Al-Baqarah ayat 206

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 206by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 206Salah satu ciri orang yang sombongialahsensitif. Mudah bereaksi terhadap gerak-gerik lingkungan sekitarnya yang berbeda dengan dirinya.              

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 206

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

[Dan apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.]

[And when it is said to him, guard against (the punishment of) Allah; pride carries him off to sin, therefore hell is sufficient for him; and certainly it is an evil resting place.]

1). Permulaan ayat ini sama dengan permulaan ayat 11 dan ayat 13 yang berbicara tentang ciri-ciri orang munafik, permulaan ayat 91 yang berbicara tentang sikap bebalnya Bani Israil, dan permulaan ayat 170 yang berbicara tentang orang musyrik. Bedanya, di ayat ini orang ketiga yang dibicarakan berbentuk tunggal, sementara di empat ayat tersebut berbentuk jamak: وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ (wa idzā qīla laɦum, dan apabila dikatakan kepada mereka). Kombinasi kata إِذَا (idzā, apabila) dan قِيلَ (qīla, dikatakan) muncul sebanyak 20 kali dan hanya 2 kali (itupun dalam satu ayat) yang bernuansa imani: “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kalian, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (58:11). Artinya, orang beriman, apapun yang dikatakan kepadanya selama itu sejalan dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya, pasti akan diturutinya. Sebaliknya dengan kaum munafik, Bani Israil, dan orang musyrik. Sehingga penggunaan bentuk kalimat إِذَا قِيلَ (wa idzā qīla, dan apabila dikatakan) menunjukkan bahwa mereka selalu berbuat kebalikan dari apa yang dikatakan kepadanya. Bagi kaum munafik, ini mempertegas dualitas wajahnya. Yang satu berwajah muslim dan yang satunya lagi berwajah kafir. Dan yang terakhir inilah yang merupakan wajah jiwanya yang sesungguhnya. “Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kalian (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (4:61). Bagi Bani Israil, ini menyiratkan sikap kepala batunya terhadap kebenaran. “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kepada (Alquran) yang diturunkan Allah’, mereka berkata: ‘Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’. Dan mereka kafir kepada (Alquran) yang diturunkan sesudahnya, padalah (Alquran) itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: ‘Mengapa dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kalian orang-orang yang beriman?’.” (2:91) Sementara bagi orang musyrik, ini menunjukkan bahwa agama yang benar bukanlah berdasarkan pada kebenaran, tetapi hanya pada apa yang diwarisi dari orang-orang terdahulu; karena mereka telah mencintai dan menyembah para pendahulu mereka lebih dari cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. “Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul’. Mereka menjawab: ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya’. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (5:104). Itu sebabnya, semua kebaikan yang dikatakan kepada mereka selalu ditolaknya, kadang tidak dengan frontal, tetapi dengan berbuat sebaliknya. Ciri mereka semua sama pada satu hal: menyombongkan diri terhadap kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Lā ilāɦa illallāɦ’ (tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata: ‘Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?’.” (37:35-36)

2). Orang yang tertutup hatinya, ajakan kebaikan kepadanya justru direspon dengan sikap arogan, yang kemudian menjadi penyebab kian tenggelamnya ke dalam lumpur dosa. Apa sebab? Karena orang seperti itu merasa digurui jika diajak kepada kebaikan. Baginya, dirinya sendiri sudah merupakan sumber kebaikan, sehingga tidak perlu lagi syarahan dari orang lain. Apa lagi kalau orang lain itu dari pihak yang mempunyai keyakinan yang berbeda dengan diri dan kelompoknya. Penggunaan kalimat perintah اتَّقِ اللّهَ (ittaqillāɦ, bertakwalah kepada Allah) menunjukkan bahwa orientasi seruan Nabi kepada manusia ialah mengajak mereka bertakwa kepada Allah. Karena kemuliaan manusia di hadapan-Nya tergantung pada derajat ketakwaannya (49:13), bukan pada variabel-variabel yang lain. Semua variabel, selain ketakwaan, akan sangat mudah terkena penyakit ujub (takjub pada diri sendiri) dan riya (senang dilihat dan dipuji), yang pada akhirnya menjelma menjadi takabbur (sombong) dan zhalim (aniaya). Basis takwa ialah syukur, ilmu, iman, amal, tawakkal, sabar, dan ikhlas. Semua ini mereka tidak senangi karena tidak memungkinkan mereka menempuh jalan pintas (short-cut) untuk meraih peran-peran elitis. Mereka ingin menempati struktur sosial yang tinggi tanpa harus bersusah payah. Mereka melihat bahwa di sekitar Nabi muncul figur-figur baru yang di masa jahiliah hanya berstatus budak dan manusia pariah. Mereka melihat dunia baru yang dibangun Nabi itu sebagai ancaman terhadap eksistensinya. Maka seruan Nabi kepadanya untuk bertakwa dipandangnya sebagai ajakan untuk menerima bekas-bekas budak dan manusia-manusia pariah itu sebagai timpalannya. Bagi mereka—karena sudah telanjur dikuasai oleh semangat aristokrasi dan primordial—itu adalah mimpi di siang bolong. Dan ajakan Nabi itu bagai halilintar yang memekakkan. “Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: ‘Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?’ (Allah berfirman): ‘Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?’.” (6:53)

