Al-Baqarah ayat 59

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 59by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 59SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 59   فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُواْ قَوْلاً غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ رِجْزاً مِّنَ السَّمَاء بِمَا كَانُواْ يَفْسُقُونَ [Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah (atau wasiat) dengan (wasiat lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 59

 

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُواْ قَوْلاً غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ رِجْزاً مِّنَ السَّمَاء بِمَا كَانُواْ يَفْسُقُونَ

[Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah (atau wasiat) dengan (wasiat lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.]

[But those who were unjust changed it for a saying other than that which had been spoken to them, so We sent upon those who were unjust a pestilence from heaven, because they transgressed.]

 

1). Wasiat Allah kepada Bani Israil agar memasuki kota Ilahi melalui “pintu yang benar” dan dalam keadaan “bersujud”, serta mengatakan حِطَّةٌ (hitthah), ternyata mereka tidak patuhi. Ada sekelompok dari kalangan mereka yang merubah wasiat tersebut—tentu saja demi kepentingan pribadi dan kelompok mereka semata. Jadi sebetulnya penekanan ayat ini bukan pada tidak terlaksananya  قَوْل (qawl, perkataan atau wasiat) tersebut. Penekanannya justru pada penggantian  قَوْل (qawl, perkataan atau wasiat) tadi oleh sekelompok orang dari kalangan internal mereka sendiri: فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُواْ قَوْلاً غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ (fa-baddalal-ladzĭyna zhalamŭw qawlan ghayral-ladzĭy qĭyla laɦum, lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah (atau wasiat) dengan (wasiat lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka). Dan huruf فَ (fa’) di awal ayat ini berfungsi sebagai ‘athaf (penyambung) dengan kalimat atau ayat sebelumnya dalam bentuk tartĭb (keberurutan) tanpa mahlah (tertunda lama). Artinya, belum lama setelah wasiat atau perintah itu diterima, mereka sudah menggantinya dengan قَوْل (qawl, perkataan atau wasiat) yang lain. Pengertian ini sangat mudah kita fahami apabila kita ingat kembali kasus kepergian Nabi Musa selama 40 malam, dan sepulangnya ternyata agama sudah berubah drastis akibat ulah seorang tokoh internal mereka sendiri yang bernama Samiri (lihat kembali pembahasan ayat 51). Pesan utama yang Allah hendak sampaikan melalui ayat ini ialah: Betapa cepatnya agama dirubah oleh segelintir pemeluknya sendiri.

 

2). Pemahaman bahwa yang melakukan perubahan قَوْل (qawl, perkataan atau wasiat) tersebut hanya segelintir kecil saja dari kalangan mereka, dapat kita peroleh dari Surat al-A’raf (7) ayat 162: “Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti قَوْل (qawl, perkataan atau wasiat) dengan قَوْل (qawl, perkataan atau wasiat) yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka.” Frase “di antara mereka” adalah terjemahan dari kata مِنْهُمْ (minɦum) yang tidak ada di ayat 59 ini. Huruf مِنْ (min) di sini menunjukkan makna tab’idh (sebagian). Dan mereka yang sebagian ini pulalah yang Allah hukumi dengan ظَلَمُواْ (zhalamŭw, melakukan kezaliman), sama dengan hukum yang Allah terapkan pada siapa saja yang mendekatai Pohon Wilayah Duniawi seraya menjauhi Pohon Wilayah Ilahi di ayat 35: “dan janganlah kamu (berdua) dekati pohon ini, (karena akan) menyebabkan kamu (berdua) termasuk orang-orang yang zalim”. Dan hampir semua ayat yang mengandung kata ظَلَمُواْ (zhalamŭw, melakukan kezaliman)—yang jumlahnya 43 ayat—berurusan dengan hukuman yang besar dan tiadanya ampunan bagi mereka (kecuali dengan syarat). Seperti juga janji Allah di ayat sebelumnya (ayat 58), bahwa hanya dengan memasuki kota Ilahi melalui “pintu yang benar” dan dalam keadaan “bersujud”, serta mengatakan حِطَّةٌ (hitthah), baru Dia akan mengampuni dosa-dosa mereka. Kalau toh mereka hendak diampuni dosanya, maka mereka harus datang langsung kepada Nabi kelak di akhirat: “Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika ظَلَمُواْ (zhalamŭw, melakukan kezaliman) atas dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, barulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (4:64)

