Al-Baqarah ayat 196

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 196by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 196SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 196   وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 196

 

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَن لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

[Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kalian terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kalian mencukur (rambut) kepalamu sebelum hewan korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kalian telah (merasa) aman, maka sesiapa yang (mengambil haji) tamattu’ dengan mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) hewan korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kalian telah kembali (ke kampung halamannya). Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. (Kewajiban membayar fidyah) itu bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.]

[And complete the Hajj or 'umra in the service of Allah. But if ye are prevented (From completing it), send an offering for sacrifice, such as ye may find, and do not shave your heads until the offering reaches the place of sacrifice. And if any of you is ill, or has an ailment in his scalp, (Necessitating shaving), (He should) in compensation either fast, or feed the poor, or offer sacrifice; and when ye are in peaceful conditions (again), if any one wishes to continue the 'umra on to the hajj, He must make an offering, such as he can afford, but if he cannot afford it, He should fast three days during the hajj and seven days on his return, Making ten days in all. This is for those whose household is not in (the precincts of) the Sacred Mosque. And fear Allah, and know that Allah Is strict in punishment.]

 

1). Tema kita sekarang bergeser ke masalah haji. Tetapi permulaan ayat didahului oleh hruf وَ (wa, dan)— وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ(wa atimmūl-hajja wal-‘umrata lillāɦi, dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah)—yang menunjukkan kontinyuitasnya dari ayat-ayat sebelumnya. Tentang perang? Ya, tentang perang. Karena asbabun-nuzul (sebab-sebab turunya ayat) dari ayat-ayat yang kita bahas sejauh ini ialah berkenaan dengan peristiwa setahun paska Perjanjian Hudaibiyah. Sepertimana difahami bahwa pada bulan Zulqaiddah tahun ke-6 Hijriyah, bertepatan dengan bulan Maret 628M, dalam perjalanannya bersama sekitar 1400 orang untuk melakukan umrah, Rasulullah dipaksa berhenti di Hudaibiyah dan dilarang memasuki kota Mekah. Isi Perjanjian Hudaibiyah: Satu, orang Islam tidak boleh mengerjakan umrah pada tahun itu. Tetapi boleh mengerjakan pada tahun berikutnya dengan membawa pedang yang tersarung, dan berada di Mekah tidak lebih dari 3 hari. Dua, gencatan senjata selama 10 tahun. Dalam tempo itu kedua pihak tidak boleh mengkhianati dan mengingkari perjanjian. Tiga, orang kafir Quraisy yang masuk ke Madinah, kendati telah Islam, harus dipulangkan ke Mekah. Empat, orang Islam Madinah yang masuk ke Mekah, tidak boleh dikembalikan ke Madinah. Lima, kaum Musyrik Mekah dan Islam Madinah boleh membuat perjanjian dengan pihak mana saja yang mereka sukai. Enam, kedua belah pihak tidak boleh membantu kaum yang bersengketa atau berperang.

Berdasarkan poin satu tadi, maka Nabi pun melaksanakan umrah pada tahun berikutnya. Dan ayat-ayat yang kita bahas sejauh ini adalah berkenaan dengan umrah kali ini. Setelah membahas perang dan soal-soal yang berkaitan dengannya (ayat 190-195), kini Allah memerintahkan Nabi menyempurnakan perjalanan umrahnya dengan segala kemungkinan-kemungkinannya: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ (wa atimmūl-hajja wal-‘umrata lillāɦi, dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah).Sesungguhnya Shafā dan Marwah adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (2:158)

 

