Al-Fatihah ayat 2

Category : Al-Fatihah, Tafsir Alquran
Al-Fatihah ayat 2by Muhammad Rusli Malikon.Al-Fatihah ayat 2SURAT AL-FATIHAH Ayat 2 (Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam) 1). Penyakit kemanusiaan paling besar sepanjang sejarah adalah ketidakadilan. Orang kuat memperdaya orang lemah. Orang kaya merendahkan orang miskin. Laki-laki berbuat semena-mena kepada perempuan. Suami mengasari dan menganiaya istri. Orang tua mengeksploitasi anak-anaknya. Rakyat dizalimi oleh pemimpinnya. Massa dikebiri dari hak-haknya. Dan semuanya merupakan […]

SURAT AL-FATIHAH Ayat 2

(Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam)

1). Penyakit kemanusiaan paling besar sepanjang sejarah adalah ketidakadilan. Orang kuat memperdaya orang lemah. Orang kaya merendahkan orang miskin. Laki-laki berbuat semena-mena kepada perempuan. Suami mengasari dan menganiaya istri. Orang tua mengeksploitasi anak-anaknya. Rakyat dizalimi oleh pemimpinnya. Massa dikebiri dari hak-haknya. Dan semuanya merupakan buah dari satu penyakit: takabbur (arogan dan merasa diri hebat). Sementara takabbur adalah buah dari sifat riya’ (senang pamer, senang dipuji dan disanjung, gila hormat). Riya’ sendiri adalah stadium lanjut dari penyakit hati paling awal, yaitu ‘ujub (takjub pd diri sendiri, senang memuji diri—di depan orang lain atau di depan cermin atau bahkan ketika sedang salat—bangga diri, narsis). Kita singkat ketiga penyakit tersebut dengan URT (Ujub, Riya’, Takabbur). Semuanya bermula dari rasa berhak mendapatkan pujian. Padahal semua realita—termasuk perbuatan manusia—adalah jelmaan dari Nama Allah (ismullah). Maka secara otomatis, pada hakikatnya, yang masuk akal untuk dipuji hanya Dia. Sanjungan dan pujian yang dialamatkan kepada diri kita (jika tidak berhasil menyikapinya dengan benar) bisa berubah menjadi senjata yang membinasakan. “Segala puji bagi Allah….”

2). “Alhamd”, dalam Bahasa Arab, disebut ma’rifah (terdefenisikan dengan jelas), yang ditandai dengan huruf “alif-lam” (definite article) dipermulaannya. Artinya, (karena semua realitas adalah jelmaan dari Nama-Nya, maka) baik yang memuji ataupun yang dipuji berasal dari Dia, sehingga  pada dasarnya semua pujia itu, apapun bentuknya dan dari manapun asalnya, hanyalah milik-Nya (li-llah).Pujian dan sanjungan yang dialamatkan kepada diri kita sebetulnya salah alamat.

3). Di sini Allah menyebut Dirinya lagi sebagai Rab, seperti ketika Dia pertama kali memperkenalkan Diri-Nya di S. al-‘Alaq (96) ayat 1: “iqra’ bismi Rabbi-ka”. Di dalam kata Rab tersimpul makna-makna: Pencipta, Pemelihara, Pengatur, dan Pendidik. Kata Rab di sini tidak berdiri sendiri, melainkan disandarkan (mudlaf) kepada kata al-‘alamin (seluruh alam). Sehingga secara harafiah bisa diartikan dengan: “(Allah itu adalah) Tuhannya seluruh alam”. Yakni bahwa seluruh alam, seluruh realitas, yang ada tidaklah berdiri sendiri. Semua itu mempunyai posisi ontologis yang tak terpisahkan dengan Pencipta, Pemelihara, Pengatur, dan Pendidiknya. Sehingga seluruh keteraturan, keajegan, keutuhan, dan kecerdasan yang kita saksikan di seluruh alam pada prinsipnya adalah Perbuatan Dia.

4). “Al-‘alamin” adalah bentuk jamak beraturan. Maksudnya, alam itu banyak, bersusun, berstruktur dan berhirarki. Semakin ke atas semakin singular (tunggal), semakin ke bawah semakin plural (jamak). Setiap alam memiliki langitnya sendiri. Setiap langit memiliki jalan/metoda pencapaiannya sendiri. Total semuanya ada ‘7’ (‘tujuh’) lapis langit, dan karenanya juga ada ‘7’ (‘tujuh’) jenjang jalan. “Dan sungguh Kami telah menciptakan di atas kalian tujuh jalan. Dan Kami tidak mungkin lalai dari (seluruh) ciptaan.” (23:17). Tiap langit itu kuat, berat untuk ditembus (78:12), kecuali dengan menggunakan sulthon (55:33 dan 17:80), yakni kekuatan ilmu dan kekuatan ruhani. Jika kita ingin bersua dengan-Nya, dan mengamputasi penyakit URT kita, mau tidak mau kita harus menjejal alam-alam ini.

AMALAN PRAKTISKita manusia adalah makhluk yang terperangkap dalam ruang dan waktu. Akibatnya, tiap amal-perbuatan kita selalu ada awal dan ada akhirnya. Jika memulai dengan bismillah, maka akhirilah tiap amal-perbuatan tersebut dengan Alhamdulillah, sekecil apapun kelihatannya perbuatan itu. Perbuatan yg kelihatannya besar tapi tdk dimulai dengan bismillah dan tdk ditutup dengan Alhamdulillah, tidak bermakna di sisi Allah swt. Sebaliknya perbuatan yang kelihatannya kecil tapi dimulai dengan bismillah dan ditutup dengan Alhamdulillah, akan kelihatan sangat besar di sisi-Nya.

Related Posts

Leave a Reply