 

3). Di ayat 59 ini dan di 7:162, Allah menjelaskan bahwa karena perbuatan mereka yang ظَلَمُواْ (zhalamŭw, melakukan kezaliman) dengan mengganti قَوْل (qawl, perkataan atau wasiat) dengan قَوْل (qawl, perkataan atau wasiat) yang tidak diperintahkan kepada mereka itu, maka Dia timpakan kepada mereka azab dari langit. Kata “azab” di sini adalah terjemahan dari kata رِجْز (rijz) yang digunakan baik di ayat 59 ini ataupun di 7:162. Yang sebetulnya lebih tepat disebut “kutukan”, yakni azab yang sangat keras yang disebabkan oleh suatu perbuatan menentang PETUNJUK atau ayat-ayat Allah. “Ini (Al Qur’an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Tuhannya bagi mereka azab dari رِجْز (rijz, siksaan) yang sangat pedih.” (45:11) رِجْز (rijz) ini bisa dalam bentuk kejadian-kejadian aneh seperti topan, belalang, kutu, katak, dan darah: “Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Dan ketika mereka ditimpa رِجْز (rijz, azab yang disebutkan tadi) merekapun berkata: ‘Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu’.” (7:133-134) Bisa juga dalam bentuk pemusnahan penduduk suatu nagari seperti yang Allah lakukan terhadap penduduk Sodom dan Gomorah karena mengingakri ajakan Nabi Luth untuk menghentikan praktek homoseksual: “Sesungguhnya Kami akan menurunkan رِجْز (rijz, azab) dari langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik.” (29:34). Walaupun kelihatannya sama saja dengan kejadian-kejadian alamiah lainnya, tetapi penggunaan frase “dari langit” di dua ayat ini (2:59 dan 7:162) menunjukkan bahwa رِجْز (rijz) ini bukan kejadian biasa, tapi perbuatan langsung Allah swt. Itu sebabnya, sejak awal kenabiannya, Allah sudah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menghentikan manusia dari perbuatan-perbuatan yang mengundang رِجْز (rijz) ini: “Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan (yang mengundang) رِجْز (rijz) tinggalkanlah.” (74:3-5)

 

4). Di akhir ayat, Allah juga menjelaskan kenapa mereka melakukan perbuatan mengganti قَوْل (qawl, perkataan atau wasiat) dengan قَوْل (qawl, perkataan atau wasiat) yang tidak diperintahkan kepada mereka itu. Di ayat 59 ini al-Qur’an menyebut alasan itu sebagai بِمَا كَانُواْ يَفْسُقُونَ (bimā kānŭw yafsuqŭwn, karena mereka berbuat fasik). Sementara di 7:162, al-Qur’an menyebut alasannya sebagai بِمَا كَانُواْ يَظْلِمُونَ (bimā kānŭw yazhlimŭwn, karena mereka berbuat zalim). Kalu kita gabungkan kedua ayat ini atau penyebab ini, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa kezaliman dan kefasiqan adalah dua perbuatan yang saling menjelaskan. Fasiq adalah perbuatan melupakan Allah (59:19), menyakiti hati nabi (61:5), lebih mencintai dunia ketimbang Allah dan Rasul-Nya (9:24), menetapkan hukum tidak berdasarkan Kitab Suci (5:47), dan sebagainya. “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (7:165)

 

AMALAN PRAKTIS

Kepercayaan yang diberikan kepadamu adalah wasiat bagimu. Maka terimalah wasiat itu sebagai amanah yang suci. Dan jangan pernah menggantinya dengan wasiat yang lain. Karena perbuatan mengganti isi wasiat adalah perbuatan yang mengundang “kutukan” dari ‘langit’. Anda bisa pergi kemanapun untuk menghindari pemberi wasiat, tapi Anda tidak akan pernah bisa lari dari jangkauan Allah.

Related Posts

Tinggalkan Balasan