Al-Baqarah ayat 21

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 21by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 21SURAT AL-BAQARAH Ayat 21   يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون [Hai manusia, beribadalah kepada Tuhan kalian Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kalian bertakwa.] [O men! serve your Lord Who created you and those before you so that you may guard (against evil).] 1). Setelah memaparkan […]

SURAT AL-BAQARAH Ayat 21

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

[Hai manusia, beribadalah kepada Tuhan kalian Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kalian bertakwa.]

[O men! serve your Lord Who created you and those before you so that you may guard (against evil).]

1). Setelah memaparkan 3 (tiga) golongan manusia—manusia taqwa (ayat 2-5), manusia kafir (ayat 6-7), dan manusia munafiq (ayat 8-20)—kini Allah menyeru kepada seluruh manusia untuk memilih menjadi manusia golongan pertama: manusia taqwa. Sekaligus Dia menjelaskan bahwa untuk menjadi manusia taqwa, caranya cuma satu: manusia harus beribadah kepada Rab-nya. Kenapa mesti kepada Rab? Karena Dia-lah Rabbul ‘alamyn, satu-satunya yang pantas menerima pujian di seluruh jagad alam (lihat kembali pembahasan di 1:2), yang berada dibalik penciptaan seluruh realitas, alam ghayb dan alam syahadah. Sementara manusia sendiri hanya tercipta dari dua unsur alam tersebut. Jasmani atau tubuh kasarnya tercipta dari alam syahadah (tanah), dan ruhani atau tubuh halusnya tercipta dari alam ghayb (ruh). Sehingga praktis tidak ada realitas yang menyusun penciptaan manusia yang keluar dari wilayah kekuasaan Rabbul ‘alamyn. Maka perintah penyembahan di ayat ini harus dimaknai sebagai seruan Allah kepada manusia agar mengharmonisasikan dirinya dengan seluruh realitas. Tidak bisa dimaknai sebagai sikap egoisme Tuhan untuk disembah. Tuhan tidak butuh disembah, karena Dia sudah sempurna dalam dirin-Nya, sehingga tidak butuh lagi kepada apapun dan siapapun. Sebaliknya, apa dan siapa inilah yang butuh kepada-Nya. Sebab tanpa Rab, apa dan siapa-pun tidak bisa bereksistensi.

 

2). Dari pembahasan poin 1 tadi bisa difahami bahwa perintah penyembahan—اعْبُدُواْ (I’buduw)—di ayat ini adalah dalam pengertiannya yang seluas-luasnya. Bukan dalam pengertiannya yang sempit, seumpama salat, puasa, haji, dan sebagainya, seperti banyak difahami oleh kebanyakan orang beragama dan penguasa. Karena kalau dibatasi hanya dalam pengertiannya yang sempit seperti itu, jelas tidak akan terjadi harmonisasi antara manusia dan seluruh realitas yang melingkupinya. Harmonisasi hanya terwujud manakala terjadi relasi paripurna di antara keduanya. Sekularisasi muncul justru dari pembatasan ruang lingkup ibadah. Makanya jangan pernah berharap kalau sekularisme bisa menciptakan hubungan harmonis antara manusia dan alam sekitarnya. “Musa berkata kepada kaumnya: ‘Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Alla, dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa’.” (7:128) Penggunaan kata يُورِثُهَا (yuwritsu-ha, dipusakakan-Nya), menunjukkan arti pendelegasian secara menyeluruh sebagai akibat (الْعَاقِبَة) dari penyembahan yang juga menyeluruh.

 

3) Kata النَّاسُ (annās, manusia) sebagai obyek seruan Allah, menunjukkan keumuman seruan tersebut. Artinya seluruh manusia, tanpa kecuali, kapanpun dan dimanapun, harus menerima seruan ini. Karena tanpa menerima seruan ini, manusia sendiri yang akan merasakan akibatnya, yaitu disharmonisasi dalam kehidupannya. Semakin besar disharmonisasi ini semakin fatal juga akibatnya bagi manusia dan kemanusiaan. Maka dari itu, ketika Allah menyebut diri-Nya sebagai Rab, Dia juga sekaligus menjelaskan seperti ini: الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ (Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu). Maksudnya, Allah menyampaikan seruan ini kepada manusia di sepanjang rentang sejarahnya. Perintah penyembahan inilah yang menjadi prinsip kesamaan tujuan diutusnya seluruh nabi dan rasul. Derajat akseptasi dan responsi terhadap seruan umum inilah nantinya yang kemudian melahirkan kekhususan yang disebut manusia takwa. Dengan demikian, tak terhindarkan di sini adanya strata. Dan inilah strata yang paling rasional, strata yang tidak akan melahirkan ketidakadilan dan kezaliman. Strata berdasarkan ketakwaan. Semakin intensif dan semakin paripurna ibadah sesorang semakin tinggi strata ketakwaannya. Strata inilah nantinya yang mengkrucut pada kenabian.

 

4). Penggunaan kata لَعَلَّكُمْ [la’alakum, mudah-mudahan kalian (menjadi manusia taqwa)] menghibur kita bahwa walaupun ibadah itu perintah langsung dari Allah, Rabbul ‘alamin, tetapi Dia sendiri membuka keran kebebasan itu seluas-luasnya kepada manusia: taat atau ingkar. Dan seandainya pun memilih untuk taat, Allah masih membuka peluang yang seluas-luasnya untuk melakukan ibadah (niat dan jenisnya) seperti apa. Karena toh derajat akseptasi dan responsi terhadap seruan ibadah inilah nantinya yang kemudian melahirkan strata paling rasional: manusia takwa. Kalau sifatnya dipaksakan, tentu tidak bisa lagi disebut strata paling rasional. Dan ini adalah tipologi perintah Allah berkaitan dengan ibadah (umum atau khusus).

Misal-1 pada hukum qishash: “Dan di dalam kishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal, agar kalian bertakwa.” (2:179)

Misal-2 pada puasa: “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (2:183)

Misal-3 pada sistem sosial: ”Dan janganlah kalian dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian (berkata secara) adil kendati pun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kalian ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kalian bertakwa.” (6:152-153)

Misal-4 pada Kitab Suci: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka berfikir bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Lalu Kami katakan kepadanya): ‘Peganglah dengan teguh (Kitab Suci) yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya agar kalian bertakwa’.” (7:171)

 

AMALAN PRAKTIS

Apabila Anda selama ini beribadah kepada Allah karena merasa itu sebagai suatu kewajiban, maka saatnya sekarang Anda meninggalkan cara pandang seperti itu. Allah tidak butuh kepada ibadah Anda. Dia sudah sempurna dalam diri-Nya. Ibadah adalah kebutuhan pribadi Anda untuk menapaki

{jcomments on}

Related Posts

Tinggalkan Balasan