Al-Baqarah ayat 31

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 31by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 31SURAT AL-BAQARAH  Ayat 31 وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ [Dan Dia mengajari Adam nama-nama (realitas) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat seraya berkata: “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama itu jika kalian (memang) orang-orang yang benar!”] [And He taught Adam all the names, then presented them to the […]

SURAT AL-BAQARAH  Ayat 31


وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

[Dan Dia mengajari Adam nama-nama (realitas) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat seraya berkata: “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama itu jika kalian (memang) orang-orang yang benar!”]

[And He taught Adam all the names, then presented them to the angels; then He said: Tell me the names of those if you are right.]


1). Jawaban Allah atas sanggahan malaikat di ayat yang lalu (ayat 30): “Sungguh Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui”, menunjukkan arti pentingnya ilmu dalam bereksistensi. Sama juga dengan penggunaan kata عَلِيمٌ (‘alĭm, Maha Mengetahui) di akhir ayat 29, mengisyaratkan bahwa perjalanan ruhani pada hakikatnya adalah sebuah napak tilas menelusuri ilmu Allah. Dan karena Dialah yang عَلِيمٌ (‘alĭm, Maha Mengetahui) itu, maka Dialah yang berada di puncak jenjang eksistensi. Dan siapa saja yang hendak ‘mencapai’ maratabat-Nya, tidak ada cara lain baginya selain menapaki kesempurnaan ilmu-Nya. Itulah sebabnya, untuk membuktikan jawaban-Nya kepada malaikat, Allah langsung mangajari Adam—khalĭfahpertama—nama-nama seluruh realitas (yang merupakan tajalliyat atau manifestasi dari Nama-Nama-Nya sendiri) untuk menunjukkan kelayakan kapasitasnya sebagai penerima amanah.


2). Dari ayat ini kelihatan bahwa aktivitas pertama dan utama antara Allah dan khalĭfah-Nya ialah ta’lim wa ta’lum (teaching and learning, belajar mengajar), dimana Allah menempatkan diri-Nya sebagai Guru dan Adam sebagai murid-Nya. Kata عَلَّمَ (‘allama, mengajar) beserta derivat-derivatnya, dalam al-Qur’an, pelakunya merujuk kepada tiga hal: nabi, malaikat, dan Allah. Dan dari ayat ini (dan ayat berikutnya nanti) kelihatan dengan jelas bahwasanya ilmu nabi dan malaikat pun pada hakikatnya ilmu yang berasal dari Allah juga. Bisa disimpulkan bahwa Guru dari segala guru adalah Allah swt, Sang Maha Suci dan Maha Mengetahui. Sehingga ilmu, pada dasarnya, menurut asal-usulnya, adalah sesuatu yang suci, yang seyogyanya juga membawa pemiliknya kepada kesucian. Semakin luas dan dalam ilmu seseorang semakin suci pula jiwa dan pikirannya dan semakin mendekat pula kepada martabat Sang Maha Suci. Mereka semua dipuncaki oleh khalĭfah, sebagai manusia yang paling أَعْلَمُ (a’lam, mempunyai ilmu), manusia yang telah ‘menyatu’ dengan Sang Maha Mengetahui dan Maha Suci. Artinya, hubungan seorang khalĭfah dengan Rab-nya adalah hubungan ilmu, hubungan ta’lim wa ta’lum (teaching and learning, belajar mengajar) yang tak pernah terputus. Karena begitu terputus sesaat saja, maka pintu kezaliman terbuka baginya. Penjelasan inilah yang menarangkan kenapa ketika nabi dalam keadaan tertidur sekalipun, jiwanya tetap terkomunikasi dengan-Nya. Ingat, Nabi Ibrahim as menerima perintah untuk menyembelih anaknya Isma’il dalam keadaan tidur (37:102).


3). Tentang  الأَسْمَاء (al-asmā’, nama-nama), ada dua macam. Pertama, adalah nama-nama seluruh realitas yang merupakan tajalliyat (semburat) atau manifestasi dari nama-nama-Nya sendiri yang kita kenal dengan sebutan الأَسْمَاء الْحُسْنَى (al-asmā’ al-husna, nama-nama yang indah). Sehingga, misalnya, saat kita menyaksikan apa saja di sekitar kita, pada hakikatnya yang kita saksikan adalah af’al (perbuatan)-Nya yang merupakan semburat dari nama-nama-Nya yang indah, “Dan milik Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kalian menghadap di situlah wajah Allah. Sungguh Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (2:115). Bahkan pada diri dan perbuatan kita sekalipun, “Dan Allah-lah yang menciptakan kalian beserta apa-apa yang kalian perbuat” (37:96).

Kedua, adalah nama-nama yang tidak memiliki hakikat apapun karena juga tidak mewakili apapun. Misalnya, menyebut pohon, batu, atau seseorang sebagai Tuhan. Jelas ini tidak mencerminkan hakikat dari pohon, batu, dan orang tersebut. “Itu tiada lain hanyalah nama-nama yang kalian dan bapak-bapak kalian mengada-adakannya; Allah tidak menurunkansulthān (hakikat) padanya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan (belaka) dan kehendak hawa nafsunya, padahal sungguh telah datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan-nya.” (53:23)


4). Saat Allah akan menunjuk dan mengangkat khalĭfah, Dia terlebih dahulu menyampaikan maksud-Nya kepada para malaikat. Padahal bukankah—sebagai pemilik otoritas dan pemegang hak prerogatif mutlak—Dia kuasa melakukannya langsung tanpa berkomunikasi dengan siapapun? Pertama, Allah mengajari kita betapa pentingnya menghargai pihak manapun kendati jenjang ilmunya jauh di bawah. Kedua, Allah mengajari kita betapa pentingnya berargumen, dan setiap argument harus bisa dipertanggungjawabkan secara rasional. Itu sebabnya di akhir ayat ini, Allah kembali menggunakan kalimat: إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (in kuntum shādiqiyn, jika kalian orang-orang yang benar)—tentang ini baca kembali komentar terhadap ayat 23 poin 4.

5). Melalui ayat ini, kita bisa memahami betapa Islam menghargai sangat tinggi kepada ilmu. Yakni, nabi pertama, Nabi Adam as, yang pertama Allah perlakukan kepadanya ialah mengajarinya ilmu. Nabi terakhir, Nabi Muhammad saw, lima ayat pertama yang Dia wahyukan kepadanya ialah perintah membaca beserta asal-usul ilmu pengetahuan (epistemologi), 96:1-5. Lalu apa maksud dari semua itu? Maksudnya, tidak ada yang bisa memahami rahasia segala realitas (materi dan nonmateri) tanpa ilmu.


AMALAN PRAKTIS

Kalau Nabi Adam dan para khalĭfah saja tak pernah berhenti ‘belajar’, lalu siapakah kita ini? Hanya orang yang tidak menyadari kebodohannyalah yang berhenti belajar. Apalagi di era internet ini, rasa-rasanya sudah tidak ada lagi alasan untuk tidak belajar. Maka, sebagai bentuk pengamalan dari ayat ini, janganlah Anda pernah berhenti belajar. Tinggalkanlah semua perbuatan sia-sia yang menghabiskan usia Anda tanpa arti, dan berjanjilah pada diri sendiri dan kepada Allah untuk belajar hingga ke liang lahad.

Related Posts

Leave a Reply