OPINI

By Muhammad Rusli Malik
In Artikel Pendidikan
August 21, 2013
0 Comments
1672 Views

O P I N I

*Muhammad Rusli Malik*

OpiniKalau kita tanya kebanyakan orang tentang senjata paling mematikan, jawaban mereka bisa ditebak: senjata nuklir. Jarang yang menyadari bahwa senjata yang bisa bikin kiamat suatu komunitas, atau seluruh dunia, adalah “opini“. Padahal, faktanya, genderang perang (hard war) ditabuh, rudal ditembakkan, bom atom dijatuhkan, setelah opini terbentuk.

Opini dibutuhkan tak saja untuk merasionalisasi perang tapi juga untuk membangun landasan hukum (yang membenarkan) bergelimpangannya korban, penyiksaan tawanan, terbantainya orang-orang sipil, membludaknya pengungsi, hancurnya kota-kota, dan porak-porandanya tatanan. Opini dibutuhkan untuk mengubah cerita perampokan dan pemerkosaan menjadi narasi kepahlawanan dan keperkasaan.

Opini terbentuk di pikiran, tak peduli salah atau benarnya, palsu atau orinya. Opini adalah mind frame yang menyebabkan tindakan tak bisa keluar daripadanya. Di sini, opini menjadi semacam penjara. Opini menjadi brain washing massal.

Opini bermula dari orang per orang. Dan bisa merambat seperti gelombang elektromanetik ke individu-individu lain sehingga dalam waktu singkat melahirkan reaksi berantai lalu bermetamorfosa menjadi pikiran massa yang tak mengenal kompromi. Di era moderen ini reaksi kimiawi dan daya rambat opini tergantung pada manajemen informasi dan lingkup jangkauan net-working-nya. Saat media massa mengglobal dan pemiliknya mengerucut pada satu kelompok, serta mimbar-mimbar keagamaan terperangkap di dalamnya, di situlah opini menemukan kekuatan dahsyatnya. Kalau benar, alhamdulillah, tapi kalau salah? Sangat fatal. Sementara jikalau benar, opini naik pangkat menjadi “teori”. Karena opini tampaknya hanya berhenti pada apa yang dirasakan pemiliknya sebagai benar. “A theory can be supported by facts and evidence, while an opinion is only what someone feels is true,” kata wiki.answers.com. Hebatnya lagi, kata Elizabeth Drew, “the world is not run by thought, nor by imagination, but by opinion“.

Di sinilah opini dimainkan oleh para penguasa atau entitas politik tertentu untuk meraih kuasa, menjatuhkan lawan, membela penguasa, melakukan tirani, melebarkan koloni, melanggengkan hegemoni. opini adalah kekuasaan. Opini membuat yang satu jadi aparat, yang lain jadi melarat.

Konon, setelah berperang selama 10 tahun, Yunani dibawah kepemimpinan Epeios tetap tak bisa menjebol gerbang benteng kota Trojan. Odysseus lantas punya ide membuat trofi kuda raksasa yang terbuat dari kayu. Setelah memasukkan pasukan khusus ke dalam rongga kuda, tentara Yunani lalu meninggalkan trofi tersebut tidak jauh dari pintu masuk kota Trojan. Persoalannya kini, bagaimana membuat orang-orang Trojan mau menarik kuda raksasa itu masuk ke dalam benteng. Ditugskanlah Sinon untuk menyusup ke tengah-tengah masyarakat Trojan dan membangun opini bahwa kuda tersebut sengaja ditinggalkan tentara Yunani sebagai hadiah kemenangan kepada bangsa Trojan. opini kini mengambil alih tugas para prajurit yang telah berputus asa. Dan berhasil. Umpan termakan. Kuda itu ditarik masuk ke dalam benteng dengan penuh rasa suka cita. Tengah malam, pasukan khusus keluar dari kuda, membuka pintu, dan memanggil kembali pasukan perang yang bersembunyi tidak jauh dari situ. Akhirnya, Trojan jatuh, melarat, dan menjadi bangsa pariah.