3). Di ayat lain, sombong atau menyombongkan diri biasanya diterjemahkan dari kata kerja اسْتَكْبَرَ (istakbara)—lihat misalnya di 2:34, 28:39, 38:74, dan 74:23—yang kemudian menjadi pelaku tunggal dengan sebutan مُسْتَكْبِر (mustabir)—lihat 31:7 dan 45:8—atau bentuk jamak مُّسْتَكْبِرُونَ (mustakbirūn)—lihat 16:22, 16:32, 23:67, dan 63:5. Sementara di ayat ini, sombong (terjemahan Departemen Agama RI) atau pride (terjemahan Muhammad Habib Shakir) atau arrogance (terjemahan Abdullah Yusuf Ali) diambil dari kata الْعِزَّةُ (al-‘izzah). Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Alquran Alkarim-nya, الْعِزَّةُ (al-‘izzah) di sini adalah الحمية والغضب (al-hamiyyah wal-ghadlab, meledak-ledak dan penuh amarah). Sebaliknya orang beriman, tiap kali diingatkan dengan nama Allah atau apa saja yang dapat memediasinya untuk sampai kepada-Nya, yang terjadi justru sebaliknya: gemetar hatinya, bertambah imannya, sehingga membuatnya kian bertawakkal kepada-Nya (8:2). Karena bagi orang beriman, nama Allah atau apa saja yang dapat menghubungkannya dengan-Nya, adalah Nama Agung yang menutupi seluruh ego manusia dan seluruh realitas. Sementara bagi orang kafir, nama Allah adalah wasilah untuk membesarkan egonya, mendongkrak kesombongannya, membusungkan dadanya, meninggikan suaranya, merendahkan lawan-lawan pendapatnya. Dan dengan begitu, mereka telah menempatkan dirinya pada posisi Tuhan. Dalam pandangan akal dan Islam, seluruh الْعِزَّةُ (al-‘izzah) itu hanya milik Allah (10:65). Tidak boleh ada makhluk yang memilikinya. Dari Alqamah dari Abdullah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk neraka orang yang di dalam kalbunya ada iman walau hanya seberat biji sawi. Dan tidak akan masuk surga orang yang di dalam kalbunya ada kesombongan walau hanya seberat biji sawi.” (HR. Muslim no. 132). Artinya, iman dan kesombongan tidak akan mungkin bersua di dalam kalbu. Iman menarik manusia mendekat kepada Allah; kesombongan menjauhkan manusia dari-Nya. Iman mendorong manusia melakukan “tebar-kasih”, arogansi menceburkannya ke dalam sikap “pilih-kasih”. Imanlah yang menjadi mesin pendorong seseorang untuk mencari kebenaran dimanapun adanya; dan keangkuhanlah yang membuatnya menolak kebanaran kalau bukan berasal dari kelompoknya. “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Jika mereka melihat tiap-tiap ayat[Ku], mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.” (7:146)

