Al-Baqarah ayat 88

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 88by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 88SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 88   وَقَالُواْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَل لَّعَنَهُمُ اللَّه بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلاً مَّا يُؤْمِنُونَ [Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allah telah melaknat mereka karena keingkarannya; maka sedikit sekali mereka yang beriman.] [And they say: Our hearts are covered. Nay, Allah has cursed them on account of their unbelief; so little […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 88

 

وَقَالُواْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَل لَّعَنَهُمُ اللَّه بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلاً مَّا يُؤْمِنُونَ

[Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allah telah melaknat mereka karena keingkarannya; maka sedikit sekali mereka yang beriman.]

[And they say: Our hearts are covered. Nay, Allah has cursed them on account of their unbelief; so little it is that they believe.]

 

 

1). Ingat, ayat yang lalu (87) ditutup dengan sebuah pertanyaan: “Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan hawa-nafsumu lalu kalian (bersikap) angkuh (terhadapnya); maka sebagian (di antara mereka) kalian (telah) dustakan dan sebagian (yang lain) kalian (akan) bunuh?” Mereka menjawab: قُلُوبُنَا غُلْفٌ (qulŭwbunā gulfun, hati kami tertutup). Tafsirul Wajiz mengartikan غُلْفٌ (gulfun) sebagai “di atasnya ada segel penutup, yang maksudnya bahwa ia tidak menyadari.” Tafsir ini kemudian menukil sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudri ra bahwa Rasulullah saw bersabda, hati itu ada empat macam: satu, hati ajrad, yaitu hati yang di dalamnya ada lampu yang terang, (inilah hatinya orang beriman); dua, hati aglaf, yaitu hati yang tersegel oleh penutupnya, inilah hatinya orang kafir; tiga, hati mankus, yaitu hatinya orang munafik dimana ia mengetahui adanya kebenaran namun mengingkarinya; dan empat, hati musfah, hati yang di dalamnya berkumpul iman dan nifaq (sifat atau penyakit munafik) sekaligus—perumpamaan iman di dalam hati laksana sayur-sayuran yang dikembangkan oleh pengairan yang baik, sementara nifaq bagaikan luka yang bengkak karena nanah dan darah—yang kalau nifaq-nya yang lebih dominan jadilah ia orang munafik, tapi kalau imannya yang dominan, jadilah ia orang beriman. Perhatikan hati jenis ke-dua: aglaf; ini adalah bentuk jamak dari غُلْفٌ (gulfun). Pengertian bahwa غُلْفٌ (gulfun) atau aglaf adalah hati yang di tutupnya ada segel sehingga tidak bisa terbuka, sejalan dengan ayat ini: “Mereka (orang yang mengingkari al-Qur’an) berkata: ‘Hati kami dalam keadaan tertutup dari apa yang kamu (Muhammad) seru kami kepadanya, di telinga kami ada sumbat, dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami (pun) bekerja’.” (41:5) Apabila kata غُلْفٌ (gulfun) atau aglaf ini kita ubah menjadi perfect tense, maka menjadi gallafa (huruf lam-nya di-tasydid atau didobel), yang artinya to envelop, cover, wrap (up); to coat; to (en)case; to package. Melalui bentuk perfect tense ini bisa difahami bahwa segel yang ada di penutup hati seseorang adalah karena yang bersangkutan sendiri yang melakukannya. Sehingga untuk melepaskannya, juga terpulang sepenuhnya kepada si pemilik hati tersebut. Lalu apa yang dimaksud “segel” di situ? Yaitu: hawa nafsu. “Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan hawa-nafsumu lalu kalian (bersikap) angkuh (terhadapnya)…?” Ini diakui oleh Bani Israil melalui jawabannya tadi: قُلُوبُنَا غُلْفٌ (qulŭwbunā gulfun, hati kami tertutup). Artinya, hati yang tertutup inilah yang menyebabkan seseorang mendustakan ayat-ayat Allah, bahkan pada tingkat tertentu bisa membunuh para nabi atau orang saleh, apalagi kalau cuma orang biasa.

 

2). Dan apabila seseorang sudah sampai berani membunuh nabi dan orang saleh, kata Allah, jiwa mereka sebetulnya tak lagi sekedar tertutup atau tersegel. “Tetapi sebenarnya Allah telah melaknat mereka karena keingkarannya”. Ini sesuai dengan ayat yang telah kita kutip di pembahasan yang lalu (ayat 85, poin 5): “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (4:93) Jangankan membunuh seorang mukmin, baru menyakiti saja hatinya, hukumannya sudah cukup membuat mata tidak bisa terpejam memikirkannya: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka (yang menyakiti) telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”. (33:58) Itu menyakiti hati orang mukmin, lalu bagaimana kalau menyakiti hati Nabi? “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (33:57) Penjelasan ini hendaknya membuat kita berhati-hati (dalam kata dan perbuatan) jika berhubungan dengan sesama manusia, terkhusus lagi berkenaan dengan urusan kaum mukmin, orang saleh, dan Nabi saw. Karena apabila jiwa yang sudah tertutup, perkaranya bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Inilah yang terjadi pada Bani Israil: “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan (Kitab Suci) dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: ‘Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya’. Dan (juga mengatakan): ‘Dengarlah!’ Padahal kalian sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): ‘Raa’ina’, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan patuh, maka dengarlah, serta perhatikanlah kami’, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah melaknat mereka, karena kekafirannya. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (4:46)

 

3). Kata kuncinya ialah: بِكُفْرِهِمْ  (bikufriɦim). Yaitu bahwa semuanya itu terjadi “karena kekufuran mereka (sendiri). Karena pilihan sadar mereka sendiri. Itu bukan takdir, itu adalah nasib. Dan selama Bani Israil masih tetap menutup hatinya sendiri, selama itu pula cahaya iman tidak mungkin bersinar di dalam jiwanya; hati mereka tidak mungkin meningkat menjadi ajrad. Penjelasan linguistiknya begini. Huruf بِ (bi) dalam kata بِكُفْرِهِمْ  (bikufriɦim) dikenal dalam ilmu bahasa sebagai ب (ba’) sababiyah (mengandung makna sebab).  Sehingga bisa disimpulkan bahwa laknat Allah beserta hukuman-hukuman lain yang menyertainya adalah akibat yang disebabkan oleh ulah dan pilihan-pilihan hidup mereka sendiri: “maka sedikit sekali mereka yang beriman.” Untuk mempertegas fahaman ini, penjelasannya diulangi kembali di ayat lain: “Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan (karena) kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: ‘Hati kami tertutup.’ Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka disebabkan kekafirannya (sendiri), karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.” (4:155) Keberimanan dan kekufuran adalah dua kondisi jiwa yang gerakannya berbanding terbalik. Apabila keberimanan bertambah, secara otomatis kekufuran berkurang. Begitu juga sebaliknya.

 

 

AMALAN PRAKTIS

Berhati-hatilah dengan urusan jiwa Anda. Apabila Anda memalingkan mata hati Anda dari ‘menyaksikan’ Allah (sebagai asal primordial dari jiwa), maka cahaya jiwa Anda tidak mungkin bersinar terang. Jiwa Anda perlahan akan tertutup. Keberimanan Anda berkurang, kekufuran Anda bertambah. Jiwa Anda kemudian tertutup rapat, hingga berani melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak masuk akal. Terakhir: laknat dan murka-Nya menimpa Anda.

Related Posts

Leave a Reply