Ikhwanul Muslimin Dan Masa Depan Palestina

By Muhammad Rusli Malik
In Artikel Pendidikan
July 10, 2013
0 Comments
1860 Views

MESIR, IKHWANUL MUSLIMIN, DAN MASA DEPAN PALESTINA

Oleh Muhammad Rusli Malik

Ikhwanul Muslimin MesirSetelah Morsi diturunkan paksa oleh massa dan militer pada Rabu malam, 3 Juli lalu, perbincangan soal Mesir dan Ikhwanul Muslimin (IM)seolah harus dikomposisi ulang. Betapa tidak, Mesir, Morsi, dan IM hampir tak bisa dipisahkan. Mesir adalah negara yang melahirkan Morsi dan IM. Morsi adalah tokoh IM pertama dan sekaligus presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokratis sejak tinta sejarah mencatat keberadaan negeri Piramida tersebut. Sedangkan IM adalah gerakan politik Islam transnasional yang mengawali debutnya di Mesir. Sehingga, secara teoretis, kemenangan IM seakan menjadi introduksi terbentuknya Khilafah Islam baru yang dimotori IM dengan Mesir sebagai lokus pemerintah pusatnya. Jika ini benar-benar terjadi, berarti–paling tidak bagi kader IM–Mesir akan menemukan kembali jati dirinya sebagai pusat peradaban seperti pada zaman Dinasti Fathimiyah, bahkan jauh ke belakang pada zaman Mesir Kuno.

Itu sebabnya, euforia atas kemenangan Morsi dan IM tahun lalu membahana ke seluruh penjuru dunia, terutama pada negara-negara yang pengaruh IM-nya cukup kuat, termasuk Indonesia. Karena semuanya bermula dari apa yang disebut dengan Arab Spring, maka begitu duplikasi gerakan ini juga muncul di Syria dan melahirkan gelombang dukungan dari mereka yang menyebut dirinya “Komunitas Internasional”, Khalid Masy’al, Kepala Biro Politik HAMAS, pada Feberuari 2012 bergegas meninggalkan Damaskus seraya memberikan dukungan kepada IM Syria untuk, bersama-sama dengan anasir-anasir oposisi lainnya, menjatuhkan pemerintahan Basyar Asaad yang dinilainya diktator dan tidak demokratis. Padahal sejak terusir dari Yordania pada tahun 1999 dan Qatar pada 2001 dan tak ada negara Arab manapun yang bersedia melindunginya, Asaad-lah satu-satunya yang berani mengulurkan tangan kasih kepadanya.

Dalam pikiran Masy’al, musim dingin sebentar lagi berlalu dan musim semi akan segera memekarkan tunas-tunas muda dan kembang-kembang yang indah. Baginya, kejatuhan Ben Ali di Tunisia, Mubarak di Mesir, Khaddafi di Libya, dan Abdullah Shaleh di Yaman, tak saja mengirimkan sinyal bahwa sistem politik lama akan segera berakhir, tapi sekaligus mengindikasikan bahwa Khilafah Islamiah versi IM sebentar lagi akan tegak berdiri. Sehingga bermukim di ketiak Assad bukan saja tak populis tapi sama saja berumah di pohon lapuk yang hampir tumbang dimakan rayap. Kalau tidak secepatnya meninggalkannya, selain bisa merubuhinya, juga bisa menyebabkan dirinya dan HAMAS yang dipimpinnya ketinggalan kereta dan dimusuhi oleh anak-anak zamannya.

Pertanyaannya, kenapa Qatar yang ditujunya? Ini bisa ditelusuri sejak jauh-jauh hari. Tatkala Emir Qatar memberi tempat kepada Yusuf Qardawi pada tahun 1961 setelah sebelumnya berkali-kali dipenjara oleh Raja Faruq dan Presiden Jamal Abdul Nasser, maka sejak itu Qatar dianggap akomodatif kepada IM. (Walaupun Qardawi sendiri sebetulnya tidak punya hubungan organik dengan IM). Tentu Emir Qatar bukan nir-kepentingan. Baginya, jaringan IM yang tumbuh pesat kala itu ke seluruh dunia Islam bisa menjadi pembuluh darah untuk mengalirkan pengaruhnya. Karena rivalnya di Saudi sudah berhasil menyandingkan diri dengan gerakan Salafi-Wahhabi, yang memberikan legitimasi dan sakralitas keagamaan kepada kerajaan.

Kedatangan Masy’al di Doha tidak saja kian ‘mempererat’ hubungan Qatar dengan IM tetapi juga dengan perjuangan HAMAS di Palestina. Buktinya, Oktober 2012 Emir Qatar Syeikh Hamad bin Khalifa al-Thani menjadi kepala negara Arab pertama yang mengunjungi Gaza sejak HAMAS berkuasa penuh di wilayah itu pada 2007. Bahkan dalam kunjungan itu, untuk menunjukkan kedekatan dan kehangatannya, Perdana Menteri Ismail Haniya sendiri yang menyopiri mobil kenegaraan yang mengantarkan Sang Emir. Dan tentu saja, Syeikh Hamad tak lupa membawa 90 ton bantuan dan merogok koceknya sebesar US$ 400 juta untuk memperbaiki infrastruktur dan properti yang rusak akibat serangan membabi-buta Israel 2008-09.

Kemurahan Hati Sang Emir juga ditujukan kepada pmerintahan Morsi. Melalui Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Hamad bin Jassim Al-Thani, Emir Qatar memberikan komitmen pinjaman kepada Mesir senilai US$ 5 miliar untuk tahun 2013 dan US$ 18 miliar selama lima tahun berikutnya.

Dengan jatuhnya pemerintahan Morsi, bukan saja bantuan Qatar yang menjadi berantakan, tetapi juga mimpi musim semi Khalid Masy’al dengan HAMAS dan IM-nya. Basyar Asaad tidak kunjung jatuh. Bahkan para pemberontak dan “Komunitas Internasional” yang mendukungnyalah yang dipaksa menghitung hari. Setelah sebelumnya memutuskan hubungan diplomatik sepihak dengan Damaskus serta mengajak Muslim di negerinya untuk datang ke Syria berperang menjatuhkan pemerintahan Asaad, malah Morsilah–tentu saja dengan IM di belakangannya–yang yang terpelanting setelah berkuasa hanya setahun. Pertanyaannya kemudian, kemana gerangan Masy’al dengan HAMAS di pundaknya akan pergi?

Andaikata Erdogan di Turki juga nanti jatuh, maka agaknya IM harus menghitung ulang kekuatannya serta mengintrospeksi metodologi dakwah dan pendekatannya selama ini kepada Muslim yang lain. Jika tidak, IM bisa mengalami demotivasi dan degradasi besar-besaran. Apalagi kalau terbukti bahwa Morsi dan kolega-kolega IM-nya benar menerima suap yang bervariasi antara US$ 250.000 sampai US$ 850.000 per orang, seperti yang kini di sebut-sebut sebagai secret dokumen itu.

Yang memprihatinkan ialah bahwa yang menjadi korban paling besar dalam kejatuhan IM tersebut justru warga Pelestina, karena praktis masa depannya kian tak menentu. HAMAS, sebagai salah satu bentukan IM Palestina, bakal kehilangan aliansi-aliansi politiknya.***

-Cileungsi, 2 Ramadlan 1434H

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

Leave a Reply