4). Sekarang kita ketemu kata إِثْم (itsmun, dosa) untuk yang keenam kalinya (ayat 85, 173, 182, 188, dan 203). Di ayat 173 poin-4 telah diterangkan bahwa إِثْم (itsmun, dosa) ialah akibat buruk yang diterima oleh jiwa sebagai konsekuensi dari pelanggarannya terhadap hukum-hukum Allah, karena semua hukum Allah adalah demi kemaslahatan jiwa itu sendiri. Orang munafik—serta orang kafir dan musyrik—ditandai oleh penolakan hatinya terhadap kebenaran, dalam hal ini Nabi Muhammad saw selaku pembawa kebenaran. Setiap penolakan terhadap kebenaran berarti “kebatilan”. Artinya, jiwa para penolak tersebut telah dikuasai oleh kebatilan. Dan karena perbuatan atau tindakan adalah jelmaan dari jiwa, maka sudah barang tentu perbuatan dan tindakan para penolak tersebut adalah batil. Itulah sebabnya ayat ini berbunyi: “Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa.”. Kalau kita lihat urutannya, maka yang pertama ialah “penolakan” terhadap kebenaran; kemudian melahirkan sikap الْعِزَّةُ (al-‘izzah, sombong–dengan membangga-banggakan diri); dan akhirnya melakukan perbuatan إِثْم (itsmun, dosa). Selanjutnya, إِثْم (itsmun, dosa) ini kembali menodai dan mengeraskan hatinya, sehingga semakin sering mereka diajak untuk bertakwa kepada Allah, hanya akan menambah kronis penyakit hatinya. Begitulah selanjutnya, berputar-putar bagai lingkaran setan, semakin lama semakin memperparah penyakit hatinya dan semakin memperburuk perbuatannya. Sebagaimana firman Allah: “Dan Kami turunkan dari Alquran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan (tetapi) Alquran itu tidaklah menambah apapun kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (17:82)

5). Karena إِثْم (itsmun, dosa) adalah pelanggaran terhadap fithrah, sampah perbuatan, kotoran yang andai diperlihatkan wujud aslinya di dunia ini niscaya tidak akan ada makhluk yg sanggup mencium baunya, maka tempat yang paling cocok bagi pemiliknya hanyalah Neraka Jahannam: فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ (fa-hasbuɦu jaɦannamu, maka yang pantas baginya ialah neraka jahannam). Sesedikit apapun dosa yang dimiliki seseorang, tidak akan terbuka baginya surga; karena surga adalah tempat yang suci, yang tak akan masuk ke dalamnya selain yang suci pula. Itu sebabnya, seruan masuk surga biasanya di dahului oleh seruan menuju ampunan. “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (3:133) Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak seluruh dosa-dosanya terampuni saat masih di dunia? Kalau begitu alangkah sedikitnya orang yang akan masuk surga? Sepertinya yang berpeluang menikmati surga hanyalah mereka yang masuk kategori ma’shum (terjaga dari dosa). Tetapi jika demikian adanya, rasa-rasanya murka Allah mengalahkan Rahmat-Nya. Padahal Dia sendiri telah memaklumatkan: “…..Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki (saja) sementara rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (7:156) Ingat, Allah juga menyebut Nabi-Nya sebagai rahmat bagi seluruh alam (21:107). Sehingga, menurut pemberitahuan Allah di 4:64, Dia akan mengampuni dosa-dosa yang terbawa dari dunia manakala yang bersangkutan datang terlebih dahulu kepada Rasulullah saw, lalu meminta ampun kepada Allah dan Rasul pun meminta ampunkan untuknya. Sayangnya, kecongkakan dan penolakan para pembuat kerusakan di muka bumi Allah ini justru ditujukan kepada pembawa Risalah-Nya, sehingga tidak mungkinlah Rasulullah nanti di sana akan meminta ampunkan untuknya. Wajarlah jikalau Allah lantas berfirman: فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ (fa-hasbuɦu jaɦannamu, maka yang pantas baginya ialah neraka jahannam). “Shaad, demi Alquran yang mempunyai keagungan. Namun sayangnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit (terhadap Alquran dan pembawanya). (Tidakkah mereka memperhatikan) betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong, padahal (pada waktu datangnya hukuman itu) mereka tidak mungkin lari melepaskan diri.” (38:1-3)

