Al-Baqarah ayat 60

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 60by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 60SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 60   وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِب بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْناً قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ كُلُواْ وَاشْرَبُواْ مِن رِّزْقِ اللَّهِ وَلاَ تَعْثَوْاْ فِي الأَرْضِ مُفْسِدِينَ [Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 60

 

وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِب بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْناً قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ كُلُواْ وَاشْرَبُواْ مِن رِّزْقِ اللَّهِ وَلاَ تَعْثَوْاْ فِي الأَرْضِ مُفْسِدِينَ

[Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.]

[And when Musa prayed for drink for his people, We said: Strike the rock with your staff So there gushed from it twelve springs; each tribe knew its drinking place: Eat and drink of the provisions of Allah and do not act corruptly in the land, making mischief.]

 

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) yang kedelapan. Keluarbiasaan yang didemonstrasikan di sini ialah mata air yang memancar dari sebuah batu. Yaitu ketika Bani Israil yang melintasi padang pasir mengalami kehausan yang amat sangat. Mereka kemudian meminta Nabi Musa untuk berdoa agar mereka diberikan minuman. Allah berfirman kepada Nabi-Nya agar memukulkan tongkatnya ke sebuah batu besar. Tanpa mereka sangka, tiba-tiba dari batu tersebut memancar mata air. Kejadian ini mirip dengan yang terjadi pada Hajar dan bayinya Ismail di sekitar Ka’bah beberapa ratus tahun sebelumnya, dimana sebuah mata air juga memancar akibat sentakan kaki Ismail. Bedanya, mata air Zamzam ‘buatan’ Ismail masih ada dan masih bisa dinikmati jutaan manusia hingga sekarang, seakan Allah hendak mengikat seluruh manusia sejak kejadian itu hingga manusia akhir zaman dengan Perjalanan Ilahi yang membawa kedua ibu dan anak tersebut sampai ke tempat suci ini; sebagaimana Dia hendak mengikat seluruh agama samawi paska Nabi Ibrahim dengan penyembelihan Ismail yang tertunda. Sementara mata air ‘buatan’ Musa sudah tidak ada lagi, karena memang Allah berikan hanya untuk memenuhi keperluan sesaat Bani Israil waktu itu. Melalui kejadian-kejadian luar biasa seperti ini, Allah hendak ‘mempertunjukkan’ keberadaan dan kekuasaan-Nya. Tertama Allah hendak membuka mata hati manusia bahwa Dia senantiasa menyertai manusia dalam melakoni hidup dan kehidupannya. Hanyasaja kebanyakan manusia tidak menyadari keterlibatan-Nya. “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian bersemayam di atas ‘Arsy; Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya, dan (juga mengetahui) apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Bahkan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (57:4)

 

2). Mata air yang terpancar dari batu yang dipukul Nabi Musa dengan tongkat mukjizatnya berjumlah 12 buah, sebanyak jumlah suku atau marga Bani Israil. Angka 12 ini menarik dianalisis karena, seperti kita telah ketahui bersama, al-Qur’an cukup banyak menyebut angka yang berbeda-beda. Dan tiap angka memiliki misterinya masing-masing. Tidak ada angka yang kebetulan. Tidak ada angka yang berhenti hanya sebagai metafora. Setiap kata mempunyai makna. Setiap angka mempunya fakta. Sebagai mukjizat terbesar Nabi akhir zaman, tiap kata dan bilangan yang tersebut di dalam al-Qur’an juga merupakan mukjizat. Yaitu membawa Pesan Ilahi kepada segenap umat manusia, agar mereka bisa mengambil pelajaran. Agar mereka bisa memilih jalan yang benar.

Di 9:36 Allah menyebut asal-usul angka 12 ini: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya (ada) empat bulan haram. Itulah  agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri sendiri di bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” Jadi menurut ayat ini (9:36), jumlah bulan yang 12 yang kita pakai hingga sekarang—baik dalam perhitungan Syamsiah Miladiyah ataupun Qamariyah Hijriyah—bukan buatan atau temuan manusia. Ternyata angka 12 itu telah ada di ‘pikiran’ Tuhan sebagai sebuah gagasan sebelum menciptakan alam semesta. Allah seakan ingin mengatakan bahwa rahasia penciptaan langit dan bumi beserta perjalanan sejarah umat manusia yang ada di dalamnya—termasuk agamanya—ada di angka 12 ini. Ini bukan tebakan. Ini adalah fahaman yang kita tangkap dari anak kalimat ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ (dzālikad dĭynul qayyim, itulah  agama yang lurus) di 9:36 tadi. Coba renungkan, apa hubungan antara “agama yang lurus” dan angka “dua belas” kalau hanya berhenti sebagai bilangan bulan dalam satu tahun? Apalagi di akhir ayat, ditutup dengan anak kalimat “dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” Bukankah Nabi telah berdoa (dan pasti doanya diijabah): “…Dan jadikanlah kami (yaitu anak keturunanku) imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (25:74) Jumlah Imam atau pemimpin yang Allah berikan kepada Bani Israil sebanyak 12 orang: “Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian; sungguh jika kalian mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kalian bantu mereka dan kalian pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan niscaya kalian akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus’.” (5:12)

