Al-Baqarah ayat 7

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 7by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 7SURAT AL-BAQARAH Ayat 7 خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عظِيمٌ (Allah telah menutup qalbu, pendengaran, dan penglihatan mereka dengan sumbat. Dan bagi mereka azab yang besar). 1). Kalau ayat ini dilepaskan keterkaitannya dengan ayat sebelumnya, agama akan difahami secara salah. Seakan-akan Allah-lah yang paling bertanggungjawab atas orang yang tertutup […]

SURAT AL-BAQARAH Ayat 7

خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عظِيمٌ

(Allah telah menutup qalbu, pendengaran, dan penglihatan mereka dengan sumbat. Dan bagi mereka azab yang besar).

1). Kalau ayat ini dilepaskan keterkaitannya dengan ayat sebelumnya, agama akan difahami secara salah. Seakan-akan Allah-lah yang paling bertanggungjawab atas orang yang tertutup pikirannya sehingga tidak mengikuti PETUNJUK. Dan tidak sedikit orang yang berpandangan seperti ini. Maka jangan pernah memperlakukan ayat ini berdiri sendiri. Ayat ini adalah kelanjutan dari ayat 6. Yaitu, Allah menutup qalbu, pendengaran dan penglihatan mereka karena mereka sendirilah yang terlebih dahulu memilih untuk menutup diri mereka terhadap kebenaran dengan cara mengingkarinya. “Dan (ingatlah) tatkala Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, mengapa kalian menyakiti(hati)ku, padahal kalian mengetahui bahwasanya aku adalah Rasul Allah kepadamu?’ Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah(pun) memalingkan qalbu mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (61:5)

2). Dari sini kita lihat bahwa satu-satunya modal yang Allah berikan kepada manusia adalah “kehendak”. Manusia hanya berkehendak (untuk patuh atau ingkar), selebihnya Allah-lah yang ‘melakukan’-nya. Semua perbuatan manusia dan peristiwa yang terjadi di alam semesta, pada hakikatnya Allah yang ‘melakukan’-nya. “Dan Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa-apa yang kalian lakukan.” (37:96) Karena perbuatan kita sekalipun adalah makhluk (ciptaan) Allah, dan karena manusia hanya diberi kuasa atas “kehendak”-nya sendiri, maka dengan serta-merta kita menyadari betapa pentingnya doa bagi manusia. Kita perlu berdoa kepada-Nya sebab Dia-lah simpul segala kejadian dan perbuatan. Dan karena Dia adalah simpul segala kejadian dan perbuatan, maka Dia pulalah satu-satunya pemilik otoritas dan prerogatif atas kejadian dan perbuatan tersebut. “… Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (2:20) “Menurut pendapat kalian, jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” (6:46) Untuk itu tidak ada cara lain kecuali datang bersimpuh di haribaan-Nya: tersungkur dan menangis. “Apabila dibacakan ayātur-Rahman (ayat-ayat Allah) kepada mereka, mereka menyungkur sujud dan menangis. “ (19:58) Nabi mengajarkan doa: “Ya Allah, berikanlah PETUNJUK kepadaku dan luruskan jalanku. Jadikanlah PRTUNJUK-Mu sebagai jalanku dan jadikan (pula) kelurusan jalanku selurus anak panah.” (HR. Muslim)

3). Tiga kali Allah menyebut kata خَتَمَ (khatama, menutup) dalam al-Qur’an (2:7, 6:46, dan 45:23). Dan tiga pula alat utama kemanusiaan manusia yang selalu disebutnya: qalbu, pendengaran, dan penglihatan. Hewan punya otak tapi tidak punya qalbu. Hewan punya telinga tapi tidak punya pendengaran. Hewan punya mata tapi tidak punya penglihatan. Ketiganya hanya ada pada manusia. (Otak-telinga-mata: hardware, jasmaniah; qalbu-pendengaran-penglihatan: software, ruhaniah). Hewan punya hardware tapi tidak punya software. Apakah manusia benar-benar jadi manusia, sangat tergantung pada terfungsikan tidaknya ketiga alat tersebut. Dan karena ketiganya bersifat ruhaniah, maka tentu nanti dikatakan berfungsi secara insani apabila menjangkau hal-hal yang juga bersifat ruhaniah, yaitu alam ghaib—terutama sifat ghaibnya al-Kitab–(lihat komentar terhadap ayat 3). “Dan sungguh Kami akan mengisi (neraka) Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, (karena) mereka mempunyai hati (tetapi) tidak dipergunakan memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan memperhatikan (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan menyimak (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai hewan ternak, bahkan lebih sesat (lagi). Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (7:179)