6). Di ujung perjalanan panjang manusia, Allah hanya menyediakan dua tempat peristirahatan terakhir yang permanen: Surga dan Neraka. Surga adalah puncak kebahagiaan dan kesenangan yang tak mungkin bisa dibandingkan dengan kebahagiaan dan kesenangan manapun di dunia ini. Begitu juga Neraka, adalah puncak penderitaan dan kesedihan yang andai seluruh penderitaan dan kesedihan seluruh manusia di dunia ini dikumpulkan jadi satu niscaya belum setara dengannya. Mengenai neraka dan cikal-bakal penghuninya, Allah menggambarkannya seperti ini: “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga hingga unta masuk ke lobang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api dan di atas mereka ada selimut (yang juga dari api)….” (7:40-41) Dan keadaan itu tak akan berakhir, sebab “….Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab….” (4:56) Atau ayat berikut ini: “Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.” (78:21-28) Pantas bukan kalau Allah menyebut neraka jahannam itu sebagai: لَبِئْسَ الْمِهَاد (labi’sal-miɦād, tempat tinggal yang seburuk-buruknya)? “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (3:196-197)

7). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ

[Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah dari Salim bin Abdullah dari ayahnya ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: "Siapa yang menjulurkan pakaiannya (hingga ke bawah mata kaki) dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat kelak." Lalu Abu Bakar berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu dari sarungku terkadang turun sendiri, kecuali jika aku selalu menjaganya?" Lalu Nabi saw bersabda: "Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong."] (Shahih Bukhari no. 5338)

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ رَجُلًا جَمِيلًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي رَجُلٌ حُبِّبَ إِلَيَّ الْجَمَالُ وَأُعْطِيتُ مِنْهُ مَا تَرَى حَتَّى مَا أُحِبُّ أَنْ يَفُوقَنِي أَحَدٌ إِمَّا قَالَ بِشِرَاكِ نَعْلِي وَإِمَّا قَالَ بِشِسْعِ نَعْلِي أَفَمِنْ الْكِبْرِ ذَلِكَ قَالَ لَا وَلَكِنَّ الْكِبْرَ مَنْ بَطِرَ الْحَقَّ وَغَمَطَ النَّاسَ

[Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Muhammad Ibnul Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Muhammad dari Abu Hurairah ia berkata, Seorang laki-laki datang menemui Nabi saw--laki-laki itu seorang yang tampan--dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku menyukai keindahan, dan aku juga diberi keindahan sebagaimana yang engkau lihat, sampai-sampai aku tidak suka jika ada seseorang yang melebihiku--mungkin ia mengatakan, 'meskipun berupa sandal atau tali sandal'--apakah itu bagian dari rasa sombong?" Beliau menjawab: "Tidak. Akan tetapi sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain."] (Sunan Abu Daud no. 3569)

AMALAN PRAKTIS

Salah satu ciri orang yang sombong ialah sensitif. Mudah bereaksi terhadap gerak-gerik lingkungan sekitarnya yang berbeda dengan dirinya. Itu sebabnya wajah orang seperti ini selalu tegang, cenderung cemberut dan sulit tersenyum. Ibadah yang dia lakukan tidak memancarkan cahaya ruhani ke raut wajahnya. Bahkan ajakan untuk bertakwa sekalipun–jika itu datang dari orang yang tidak disenanginya–ditanggapinya dengan arogan dan berbuat dosa dengan memutus tali silaturrahim.

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 206

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

[Dan apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.]

[And when it is said to him, guard against (the punishment of) Allah; pride carries him off to sin, therefore hell is sufficient for him; and certainly it is an evil resting place.]

