Al-Baqarah ayat 83

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 83by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 83SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 83   وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لاَ تَعْبُدُونَ إِلاَّ اللّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُواْ لِلنَّاسِ حُسْناً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنكُمْ وَأَنتُم مِّعْرِضُونَ [Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kalian menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 83

 

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لاَ تَعْبُدُونَ إِلاَّ اللّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُواْ لِلنَّاسِ حُسْناً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنكُمْ وَأَنتُم مِّعْرِضُونَ

[Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kalian menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. (Tetapi) kemudian kalian berpaling (dari janji tersebut) kecuali sebahagian kecil dari kalian, dan kalian (memang selalu) ingkar.]

[And when We made a covenant with the children of Israel: You shall not serve any but Allah and (you shall do) good to (your) parents, and to the near of kin and to the orphans and the needy, and you shall speak to men good words and keep up prayer and pay the poor-rate. Then you turned back except a few of you and (now too) you turn aside.]

 

 

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) yang ketigabelas. Ayat 72 hingga ayat 82 adalah bagian dari kata إِذْ (idz, ketika) yang keduabelas, dimana setelah Bani Israil menyaksikan sendiri bagaimana orang yang mereka bunuh hidup kembali setelah dipukulkan kepada mayatnya bagian tubuh sapi betina yang telah mereka sembelih sebelumnya; tetapi setelah kejadian itu, jiwa mereka kembali mengeras, bahkan lebih keras dari batu, sampai mereka mau menulis dan memalsu Kitab Suci seraya mengaku bahwa mereka toh hanya masuk neraka beberapa hari saja. Maka di kata إِذْ (idz, ketika) yang ketigabelas ini, Allah hendak mengingatkan kepada Bani Israil mengenai janji yang lain yang telah mereka ikrarkan di hadapan Allah dan Nabi Musa. Setidaknya ada 5 (lima) isi perjanjian di ayat ini yang telah ‘ditandatangani’ oleh Bani Israil: satu, larangan beribadah selain kepada Allah; dua, perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, dan orang miskin; tiga, perintah bertutur kata yang baik kepada sesama manusia; empat, perintah mendirikan salat; dan lima, perintah menunaikan zakat. Kelima isi perjanjian ini akan dibahas lebih rinci pada poin-poin berikut ini.

 

 

2). Janji yang ke-satu: larangan beribadah selain kepada Allah. Ini pertanda bahwa prinsip pertama dan utama yang Allah ajarkan kepada Bani Israil—dan juga kepada kaum yang lain melalui nabi-nabi yang datang kepadanya—ialah TAUHID (meng-esa-kan Allah). Bahkan melalui Luqman, Allah mengajarkan kita dari mana orang tua seharusnya memulai pendidikan anak-anaknya. “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’. ” (31:13) Di sini Luqman tak hanya melarang anaknya mempersekutukan Allah, tapi sekaligus menyampaikan mengapa larangan itu harus ada. Kata Luqman: “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Artinya, inilah induk dari seluruh kezaliman, sehingga tidak mungkin seseorang melakukan kezaliman-kezaliman lainnya—termasuk melakukan ketidakadilan—manakala tidak mempersekutukan Allah sebelumnya.

 

 

3). Janji ke-dua: perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, dan orang miskin. Susunan ini bukan kebetulan. Susunan ini sekaligus menerangkan sekala prioritas dalam berbuat baik kepada manusia. Yaitu bahwa di dalam berbuat baik itu, yang harus diutamakan pertama kali ialah kedua orang tua, ibu dan ayah. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya klian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kalian mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah membentak mereka serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (17:23) Lalu bagaimana kalau di antara kedua orang tua juga harus membuat skala prioritas? Sabda Nabi: ibumu, ibumu, ibumu. Firman Allah: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah dan bertamba lemah, lalu menyapihnya dalam dua tahun. (Maka) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (31:14) Saat Allah menyebut ibu, Dia mengingatkan kita penderitaan demi penderitaan yang dilaluinya demi mengandungkan, melahirkan, dan menyapih anak-anaknya. Setelah orang tua, baru kepada kerabat, anggota keluarga yang lain. Kemudian anak yatim dan orang miskin. Dua yang terakhir oleh Islam bahkan dijadikan sebagai ukuran keberagamaan seseorang: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (107:1-3)

