Al-Baqarah ayat 208

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 208by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 208SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 208   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ [Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian menuruti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.] [O ye who believe! Enter into Islam whole-heartedly; and follow […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 208

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

[Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian menuruti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.]

[O ye who believe! Enter into Islam whole-heartedly; and follow not the footsteps of the evil one; for he is to you an avowed enemy.]

 

 

1). Setelah Allah memetakan jenis-jenis manusia berdasarkan orientasi hidupnya, kini Allah meminta kepada orang-orang beriman untuk memilih yang terbaik. Benar, Allah memberikan kebebasan untuk memilih, dalam pengertian boleh memilih apa saja, tetapi Dia tidak membiarkan kita bingung dan tersesat di tengah pilihan-pilihan itu. Untuk itu, melalui ayat ini, Allah membimbing manusia dalam mencari pilihan yang terbaik. Itu sebabnya yang Dia panggil hanya hamba-Nya yang percaya dengan sungguh-sungguh kepada-Nya; yaitu: الَّذِينَ آمَنُواْ (alladzīna āmanū, orang-orang yang beriman). Kata آمَنُواْ (āmanū) adalah kata kerja bentuk lampau (past tense). Perlu dipertegas kembali: “kata kerja” dan dari sisi waktu berbentuk “lampau”. Yang diwakili oleh “kata kerja” ialah sesuatu yang mengandung makna “perbuatan” atau “pekerjaan” atau “aktivitas”. Sehingga tanpa “perbuatan” atau “pekerjaan” atau “aktivitas” itu, kata آمَنُواْ (āmanū) menjadi tidak bermakna, tanpa melihat kadar atau tingkatan “perbuatan” atau “pekerjaan” atau “aktivitas” itu. Artinya, walaupun kadarnya masih sangat rendah, selama yang bersangkutan bersungguh-sungguh mengimani Allah, maka sudah termasuk ke dalam kelompok manusia yang dipanggil di ayat ini. Harapannya, dengan panggilan ini, mereka mau mendengar dan berhasrat memenuhi isi panggilan tersebut. Sedangkan yang diwakili oleh bentuk “lampau”-nya ialah bahwa “perbuatan” atau “pekerjaan” atau “aktivitas” itu “sudah” terjadi, bukan “baru” atau “akan”. Sehingga, paling tidak, yang bersangkutan “sudah” punya pemahaman dasar mengenai arti iman beserta rukun-rukunnya. Inilah perbedaan mendasar antara kata آمَنُواْ (āmanū) dan kata ٱلۡمُؤۡمِنُونَ (al-mu’minūn, orang-orang mukmin). Kata yang terakhir ini bermakna imannya sudah mensifati jiwa dan seluruh perbuatannya. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang Mukmin. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya; kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Siapa yang mencari di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (23:1-11)

2). Adapun isi seruan tersebut ialah, pertama: ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً (udkhulū fīs-silmi kāffatan, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan). Hampir semua penerjemah Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggeris mengartikan kata السِّلْمِ (as-silmi) dengan “Islam”. Kecuali Muhammad Syakir dan Pichthal yang menerjemahkannya dengan “submission” (penyerahan diri). Al-Ashfahani dalam Mu’jam al-Mufradāt Alfāzh Alqur’an-nya menganggap kata السِّلْمِ (as-silmi) memang serumpun dengan kata ٱلإِسْلاَمُ (al-islām, agama Islam), tetapi, menurutnya, kata “Islam” mempunyai dua jenis makna. Satu, tanpa iman, hanya pengakuan dengan lisan, baik disertai dengan keyakinan atau tidak, tetapi dengan begitu yang bersangkutan telah menyelamatkan darahnya. Dalam pengertian inilah maksud kata Islam di ayat ini: “Orang-orang Arab itu berkata: ‘Kami telah beriman’. Katakanlah (kepada mereka): ‘Kalian belum beriman, tetapi katakanlah: ‘Kami telah Islam (tunduk)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu….” (49:14).