Opini adalah segalanya. Karena opini letaknya di pikiran. Opini bisa membuat yang salah jadi benar, yang benar jadi salah. opini bisa menyulap wajah tenang jadi tegang. Opini kuasa membalik jiwa optimistis menjadi pesimistis. Opini dapat mengubah wajah asli realitas; pelaku jadi korban dan korban jadi pelaku, kawan jadi lawan dan lawan jadi kawan. Maka andai kita hendak mengurai benang kusut masalah, harus bermula dari memahami asal-usul opini. Masalah akan mencair manakala pikiran mengalami liberasi dari penjara “opini” menuju alam bebas “ilmu”. John Maynard Keynes bilang, a study of the history of opinion is a necessary preliminary to the emancipation of the mind.

Inilah yang tak dipahami banyak orang. Bagi mereka opini adalah kebenaran yang harus dibela, dengan air mata, dengan darah, dengan nyawa. Mereka tak mengira kalau opini adalah hasil reaksi berantai yang terorkestrasi oleh seorang konduktor. Mereka tak menyangka kalau badai muncul akibat perbedaan temperatur dan tekanan udara. Ketidaktahuan ini dimanfaatkan oleh adikuasa pembuat opini. Sehingga perang terus terjadi. Senjata tetap laku. Energi, bahan baku, tenaga murah, dan pasar, aman di genggaman. Buntutnya: imperialisme sehat walafiat.

Maka opini tentang serangan teroris terhadap WTC digunakan untuk menjatuhkan pemerintahan Taliban dan menganeksasi Afghanistan. Opini tentang WMD diperalat guna menjatuhkan pemerintahan Saddam Husein dan menjarah warisan sejarah dan kekayaan minyak Irak. Opini tentang pembangunan senjata nuklir dimanfaatkan untuk mengembargo dan mengisolasi Teheran. Opini tentang Arab Spring dipakai untuk menggambar ulang timur-tengah dimana Israel Raya mengangkangi semuanya. Opini tentang merudal demonstran digunakan sebagai dalih untuk merontokkan Khaddafi dan membagi-bagi sumur minyak Libya. Opini tentang Sunni yang terancam digunakan untuk merepresi demonstrasi damai di Bahrain dan menyembunyikan kejahatan raja dari publik dunia. Opini tentang “Basyar Assad yang Syiah membunuh rakyatnya yang Sunni” dibangun sedemikian rupa agar ada pembenar untuk mempersenjatai oposisi dan menarik teroris Alqaida dari seluruh penjuru dunia dengan tujuan memporak-porandakan peradaban yang berusia ribuan tahun di Syria dan mengakhiri pemerintahan Partai Baath yang pro Rusia.

Opini tentang suara jalanan (Tamarud) digunakan untuk membekap suara demokrasi (yang memilih Morsi) dan membiarkan pembantaian di Mesir. Begitu juga, opini terus dikonstruksi mengenai bahayanya Syiah ketimbang Zionisme untuk menghentikan gelombang pengaruh Iran (yang anti Israel) seraya berpura-pura tak mendengar rintihan pedih warga Palestina yang terus dirampas tanahnya, dibunuh anak-anaknya, diperkosa hak-haknya, disiksa tawanannya, diblokade satu setengah juta rakyatnya di Gaza.

Kenapa tidak ada pengerahan militan bersenjata lagi ke Afghanistan, atau ke Palestina, atau ke Kashmir, atau ke Rohingya? Bukankah di sana orang Islam ditindas dan digenosida oleh pemerintah Kristen (Amerika), Yahudi (Israel), Hindu (India), dan Budha (Myanmar)? Atau sekalian ke Amerika yang menjadi biang kerok segalanya dan terus mempertontonkan kebiadaban terhadap tawanan Muslim di Guantanamo, di Abu Ghraib, di Bagram? Jawabannya sederhana, sebab mesin pembuat opini sengaja tidak diarahkan ke situ. Konduktor tidak menggerakkan tangannya, media massa besar hingga media massa pinggiran tak menulis, mimbar Pentagon hingga mimbar-mimbar masjid tak diorkestrasi. Karena semuanya terkoneksi secara integral, dan tak ada komando, maka hiruk-pikuk opini tidak terbentuk.

Alhasil, ironi terbesar di abad yang membanggakan ini ialah bahwa manusia menggunakan hasil-hasil ilmu pengetahuan yang telah terverifikasi guna menyebarkan opini yang tak terverifikasi. Padahal, dengarkanlah nasehat bijak dari answers.yahoo.com: “An opinion is not something that can be tested in the laboratory. It is an assertion that can’t be verified. In other words, you really can’t determine the truth of an opinion.”***

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

Leave a Reply