Al-Baqarah ayat 202

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 202by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 202SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 202   أُولَـئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ [Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.] [To these will be allotted what they have earned; and Allah is quick in account.]   1). Kata tunjuk أُولَـئِكَ (ūlāika, mereka) di awal ayat […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 202

 

أُولَـئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

[Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.]
[To these will be allotted what they have earned; and Allah is quick in account.]

 

1). Kata tunjuk أُولَـئِكَ (ūlāika, mereka) di awal ayat ini kembali ke ayat 200 (manusia golongan pertama) dan ayat 201 (manusia golongan kedua). Yaitu bahwa mereka yang beribadah semata dengan tujuan dunia (golongan pertama) dan mereka yang beribadah dengan tujuan dunia dan akhirat (golongan kedua), kelak Allah akan memberikan masing-masing kepadanya imbalan sesuai dengan apa yang mereka usahakan. Adalah tidak adil menurut Allah dan akal sehat manakala seseorang diberikan apa yang tidak menjadi tujuannya. Yang namanya “tujuan” adalah “puncak” yang hendak dicapai, sehingga tidak mungkin seseorang akan mencapai lebih dari apa yang menjadi tujuannya, sebagaimana tidak mungkinnya seseorang mendaki melampaui puncak. Sebab yang disebut puncak, ya, ujung. Kepuasan setiap orang ialah manakala yang bersangkutan telah mencapai tujuannya. Kepuasan ahli dunia terletak pada hasil-hasil duniawi yang mereka peroleh. Kepuasan ahli dunia dan akhirat terletak pada keberhasilan dunia dan akhiratnya. Kekacauan gagasan muncul bilamana kita secara pribadi menuntut Allah memberikan sesuatu—misalnya pahala dan surga—yang bukan menjadi tujuan hidup dari orang tersebut. Kita lantas bersedih pada apa yang orang tersebut justru tidak bersedih atasnya. Di sini kita tidak saja bersikap tidak adil pada orang tersebut, tapi juga tidak bersikap adil kepada Allah. Sikap kita itu jelas-jelas menggugat keadilan Tuhan. Dan menggugat keadilan Tuhan sama saja dengan mempromosikan diri sendiri lebih adil dari Tuhan. Apabila diri sendiri telah merasa lebih adil dari Tuhan, maka tamatlah sudah pembicaraan kita soal teologi. “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang tertentu waktunya. Barangsiapa menghendaki keuntungan dunia, niscaya Kami berikan kepadanya keuntungan dunia itu, dan barangsiapa menghendaki keuntungan akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya keuntungan akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (3:145)

 

2). Di ayat ini kita berkenalan dengan terminologi yang sudah sangat sering dipakai dalam percakapan sehari-hari: نَصِيبٌ (nashībun, nasib). Kata ini, beserta penambahan kata ganti yang menyertainya, muncul sebanyak 21 kali. Ada yang kemunculannya berkaitan dengan warisan (sebanyak 3 kali di 4:7 dan sekali di 4:33).  Ada yang berkaitan dengan penganut agama-agama samawi lainnya (sebanyak 6 kali: 3:23, 4:44, 4:51, 4:53, dan 7:37). Ada yang berkaitan dengan penyembahan terhadap berhala-berhala (sebanyak 3 kali: 4:118, 6:136 dan 16:56). Ada yang berbicara tentang orang-orang munafik (sebanyak 1 kali: 4:141). Dan selebihnya adalah berkenaan dengan konsep umum dari kata نَصِيبٌ (nashībun, nasib) itu. Tetapi apapun yang dibicarakannya, semuanya mengacu kepada satu hal: “Manusia akan mendapatkan sesuai atau setara dengan apa yang telah diusahakannya.” Yaitu bahwa نَصِيبٌ (nashībun, nasib) adalah akibat dari suatu sebab yang disebut اكتساب (iktisāb, usaha). Nasib bukanlah akibat yang jatuh begitu saja dari langit, sehingga tidaklah benar manakala seseorang menyebut nasib-nya lantas menunjuk ke langit. Cara seperti itu sama saja dengan mengambinghitamkan langit seraya bercuci tangan dari kesalahan atau ketiadaan usaha sendiri. Nasib harus dimulai dari usaha sendiri, baru kemudian melibatkan ‘langit’. Hukum ini bersifat umum, bahkan tidak mengenal perbedaan jenis kelamin. “Dan janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kalian lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (4:32) Melibatkan ‘langit’ dalam usaha itulah yang disebut “doa”. Karena seperti firman Allah di 4:32 tadi, “…mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

 

