Al-Baqarah ayat 36

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 36by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 36SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 36   فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُواْ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ [Lalu syaitan menggelincirkan keduanya dari (surga) itu, sehingga mengeluarkan keduanya dari keadaan semula (yaitu kenikmatan dan kebebasan sejati), dan Kami berfirman: "Turunlah kalian! sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 36

 

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُواْ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

[Lalu syaitan menggelincirkan keduanya dari (surga) itu, sehingga mengeluarkan keduanya dari keadaan semula (yaitu kenikmatan dan kebebasan sejati), dan Kami berfirman: "Turunlah kalian! sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, dan bagi kalian ada tempat menetap di bumi, dan kesenangan hidup sampai suatu saat (yang ditentukan)".]

[But the Shaitan made them both fall from it, and caused them to depart from that (state) in which they were; and We said: Get forth, some of you being the enemies of others, and there is for you in the earth an abode and a provision for a time.]

 

1). Di sini Allah tidak menyebut lagi makhluk pembangkang itu dengan Iblis seperti di ayat 34, tetapi menyebutnya dengan syaitan. Ini semakin memperkuat pembahasan sebelumnya (ayat 35 poin 1) bahwa ada perubahan orientasi dari berbicara tentang Adam sebagai khalĭfah ilahi menjadi berbicara tentang Adam sebagai Bapak dari seluruh manusia. Kalau begitu siapakah syaitan itu? Banyak ayat di dalam al-Qur’an yang berbicara bahwa syaitan itu ialah dari kalangan manusia sendiri yang telah ‘terprovokasi’ oleh Iblis untuk keluar dari wilayah khalĭfah ilahi. Tetapi di sini cukup dikemukakan dua ayat saja. Satu, ayat 14 dari Surat al-Baqarah ini (tinggal rujuk kembali pemabahasan tersebut). Dua, S. al-Furqon (25) ayat 28-29: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai (bahagianya) sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku (pada hari ini); coba (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman-sejalan(ku). Sungguh dialah yang telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika (Al Qur’an itu) datang kepadaku. Dan adalah syaitan (pada hari itu) berlepas diri dari manusia.” Siapapun yang membaca rangkaian ayat di Surat al-Furqon ini, niscaya menyimpulkan bahwa yang dimaksud syaitan di akhir ayat ialah manusia yang bernama si Fulan bin Fulan yang mengeluarkan manusia dari wilayah khalĭfah ilahi-nya Rasulullah saw, yaitu orang-orang yang juga disebutkan di S. al-Baqarah ayat 14 di atas.

 

2). Untuk lebih memahami ayat ini, termasuk pembahasan di poin 1, coba perdalam ayat berikut ini: “Hai anak-anak Adam, janganlah sekali-kali kalian dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, dia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya dia (syaitan) dan pengikut-pengikutnya melihatmu dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu wali (pemimpin) bagi orang-orang yang tidak beriman.” (7:27) Apakah yang dimaksud “dia (syaitan) dan pengikut-pengikutnya melihatmu dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka”? Ini tidak bisa difahami bahwa kalau begitu syaitan itu adalah makhluk halus yang tak terlihat oleh manusia. Karena kalau syaitan adalah makhluk halus yang tak terlihat oleh manusia, maka bagaimana mungkin mereka (para syaitan itu) menjadi wali (pemimpin) bagi orang-orang yang tidak beriman. Yang benar ialah bahwa mereka (para syaiyan) itu adalah manusia biasa juga. Cuma—supaya tidak terlihat jati dirinya yang sesungguhnya—mereka bekerja dari belakang layar. Yang mereka tampilkan ke depan adalah teman-sejalan-nya, yakni orang-orang munafik, yang bisa merubah-rubah tampilan lahiriahnya: bisa berlaku sebagai orang ‘beriman’ ketika bergabung dengan orang beriman. “Dan apabila mereka berjumpa orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: ‘Kami telah beriman.’ Dan apabila mereka kembali kepada syaitan-syaitannya, mereka mengatakan: ‘Sungguh kami (tetap) bersama kalian, hanya saja kami memperolok-olok (mereka)’.” (2:14) Sebegitu rapihnya kerja-kerja politik mereka sehingga: “… Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka…” (9:101)