Dua, disertai dengan iman, sehingga pengakuannya diikuti oleh keyakinan yang dibenarkan dengan perbuatan, lalu berserah diri kepada Allah dalam segala hal yang berkenaan dengan qadha dan qadar-Nya, sepertimana sikap Nabi Ibahim as di ayat ini: “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam’.” (2:131) dan firman-Nya: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah ialah Islam….” (3:19), dan juga dalam doa Nabi Yusuf: “(Ya Tuhanku)… wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (12:101) Yang maksudnya: “Jadikanlah aku bagian dari golongan orang-orang yang berserah diri kepada ridha-Mu.” Bisa juga bermakna: “Jadikanlah aku aman dari tawanan setan”. Sebab bukankah Allah telah mengingatkan manusia tentang sumpah setan: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskanku sesat maka pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan buruk) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlas di antara mereka.” (15:39-40) dan “… Kamu tidak dapat menjadikan (manusia) mendengar, kecuali orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri.” (27:81)

Berdasarkan paparan Asfahani tadi, kata السِّلْمِ (as-silmi) adalah sifat Islam yang berangkat dari iman yang mendalam, dari inti keyakinan, dari penyerahan diri secara total, yang mencakup segala-galanya, lahir dan batin, spiritual dan intelektual, ibadah dan muamalah, akidah dan syariah, tarikat dan hakikat, personal dan sosial, individual dan komunal, keluarga dan negara, ekonomi dan politik, seni dan budaya, rakyat (ma’mum) dan pemimpin (imam), sehingga terciptalah kedamaian lahir-batin dan terjauh dari tipu muslihat setan beserta konco-konconya. Islam yang seperti inilah yang menghindarkan umat dari perpecahan, bergolong-golongan dan berkelompok-kelompok, yang menyebabkan setiap golongan atau kelompok merasa bangga dengan dirinya masing-masing. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla meridhai kalian atas tiga hal dan benci dari tiga hal; (yaitu) Allah meridhai kalian untuk beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, hendaknya kalian semua berpegang teguh kepada tali Allah dan jangan berpecah belah, dan kalian taat kepada orang yang telah Allah amanatkan urusan kalian. Dan Allah membenci kalian dari bergosip, menghambur-hamburkan harta, dan banyak bertanya (yang tidak bermanfaat).” (Musnad Ahmad no. 8444 dan Shahih Muslim no. 3236)

3). Yang sayang dilewatkan pada seruan pertama ini ialah kata كَآفَّة (kāffatan). Kata ini muncul lima kali di empat ayat dalam Alquran (2:208, 9:36, 9:122, dan 34:28). Selain dari ayat 208 ini, tidak ada pertentangan bahwa kata كَآفَّة (kāffatan) bermakna “seluruh anggota atau warga dari suatu komunitas,” atau (dalam istilah logika) “semua afrad (bagian-bagian) dalam satu kulli (keseluruhan),” dan bukan dalam pengertian “holistik dalam suatu sistem.” Perhatikan di 9:36: وَقَـٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ كَآفَّةً۬ ڪَمَا يُقَـٰتِلُونَكُمۡ ڪَآفَّةً۬ۚ  (wa qātilūl musyrikĭna kāfatan kamā yuqātilūnakum kāfatan, dan perangilah kaum musyrikin itu secara bersama-sama sebagaimana mereka memerangi kalian secara bersama-sama). Atau di 9:122: وَمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ ڪَآفَّةً۬ۚ (wa mā kānal mu’minūna liyanfirū kāfatan, dan tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya [ke medan perang]). Dan di 34:28: وَمَآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا ڪَآفَّةً۬ لِّلنَّاسِ  (wa mā arsalnāka illā kāfatan linnāsi, dan Kami tidak mengutus kamu [Muhammad] melainkan kepada umat manusia seluruhnya). Dengan memperhatikan makna kata كَآفَّة (kāffatan) di ayat-ayat tersebut, agaknya yang lebih cocok pengertiannya di ayat 208 ini pun adalah “semuanya” atau “secara bersama-sama”; yaitu seluruh manusia yang mengimani Islam sebagai agama yang benar. Karena kalau dimaknai sebagai “sistem Islam secara holistik”, bukankah itu sudah terkandung dalam kata السِّلْمِ (as-silmi)? Sehingga seruan ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً (udkhulū fīs-silmi kāffatan) seharusnya diartikan: “Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan”, secara berjamaah dalam satu kepemimpinan yang kokoh dan solid; yakni dengan tidak bercerai-berai. Yang berarti selalulah bersama dengan مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ (man yasyriy nafsaɦu ibtighā-a mardlātillāɦ, orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah). Nabi saw bersabda: “Hendaklah kalian selalu bersama jamaah. Dan janganlah kalian berpecah belah, karena setan itu selalu bersama dengan orang yang sendirian, sedangkan terhadap dua orang, ia lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan kemakmuran surga, maka hendaklah ia komitmen untuk menetap dalam jamaah. Siapa yang kebaikannya membuatnya lapang dan bahagia, keburukannya membuatnya penat dan susah, maka dia adalah seorang mukmin.” (Sunan Tirmidzi no. 2091)

