Al-Baqarah ayat 210

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 210by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 210SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 210 هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن يَأْتِيَهُمُ اللّهُ فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ وَالْمَلآئِكَةُ وَقُضِيَ الأَمْرُ وَإِلَى اللّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ [Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat kepada mereka dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.] [Will they wait until Allah comes to them in […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 210

هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن يَأْتِيَهُمُ اللّهُ فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ وَالْمَلآئِكَةُ وَقُضِيَ الأَمْرُ وَإِلَى اللّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ

[Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat kepada mereka dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.]

[Will they wait until Allah comes to them in canopies of clouds, with angels (in His train) and the question is (thus) settled? but to Allah do all questions go back (for decision).]

1). Coba perhatikan dengan saksama antara ayat ini dan ayat sebelumnya (208 dan 209). Bagi mereka yang punya cita rasa bahasa niscaya akan merasakan adanya perubahan maf’ūl (objek). Di ayat 208 dan 209 objeknya ialah mukhāthab (orang kedua, yang diajak berbicara) jamak; yaitu الَّذِينَ آمَنُواْ (alladzīna āmanū, orang-orang yang beriman). Mereka diseru oleh mutakallim (orang pertama, pembicara—dalam hal ini Allah) dengan sebuah perintah: ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً (udkhulū fīs-silmi kāffatan, masuklah kalian ke dalam Islam secara bersama-sama). Pihak yang ditemptakan sebagai mukhāthab inilah lagi yang kemudian di ayat 209 diberi ancaman oleh mutakallim yang sama: فَإِن زَلَلْتُمْ مِّن بَعْدِ مَا جَاءتْكُمُ [fain zalaltum min ba’di mā jāatkumul bayyināt, tetapi jika kalian menyimpang (dari ajaran Islam yang السِّلْمِ--as-silmi)] sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran).

Di ayat 210 ini maf’ūl (objek)-nya tiba-tiba menjadi gha’ib (orang ketiga) jamak, yaitu هُم (ɦum, mereka). Dan هُم (ɦum, mereka) yang dimaksud di sini bukan semua الَّذِينَ آمَنُواْ (alladzīna āmanū, orang-orang yang beriman) yang diseru di ayat 208, tetapi—dengan memperhatikan logika urutan ayat—dibatasi hanya pada mereka yang tidak menghiraukan seruan ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً (udkhulū fīs-silmi kāffatan, masuklah kalian ke dalam Islam secara bersama-sama), yang juga diancam dengan فَإِن زَلَلْتُمْ مِّن بَعْدِ مَا جَاءتْكُمُ [fain zalaltum min ba’di mā jāatkumul bayyināt, tetapi jika kalian menyimpang (dari ajaran Islam yang السِّلْمِ--as-silmi)] sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran).

Lalu apa makna dari perubahan maf’ūl (objek) seperti ini? Seakan Allah hendak memberikan pesan penting bahwa siapa saja, termasuk orang yang sudah beriman, yang tidak hirau terhadap perintah-Nya, atau menyimpang dari jalan-Nya, maka Allah akan mengeluarkannya dari golongan mukhāthab (orang kedua, yang diajak berbicara), Allah akan melupakan mereka, seperti janji-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Kitab Suci dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (2:174)

2). Terhadap mereka yang  menyimpang dari ajaran Islam السِّلْمِ (as-silmi), Allah mendeklarasikan bahwa: هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن يَأْتِيَهُمُ اللّهُ فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ وَالْمَلآئِكَةُ (ɦal yanzhurūna illā an ya’tiyaɦumullāɦu fī zhulalin minal ghamāmi wal malāikah, tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat kepada mereka dalam naungan awan). Kata هَلْ (ɦal) ini adalah huruf istifɦām (pertanyaan), tetapi tulis al-Baidhāwī dalam tafsir-nya al-Anwar at-Tanzīl wa asrār at-Ta’wīl, di sini bermaknya النفي (an-nafyi, negasi) karena disusul oleh kata إِلاَّ (illā) pada anak kalimat إِلاَّ أَن يَأْتِيَهُمُ ٱللَّهُ (illā an ya’tiyaɦumullāɦu, melainkan datangnya Allah kepada mereka). Negasi هَلْ (ɦal) dan afirmasi إِلاَّ (illā), menunjukkan tidak ada lagi yang mereka nanti-nantikan kecuali azab dari Allah, baik sebelum ataupun setelah kematiannya. Kata ganti هُم (ɦum, mereka) yang menjadi pelaku pada kata يَنظُرُونَ (yanzhurūna, mereka nanti-nantikan), kata al-Qurthubī dalam tafsir al-Jāmi’ li-ahkāmil Qur’an, ialah التاركين الدخول في السِّلْم (at-tārikīna ad-dukhūl fī as-silmi, mereka yang menolak masuk ke dalam Islam as-silmi); yaitu para penyimpang setelah datang kepada mereka الْبَيِّنَاتُ (al-bayyināt, bukti-bukti kebenaran).

