dubes Saudi untuk Amerika dan dikenal sangat dekat hubungannya dengan kelompok neokon yang doyan perang dan pendukung utama Israel. Untuk melihat rekam jejak Bandar dalam memfasilitasi geng neokonnya di Amerika untuk terlibat pada beberapa perang di Timur Tengah dan sekitarnya, bisa membacanya di www.cooperativeresearch.org.[3]

Ketiga, Barter yang diminta Bandar menunjukkan siapa penyulut perang saudara di Syria selama ini. Secara jujur, apa kepentingan Arab Saudi dalam menjatuhkan Assad? Kepentingan teritorial? Basyar Assad tidak pernah berpikir apalagi berencana memperluas wilayah negaranya hingga Saudi beralasan untuk merasa terancam. Terlebih, Saudi tidak berbatasan langsung dengan Syria, sehingga seandainya pun Assad punya niat buruk seperti itu, Bandar tidak perlu takut. Alasan demokrasi? Lha, apalagi. Kenapa Bandar repot-repot memaksakan sistem demokrasi di negeri orang, seharusnya memulainya di negerinya sendiri yang jelas-jelas bersistem monarki absolut yang tak saja raja tapi semua jabatan-jabatan penting dari tingkat kabupaten, propinsi, hingga kementerian dipegang oleh keluarga Al-Saud. Itu satu hal. Hal yang lain, lalu kenapa pula Saudi mengirim tentara ke Bahrain membantu rezim yang jelas-jelas saban hari menindas rakyatnya yang melakukan demonstrasi damai. Kenapa Bandar tidak mengirim militan takfiri untuk memerangi rezim Al-Khalifah? Atau, yang lebih dekat, kenapa Bandar menangkapi ribuan demonstran dan tokoh politik di Riyadl dan Saudi bagian timur? Kenapa Bandar tidak melakukan seperti yang dia paksa Assad lakukan?

Keempat, Barter itu–yaitu agar Moskow mau menghentikan dukungannya kepada Basyar Assad dan tidak menentang resolusi Dewan Kemanan PBB tentang Syria–menunjukkan bahwa begitu urgennya bush dan bandarmenjatuhkan Assad sampai-sampai Bandar tak kuasa lagi menyembunyikan wajah politiknya kepada orang awam sekalipun. Yaitu bahwa Arab Saudi ternyata tak lebih dari kuda tunggangan Israel, Amerika, dan NATO di Timur-Tengah dan dunia Islam. Agama yang selama ini dijadikan sebagai bahasa komunikasi kepada ummat, ternyata kamuflase belaka. Jubah agama hanya digunakan untuk menutupi wajah asli jokinya.

Kelima, bonus tambahan (bahwa jika proposal itu disetujui maka Arab Saudi tidak akan menandatangani kontrak yang merusak kepentingan Rusia dengan membiarkan negara-negara Teluk untuk mengalirkan gasnya melintasi Syria menuju Eropa) mengungkap semuanya secara telanjang. Banyak yang sudah lupa, atau bahkan tidak mengetahui sama sekali, bahwa tahun 2009 Basyar Assad menolak menandatangani perjanjian dengan Qatar yang berencana membangun pipa gas yang akan melintasi daratan Syria menuju Eropa melalui Turki.[4] Secara ekonomi, proyek ini tentu menguntungkan juga Damaskus, tetapi sudah pasti merusak ekonomi Rusia yang selama ini telah menjadi pemasok utama gas ke Eropa. Sementara boleh dikata Rusia-lah satu-satunya negara pemegang hak veto yang selalu membela kepentingan politik Syria di PBB. Pada saat yang sama, Assad menyaksikan di depan matanya sendiri bagaimana Saddam Husain dan Khaddafi dikhianati oleh Amerika, NATO, dan para pemimpin Arab. Inilah yang menjawab mengapa Saudi, Qatar, dan Turki berdiri bersama-sama di depan Israel, Amerika, dan NATO dalam memfasilitasi dan membiayai kaum opposisi, teroris dan militan takfiri untuk menjatuhkan Assad.

Keenam, yang paling diuntungkan secara ekonomi dan politik oleh perang saudara di Syria ialah Israel. Kalau kita lihat peta, ada tiga negara besar yang setiap saat bisa menjadi ancaman atas eksistensi dan ekspansi negara Israel Raya. Yaitu Irak, Syria, dan Mesir. Yordania juga dekat, tetapi–seperti Saudi–secara politik sudah dianggap selesai dengan sistem monarki absolutnya. Yang ditakuti di Irak ialah ideologi Syi’ah-nya, di Syria ialah ideologi Sosialisnya serta kedekatan politiknya dengan Iran dan Hezbollah, sementara di Mesir ialah Ikhanul Muslimin-nya. Maka ketiganya harus dilemahkan dengan cara dikacaukan, didestabilisasi, dan didekonstruksi dari dalam. Di sinilah Israel, Amerika dan NATO memberikan tugas maha penting kepada Saudi, kepada Pangeran Bandar bin Sultan, sebagai eksekutor. Kerajaan yang bermazhab resmi salafi-wahhabi ini diminta memainkan isu sektarian di Irak dan Syria, sedangkan di Mesir dengan memainkan Partai Nur sehingga partai salafi-wahhabi inilah yang pertama menerima road-map yang ditawarkan militer sebelum Morsi dikudeta, dan Raja Abdullah dari Saudilah yang pertama mengucapkan selamat kepada pengganti Morsi dan langsung–bersama negara-negara UAE–menggelontorkan bantuan sebesar $8 miliar.

Dari poin-poin di atas bisa kita baca bahwa alangkah pandirnya kita jika terpropokasi dengan issu-issu sektarian. Karena dengan melihat peta politik Timur Tengah secara keseluruhan, hampir tidak ada satu pun yang berkaitan dengan kepentingan umat Islam dan Bangsa Arab. Langkah-langkah politik di Timur-Tengah masih merupakan kelanjutan dari imperialisme Eropa dan Amerika atas Asia dan Afrika, penghancuran Dinasti Turki Ottoman paska Perang Dunia Pertama, dan pendirian Negara Israel di atas tanah orang Palestina.***


Catatan:

[1]. http://rt.com/news/saudi-russia-arms-putin-239/
[2]. http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_military_expenditures
[3]. http://www.cooperativeresearch.org/entity.jsp?entity=bandar_bin_sultan
[4]. http://www.dailynewsegypt.com/2013/08/09/moscow-rejects-saudi-offer-to-drop-assad-for-

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

Leave a Reply