 

 

4). Janji ke-tiga: perintah bertutur kata yang baik kepada sesama manusia. Ini penting, karena “lidah tidak bertulang”, sehingga mudah ditekuk sana tekuk sini, lupa kalau jiwa manusia sangat sensitif dalam menangkap hasil olah lidah. Agar jiwa manusia tidak tersinggung karenanya, maka: “Dan apabila sewaktu pembagian (harta waris) itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (4:8) Kesalahan orang lain kepada kita pun tidak boleh menjadi alasan untuk mengumbar kata-kata kasar dan tidak patut kepada mereka. “Dan hamba-hamba ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Penyayang) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang menyejukkan (jiwa).” (25:63) Saat Allah mengutus Musa dan Harun datang kepada Fir’aun, diantara pesan-Nya ialah: “Pergilah kamu berdua kepada Fir`aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan (dengan begitu) ia ingat atau takut.” (20:43-44) Kalau kepada Fir’aun saja diperintahkan bertutur kata yang lemah lembut, lalu bagaimana pula kepada manusia lain yang tidak sejahat Fir’aun?

 

 

5). Janji ke-empat: perintah mendirikan salat. Ini menunjukkan bahwa perintah salat juga ada di dalam Taurat yang belum di tahrif. Salat ternyata bukan ibadah yang hanya disyari’atkan kepada umat Muhammad, tapi juga kepada umat-umat sebelumnya. Di dalam Injil Barnabas dikatakan begini: “Kemudian pergilah Yesus beserta murid-muridnya ke padang sahara di belakang Yerden. Maka setelah sembahyang siang, duduklah ia di samping sebuah pohon kurma sedang para murid duduk di bawah naungannya.” (Pasal 163 ayat 1 dan 2) Kepada Nabi Ibrahim, Allah berpesan: “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini untuk orang-orang yang thawaf, orang-orang yang berdiri, rukuk dan sujud’.” (22:26)

 

 

6). Janji yang ke-lima: perintah menunaikan zakat. Kalau salat ialah kewajiban keagamaan yang jatuh pada diri (jiwa dan raga), maka zakat ialah kewajiban keagamaan yang jatuh pada harta. Kesempurnaan jihad (kesungguhan beragama) hanya akan tercapai apabila melibatkan kedua ibadah ini: diri dan harta, salat dan zakat. “Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (9:20) Salat dan zakat jarang disebut terpisah dalam al-Qur’an, menunjukkan bahwa keduanya memiliki peran yang sama substansialnya. Keduanya juga sudah disebutkan tersendiri di awal kisah Bani Israil ini, yaitu di ayat 43.

 

Kelima isi perjanjian tersebut merupakan prinsip-prinsip penting di dalam agama samawi. Nabi Musa diutus karena prinsip-prinsip itu sudah ditinggalkan umat nabi sebelumnya. Sayangnya, sepeninggal Nabi Musa, umatnya pun mengulangi kembali jejak umat-umat sebelumnya, yakni merusak ajaran agama sendiri: “(Tetapi) kemudian kalian berpaling (dari janji tersebut) kecuali sebahagian kecil dari kalian, dan kalian (memang selalu) ingkar”.

 

 

AMALAN PRAKTIS

Ini adalah diantara prinsip-prinsip penting agama: tauhid; bakti kepada orang tua, kerabat, anak yatim, dan orang miskin; bertutur kata yang baik kepada sesama; mendirikan salat; dan menunaikan zakat. Allah menyebutnya “JANJI”. Artinya, semua itu sudah ‘tertulis’ secara alamiah di dalam jiwa manusia. Kalau Anda mengingkarinya, maka sama dengan mengingkari kebutuhan jiwan Anda sendiri.

Related Posts

Leave a Reply