Al-Baqarah ayat 35

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 35by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 35SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 35   وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلاَ مِنْهَا رَغَداً حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَـذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الْظَّالِمِينَ [Dan Kami berfirman: “Hai Adam berdiamlah kamu dan isterimu di taman (ini), dan makanlah daripadanya (makanan-makanannya) sebanyak-banyaknya di mana saja yang kamu (berdua) sukai, dan janganlah kamu (berdua) dekati pohon […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 35

 

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلاَ مِنْهَا رَغَداً حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَـذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الْظَّالِمِينَ

[Dan Kami berfirman: “Hai Adam berdiamlah kamu dan isterimu di taman (ini), dan makanlah daripadanya (makanan-makanannya) sebanyak-banyaknya di mana saja yang kamu (berdua) sukai, dan janganlah kamu (berdua) dekati pohon ini, (karena akan) menyebabkan kamu (berdua) termasuk orang-orang yang zalim.]

[And We said: O Adam! Dwell you and your wife in the garden and eat from it a plenteous (food) wherever you wish and do not approach this tree, for then you will be of the unjust.]

 

1). Agar tidak terjadi kesalahfahaman tentang Adam sebagai khalĭfah pertama, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan berkenaan dengan ayat ini dan beberapa ayat berikutnya. Pertama, Adam—seperti juga khalĭfah-khalĭfah yang lain—adalah manusia biasa yang terdiri dari dua unsur utama: jasmani dan ruhani (15:28-29, 32:7-9, 38:71-72). Jasmani terambil dari tanah atau materi; ruhani terambil dari Ruh Allah atau nonmateri. Kedua unsur ini bersinergi membentuk JIWA atau NAFS manusia. Jasmani menempatkan ‘duta’-nya di dalam NAFS yang disebut HAWA (yang lebih populer disebut dengan hawa nafsu)—itu sebabnya semua yang diinginkan oleh hawa nafsu selalu bersifat material atau biologis—sementara ruhani menempatkan ‘duta’-nya yang disebut FITHRAH. HAWA mempengaruhi manusia untuk mencintai materi agar JIWA ditaklukkan olehnya, sedangkan FITHRAH mempengaruhi manusia untuk mencintai nonmateri (Allah) supaya berusaha mencari dan mendekati-Nya. “Demi NAFS (jiwa) dan apa-apa yang  menyempurnakan (kejadian)-nya. Maka Allah mengilhamkan kepada NAFS itu (dua potensi), (yaitu potensi yang akan membawanya kepada) kefasikannya dan (potensi yang akan membawanya kepada) ketakwaannya.” (91:7-8)

Kedua, dalam perpektif al-Qur’an manusia yang ada sekarang adalah anak-cucu Adam. Sehingga al-Qur’an memanggil manusia selain dengan an-nẵs, juga dengan baniy adam (anak-anak Adam). Contohnya: “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai Bani Adam supaya kalian tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (36:60) Al-Qur’an juga mengatakan bahwa seluruh manusia mempunyai NAFS yang sama karena berasal dari NAFS tunggal: “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari NAFS yang satu, dan daripada (NAFS yang satu) itu Allah menciptakan pasangannya; lantas berkembangbiaklah daripada keduanya laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya klian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (4:1)

Ketiga, setelah Iblis diusir dan dikeluarkan dari golongan malakutul-a’la (malakut atas) dan turun martabatnya ke alam malakutus-sufla (malakut bawah) yang lebih dekat ke alamnya manusia (alam nasut), maka, demi dendamnya kepada khalĭfah, ia bersumpah untuk menggoda dan menyesatkan anak-cucu Adam—ingat: anak-cucu atau keturunan Adam. “Dia (iblis) berkata: ‘Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya (khalĭfah) yang Engkau muliakan atas diriku? Jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil’.” (17:62) Dan siapakah yang sebahagian kecil itu? Iblis sendiri membuka rahasianya: “Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskanku sesat maka pasti akan kujadikan mereka memandang baik (perbuatan buruknya) di bumi, dan akan kusesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka’.” (15:39-40 dan 38:82-83) Jadi Iblis sendiri mengakui bahwa dia tidak akan sanggup memperdayai hamba-hamba Allah yang mukhlis. Lalu siapa lagi sosok yang berada di puncak hamba-hamba Allah yang mukhlis itu kalau bukan para khalĭfah, termasuk Adam as?

Maka berdasarkan poin-poin tadi, bisa dipastikan bahwa Adam yang dibicarakan di ayat ini dan ayat-ayat berikutnya bukanlah Adam sebagai khalĭfah, tapi Adam sebagai Bapak Manusia, yang NAFS-nya mewakili NAFS manusia seluruhnya tanpa kecuali. Sehingga membincang Adam di ayat ini dan ayat-ayat berikutnya adalah membincang bagimana NAFS mengikuti fujur-nya—yang membuatnya menjadi manusia material (manusia duniawi, manusia Iblis)—dan mengikut taqwa-nya—yang menjadikannya manusia spiritual (manusia ilahi, manusia khalĭfah).

