Al-Baqarah ayat 34

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 34by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 34SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 34   وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ [Dan (ingatlah) tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka mereka pun bersujud kecuali Iblis; ia enggan dan istikbar (arogan) dan ia (pun) menjadi kafir.] [And when We said to the angels: Make […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 34

 

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

[Dan (ingatlah) tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka mereka pun bersujud kecuali Iblis; ia enggan dan istikbar (arogan) dan ia (pun) menjadi kafir.]

[And when We said to the angels: Make obeisance to Adam they did obeisance, but Iblis (did it not). He refused and he was proud, and he was one of the unbelievers.]

 

1). Ini adalah permintaan Allah yang kedua kepada kita (pembaca al-Qur’an) untuk memberikan perhatian berkenaan dengan khalĭfah. Yang pertama (ayat 30) adalah tentang paparan Allah di hadapan ‘sidang’ para malaikat seputar maksud dan tujuan Allah menjadikan khalĭfah di bumi. Yang kedua (ayat 34 ini) adalah tentang perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud kepada khalĭfah dan penolakan Iblis. Kalau di ayat yang pertama, ada negasi ada afirmasi. Di ayat yang kedua ini ada kepatuhan ada pembangkangan. Kepatuhan dipertunjukkan oleh para malaikat setelah melihat dua hal. Pertama, kemampuan khalĭfah dalam hal ilmu. Para malaikat menyaksikan bahwa ternyata khalĭfah memang lebih a’lam (lebih ber-ilmu) dibanding dirinya sehingga tidak ada alasan baginya untuk tidak bersujud kepada sang khalĭfah. Melalui malaikat ini Allah mengajarkan kita bahwa hirarki yang benar, yang paling rasional, yang paling adil, yang paling spiritual, adalah hirarki ke-ilmu-an, dan khalĭfah berada hanya satu level dibawah Allah berkenaan dengan ilmu ini. Sehingga mengakui atau menapaki hirarki ini sama juga dengan menapaki Jalan Ruhani—yang lebih popular dengan istilah Shirẵthal Mustaqḭm—untuk sampai kepada Allah. Malaikat menyadari bahwa menentang hirarki ini sama dengan mendekonstruksi seluruh tatanan ilahi, dan yang akan merugi adalah para makhluk itu sendiri. Sebab hirarki itu Allah buat semata demi kemaslahatan semuanya. Kedua, asal (sumber) dari suatu perintah dan bukan kepada isi perintah. Apabila asal dari perintah tersebut bisa dipastikan berasal dari hirarki ilmu yang lebih tinggi, apalagi paling tinggi, maka sikap yang paling rasional adalah taat. Maka pembangkangan Iblis kepada perintah tersebut dengan melihat pada isi perintah yang tidak sesuai baginya—yaitu bersujud kepada sesama makhluk—tidak bisa ditafsir sebagai bentuk ‘kecerdasan’ Iblis untuk menunjukkan sikap tauhid yang benar. Sikap Iblis tiada lain kecuali memperturutkan hawa nafsunya belaka.

 

2). Adalah tidak mungkin suatu sikap disebut benar, apalagi bertauhid, kalau pada saat yang sama Allah menyebutnya sebagai istikbar dan kafir. “Sesungguhnya (malaikat-malaikat) yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah (mungkin) istikbar dalam menyembah-Nya; bahkan mereka bertasbih kepada-Nya dan kepada-Nya-lah mereka bersujud.” (7:206) Sikap para malaikat ini juga kelak menjadi patron bagi para khalĭfah, manusia-manusia suci, dan orang-orang beriman. Yakni setelah Allah memerintahkan sesuatu, maka baginya tidak ada pilihan lain selain mentaatinya. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan:’Kami dengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (24:51). Tidak mungkin ada rasa enggan dan istikbar pada diri mereka, karena itu adalah sifat Iblis, yang bisa membawa sifat-sifat yang dinegasikan malaikat di ayat 30 tentang tugas para khalĭfah. “Dan tidaklah patut bagi mu’min laki-laki dan tidak (pula) bagi mu’min perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, dengan sesat yang nyata.” (33:36)

 

