Al-Baqarah ayat 43

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 43by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 43SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 43   وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِينَ [Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku.] [And keep up prayer and pay the poor-rate and bow down with those who bow down].   1). Masih dimulai dengan waw ‘athaf, yang menandakan bahwa ini masih kelanjutan dari seruan […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 43

 

وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِينَ

[Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku.]

[And keep up prayer and pay the poor-rate and bow down with those who bow down].

 

1). Masih dimulai dengan waw ‘athaf, yang menandakan bahwa ini masih kelanjutan dari seruan Allah kepada Bani Israil di ayat 40. Berarti, ini adalah seruan yang keenam: وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ (wa aqĭmŭws-sholāh, dan dirikanlah sholat). Ada dua hal penting yang bisa kita petik di sini. Satu, menunjukkan bahwa salat bukanlah ibadah khas untuk umat Muhammad saw. Salat adalah ibadah yang disyari’atkan kepada nabi dan rasul sebelumnya. Bahkan diantara tugas yang diembankan kepada Nabi Ibrahim—moyang dari Bani Israil dan Bani Ismail—ketika diperintah untuk datang ke Mekah membangun kembali Ka’bah, ialah mendirikan salat: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah seputar maqam Ibrahim (sebagai) tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Bersihkanlah rumah-Ku (ini) untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, dan untuk orang-orang yang ruku` dan sujud (salat)’.” (2:125) Ayat yang hampir sama kita temukan di 22:26.   

Dua, ada hubungan antara perintah menegakkan salat dan seruan perintah (lima poin) dan larangan (tiga poin) Allah sebelumnya kepada Bani Israil. “Salat adalah tiang agama. Sesiapa yang menegakkannya berarti menegakkan agama. Dan sesiapa yang meninggalkannya berarti meruntuhkan agama.” (al-Hadits). Berarti salat yang dimaksud di sini pasti bukan salat yang berhenti pada ritual belaka. Karena berkenaan dengan agama secara keseluruhan, maka salat yang dimaksud di sini tentulah salat yang menghimpun persoalan-persoalan penting dalam hal jatuh-bangunnya agama-agama samawi. Kalau nilai salat ditegakkan maka tegaklah agama samawi tersebut dan kalau salat ditinggalkan maka runtuhlah agama samawi tersebut. Terutama bahwa di dalam salat itu setiap musholli (pelaku salat) dituntut dan diwajibkan, dengan kesadaran sendiri, untuk memperbaharui kembali ‘aɦd (janji)-nya di hadapan Tuhannya untuk mengidentifikasi diri dan tetap berada di belakang orang-orang saleh. Yang maknanya bahwa salat itu adalah mata rantai-mata rantai yang menghubungkan antara satu agama samawi dengan agama samawi berikutnya, antara satu zaman dengan zaman berikutnya, terus bersambung hingga munculnya pemerintahan orang-orang saleh di akhir zaman. “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai (oleh) hamba-hamba-Ku yang saleh.” (21:105) Maka siapa yang salat dengan makna seperti ini berarti dia termasuk orang-orang yang mempersiapkan munculnya pemerintahan orang-orang saleh sebagai pelaksana tegaknya kembali Khalifah Ilahi di bumi. Dalam kaitan inilah seruan Allah kepada Bani Israil—terlebih dengan melihat prilaku politik mereka belakangan ini—untuk menegakkan salat, terasa urgensinya. Yaitu, bahwa kebesaran mereka hanya akan mereka raih apabila berada di belakang upaya penegakan pemerintahan orang-orang saleh. Kalau tidak, kelak mereka akan lebih ternistakan.