 

2). Di ayat ini Allah menempatkan Adam dan pasangannya di الْجَنَّةَ (al-jannah, taman), yang biasa diterjemahkan dengan surga. Apakah الْجَنَّةَ (al-jannah, taman) di sini adalah surga di akhirat yang kelak ditempati oleh orang yang beriman dan beramal saleh, para pengikut khalĭfah? Di dalam terjemahan Bahasa Inggeris, الْجَنَّةَ (al-jannah) pada umumnya diterjemahkan dengan garden (baik dengan huruf besar seperti Yusuf Ali dan Pickthal ataupun dengan huruf kecil seperti Shakir dan Mohamad Asad). Hanya Mohsin Khan yang menerjemahkannya dengan Paradise. Di dalam al-Qur’an sendiri, الْجَنَّةَ (al-jannah) tidak selamanya dimaksudkan dengan Surga (Paradise). Ada ayat-ayat tertentu yang menggunakannya dalam pengertian taman atau kebun, seperti yang kita fahamai di dunia ini. “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (2:265) Cuma جَنَّةَ (jannah) dalam pengertian kebun (garden, dengan huruf kecil), selalu tanpa الْ (huruf alif-lam)—selain 2:256 ini, lihat juga 17:91 dan 25:8—padahal tidak dalam bentuk mudlaf-mudlaf ilaih (milik-dimiliki). Sementara di ayat 35 ini, tulisannya adalah الْجَنَّةَ (al-jannah, dengan huruf alif-lam, yang merujuk kepada identitas yang jelas, ma’rifah, terdefenisikan). Tetapi kalau diartikan sebagai Surga (Paradise, tempat terindah di akhirat), kenapa mesti ada larangan serta Iblis dengan bebasnya berkeliaran di sana memperdayai penghuninya? Yang paling mungkin ialah, الْجَنَّةَ (al-jannah) adalah الأَرْضِ (al-ardl, bumi) itu sendiri, seperti maklumat Allah di hadapan ‘majelis’ para malaikat (di ayat 30). Itu sebabnya Allah—sebagai pemilik mutlak bumi ini—memilih dan mengangkat khalĭfah yang akan bertanggungjawab terhadap keberlangsungan kehidupan ilahi di bumi. Bisa dipastikan, andaikata manusia tetap berada di dalam wilayah pemerintahan khalĭfah ilahi tersebut, niscaya keadaan di bumi ini akan tetap menjadi الْجَنَّةَ (al-jannah), duplikasi dari الْجَنَّةَ (al-jannah) yang sesungguhnya di akhirat. [Baca kembali pengertian الْجَنَّةَ (al-jannah) di ayat 25].

3). Setelah menyuruh Adam dan istrinya mendiami الْجَنَّةَ (al-jannah), Allah lalu mempersilahkan keduanya untuk memakan apa saja yang ada di sana dan dari arah mana saja yang mereka sukai. Artinya, kebebasan dan kemerdekaan yang sesungguhnya hanya bisa diraih bila manusia berada di dalam kehidupan pemerintahan ilahi yang juga dipimpin oleh seorang khalĭfah ilahi. Semua bentuk kebebasan dan kemerdekaan selainnya adalah semu belaka. Dan semu bentuk kebebasan dan kemerdekaan semu hanya ‘menguntungkan’ (secara duniawi) segelintir kecil orang dan merugikan mayoritas yang lain. Kata ‘merugikan’ bisa bermakna kezaliman, pembodohan, penipuan, penindasan, perbudakan, ketidakadilan, dan terma-terma sosiologis lainnya yang bermakna negatif (represif dan opresif). Kebebasan dan kemerdekaan semu membuat kehidupan di bumi tidak sebagai الْجَنَّةَ (al-jannah), tapi sebagai النَّارَ (an-nẵr, neraka). “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya  neraka-lah tempat tinggal(nya)—(di dunia dan di akhirat). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya (terasa) surga-lah tempat tinggal(nya)—(di dunia dan di akhirat).” (79:37-41)

 

4). Setelah mempersilahkan Adam dan istrinya menikmati semuanya dan dengan sepuas-puasnya, Allah kemudian memberikan kepada keduanya satu (dan hanya satu) larangan: janganlah kamu (berdua) dekati pohon ini, (karena akan) menyebabkan kamu (berdua) termasuk orang-orang yang zalim. Apa yang dimaksud dengan الشَّجَرَةَ (as-syajarah, pohon) di sini? Ada yang mengartikannya dengan Pohon/Buah Khuldi, yang katanya hanya tumbuh di Surga. Kalau kita menerima pengertian harafiah ini, menjadi tidak konsisten dengan pengertian kita tentang الْجَنَّةَ (al-jannah) tadi. Pengertian الشَّجَرَةَ (as-syajarah, pohon) yang konsisten dengan seluruh pembahasan kita sejauh ini, ialah Pohon Pemerintahan selain dari Pohon Pemerintahan khalĭfah ilahi. Karena pada faktanya, yang namanya pemerintahan, organisasinya memang mirip dengan sebuah pohon. Tapi bisa juga—tanpa menyalahi pengertian pertama—diartikan dengan Pohon Keturunan selain Pohon Keturunan khalĭfah ilahi. “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga `Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing); (sebagai) satu keturunan yang sebahagiannya (merupakan keturunan) dari sebahagian yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (3:33-34) Maka larangan Allah bermakna, janganlah hendaknya manusia, anak-cucu Adam, mengikuti selain Pohon Pemerintahan khalĭfah ilahi yang juga berasal bukan dari Pohon Keturunan khalĭfah ilahi, karena niscaya akan menjerumuskannya ke dalam lembah kezaliman.

 

AMALAN PRAKTIS

Tidak ada manusia manapun yang menghendaki penderitaan dalam hidupnya. Semua menginginkan kebahagiaan. Namun ketahuilah bahwasanya kebahagiaan itu bukan terletak pada hal-hal yang bersifat duniawi, karena bagaimana mungkin yang terbatas bisa memenuhi hasrat yang tidak terbatas. Kebahagiaan adalah keindahan jiwa. Dan keindahan sejati hanya terletak pada Zat Yang Maha Indah. Maka kalau Anda sungguh-sungguh bermaksud meraih kebahagiaan, jalannya cuma satu: dekati Allah dan jangan dekati Pohon Terlarang itu!!!

Related Posts

Leave a Reply