2). Kemungkinan paling pahitnya ialah terkepung (ihshar) sehingga akses untuk menyempurnakan haji dan umrah tertutup. Seandainya ini benar-benar terjadi, apa yang harus dilakukan? Jawabannya: فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ [fa in uhshirtum fa mā-staysara minal-ɦadyi, jika kalian terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat]. Setelah penyembelihan selesai dan tahallul (gunting rambut) dilakukan, maka selesailah seluruh rangkaian haji dan umrah, pakaian ihram dan larangan-larangan selama berihram sudah boleh ditanggalkan. Kewajiban-kewajiban lain yang terkait dengan tempat-tempat ibadah haji dan umrah, secara otomatis menjadi gugur. Tetapi apakah haji dan umrah yang sesimpel ini diterima oleh Allah? Ya, pasti diterima, karena yang mengatakan ini ialah Allah sendiri. Ingat, kita sekarang tengah membahas ayat suci yang datang dari Allah. Karena, melalui ayat ini, maklumat itu datang dari Tuhannya Ka’bah, Tuhannya situs-situs haji dan umrah, maka keraguan tentangnya pun tidak boleh muncul sesedikit apapun. Manasik ini datang dari-Nya, maka Dia pulalah yang berhak mengatakan benar tidaknya sebuah pelaksanaan manasik. Dengan catatan: وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ (wa lā tahliqū ru-usakum hattā yablughal-ɦadyu mahillaɦu, dan jangan kalian mencukur (rambut) kepalamu sebelum hewan korban sampai di tempat penyembelihannya). Apabila ketentuan ini dilanggar, barulah haji dan umrahnya perlu dipermasalahkan. Karena itu artinya melanggar manasik. Esensi yang bisa kita tangkap dari pelaksanaan haji dan umrah yang terhalang ini ialah “keyakinan akan keberadaan Allah dan kepatuhan akan peraturan-peraturannya, sesederhana apapun peraturan itu”. Karena dalam hal peraturan, bukan besar kecilnya yang dilihat, tetapi kedisplinan menegakkannya. “Dan kepada Allah-lah bersujud apa yang ada di langit dan di bumi, (yaitu) makhluk melata dan para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhannya yang ada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada malaikat-malaikat tersebut).” (16:49-50)

 

3). Aturan haji dan umrah tadi mengalami penyederhanaan sedemikian rupa karena keadaannya memang darurat. Hebatnya, bahkan di dalam keadaan darurat pun, oleh Allah, masih juga dibuka pintu darurat. Yaitu, kalau toh terpaksa harus menggunting atau mencukur rambut sebelum hewan korban sampai di tempat penyembelihannya, manasiknya pun dinilai sempurna asalkan membayar fidyah (pengganti ibadah yang ditinggalkan karena darurat). Bunyi hukumnya: فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ [fa man kāna minkum marīdlan aw biɦi adzan min ra’siɦi fa fidyatun min shiyāmin aw shadaqatin aw nusukin, jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkorban]. Perhatikan, dalam hal jenis-jenis fidyah ini, Allah menggunakan kata أَوْ (aw, atau), yang bermakna bukan semuanya tapi salah satunya: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Pertanyaannya mungkin, kenapa harus membayar fidyah, padahal sakit atau gangguan di kepala bukanlah kehendak pribadi? Jawaban atas pertanyaan ini hampir sama dengan jawaban atas pertanyaan serupa berkenaan dengan wajibnya wanita menstruasi mengganti puasanya di hari-hari yang lain (baca kembali ayat 185 poin 5). Hikmah yang bisa diambil dari sini ialah pentingnya menjaga kesehatan, karena orang yang sakit atau mengalami gangguan tertentu di tubuhnya, sadar atau tidak, sedikit atau banyak, sebetulnya ada unsur kelalaian di dalamnya. “Ka’ab bin Ujrah bercerita tentang fidyah puasa. (Katanya), saya pernah dibawa menghadap Rasulullah saw sementara kutu-kutu telah bertebaran di wajahku. Maka beliau berkata: ‘Saya melihat penyakitmu sudah demikian parah, apakah kamu mempunyai seekor kambing?’ Saya menjawab: ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Berpuasalah tiga hari, atau memberi makan kepada enam orang miskin yakni sebanyak tetengah sha’ (sekitar 3,5 liter, pen.) untuk setiap orang dan cukurlah rambutmu’.” (Shahih Bukhari no. 4155)

 