1). Permulaan ayat ini sama dengan permulaan ayat 11 dan ayat 13 yang berbicara tentang ciri-ciri orang munafik, permulaan ayat 91 yang berbicara tentang sikap bebalnya Bani Israil, dan permulaan ayat 170 yang berbicara tentang orang musyrik. Bedanya, di ayat ini orang ketiga yang dibicarakan berbentuk tunggal, sementara di empat ayat tersebut berbentuk jamak: وَإِذَاقِيلَلَهُمْ (waidzā qīla laɦum, dan apabila dikatakan kepada mereka). Kombinasi kata إِذَا (idzā, apabila) dan قِيلَ (qīla, dikatakan) muncul sebanyak 20 kali dan hanya 2 kali (itupundalam satu ayat) yang bernuansa imani: “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kalian, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (58:11).Artinya, orang beriman, apapun yang dikatakan kepadanya selama itu sejalan dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya, pasti akan diturutinya. Sebaliknya dengan kaum munafik, Bani Israil, dan orang musyrik. Sehingga penggunaan bentuk kalimatإِذَاقِيلَ (waidzā qīla, dan apabila dikatakan) menunjukkan bahwa mereka selalu berbuat kebalikan dari apa yang dikatakan kepadanya. Bagi kaum munafik, ini mempertegas dualitas wajahnya. Yang satu berwajah muslim dan yang satunya lagi berwajah kafir. Dan yang terakhir inilah yang merupakan wajah jiwanya yang sesungguhnya.Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kalian (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (4:61). Bagi Bani Israil, ini menyiratkan sikap kepala batunya terhadap kebenaran. Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kepada (Alquran) yang diturunkan Allah’, mereka berkata: ‘Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’. Dan mereka kafir kepada (Alquran) yang diturunkan sesudahnya, padalah (Alquran) itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: ‘Mengapa dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kalian orang-orang yang beriman?’.” (2:91) Sementara bagi orang musyrik, ini menunjukkan bahwa agama yang benarbukanlah berdasarkan pada kebenaran, tetapi hanya pada apa yang diwarisi dari orang-orang terdahulu; karena mereka telah mencintai dan menyembah para pendahulu mereka lebih dari cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul’. Mereka menjawab: ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya’. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (5:104). Itu sebabnya, semua kebaikan yang dikatakan kepada mereka selalu ditolaknya, kadang tidak dengan frontal, tetapi dengan berbuat sebaliknya.Ciri mereka semua sama pada satu hal: menyombongkan diri terhadap kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Lā ilāɦa illallāɦ (iada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata: Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?’.” (37:35-36)

2). Orang yang tertutup hatinya, ajakan kebaikan kepadanya justru direspon dengan sikap arogan, yang kemudian menjadi penyebab kian tenggelamnya ke dalam lumpur dosa. Apa sebab? Karena orang seperti itu merasa digurui jika diajak kepada kebaikan.Baginya, dirinya sendiri sudah merupakan sumber kebaikan, sehingga tidak perlu lagi syarahan dari orang lain. Apa lagi kalau orang lain itu dari pihak yang mempunyai keyakinan yang berbeda dengan diri dan kelompoknya. Penggunaan kalimat perintahاتَّقِ اللّهَ (ittaqillāɦ, bertakwalah kepada Allah) menunjukkan bahwa orientasi seruan Nabi kepada manusia ialah mengajak mereka bertakwa kepada Allah. Karena kemuliaan manusia di hadapan-Nya tergantung pada derajat ketakwaannya (49:13), bukan pada variabel-variabel yang lain. Semua variabel, selain ketakwaan, akan sangat mudah terkena penyakit ujub (takjub pada diri sendiri) dan riya (senang dilihat dan dipuji), yang pada akhirnya menjelma menjadi takabbur (sombong) dan zhalim (aniaya).Basis takwaialahsyukur, ilmu, iman, amal, tawakkal, sabar, danikhlas. Semuainimerekatidaksenangikarenatidakmemungkinkanmerekamenempuhjalanpintas (short-cut) untukmeraihperan-peranelitis. Merekainginmenempatistruktursosial yang tinggitanpaharusbersusahpayah. Merekamelihatbahwa di sekitarNabimunculfigur-figurbaru yang di masajahiliahhanyaberstatusbudakdanmanusia pariah. Merekamelihatduniabaru yang dibangunNabiitusebagaiancamanterhadapeksistensinya. MakaseruanNabikepadanyauntukbertakwadipandangnyasebagaiajakanuntukmenerimabekas-bekasbudakdanmanusia-manusia pariah itusebagaitimpalannya. Bagimerekakarenasudahtelanjurdikuasaiolehsemangataristokrasidan primordial—ituadalahmimpi di siangbolong. Dan ajakanNabiitubagaihalilintar yang memekakkan. “Dan demikianlahtelah Kami ujisebahagianmereka (orang-orang yang kaya) dengansebahagianmereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: ‘Orang-orang semacaminikah di antarakita yang diberianugeraholeh Allah kepadamereka?’ (Allah berfirman): ‘Tidakkah Allah lebihmengetahuitentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?’.” (6:53)