 

3). Lalu syaitan menggelincirkan keduanya dari (surga) itu, sehingga mengeluarkan keduanya dari keadaan semula (yaitu kenikmatan dan kebebasan sejati). Untuk memahami kata “keduanya” di ayat ini, kembali baca Q.S.7:27 yang telah dikutip di poin 2. Di situ ada potongan ayat yang berbunyi: Hai anak-anak Adam, janganlah sekali-kali kalian dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga. Kata “kedua ibu bapamu” tidak selamanya harus diartikan vulgar sebagai Adam dan istrinya. Yang paling mungkin ialah kedua ibu bapa kita masing-masing. Alasannya: pertama, di ayat 36 ini, obyek pembicaraan tiba-tiba berubah dari bentuk dobel هُمَا (humā, keduanya, Adam dan istrinya) menjadi bentuk jamak كُمْ (kum, kalian). Ini pertanda bahwa yang dibincang oleh ayat ini bukanlah Adam dan istrinya secara khusus, tapi kedua ibu bapa anak-anak Adam, manusia seluruhnya. Kedua, kelanjutan QS.7:27, yaitu ayat 28 benar-benar berbicara soal kedua orang tua kita masing-masing. “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata:Kami mendapati orang tua-orang tua kami mengerjakan yang demikian itu, dan (mereka mengaku) Allah-lah (yang) menyuruh kami mengerjakannya’…” (7:28)

 

4). Lalu apa yang dimaksud dengan “mengeluarkan keduanya dari keadaan semula”? Maksudnya, setelah anak-anak Adam berhasil digelincirkan oleh syaitan dari wilayah khalĭfah ilahi, maka secara otomatis keadaan hidup mereka sontak berubah, dari yang murni bersuasana surgawi-ilahi menjadi bersuasana duniawi-syaitani. Dari yang sebelumnya menutupi aurat-aurat (kelemahan-kelemahan)-nya dari ‘serangan’ syaitan dengan menggunakan pakaian khalĭfah ilahi, kini—dengan menentang dan keluar dari wilayah khalĭfah ilahi—aurat-aurat mereka terbuka semua dan akhirnya terpaksa menutupinya dengan pakaian khalifah duniawi (7:27). Itu sebabnya, Allah menutup ayat 36 ini dengan kalimat “dan bagi kalian ada tempat menetap di bumi, dan kesenangan hidup sampai suatu saat (yang ditentukan)”. Yaitu setelah kalian menolak dan keluar dari wilayah khalĭfah ilahi, maka nikmatilah kesenangan hidup duniawi (kehidupan material-biologis) kalian dengan sepuas-puasnya dan dengan sebebas-bebasnya—menurut defenisi kalian—di bawah wilayah pemerintahan khalĭfah duniawi. Tetapi ingat, kesenangan itu sifatnya semu dan sementara belaka saja, sampai waktu tertentu, waktu ketika kematian menjumpai kalian. Setelah itu, kalian akan dikembalikan kepada Allah untuk mempertanggung-jawabkan semuanya.

 

AMALAN PRAKTIS

Hal yang paling berat manusia tinggalkan dalam perjuangan menegakkan pemerintahan ilahi ialah kesenangan duniawi. Imannya kepada dunia telah mengalahkan imannya kepada akhirat. Imannya kepada materi telah mengalahkan imannya kepada Allah. Dan syaitan tahu persis ini. Maka agar manusia mudah masuk ke dalam wilayah pemerintahannya, syaitan meyakinkan manusia bahwa justru pemerintahan duniawi yang dipimpinnya itulah yang disebut Syajaratul Khuld (Pohon Kekekalan), 20:120. Maka berhati-hatilah terhadap urusan dunia Anda!!!

Related Posts

Leave a Reply