3). Kafir adalah predikat terakhir yang Allah sematkan kepada pelaku yang tidak taat kepada perintah Allah. Ada sifat lain yang mendahuluinya, yaitu istikbar. Sementara sifat istikbar (takabbur, sombong, arogan) sendiri bukanlah sesuatu yang muncul dengan serta-merta. Ada penyakit jiwa lain juga yang mendahuluinya. Yaitu sifat أَبَى (abẵ, enggan). Dengan begitu, yang patut diwaspadai bukan sifat kafir-nya yang merupakan stadium paling tingginya, tapi sifat awalnya, أَبَى (abẵ, enggan). Penyakit أَبَى (abẵ, enggan) ini sangat mudah kita idap dan mudah muncul pada siapa saja, dimana saja, dan kapan saja, terutama saat berhubungan dengan orang lain yang berbeda dengan diri dan atau kelompok kita. Di saat-saat seperti itu kalimat ini sangat sering muncul di benak kita, “Iblis berkata: ‘Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku?’.” (17:62) Itu sebabnya, al-Qur’an menceritakan bahwa awal dari sikap tiran dan otoritariannya Fir’aun dalam melaksanakan pemerintahannya ialah penyakit أَبَى (abẵ, enggan) ini. ”Dan sungguh Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir`aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran).” (20:56) Sehingga bias dikatakan bahwa penyakit أَبَى (abẵ, enggan) adalah cikal bakal dari fir’aunisme.

 

4). Yang menarik ialah, saat Allah akan menentukan dan mengangkat khalĭfah, Dia tidak langung melakukannya. Dia meminta malaikat berargumen terlebih dahulu mengenai maksud tersebut. Saat Allah mengetahui Iblis membangkang, Allah juga tidak langsung menghukumnya. Dia memintanya berargumen terlebih dahulu. “Allah berfirman: ‘Apakah masalahmu sehingga tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku perintahkan kepadamu?’….” (7:12) Atau: “Allah berfirman: ‘Hai iblis, apakah halanganmu untuk sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) lebih tinggi (statusnya)?’.” (38:75) Dan Iblis pun menyampaikan alasannya. “… Pantaskah aku sujud kepada (Adam) yang Engkau ciptakan (hanya) dari tanah?…” (17:61). “…Saya lebih baik dari dia; Engkau ciptakan saya dari api sedang Engkau ciptakan dia (hanya) dari tanah.” (17:12) Sikap dialogis ini pulalah yang diperlihatkan Nabi Ibrahim as saat diperintah menyembelih anak tunggalnya, Ismail as: “… Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku (diperintah untuk ) menyembelihmu. Maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu!’…” (37:102) Dari sini kita lihat betapa tinggi ajaran egalitrianisme dan sikap demokratis yang disampaikan al-Qur’an; sekaligus menunjukkan—sekali lagi—bahwa hirarki ke-ilmu-an itulah yang merupakan hirarki yang paling rasional.

 

5). Di awal ayat, yang Allah minta untuk bersujud ialah seluruh malaikat. Tapi tiba-tiba muncul nama Iblis. Kalau begitu siapakah gerangan Iblis ini? Dengan melihat konteks ayat, sepertinya Iblis ini memang dari kalangan malaikat juga, terlebih dengan melihat namanya yang memang mirip nama-nama malaikat seumpama Jibril, Izrail, Israfil. Tetapi al-Qur’an justru menyebutnya dari kalangan jin: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia (Iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai wali bagi orang-orang yang zalim.” (18:50) Maka seruan Allah kepada seluruh malaikat bermakna seruan Allah kepada seluruh penghuni alam malakut, yaitu alam yang lebih halus dari alamnya manusia (alam nasut). Cuma berdasarkan kenyataan tadi, bahwa ada penghuni alam malakut yang membangkang, maka oleh para ulama biasanya dibagilah alam malakut ini menjadi dua macam: alam malakut atas (malakutul-a’la)—yang dihuni oleh para malaikat—dan alam malakut bawah (malakutus-sufla)—yang dihuni oleh kalangan jin.

 

AMALAN PRAKTIS

Pernakah Anda merasakan bahwa jiwa Anda enggan atau menolak pihak lain hanya karena orang atau kelompok tersebut lebih rendah dari Anda? Kalau Anda ‘kesulitan’ menjawab ini, pertanyaan berikutnya: Apakah Anda merasa bangga—sehingga selalu menceritakannya—apabila punya teman atau kenalan yang berstatus sosial lebih tinggi (karena harta, karena ningrat, karena ilmu atau karena jabatan) atau lebih populer? Kalau jawaban Anda, ya, berarti Anda patut mencurigai diri Anda mengidap penyakit أَبَى (abẵ, enggan). Dan bersegeralah memberontak untuk keluar daripadanya sebelum Anda menjadi bagian dari Iblis.

Related Posts

Leave a Reply