3). Maka kalau ada orang yang berhasil dalam hidupnya, tidak ada alasan untuk iri hati kepadanya. Baik itu kebaikan حَسَنَة (hasanah, kebaikan); baik itu keburukan سَيِّئَة (sayyiah, keburukan). Karena Allah telah menguncinya dengan sebuah pernyataaan tegas: لَهُمْ نَصِيبٌ مِّمَّا كَسَبُواْ (laɦum nashībun mimmā kasabū, bagi mereka apa yang mereka telah usahakan). Kalau ingin seperti mereka, hanya ada satu jalan ke arah itu: berusaha dengan tekun seperti ketekunan usaha mereka, bekerja maksimal seperti kerja maksimal mereka, berpikir keras seperti mereka berpikir keras. Kalau ingin menghilangkan kejahatan, bekerjalah melebih kerja keras para pelaku kejahatan. Berkreasilah melahirkan kultur spiritualisme melebihi kreativitas mereka dalam mempromosikan kultur hedonisme. Beribadahlah kepada Allah dengan khusyuk melebihi ke-‘khusyuk’-an mereka menyembah benda-benda. Pada saat lahir, Allah memberikan modal yang sama kepada semua manusia, tanpa melihat latar belakang orang tua dan masyarakatnya. Semua manusia lahir dalam keadaan tidak membawa apa-apa, selain tubuh dan akal pikiran. Tanpa benda-benda, tanpa budaya-budaya. Semua manusia lahir di bumi yang sama, yang kepadanya diberikan hak yang sama terhadap daratan, lautan, dan udara. Yang kepadanya diberikan akses yang sama terhadap matahari, rembulan, dan lelangit. Semuanya merupakan milik bersama. Kekayaannya merupakan kekayaan bersama. Berapa bagian yang dapat manusia nikmati dari bagian-bagian bumi dan alam semesta itu, sepenuhnya terpulang kepada usaha masing-masing. Siapakah yang jadi pemenang di dunia ini? Tergantung siapa yang paling optimal usahanya. Para pekerja duniawi akan mendapatkan jerih payahnya di dunia. Para pekerja ukhrawi akan mendapatkan bagiannya di dunia dan di akhirat. “Barangsiapa yang menghendaki hasil di akhirat akan Kami tambah hasil itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki hasil di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari hasil dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (42:20)

 

4). Semua itu adalah hukum; yakni ketetapan-ketetapan dan ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh Allah. Dan hukum membuat semuanya bisa dikalkulasi: وَاللّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (wallāɦu sarī’ul-hisāb, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya). Andai kata manusia mampu menjangkau semua variabel yang berpengaruh pada terwujudnya suatu peristiwa, niscaya manusia akan mampu mengetahui dengan presisi yang tepat apa, kapan, dan bagaimana kelak wujud peristiwa atau nasib yang akan menimpanya. Sayangnya, manusia diciptakan dengan segudang keterbatasan. Untuk yang empirik saja, masih berjuta rahasia alam terbentang di hadapan panca inderanya. Bagaimana pula dengan yang meta natural dan meta rasional. Tetapi bagi Allah, tidak ada yang tersembunyi. Karena semuanya terjadi di dalam pikiran-Nya. Di dalam ilmu-Nya. Di dalam wilayah kekuasaan-Nya. Kata سَرِيع (sarī’, sangat cepat), bagi Allah, bukanlah dalam maknanya yang berwaktu, seperti bayangan manusia. Melainkan dalam maknanya yang majasi, agar manusia dapat memahami ‘perbuatan’-Nya. Dalam menghitung, Dia tidak butuh ruang dan waktu. Juga tidak butuh variabel-variabel. Tidak butuh formula-formula dan rumus-rumus. Tidak butuh perhitungan-perhitungan. Tidak butuh angka-angka dan kata-kata. Semua kebinekaan yang terhampar di halaman indera dan nalar manusia terjadi dalam ketunggalan Wujud dan Zat-Nya. Sehingga, bahkan, jauh sebelum peristiwa itu terjadi, pun Dia sudah mengetahuinya. Sebab rasio manusia—yang digunakan untuk memilih dan menghitung langkah-langkah pewujudan suatu peristiwa—pun berada di dalam pikiran-Nya. Ketika Allah menutup ayat ini dengan ungkapan وَاللّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (wallāɦu sarī’ul-hisāb, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya), yang Dia kehendaki ialah agar manusia mengerti bahwasanya perbuatan manusia dan perbuatan-Nya tidak ada jarak. Tidak ada jarak waktu. Tidak ada jarak ruang. Karena ruang dan waktu adalah juga ‘perbuatan’-Nya. “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat perhitungan-Nya. Dan sungguh orang-orang kafir sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu.” (13:41-42)

 

5). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا رَأَى الصُّوَرَ فِي الْبَيْتِ لَمْ يَدْخُلْ حَتَّى أَمَرَ بِهَا فَمُحِيَتْ وَرَأَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَام بِأَيْدِيهِمَا الْأَزْلَامُ فَقَالَ قَاتَلَهُمْ اللَّهُ وَاللَّهِ إِنْ اسْتَقْسَمَا بِالْأَزْلَامِ قَطُّ

[Telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Ma'mar telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ra(ma) bahwa Nabi saw ketika melihat patung di dalam al-Bait (Ka'bah) beliau tidak memasukinya hingga beliau perintahkan agar dibersihkan. Dan beliau melihat ada patung Nabi Ibrahim dan Ismail yang pada tangan keduanya ada azlam (anak panah), maka beliau bersabda: “Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah keduanya (yaitu Ibrahim dan Ismail) sama sekali tidak pernah (mengajarkan) mengundi nasib (dengan melempar anak panah)”.] (Shahih Bukhari no. 3103)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Apa yang Anda kehendaki dalam kehidupan ini? Kalau ingin dunia, bekerjalah bersungguh-sungguh untuk dunia. Kalau ingin akhirat, bekerjalah juga bersungguh-sungguh untuk akhirat. Tetapi ketahuilah, bekerja untuk mencapai yang dekat, tidak mungkin sampai ke tempat yang jauh. Bekerja untuk yang jauh, sudah pasti akan mendapatkan dan melewati yang dekat. Karena tidak mungkin mencapai yang jauh sebelum merasakan apa yang dekat dengan Anda. Maka siapa saja yang bekerja untuk akhirat, niscaya dunianya pun pasti berbinar-binar. Kalau tidak, jangan-jangan Anda memang tidak sedang berbuat untuk dunia, juga tidak untuk akhirat.

Related Posts

Leave a Reply