Al-Fatihah ayat 6

Category : Al-Fatihah, Tafsir Alquran
Al-Fatihah ayat 6by Muhammad Rusli Malikon.Al-Fatihah ayat 6SURAT AL-FATIHAH  Ayat 6 (Tunjukilah kami jalan yang lurus) 1). Menurut al-Qur’an, manusia itu bukanlah makhluk yang statis, yang berhenti di masa kini. Sebaliknya, manusia adalah makhluk yang sedang berjalan (musafir) meninggalkan masa lalu menuju masa depan. Masa lalu tubuh biologisnya adalah tanah, masa depannya pun adalah tanah. Sementara masa lalu tubuh ruhaniahnya adalah (dari) […]

SURAT AL-FATIHAH  Ayat 6

(Tunjukilah kami jalan yang lurus)

1). Menurut al-Qur’an, manusia itu bukanlah makhluk yang statis, yang berhenti di masa kini. Sebaliknya, manusia adalah makhluk yang sedang berjalan (musafir) meninggalkan masa lalu menuju masa depan. Masa lalu tubuh biologisnya adalah tanah, masa depannya pun adalah tanah. Sementara masa lalu tubuh ruhaniahnya adalah (dari) Allah dan masa depannyapun adalah (kembali kepada) Allah: inna lillahi wa inna ilayhi raji’un [sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nya (pulahlah) kita akan kembali] (2:156). Sebagai makhluk yang berjalan (musafir), maka kebutuhan pertama dan utamanya adalah PETUNJUK (hudan). Karena orang yang berjalan tanpa petunjuk niscaya tidak akan sampai ke tempat tujuan. Begitu sakralnya doa ini sehingga Allah mewajibkannya dibaca dalam salat. Dan karena salat adalah tiang agama, maka bisa difahami bahwa doa ini termasuk tiang dari tiang agama, sebab tidak ada salat bagi mereka yang tidak baca Surat al-Fatihah.

2). Doa ini didahului oleh pengenalan yang sempurna akan Allah (di ayat 1-4). Karena bagaimana mungkin kita berjalan menuju ke sesuatu yang tidak kita kenal. Maka tujuan perjalanan harus selesai di kepala sebelum perjalanan kita

teruskan. Kata Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya, tindakan bermula setelah pikiran selesai. Tujuan itu bahkan tidak cukup kita kenal dengan baik, tapi juga harus kita imani dengan sungguh-sungguh. Jadi asumsinya, doa ini kita ungkapkan setelah kita mengimani hakikat keberadaan Allah dan kaitannya dengan seluruh realitas (seperti dibahas di ayat3). Itu sebabnya doa ini kita ungkapkan di dalam Salat karena hanya orang yang berimanlah yang akan melaksanakan salat. “… wa man yu’min billah yahdi qalbahu…” (dan siapa yang beriman kepada Allah, Dia akan memberi petunjuk ke dalam kalbunya) (64:11). “Ke dalam kalbunya”, tentu maksudnya ke dalam pikirannya. Karena pikiranlah yang membuat manusia jadi manusia. Dan Allah-lah yang berhak memberikan petunjuk itu sebab Dia-lah yang paling tahu jalan untuk sampai kepada-Nya. Jadi bukan temuan dari pikiran manusia.

3). Lalu kenapa petunjuk yang kita minta itu disebut secara eksplisit sebagai jalan yang lurus? Jawabannya: karena jalan selainnya adalah jalan yang bengkok, jalan yang menyesatkan. Dan, dalam al-Qur’an, kata shirath (jalan) itu selalu dalam bentuk tunggal; tidak pernah berbentuk jamak/plural. Artinya, bahwa jalan-lurus it cuma satu. Sehingga, dalam kaitan ini, pluralisme tertolak. Ilmu geometri pun mengajarkan bahwa garis lurus yang menghubungkan dua titik cuma satu. Jika kita menggunakan argumen ini untuk memahami alasan diturunkannya nabi demi nabi untuk mengajarkan agama demi agama, maka tiap agama adalah satu garis lurus yang kemudian disambung oleh garis lurus berikutnya. Sehingga dari nabi pertama hingga nabi terakhir membentuk satu garis lurus panjang yang merentang dari nabi pertama hingga akhir zaman. Dan nabi berikutnya diutus karena ajaran (agama) nabi sebelumnya telah dibengkokkan oleh para pengikutnya sendiri. Agama kemudian terdistorsi dan terpolarisasi yang berbuntut pada munculnya puluhan sekte-sekte dalam agama tersebut.

4). Kemudian, kenapa doa ini harus diulang-ulang? Apakah berarti orang yang membacanya itu selalu berada di jalan yang bengkok? Harus diulang-ulang karena memang ada yang masih belum berada di jalan-lurus itu, ada juga yang sudah berada di jalan tersebut tapi kemudian tergelincir dan terpental kembali ke jalan yang sesat. Walaupun mereka itu kelihatan masih menggunakan baju agama. Dengarkanlah janji Iblis: “… Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan (niscaya) Engkau akan mendapati kebanyakan mereka tidak bersyukur (tidak berada di jalan-lurus).” (7:16-17)5). Gambaran pergulatan abadi antara Iblis dan manusia inilah nantinya yang akan menjelma menjadi jembatan shiratal-mustaqym di akhirat yang membentang dari suatu tempat yang bernama al-A’raf hingga surga-Nya Allah dengan melintasi neraka. Maka siapa yang tergelincir di dunia diapun akan tergelincir nanti di akhirat. Dan siapa yang tergelincir di akhirat dia akan jatuh ke dalam neraka. “Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman: ‘Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu’. Dikatakan (kepada mereka): ‘Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)’. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang berpintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: ‘Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Benar, tetapi kalian mencelakakan dirimu sendiri seraya menunggu (kehancuran kami) dan kalian ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong hingga datang ketetapan Allah; dan, terhadap Allah, kalian ditipu (oleh syaitan) dengan tipuan (yang nyata)’.” (57:13-14)

AMALAN PRAKTISSaat Anda ditimpa keraguan dalam suatu hal, terutama dalam hal agama—misalnya bingung melihat banyaknya mazhab atau aliran—maka usirlah kecurigaan yg ditanamkan orang di sekitar Anda dengan membaca ayat ini seraya terus melanjutkan pencarian Anda. Jika hati Anda benar-benar ikhlas dalam pencarian tersebut, insya Allah, Anda akan tertuntun oleh Allah untuk sampai kepada kebenaran yang sesungguhnya.

Related Posts

Tinggalkan Balasan