4). Kalau seruan pertama berbentuk perintah maka seruan yang kedua berbentuk larangan: وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ (wa lā tattabi’ū khuthuwāts syaithān, dan janganlah kalian menuruti langkah-langkah syaitan). Pengontrasan seperti ini menunjukkan bahwa jika perintah tak dihiraukan berarti larangan telah dilanggar. Wilayah hanya ada dua: السِّلْمِ (as-silmi) dan خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ (khuthuwāts syaithān). Jika tidak yang awal, maka yang akhir. Jika berkaitan dengan masalah “hak” dan “batil”, “benar” dan “salah”, maka tidak ada istilah: “Saya tidak memilih salah satunya karena saya tidak mau memihak.” Ini bukan prinsip yang benar. Ini namanya bimbang, waswas. Dan waswas sendiri adalah perbuatan setan (114:3-5). Maka siapa yang berprinsip seperti ini berarti, sadar atau tidak, telah menjerumuskan dirinya (memihak) ke dalam خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ (khuthuwāts syaithān).

Yang menarik ialah bahwa di sini Alquran menggunakan kata خُطُوَاتِ (khuthuwāt) yang lalu diterjemahkan dengan “langkah-langkah” atau “footsteps”. Dan bukan kata سَبِيل (sabĭl, jalan) seperti dalam ayat ini (4:76): وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱلطَّـٰغُوتِ (walladzĭna kafarū yuqātilūna fĭ sabīlit thāghūt, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut), atau (6:55): وَلِتَسۡتَبِينَ سَبِيلُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ (wa litastabīna sabĭlil mujrimīn, dan supaya jelas jalan orang-orang yang berdosa), atau (7:142): وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ (wa lā tattabi’ sabīlal mufsidīn, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan). Kata خُطُوَاتِ (khuthuwāt) ini berbentuk “jamak” dan berjenis kelamin “perempuan”—catatan: camkan baik-baik kata yang diberi tanda petik. Bentuk “jamak” bermakna bahwa langkah setan itu tidak langsung terasa akibatnya, karena pada langkah pertama baru sekedar mendeviasi (menyimpangkan) manusia dari jalan yang lurus atau سَبِيلِ ٱللَّهِ (sabilllah, jalan Allah). Lama kelamaan, setelah langkah demi langkah ditempuh, terbentuklah jalan baru yang disebut سَبِيلِ ٱلطَّـٰغُوتِ (sabīlit thāghūt, jalan thaghut) atau سَبِيلُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ (sabĭlil mujrimīn, jalan orang-orang yang berdosa) atau سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ (sabīlal mufsidīn, jalan orang-orang yang membuat kerusakan). Semakin jauh manusia melangkah di jalan menyimpang itu semakin jauh juga jarak dari سَبِيلِ ٱللَّهِ (sabilllah, jalan Allah, jalan lurus). Pada awalnya hanya ada satu jalan, yaitu سَبِيلِ ٱللَّهِ (sabilllah, jalan Allah, jalan lurus). Sedangkan bentuk “perempuan” bermakna bahwa jalan itu kelihatan indah, memukau, dan menggiurkan. Kalau tidak hati-hati, akan sangat gampang masuk ke dalam perangkapnya. “Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang dijadikan  indah perbuatan buruknya (oleh setan) dan mengikuti hawa nafsunya?” (47:14)