3). Di ayat lain, sombong atau menyombongkan diri biasanya diterjemahkan dari kata kerja اسْتَكْبَرَ (istakbara)—lihat misalnya di 2:34, 28:39, 38:74, dan 74:23—yang kemudian menjadi pelaku tunggal dengan sebutan مُسْتَكْبِر (mustabir)—lihat 31:7 dan 45:8—atau bentuk jamak مُّسْتَكْبِرُونَ (mustakbirūn)—lihat 16:22, 16:32, 23:67, dan 63:5. Sementara di ayat ini, sombong (terjemahan Departemen Agama RI) atau pride (terjemahan Muhammad Habib Shakir) atau arrogance (terjemahan Abdullah Yusuf Ali) diambil dari kata الْعِزَّةُ (al-‘izzah). Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir AlquranAlkarim-nya, الْعِزَّةُ (al-‘izzah) di sini adalah الحمية والغضب(al-hamiyyahwal-ghadlab, meledak-ledak dan penuh amarah). Sebaliknya orang beriman, tiap kali diingatkan dengan nama Allah atau apa saja yang dapat memediasinya untuk sampai kepada-Nya, yang terjadi justru sebaliknya: gemetar hatinya, bertambah imannya, sehingga membuatnya kian bertawakkal kepada-Nya (8:2). Karena bagi orang beriman, nama Allah atau apa saja yang dapat menghubungkannya dengan-Nya, adalah Nama Agung yang menutupi seluruh ego manusia dan seluruh realitas. Sementara bagi orang kafir, nama Allah adalah wasilah untuk membesarkan egonya, mendongkrak kesombongannya, membusungkan dadanya, meninggikan suaranya, merendahkan lawan-lawan pendapatnya. Dan dengan begitu, mereka telah menempatkan dirinya pada posisi Tuhan. Dalam pandangan akal dan Islam, seluruh الْعِزَّةُ (al-‘izzah) ituhanya milik Allah (10:65). Tidak boleh ada makhluk yang memilikinya. Dari Alqamah dari Abdullah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk neraka orang yang di dalam kalbunya ada iman walau hanya seberat biji sawi. Dan tidak akan masuk surga orang yang di dalam kalbunya ada kesombongan walau hanya seberat biji sawi.” (HR. Muslim no. 132). Artinya, iman dan kesombongan tidak akan mungkin bersua di dalam kalbu. Iman menarik manusia mendekat kepada Allah; kesombongan menjauhkan manusia dari-Nya. Iman mendorong manusia melakukan “tebar-kasih”, arogansi menceburkannya ke dalam sikap “pilih-kasih”. Imanlah yang menjadi mesin pendorong seseorang untuk mencari kebenaran dimanapun adanya; dan keangkuhanlah yang membuatnya menolak kebanaran kalau bukan berasal dari kelompoknya. “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Jika mereka melihat tiap-tiap ayat[Ku], mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikianituadalahkarenamerekamendustakanayat-ayat Kami danmerekaselalulalaidaripadanya.” (7:146)

4). Sekarang kita ketemu kata إِثْم (itsmun, dosa) untuk yang keenam kalinya (ayat 85, 173, 182, 188, dan 203). Di ayat 173 poin-4 telah diterangkan bahwa إِثْم (itsmun, dosa) ialah akibat buruk yang diterima oleh jiwa sebagai konsekuensi dari pelanggarannya terhadap hukum-hukum Allah, karena semua hukum Allah adalah demi kemaslahatan jiwa itu sendiri. Orang munafik—serta orang kafir dan musyrik—ditandai oleh penolakan hatinya terhadap kebenaran, dalam hal ini Nabi Muhammad saw selaku pembawa kebenaran. Setiap penolakan terhadap kebenaran berarti “kebatilan”. Artinya, jiwa para penolak tersebut telah dikuasai oleh kebatilan. Dan karena perbuatan atau tindakan adalah jelmaan dari jiwa, maka sudah barang tentu perbuatan dan tindakan para penolak tersebut adalah batil. Itulah sebabnya ayat ini berbunyi: “Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa.”. Kalau kita lihat urutannya, maka yang pertama ialah “penolakan” terhadap kebenaran; kemudian melahirkan sikap الْعِزَّةُ (al-‘izzah, sombong–dengan membangga-banggakan diri); dan akhirnya melakukan perbuatan إِثْم (itsmun, dosa). Selanjutnya, إِثْم (itsmun, dosa) ini kembali menodai dan mengeraskan hatinya, sehingga semakin sering mereka diajak untuk bertakwa kepada Allah, hanya akan menambah kronis penyakit hatinya. Begitulah selanjutnya, berputar-putar bagai lingkaran setan, semakin lama semakin memperparah penyakit hatinya dan semakin memperburuk perbuatannya. Sebagaimana firman Allah: “Dan Kami turunkan dari Alquransesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan (tetapi) Alquran itu tidaklah menambah apapun kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (17:82)

