Al-Baqarah ayat 2

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 2by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 2SURAT AL-BAQARAH Ayat 2 [Itulah al-Kitab/al-Qur'an (yang) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang bertaqwa]. 1). “Dzālika” adalah kata tunjuk jauh (isim isyārah lil ba’id), “itu”; “hādza” adalah kata tunjuk dekat (isim isyārah lil qaryb), “ini”. Yang menggelitik, kenapa Allah di sini menggunakan “dzālika” dan bukan “hādza”? Bukan hanya di sini, tetapi semua surat yang […]

SURAT AL-BAQARAH Ayat 2

[Itulah al-Kitab/al-Qur'an (yang) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang bertaqwa].

1). “Dzālika” adalah kata tunjuk jauh (isim isyārah lil ba’id), “itu”; “hādza” adalah kata tunjuk dekat (isim isyārah lil qaryb), “ini”. Yang menggelitik, kenapa Allah di sini menggunakan “dzālika” dan bukan “hādza”? Bukan hanya di sini, tetapi semua surat yang diawali huruf muqattha’ah yang disusul oleh isim isyārah selalu menggunakan kata tunjuk jauh (lil ba’id). Bedanya, ada bentuk laki-laki (dzālika) ada bentuk perempuan (tilka)—misal pada S.10, S.12, S.13. Jawaban yang mungkin: Pertama, begitu terucap oleh Nabi dan tertulis dalam bentuk al-Kitab maka al-Qur’an ‘turun’ dari ‘langit’ menuju ke ‘bumi’. Konsekuensinya, selain harus menggunakan bahasa ‘bumi’, bahasa manusia, yaitu Bahasa Arab, juga harus menggunaan kata tunjuk jauh (dzālika, tilka). Karena serta-merta muncul ‘jarak’ antara Yang Mewahyukan (Allah) dan wahyu yang terbukukan (al-Kitab). Kedua, Allah dari ‘atas’ sana memenuhi permohonan kita di Surat al-Fatihah ayat 6 yang meminta PETUNJUK (hudan). Saat kita sedang ‘memegang’ al-Qur’an, Allah menjawab: “Itulah al-Kitab…… petunjuk (hudan) bagi orang-orang bertaqwa”. Sehingga, dengan begitu, petunjuk (hudan atau hidayah) bukanlah sesuatu yang misterius, yang datang ujug-ujug dan acak kepada sesorang.

2). Al-Kitab berasal dari kata ka-ta-ba, yak-tu-bu (to write, pen, compile, write down; to compose, draw up, draft; to predestine) yang sepadan dengan har-ra-ra (to edit) dan al-la-fa (to form, set up, establish; to constitute, make up). Dari semua itu, arti kitāb bisa disimpulkan sebagai “buku” (book), “kompilasi” (compolation), “surat” (letter), “catatan” (note), dan “risalah” (message). Kelima pengertian tersebut meniscayakan adanya “penyusun” atau “pengarang”. Ketika merujuk kepada al-Kitab, penyusun atau pengarang tersebut adalah Allah. Dan sebagaimana buku karangan yang lain yang mencerminkan pikiran pengarangnya, al-Kitab pun juga berisi pikiran Pengarangnya. Dan karena seluruh realitas merupakan jelmaan dari Rahman-Nya yang memancar dari ‘pikiran’-Nya, maka dapat dipastikan bahwa seluruh realitas itu sepadan dengan al-Qur’an. Sehingga bisa dibilang bahwa al-Kitab adalah al-Qur’an yang tertulis sementara seluruh realitas adalah al-Qur’an yang tercipta. Keduanya tidak mungkin saling bertentangan apalagi saling menegasikan. Karena keduanya mempunyai hakikat yang sama: ‘pikiran’ Allah. Sehingga baik membaca al-Qur’an ataupun membaca realitas (termasuk alam semesta ini) sama dengan membaca pikiran Allah. “Al-Rahman. Dia (yang) mengajarkan al-Qur’an. Dia (juga yang) menciptakan manusia. Dia (pula) yang mengajarkan penjelasan(nya).” (55:1-4)

3). Lā rayba fyhi (tidak ada keraguan di dalamnya). Lā rayba (tidak ada keraguan) adalah nama lain dari yaqyn (yakin). Jika masih ada sedikit saja—walau hanya sebesar zarah—keraguan, maka belum berhak disebut yakin. (Bolehkah kita meragukan pernyataan itu? Boleh, tapi argumennya nanti kita bangun saat membahas ayat 23). Allah ingin mengatakan, dalam al-Qur’an ini tidak tersisa sedikit pun celah sebagai pintu masuknya keraguan. Kalau kita ada keraguan padanya, maka masalahnya bukan pada yang dibaca tapi pada yang membaca. Inilah yang menjadi alasan kalau al-Qur’an untuk bisa berperan sebagai PETUNJUK (hudan), sebab syarat pertama yang mutlak dipenuhi oleh sesuatu yang akan menjadi petunjuk ialah meyakinkan. Manakala syarat ini gagal dipenuhi maka seribu satu syarat berikutnya tidak bernilai sama sekali.

4). Di sini disebut hudan lilmuttaqiyn (petunjuk untuk orang bertaqwa), sementara di tempat lain (2:185) disebut hudan linnāsi [petunjuk untuk (seluruh) manusia]. Bukankah ini bertentangan? Bukan. Tidak semua yang berbeda, secara otomatis bertentangan. Terma “umum” dan terma “khusus” bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya hanya menjelaskan strata inklusivitas (cakupan keterlibatan). Hudan linnāsi menjelaskan bahwa al-Qur’an cocok dan sesuai untuk seluruh manusia. Baik dalam pengertian isinya bisa difahami oleh seluruh manusia berakal, ataupun dalam pengertian bahwa hukum-hukum dan ajaran-ajarannya sejalan dengan akal pikiran manusia. Inilah sifat “umum” dari al-Qur’an. Kendati demikian, karena kitab ini merupakan ‘pikiran’ Tuhan, maka untuk memahaminya secara menyeluruh dan sempurna, syaratnya tidak boleh ada jedah antara pembaca dan pengarang. Pembaca, karenanya, mutlak mendekati pengarangnya. Keadaan mendekat kepada pengarang inilah yang disebut takwa. Kedekatan ini berproses sesuai dengan derajat kesucian jiwa. Hingga pada tingkat la yamassuhu illal muthahharun [tidak ada yang bisa menyentuhnya (secara sempurna dan menyeluruh) kecuali orang-orang yang tersucikan] (56:79).

 

AMALAN PRAKTISJika Anda membaca al-Qur’an kemudian di benak Anda muncul keraguan pada ayat tertentu, cobalah membalik keadaan itu dengan menjadikan diri Anda sebagai obyek keraguan tersebut. Keraguan itu muncul sangat mungkin karena Anda bermasalah secara ruhani, terutama dalam kaitannya dengan kesucian jiwa. Cobalah jujur pada diri sendiri, sebelum ‘curiga’ pada al-Qur’an.

Related Posts

Leave a Reply