Logika kalimatnya mengisyaratkan bahwa setiap manusia pada dasarnya tengah menanti. Ini bisa dipahami mengingat keadaan setiap benda-benda material, tak terkecuali manusia, adalah terus bergerak di sepanjang garis waktu. Setiap saat meninggalkan tempo “sekarang” dan menggapai tempo “nanti”; sehingga yang “nanti” dengan serta-merta berubah menjadi “sekarang”, dan yang “sekarang” sontak menjadi “dahulu”. Begitu seterusnya, hingga datang suatu “kala” (momentum) dalam garis waktu tersebut dimana manusia dipaksa meninggalkan gelanggang kehidupan dunia ini, atau dipaksa menerima akibat-akibat perbuatannya. Kala itu, Allah dan malaikat akan datang menjemput paksa setiap jiwa untuk dihadapkan ke depan Mahkamah-Nya, mempertanggungjawabkan buah amalan-amalannya selama hidup. Bagi para penyimpang dari jalan Allah, karena tidak mungkin lagi mendapatkan imbalan positif, maka yang mereka tunggu hanyalah hukuman duniawi dan atau ukhrawi. “Tidak ada yang ditunggu-tunggu orang kafir selain dari datangnya para malaikat kepada mereka atau datangnya perintah Tuhanmu. Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang (kafir) sebelum mereka. Dan Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri. Maka mereka ditimpa oleh (akibat) kejahatan perbuatan mereka dan mereka diliputi oleh azab yang selalu mereka perolok-olokkan.” (16:33-34)

3). Yang menarik untuk didiskusikan ialah keterangan فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ (fī zhulalin minal ghamāmi, dalam naungan awan). Jika diartikan secara lahiriah, ayat ini dapat mengantarkan kita pada sikap tajsim (menjasmanikan Allah) dan tasybiɦ (menyerupakan Allah dengan makhluk). Betapa tidak, Allah terkesan butuh kepada naungan awan sehingga Dia seakan-akan lebih rendah daripada makhluk. Supaya terhindar dari cara pandang absurd seperti itu, kita harus kembalikan ayat ini kepada ayat tanzih (melepaskan Allah dari keserupaan dengan makhluk): لَيۡسَ كَمِثۡلِهِ شَىۡءٌ۬ۖ (laysa kamitsliɦi syai’un, tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia)—42:11. Maka keterangan فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ (fī zhulalin minal ghamāmi, dalam naungan awan) harus dimaknai secara majasi saja. Yakni, bahwa awan sebagai makhluk-Nya, tunduk patuh kepada-Nya, melayani kepentingan-Nya, yang kemudian disimpulkan sebagai: يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ (yusabbihu lillāɦi mā fīs-samāwāti wal-ardhi, senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi). Jadi kalimat “datangnya Allah dan malaikat kepada mereka dalam naungan awan” menunjukkan bahwa dalam perbuatan-Nya, Allah terkadang menggunakan, tapi sekaligus melampaui, makhluk-Nya. “Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia (tidak) akan menjungkir balikkan bumi bersamamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia (tidak) akan mengirimkan badai batu, sehingga kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?” (67:16-17)

4). Pengertian وَقُضِيَ الأَمْرُ [wa qudhiyal amru, dan diputuskanlah urusan(nya)] ialah bahwa tidak ada satupun peristiwa tanpa melibatkan keputusan Allah. Dan bilamana keputusan-Nya sudah Dia tetapkan—yang di ayat ini ditandai dengan ‘kedatangan-Nya’ bersama malaikat—maka tidak akan ada lagi yang bisa menghalangi keberlakuannya, sebab:  إِنَّ ٱلۡأَمۡرَ كُلَّهُ ۥ لِلَّهِۗ (innal-amra kulluɦu lillāɦ, sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah)—3:154, atau: بَل لِّلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ جَمِيعًاۗ (bal lillāɦil amru jamī’a, sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah)—13:31, atau: وَٱللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰٓ أَمۡرِهِ (wallāɦu ghālibun ‘ālā amriɦi, dan Allah berkuasa terhadap amr-Nya)—12:21. Karena الأَمْرُ (al-amru) adalah milik mutlak-Nya, maka perwujudannya menjadi sebuah realitas cukup dengan sebuah “titah”: “Sesungguhnya amr-Nya bila Dia menghendaki sesuatu cukup berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah (sesuatu) itu” (36:82). Saat Allah memutuskan untuk menghukum para penyimpang (dari jalan yang benar), bisa Dia melakukannya sendiri atau memandatir kepada para malaikat atau dengan menggunakan bala tentara-Nya di langit dan di bumi: “Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (48:7). Cara mewujudnya nanti hukuman itu bisa bermacam: “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya. Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (29:40)