5). Karena إِثْم (itsmun, dosa) adalah pelanggaran terhadap fithrah, sampah perbuatan, kotoran yang andai diperlihatkan wujud aslinya di dunia ini niscaya tidak akan ada makhluk yg sanggup mencium baunya, maka tempat yang paling cocok bagi pemiliknya hanyalah Neraka Jahannam: فَحَسْبُهُجَهَنَّمُ (fa-hasbuɦujaɦannamu, maka yang pantas baginya ialah neraka jahannam). Sesedikit apapun dosa yang dimiliki seseorang, tidak akan terbuka baginya surga; karena surga adalah tempat yang suci, yang tak akan masuk ke dalamnya selain yang suci pula. Itu sebabnya, seruan masuk surga biasanya di dahului oleh seruan menuju ampunan. “Dan bersegeralahkaliankepadaampunandariTuhanmudankepadasurga yang luasnyaseluaslangitdanbumi yang disediakanuntuk orang-orang yang bertakwa.” (3:133) Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak seluruh dosa-dosanya terampuni saat masih di dunia? Kalau begitu alangkah sedikitnya orang yang akan masuk surga? Sepertinya yang berpeluang menikmati surga hanyalah mereka yang masuk kategori ma’shum(terjaga dari dosa). Tetapi jika demikian adanya, rasa-rasanya murka Allah mengalahkan Rahmat-Nya. Padahal Dia sendiri telah memaklumatkan: “…..Siksa-Ku akanKutimpakankepadasiapa yang Akukehendaki (saja) sementararahmat-Ku meliputisegalasesuatu. MakaakanAkutetapkanrahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang berimankepadaayat-ayat Kami. (7:156) Ingat, Allah juga menyebut Nabi-Nya sebagai rahmat bagi seluruh alam (21:107). Sehingga, menurut pemberitahuan Allah di 4:64, Dia akan mengampuni dosa-dosa yang terbawa dari dunia manakala yang bersangkutan datang terlebih dahulu kepada Rasulullah saw, lalu meminta ampun kepada Allah dan Rasul pun meminta ampunkan untuknya. Sayangnya, kecongkakan dan penolakan para pembuat kerusakan di muka bumi Allah ini justru ditujukan kepada pembawa Risalah-Nya, sehingga tidak mungkinlah Rasulullah nanti di sana akan meminta ampunkan untuknya. Wajarlah jikalau Allah lantas berfirman: فَحَسْبُهُجَهَنَّمُ (fa-hasbuɦujaɦannamu, maka yang pantas baginya ialah neraka jahannam). “Shaad, demi Alquran yang mempunyaikeagungan. Namunsayangnya orang-orang kafiritu (berada)dalamkesombongandanpermusuhan yang sengit (terhadapAlqurandanpembawanya). (Tidakkahmerekamemperhatikan) betapabanyaknyaumatsebelummereka yang telah Kami binasakan, lalumerekamemintatolong, padahal (padawaktudatangnyahukumanitu)merekatidakmungkinlarimelepaskandiri.” (38:1-3)

