CERPEN: “CACING DAN PENGGALI KUBURAN”

By Muhammad Rusli Malik
In Artikel Pendidikan
May 28, 2013
0 Comments
1999 Views

CACING DAN

PENGGALI KUBURAN

Oleh Muhammad Rusli Malik

 

Di sebuahtamanpekuburan, Baso tengah mempersiapkan sebuah lubang. Langit yang mendung tidak mengurangi semangatnya untuk terus menggali. Keringatnya mengucur bagai tetesan-tetesan hujan. Tiba-tiba cangkulnya, tanpa sengaja, memutilasi seekor cacing.Tapi itu biasa. Yang tidak biasa ialah, cacing itu sontak mengeluarkan suara erangan. Perhatian Baso tersedot ke sana. Yang lebih mengherankannya, suara erangan itu bagai kode morse kepada yang lain, sehingga dalam waktu singkat ribuan cacing lainnya keluar dari pori-pori tanah. Salah seekor dari mereka mendongakkan kepala kemudian berkata: “Kalau mencangkul, hati-hati, Bung. Matanya jangan disimpan di punggung. Setiap makhluk punya hak untuk hidup.” Baso terperanjat dan kaget luar biasa.

“Mohon maaf kalau begitu, Kawan,” jawab Baso terbata-bata. “Lalu apakah hanya untuk menyampaikan protes, harus berkerumun seperti ini?”

“Tidak. Kami berdemo seperti ini bukan untuk protes padamu!” Jawab cacing dongak tersebut seraya menambahkan, “Untuk protes, kami cukup diwakili satu ekor. Biar tidak mengganggu hak hidup makhluk yang lain.”

Hebat. Lalu…???”

Kuburan

“Kami datang ke sini untuk menyambut kedatangan hidangan baru kami.”

“Maksudnya?”

“Kalau kamu menggali, berarti akan ada mayat baru, bukan?”

“Tapi, menurut pengalaman saya, selama ini tidak sebanyak ini cacing yang menyambut klien saya.”

“Oh, ia. Karena klien kamu selama ini tidak seistimewahari ini.”

“Lho, kok kamu tahu kalau klien saya kali ini bukan orang sembarangan?”

“Tahulah. Karena kami tidak pernah putus komunikasi dengan Malaikat Maut. Dialah yang mencabut nyawa setiap orang sebagai syarat wajib memasuki pondokperistihatan terakhirnya.”

“Tapi, tunggu dulu. Saya selama ini sudah sering menggali lubang kuburan pejabat, namun toh tidak sebanyak kalian kali ini.”

“Betul. Karena pejabat yang dulu-dulu itu benar-benar pelayan terhadap rakyatnya; pahlawan terhadap bangsanya. Isi kepalanya adalah nasionalisme sejati. Ideologinya Pancasila yang ber-Ketuhanan Yang Mahaesa.”

“Cacing… Cacing… Dasar cacing. Yang namanya pejabat, sumpahnya selalu begitu, dari zaman dokarway hingga zaman busway. Tidak ada perubahan, Kawan! Yang berubah hanya kepintarannya. Yang sekarang lebih cerdas karena diwajibkan mengikuti pendidikan S2.

“Itu kesaksian kamu. Tapi kesaksian Malaikat Maut pasti lebih akurat. Dia bilang, pejabat yang akan dikubur ini adalah koruptor besar. Kasusnya beberapa kali muncul di KPK tapi selalu menghilang ditindih issu-issu lain. Sangat piawai memainkan issu.Dia bukan pelayan kepada rakyatnya, tapi pelayan kepada majikan asingnya. Bukan pahlawan terhadap bangsanya, tapi pahlawan terhadap sponsornya. Isi kepalanya bukan nasionalisme, tapi kapitalisme. Ideologinya adalah Pancasilayang ber-Keuangan Yang Mahaperkasa.

“Lalu apa urusan kalian dengannya?

“Tugas biasa, Kawan. Sesuai dengan protap (prosedur tetap). Mendaur ulang. Mengembalikan dia ke tanah. Agar dia tahu bahwa tubuhnya yang selama ini dia bangga-banggakan ternyata tidak lebih dari gumpalan-gumpalan tanah. Kami akan mengembalikannya ke titik nol. Dari tiadakembaliketiada. Dia lahir ke dunia dalam keadaan tidak membawa apa-apa. Dan meninggalkan dunia juga tidak membawa apa-apa. Semua yang dikorupsinya hanyalah hasil tipuan belaka dari hawa nafsunya. Yang ada hanyalah kesadarannya yang immaterial dan akan kekal bersama jiwanya. Sayangnya, justru jiwanyalah yang selama ini dia terlantarkan; tidak pernah dia beri asupan yang dibutuhkannya.

“Saya tidak butuh khotbahmu. Bagi saya, kematian pejabat selalu merupakan kesempatan langka untuk melihat langsung bintang-bintang sinetron cantik yang selama ini hanya bisa saya lihat di televisi.”

“Itu urusan pribadimu, Kawan. Kali ini kami mengerahkan tenaga yang jauh lebih banyak. Kami akan serempak memasuki pori-pori kulitnya, matanya, telinganya, hidungnya, mulutnya, dan semua lubang yang ada. Karena dia telah menjerumuskan negerinya yang kaya raya ke dalam lumpur kemiskinan. Dia telah berpestapora di atas penderitaan bangsanya. Kami akan menyampaikan pesan permulaan bahwa betapa menderitanya rakyat akibat perbuatannya. Kami akan merasakan kepadanya siksa yang amat berat. Dia bisa melepaskan diri dari jeratan hukum negara, tapi di liang lahad ini, tidak.

Baso belum sempat menimpali, sirine mobil ambulans terdengar meranung-raung. Diantar oleh tangisan anak-anak dan istrinya, mayat pejabat tersebut diusung memasuki arepekuburan.***

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

Leave a Reply