5). Kenapa Tuhan melarang orang-orang beriman mengikuti langkah-langkah setan? Alasannya, karena: إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ (innaɦu lakum ‘aduwwun mubīn, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian). Kata ganti objek yang ada pada kata لَكُمْ (lakum, bagi kalian) ialah “orang-orang beriman”, seperti yang tertera dan dipanggil di awal ayat. Yang menarik dicermati, kenapa justru orang-orang beriman yang dianggap perlu oleh Allah diingatkan bahwa “setan itu musuh yang nyata bagi kalian”? Bukankah orang-orang beriman itu asumsinya sudah berada di jalan yang benar, di سَبِيلِ ٱللَّهِ (sabilllah, jalan Allah)? Bisa dipastikan setan yang dimaksud di sini bukanlah setan yang abstrak, yang konon bergentayangan di rumah-rumah tua atau di pohon-pohon keramat; melainkan yang berwujud lahirian, bertampang manusia, dan dari kalangan manusia. Karena hanya setan manusialah yang berhak menyandang gelar عَدُوٌّ مُّبِينٌ (‘aduwwun mubīn, musuh yang nyata) dan bisa diikuti خُطُوَاتِ (khuthuwāt, langkah-langkah)-nya. Diikuti karena mempunyai kekuasaan untuk memaksa, atau karena kepintarannya membangun opini, atau kelihaiannya menggunakan baju iman untuk menipu. Maka agar tidak tertipu oleh setan nyata seperti itu, Allah meminta orang-orang beriman mengikuti figur manusia jenis keempat, yang memikul seluruh beban risalah secara sempurna, dan mengamalkan Islam yang السِّلْمِ (as-silmi), sebab tak lagi bisa diperdaya oleh setan. Dan figur seperti memang selalu ada: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kalian bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (24:21)

6). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ ح و حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ قَالَ حَدَّثَنِي صَفْوَانُ نَحْوَهُ قَالَ حَدَّثَنِي أَزْهَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَرَازِيُّ عَنْ أَبِي عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِينَا فَقَالَ أَلَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِينَا فَقَالَ أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ زَادَ ابْنُ يَحْيَى وَعَمْرٌو فِي حَدِيثَيْهِمَا وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ وَقَالَ عَمْرٌو الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ

[Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Yahya keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu al-Mughirah berkata, telah menceritakan kepada kami Shafwan. (Dalam jalur lain disebutkan) Amru bin Utsman berkata, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ia berkata; telah menceritakan kepadaku Shafwan seperti itu. Ia berkata, telah menceritakan kepadaku Azhar bin Abdullah al-Harazi dari Abu Amir al-Hauzani dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan bahwasanya saat sedang besama kami ia berkata; ketahuilah, ketika sedang bersama kami Rasulullah saw bersabda: “Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan; tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu Jamaah.” Ibnu Yahya dan Amru menambahkan dalam hadits keduanya: “Sesungguhnya akan keluar dari umatku beberapa kaum yang mengikuti hawa nafsunya seperti anjing mengikuti tuannya.” Amru berkata: “Seekor lekat dengan tuannya, yang jika ada tulang bersamanya pasti dia akan mengikutinya.“] (Sunan Abu Daud no. 3981)

 

AMALAN PRAKTIS

Manusia adalah makhluk yang memiliki kesadaran kolektif. Tetapi jika kesadaran kolektif itu dikavling-kavling maka manusia cenderung untuk saling menegasi. Akhirnya perseteruan terjadi. Peperangan meletus. Darah menjadi tak berharga. Untuk menghindari itu, masuklah kalian semuanya ke dalam Islam yang sempurna. Islam yang mengatur segala hal. Terutama hal terpenting dala memlihara kesadaran kolektif itu. Yitu, kepemimpinan tunggal.

Related Posts

3 Responses

  1. zonacewex.com (@zonacewex)2013-08-19 at 12:15 amReply

    Alhamdulillah serial tafsir alquran ini berlanjut.

    Tetap semangat yach ustad ;-)

  2. Patrick BlackburnÜ (@Patrick_Blackb)2013-08-19 at 12:20 amReply

    Saya suka tafsir alquran dari web ini.

    Thank you <3

  3. anonyme2014-08-06 at 1:29 amReply

    SubhanALLOH dalam sangat Tafsir Al-Barru ini…mohon dilanjut sampai 30 JUZ ustadz…JazakALLOH…

Leave a Reply