6). Di ujung perjalanan panjang manusia, Allah hanya menyediakan dua tempat peristirahatan terakhir yang permanen: Surga dan Neraka. Surga adalah puncak kebahagiaan dan kesenangan yang tak mungkin bisa dibandingkan dengan kebahagiaan dan kesenangan manapun di dunia ini. Begitu juga Neraka, adalah puncak penderitaan dan kesedihan yang andai seluruh penderitaan dan kesedihan seluruh manusia di dunia ini dikumpulkan jadi satu niscaya belum setara dengannya. Mengenai neraka dan cikal-bakal penghuninya, Allah menggambarkannya seperti ini: Sesungguhnya orang-orang yang mendustakanayat-ayat Kami danmenyombongkandiriterhadapnya, sekali-kali tidakakandibukakanbagimerekapintu-pintulangitdantidak (pula)merekamasuksurgahinggauntamasukkelobangjarum. Demikianlah Kami memberipembalasankepada orang-orang yang berbuatkejahatan.Merekamempunyaitikartidurdariapidan di atasmerekaadaselimut (yang jugadariapi)….” (7:40-41) Dan keadaan itu tak akan berakhir, sebab “….Setiap kali kulitmerekahangus, Kami gantikulitmerekadengankulit yang lain, supayamerekamerasakanazab….” (4:56) Atau ayat berikut ini: “SesungguhnyanerakaJahannamitu (padanya)adatempatpengintai,lagimenjaditempatkembalibagi orang-orang yang melampauibatas.Merekatinggal di dalamnyaberabad-abadlamanya.Merekatidakmerasakankesejukan di dalamnyadantidak (pula mendapat)minuman,selain air yang mendidihdannanah,sebagaipembalasan yang setimpal.Sesungguhnyamerekatidaktakutkepadahisab,danmerekamendustakanayat-ayat Kami dengansesungguh-sungguhnya.” (78:21-28) Pantas bukan kalau Allah menyebut neraka jahannam itu sebagai: لَبِئْسَ الْمِهَاد(labi’sal-miɦād, tempattinggal yang seburuk-buruknya)?Janganlahsekali-kali kamuterpedayaolehkebebasan orang-orang kafirbergerak di dalamnegeri.Ituhanyalahkesenangansementara, kemudiantempattinggalmerekaialahJahannam; danJahannamituadalahtempat yang seburuk-buruknya.” (3:196-197)

7). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ

[Telahmenceritakankepada kami Ahmad bin Yunustelahmenceritakankepada kami Zuhairtelahmenceritakankepada kami Musa bin 'UqbahdariSalim bin Abdullah dariayahnyara.dariNabi saw.,beliaubersabda: "Siapa yang menjulurkanpakaiannya (hinggakebawahmata kaki) dengansombong, maka Allah tidakakanmelihatnyapadahariKiamatkelak." Lalu Abu Bakarberkata: "WahaiRasulullah, sesungguhnyasalahsatudarisarungkuterkadangturunsendiri, kecualijikaakuselalumenjaganya?" LaluNabi saw bersabda: "Engkaubukantermasuk orang yang melakukanhalitukarenasombong."] (ShahihBukhari no. 5338)

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ رَجُلًا جَمِيلًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي رَجُلٌ حُبِّبَ إِلَيَّ الْجَمَالُ وَأُعْطِيتُ مِنْهُ مَا تَرَى حَتَّى مَا أُحِبُّ أَنْ يَفُوقَنِي أَحَدٌ إِمَّا قَالَ بِشِرَاكِ نَعْلِي وَإِمَّا قَالَ بِشِسْعِ نَعْلِي أَفَمِنْ الْكِبْرِ ذَلِكَ قَالَ لَا وَلَكِنَّ الْكِبْرَ مَنْ بَطِرَ الْحَقَّ وَغَمَطَ النَّاسَ

[Telahmenceritakankepada kami Abu Musa Muhammad IbnulMutsannaberkata, telahmenceritakankepada kami Abdul Wahhabberkata, telahmenceritakankepada kami Hisyamdari Muhammad dari Abu Hurairahiaberkata, Seoranglaki-lakidatangmenemuiNabi saw--laki-lakiituseorang yang tampan--danberkata: "WahaiRasulullah, akumenyukaikeindahan, danakujugadiberikeindahansebagaimana yang engkaulihat, sampai-sampaiakutidaksukajikaadaseseorang yang melebihiku--mungkiniamengatakan, 'meskipunberupa sandal atautali sandal'--apakahitubagiandari rasa sombong?" Beliaumenjawab: "Tidak. Akan tetapisombongadalahmenolakkebenarandanmeremehkan orang lain."] (Sunan Abu Daud no. 3569)

 

AMALAN PRAKTIS

Salah satu ciri orang yang sombongialahsensitif. Mudah bereaksi terhadap gerak-gerik lingkungan sekitarnya yang berbeda dengan dirinya. Itusebabnyawajah orang sepertiiniselalutegang, cenderungcemberutdansulittersenyum. Ibadah yang dialakukantidakmemancarkancahayaruhanikerautwajahnya. Bahkanajakanuntukbertakwasekalipunjikaitudatangdari orang yang tidakdisenanginyaditanggapinyadenganarogandanberbuatdosadenganmemutustalisilaturrahim.

Related Posts

One Response

  1. Deacon2013-08-02 at 8:31 pmReply

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

Leave a Reply