4). Lalu apa penyebab utama manusia tidak memfungsikan qalbu, pendengaran, dan penglihatannya sebagaimana mestinya? Jawabannya: hawa nafsu. Hawa nafsu adalah instrumen jasmani di dalam jiwa. Sehingga hawa nafsu ini selalu menyenangi hal-hal yang bersifat biologis dan material. Dan karenanya, melalui hawa nafsu inilah manusia tertipu oleh kehidupan dunia. Nafs (diri) yang dikuasai hawa inilah yang dimaksud Nabi Yusuf as di ayat ini: “Dan bukan aku yang membebaskan diriku (dari kesalahan), (karena) sesungguhnya nafs itu benar-benar mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafs) yang dirahmati oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (12:53) Apabila hawa nafsu telah menguasai jiwa manusia, maka bukan saja membuat mereka tersesat, tapi juga tidak ada yang bisa memberinya PETUNJUK selain Allah. “Apakah kamu pernah melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dimana Allah membiarkannya sesat melalui ilmu-Nya dan Allah menutup pendengaran dan qalbunya serta meletakkan sumbat pada penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?” (45:23) Tidak ada siksaan (azab) yang lebih besar di dunia ini ketimbang menjalani hidup dalam keadaan tersesat dan berkeliaran seperti hewan ternak. “Pernakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah kamu (Muhammad masih) pantas menjadi pelindungnya (kelak)? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu (masih) menggunakan pendengaran atau akal? (Tidak), mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (25:43-44)

AMALAN PRAKTIS

Setiap kali Anda menjumpai kawanan hewan ternak, jangan biarkan pemandangan itu berlalu begitu saja. Perhatikanlah mereka baik-baik. Apakah mereka merasa risih saat Anda memperhatikan bagian-bagian tubuhnya? Tentu tidak, karena mereka tidak punya qalbu, pendengaran, dan penglihatan. Dan manusia pun apabila telah tertutup qalbu, pendengaran, dan penglihatanya, akan seperti mereka.

Related Posts

One Response

  1. Bambang2013-08-02 at 9:18 pmReply

    As salam alaykum- Dear brothers and sisters, al hamdulil lah, I started my process in memorizing Al- Qur’an a few days ago. I started with sura Al- Baqarah- but I’m not sure if that what I should immediatley start with. I have not yet completed Juz- Amma, I have memorized parts of it, and for nearly every sura I can say I have memorized or atleast studied it at some time, if I try to recite the sura, I can’t remember it, but when I look in the Qur’an and read it, it is very familiar and i start to remember some of it. I really want to start with Al- Baqarah and go from there, but many people recommend to finish the shorter suras first. On a scale of 4, I’m about a 3 in Arabic, as in, I know the letters and vowels by heart and can read for the most part, but I don’t understand all the words (though I look them up in translations). I’m not interested in the actual number of suras that I complete, in time, inshallah, I plan on memorizing the whole thing. I have already started and have memorized nearly 25 ayat of Al- Baqarah, alhamdulilah, and I realize the lengthy ayat to come and am aware that at times, it will probably tak the whole day just to learn one, but as long as I memorize at least 1/2 a page a day- that’s my goal. Inshalah, I want to memorize the Qur’an in the shortest amount of time I can, and for a number of reasons I would very much prefer starting with Al- Baqarah and go from there, but many recommend to start from Juz Amma and memorze maybe a few Juz after that then go to sura Al- Baqaraa. For memorization I use a very user- friendly website called Quran Explorer, and I listen to a Qari so that I can make sure I am memorizing the aya correctley, and I recite after him,and when I have the aya down, I begin memorizing it- I split up the longer ones in shorter parts. My dilemma is the order in which I memorize the Qur’an, what is your advice?
    Thank you for you answers so far- I’ll keep this question open here but will also post it in the ramadan section, thankyou for sugesting that thinker, and I hope you continue to work hard in learning arabic and understanding the meaning of the Qur’an and one day be a hafiz yourself, inshallah- and to the rest of the muslim ummah inshallah.

Tinggalkan Balasan