Apakah jumlah itu hanya berlaku bagi Bani Israil. Tentu tidak, karena angka 12 ternyata berhubungan erat dengan  الدِّينُ الْقَيِّمُ (ad-dĭynul qayyim, agama yang lurus). Nabi Muhammad saw juga menyebut dengan jelas dan tegas: “Agama (Islam) akan terus tegak sampai datangnya Hari Kiamat, atau sampai (selesainya) 12 orang Khalifah memimpin kalian; mereka semuanya adalah orang Quraisy.” (Hadits ini disepakati oleh Bukhari dan Muslim). Sunan Tirmidzi meredaksikan begini: “Sepeninggalku nanti akan ada 12 orang Amir… Semuanya dari kalangan Quraisy.” (Tentu Amir yang dimaksud adalah Amirul Mu’minin atau Khalifah Ilahi). Dalam Sunan Abu Daud, redaksinya berbunyi: “Agama (Islam) ini akan tetap tegak sampai (selesainya) kalian dipimpin oleh 12 orang Khalifah. Masing-masing mereka (Khalifah tersebut) mempunyai pengikut (atau umat)… Semuanya dari Quraisy.” Yang menarik ialah bahwa Abu Daud menulis hadits ini di bahawah judul “kitāb al-maɦdĭy” (Kitab Imam Mahdi). Maka selain hadits 12 Khalifah tadi, Abu Daud pun menukil hadits lain tentang Imam Mahdi: “Jika dunia ini tinggal sehari saja, niscaya Allah akan membangkitkan seorang lelaki dari Ahli Bayt-ku; yang akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kejahatan.” Siapakah lelaki itu? Abu Daud mengutip Ummu Salamah ra berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: ‘Al-Mahdi adalah dari ‘Itrah-ku, anak anak keturunan Fathimah’.” Hadits-hadits ini telah disahihkan oleh Nashiruddin al-Albani. Kalau kita kawinkan kedua jenis hadits di atas (hadits 12 Khalifah dan Imam Mahdi) pasti kita akan berkesimpulan bahwa Imam Mahdi adalah Khalifah yang ke-12. “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini (kelak akan) dipusakai oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (21:105) Inilah agaknya yang menjadi ‘gagasan’ Tuhan sebelum menciptakan langit dan bumi. Inilah الدِّينُ الْقَيِّمُ (ad-dĭynul qayyim, agama yang lurus).

Hebatnya lagi, jumlah ayat yang mengandung frase الدِّينُ الْقَيِّمُ (ad-dĭynul qayyim, agama yang lurus) hanya ada 4 buah (9:36, 12:40, 30:30, dan 30:43), sama dengan jumlah “empat bulan haram” yang disebutkan di 9:36 tadi. Di 30:30, frase الدِّينُ الْقَيِّمُ (ad-dĭynul qayyim, agama yang lurus) ini disebut sebagai predikat terhadap Islam sebagai agama fithrah yang tidak takluk kepada hukum-hukum perubahan: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

 

3). Setelah 12 mata air itu terpancar, maka tiap-tiap suku atau marga Bani Israil yang berjumlah 12 itu memiliki tempat minumnya masing-masing. Satu mata air satu suku. Setiap kelompok suku, al-Qur’an menyebutnya أُنَاس (unās). Kalau diurut pengistilahan ini menurut al-Qur’an, kita akan menemukan tiga urutan kuantitas: insān (manusia individu), unās (manusia berkelompok), dan an-nāas (manusia secara keseluruhan tanpa kecuali). Kalau setiap unās memiliki masyrab (tempat minum)-nya sendiri-sendiri, bisa dikatakan setiap kelompok manusia yang disebut umat juga harus memiliki masyrab, yang merupakan sumber mata air bening, tempat masing-masing mereka memuaskan dahaga ruhaninya. Dan karena agama ini adalah agama ruhani, maka dapat difahami kalau fungsi masing-masing Khalifah yang jumlahnya 12 orang itu adalah sebagai masyrab terhadap pengikut atau umatnya masing-masing. Sekaligus menjelaskan betapa urgennya kehadiran Khalifah Ilahi ini di tiap kurun waktu tertentu.

 

4). Aayat ini ditutup dengan larangan: وَلاَ تَعْثَوْاْ فِي الأَرْضِ مُفْسِدِينَ (wa lā ta’tsaw fil-ardli mufsidĭyn, dan janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan). Allah hendak mengesankan bahwa ada hubungan timbal-balik antara 12 masyrab (tempat minum) tadi dengan perbuatan merusak atau melakukan kejahatan di bumi. Yaitu bahwa apabila mereka benar-benar meminum dari 12 masyrab (tempat minum) tersebut seraya menyadari bahwa masyrab- masyrab itu adalah Masyrab Ilahi karena muncul sebagai Mukjizat Ilahi juga, tentu mereka tidak akan tersesat hingga melakukan kerusakan dan kejahatan di muka bumi. Karena melakukan kerusakan dan kejahatan atau menumpahkan darah di muka bumi adalah perbuatan yang dinegasikan oleh seorang Khalifah Ilahi, karena perbuatan-perbuatan seperti itu selain memang bertentangan dengan nalar sehat, juga hanya akan menghinakan pelakunya.

 

AMALAN PRAKTIS

Anda boleh mencari rezki dimanapun dan dengan cara apapun yang telah Allah halalkan. Tetapi betapapun, rezki yang Anda dapatkan itu harus Anda atributkan kepada Allah. Dengan begitu Anda niscaya akan terus terhubung dengan Allah melalui rezki tersebut. Dan bukan sebaliknya. Rezki hasanah adalah rezki yang medekatkan kita kepada Allah. Rezki sayyi’ah adalah rezki yang menjauhak Anda dari-Nya dan memantik Anda melakukan kerusakan di muka bumi.

Related Posts

Leave a Reply