 

2). Seruan yang ketujuh, وَآتُواْ الزَّكَاةَ (wa ātŭwz-zakāh, tunaikanlah zakat). Kebanyakan diantara kita cenderung mengartikan zakat hanya sebagai kewajiban bagi-bagi uang kepada orang-orang yang tidak mampu. Padahal, di dalam al-Qur’an, perintah zakat selalu mengiringi perintah salat. Dan kalau salat adalah tiang agama, maka tentu yang terfahami dari keberiringan tersebut tiada lain bahwa kewajiban zakat adalah dalam rangka mendukung tegaknya agama. Sebab dalam penegakan agama, penegakan pemerintahan orang-orang saleh, dukungan uang atau harta adalah niscaya. Jika tidak, maka inilah yang membuat para pejuang penegak agama (individu ataupun lembaga) sangat mudah jatuh ke dalam pelukan penguasa duniawi. Karena pada umumnya penguasa duniawilah yang punya dana yang begitu besar. Lucunya lagi, kalau dana tersebut justru diperoleh oleh penguasa tersebut melalui cara-cara yang represif dan opresif (halus atau terang-terangan) terhadap umat beragama. Bahwa zakat itu peruntukannya adalah orang-orang yang tidak mampu, betul sekali. Tetapi—renungkan ini baik-baik—apakah karena pajak itu peruntukannya buat rakyat yang tidak mampu, menggaji pegawai pemerintah, dan membangunan infrastruktur, lantas kita boleh dan sah mengeluarkan pajak kita masing-masing langsung kepada peruntukan tersebut tanpa melalui negara? Kalau semua warga negara menjawab, ya, kita tidak bisa membayangkan bagaimana sebuah negara bisa tetap berdiri tegak!

 

3). Seruan yang kedelapan: وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِينَ (war-ka’ŭw ma’ar-rāki’ĭn, ruku`lah beserta orang-orang yang ruku). Ada yang mengartikan ini sebagai perintah salat berjamaah. Tidak salah. Tetapi tetap harus dilihat bahwa seruan ini masih kelanjutan dari seruan-seruan sebelumnya, misalnya dalam rangka memenuhi seruan اذْكُرُواْ نِعْمَتِيَ (udzkuruw ni’matiy, ingatlah akan nikmat-Ku), وَأَوْفُواْ بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ [wa awfŭw bi’aɦdĭy ŭwfi bi’aɦdĭkum, dan penuhilah ‘aɦd/janji(-mu kepada)-Ku niscaha Kupenuhi juga ‘aɦd/janji-Ku kepadamu], dan seterusnya.Termasuk dua seruan yag mendahuluinya (salat dan zakat) di ayat 43 ini. Sehingga keberjamaahan tidak selayaknya dibatasi pada pelaksanaan salat tok. Keberjamaahan terutama dalam pengertian kesatuan dan keseragaman gerak dalam menegakkan kembali harkat dan martabat agama samawi di bawah kepemimpinan Khalifah Ilahi. Ciri berjemaah diantaranya: ada imam, ada ma’mum, ada keseragaman gerak antara imam dan ma’mum, dan shaf (barisan) yang rapih. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan shaf (barisan yang rapih) seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (61:4) Inilah diantara syarat yang ditinggalkan oleh Bani Israil sehingga gagal mengemban agama samawi yang di-amanah-kan kepadanya. Mereka bahkan berpecah-belah diantara mereka sendiri sehingga menjadi mangsa dari musuh-musuhnya. Ketika Nabi Musa saja masih hidup, mereka sudah tak henti-hentinya menyakiti hatinya.  Allah mengingatkan bahwa kalau mereka hendak mengembalikan jati dirinya seperti pada zamannya Nabi Musa, Nabi Daud, dan Nabi Sulaiman, وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِينَ (war-ka’ŭw ma’ar-rāki’ĭn, ruku`lah beserta orang-orang yang ruku), bergabunglah ke dalam jamaah Nabi Muhammad saw, bahu-membahulah membantu tegaknya pemerintahan orang-orang saleh. Dan bukan sebaliknya.

 

AMALAN PRAKTIS

Kalau Anda seorang Muslim, berdasarkan ayat ini, kewajiban pertama Anda ialah SALAT. Kewajiban berikutnya ialah ZAKAT. Kewajiban selanjutnya ialah BERGABUNG dengan JAMAAH. Karena, kata Nabi, hanya domba yang sendirianlah yang akan diterkam serigala. Dan domba akan berjalan sendiri-sendiri apabila meninggalkan GEMBALA-nya.

Related Posts

Leave a Reply