5). Buntut ayat mempertegas kembali kekuasaan Allah atas amr-Nya: وَإِلَى اللّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ (wa ilāllāɦi turja’ul umūr, dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan). Yang merupakan kelanjutan dari pemberitahuan Allah akan diri-Nya di buntut ayat sebelumnya: فَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (fa’lamū annallāɦa ‘azīzun hakīm, maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana). Bukti keperkasaan-Nya ialah dengan kemampauan-Nya mengatur segala amr (urusan) tanpa terbebani dengannya; الأمُورُ (al-umūr, segala urusan)—bentuk jamak dari الأَمْرُ (al-amru)—itu seluruhnya berasal dari Diri-Nya dan kembali lagi semuanya kepada Diri-Nya tanpa berkurang sedikitpun juga. Sejalan dengan sifat Diri-Nya yang lain: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (57:3) Sedangkan bukti kebijaksanaan-Nya ialah dengan menetapkan qadhā atas manusia sesuai dengan pilihan dan usahanya masing-masing sehingga tak ada seorang pun yang kelak merasa terzalimi. “Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka  dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya. ” (10:47)

6). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ فَقَالَ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا رَأَى مِنْ النَّاسِ إِدْبَارًا قَالَ اللَّهُمَّ سَبْعٌ كَسَبْعِ يُوسُفَ فَأَخَذَتْهُمْ سَنَةٌ حَصَّتْ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى أَكَلُوا الْجُلُودَ وَالْمَيْتَةَ وَالْجِيَفَ وَيَنْظُرَ أَحَدُهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فَيَرَى الدُّخَانَ مِنْ الْجُوعِ فَأَتَاهُ أَبُو سُفْيَانَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ تَأْمُرُ بِطَاعَةِ اللَّهِ وَبِصِلَةِ الرَّحِمِ وَإِنَّ قَوْمَكَ قَدْ هَلَكُوا فَادْعُ اللَّهَ لَهُمْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى { فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ } إِلَى قَوْلِهِ { إِنَّكُمْ عَائِدُونَ يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى إِنَّا مُنْتَقِمُونَ } فَالْبَطْشَةُ يَوْمَ بَدْرٍ وَقَدْ مَضَتْ الدُّخَانُ وَالْبَطْشَةُ وَاللِّزَامُ وَآيَةُ الرُّومِ

[Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Abu adl-Dluha dari Masyruq berkata; Kami pernah bersama Abdullah ketika dia berkata; Nabi saw bersabda ketika melihat orang-orang berpaling (dari Islam): "Ya Allah, timpakanlah kepada mereka masa paceklik tujuh tahun seperti kejadian zaman Yusuf." Maka terjadilah masa paceklik tersebut dimana tidak ada tunbuhan-tunbuhan yang tumbuh sehingga mereka memakan kulit, bangkai dan barang-barang busuk. Kemudian ada seorang dari mereka yang memandang ke langit melihat awan lantaran lapar. Lalu Abu Sufyan menemui beliau seraya berkata: "Ya Muhammad, kamu adalah orang yang memerintahkan untuk taat kepada Allah dan menyambung silaturrahim, kaummu telah binasa, maka mintalah kepada Allah untuk mereka." Allah lalu berfirman: “Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata,” hingga firman-Nya: “Sesungguhnya kalian akan kembali (ingkar). (Ingatlah) hari (ketika) kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya kami adalah pemberi balasan.” (44: 10-16). Siksaan (hantaman yang keras) adalah saat mereka terbunuh di perang Badar. Dan saat awan gelap sudah berlalu."] (Shahih Bukhari no. 952)

AMALAN PRAKTIS

Tidak ada manusia yang tidak sedang menanti. Karena dalam kata “menanti” terkandung makna keterikatan dengan waktu. Sementara waktu bergulir terus. Bedanya, ada yang menanti hal-hal buruk, tanpa mereka sadari, dan ada yang menanti hal-hal yang baik. Karena setiap penyimpangan dari agama Allah akan melahirkan keburukan, maka jika Anda termasuk orang-orang yang menyimpang, maka ketahuilah bahwa tidak ada lagi yang Anda nantikan kecuali datangnya azab Allah. Untuk itu bersegeralah kembali ke jalan yang benar.

Related Posts

Tinggalkan Balasan