4). Itu tadi yang darurat. Sekarang yang normalnya: فَإِذَا أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ [fa idzā amintum fa man tamatta’a bil-‘umrati ilāl-hajji fa māstaysara minal-ɦadyi, apabila kalian telah (merasa) aman, maka sesiapa yang (mengambil haji) tamattu’ dengan mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) hewan kurban yang mudah didapat]. Di awal ayat, kata HAJI dan UMRAH disebutkan secara terpisah: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ (wa atimmūl-hajja wal-‘umrata lillāɦi, dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah). Artinya, keduanya adalah dua ibadah yang berbeda; tetapi keduanya bisa dikorelasikan. Bentuk-bentuk korelasi antara keduanyalah yang melahirkan istilah haji ifrad (umrah dan haji masing-masing berdiri sendiri), haji tamattu’ (umrah bersambung ke haji), dan haji qiran (menyatu tak terpisah). Yang diperkarakan di ayat ini ialah yang tamattu’-nya. Secara bahasa, tamattu’ (mut’ah) artinya “bersenang-senang”. Disebut demikian karena umrah dan haji dilakukan pada musim yang sama dengan mendahulukan umrah yang bersambung kepada pelaksanaan haji. Jarak antara keduanya digunakan untuk “bersenang-senang”, karena setalah ber-tahallul atau taqshir untuk umrah-nya (yakni menggunting rambut setelah selesai sa’i antara Shafa dan Marwah), pakaian ihram sudah bisa dilepas dan larangan-larangan selama berihram sudah tidak lagi mengikat. Inilah yang paling cocok bagi mereka yang bukan penduduk Mekah, tetapi sebagai tambahannya, harus menyembelih ɦadyu (hewan kurban) sebanyak satu ekor kambing pada hari nahar (10 Zulhijjah) atau di hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijjah). “Dari Imran ra berkata: ‘Kami melaksanakan haji dengan cara tamattu’ pada masa hidup Rasulullah saw, maka turunlah ayat (2:196)….” (Shahih Bukhari no. 1469)

 

5). Karena haji tamattu’ mewajibkan ɦadyu (hewan kurban), lalu bagaimana dengan mereka yang tidak sanggup untuk mengadakannya? Agama adalah solusi: فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ [fa man lam yajid fa shiyāmu tsalātsati ayyaāmin fīl-hajji wa sab’atin idzā raja’tum, tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kalian telah kembali (ke kampung halamannya). Itulah sepuluh (hari) yang sempurna]. Di sini kita melihat hubungan yang sangat erat antara puasa, haji, dan kurban. Pelaksanaan haji didahului oleh ibadah puasa Ramadlan; diantara alasannya karena haji dan kurban butuh bekal takwa (lihat ayat berikutnya, 197 dan 22:37), sementara tujuan puasa ialah takwa (lihat ayat 183). Apabila dalam pelaksanaan haji ada yang tidak sanggup menyembelih ɦadyu (hewan kurban), substitusinya ialah puasa. Haji adalah memasuki Baitullah, rumah sang Kekasih, untuk ber-tamattu’, bersenang-senang, bermesraan, memadu kasih, ber-‘asyik-ma’syuk dengan-Nya, yang selama ini telah lama dirindukan. Dan orang yang sudah sampai ke Rumah-Nya, bertawaf menyatu dengan-Nya, meleburkan seluruh ego-nya ke dalam Ego-Nya, menyangkal aku-nya dan mengafirmasi Aku-Nya. Haji adalah gerak dari yang majemuk menuju ke yang Tunggal. Haji adalah berkata “Selamat Tinggal” kepada sifat-sifat hewaniah, karena telah berhasil menyerap sifat-sifat ilahiah. Itu sebabnya orang yang telah berhaji tidak mungkin lagii memiliki sifat-sifat rendah seperti itu; dilambangkan dengan menyembelih seekor ɦadyu (hewan kurban). Kalau tidak sanggup—karena alasan finansial atau karena kelangkaan—maka diganti dengan puasa. Kenapa puasa? Sebab, pada hakikatnya, puasa juga adalah menyembelih ɦadyu (hewan kurban) yang selama ini merumput, dan sekaligus berkuasa, di ladang perut dan sekitarnya. Singkatnya, haji adalah ibadah penyerahan diri secara total kepada Allah, menyembelih ɦadyu (hewan kurban) adalah menyingkirkan tirai penghalang penyerahan diri tersebut, sementara puasa adalah perlawanan hidup-mati terhadap hal-hal yang dapat mengembalikan tirai itu: makan, minum, dan hubungan seksual. Haji adalah menanggalkan simbol-simbol kepuasan sosial (apa yang ditampilkan), menyembelih ɦadyu (hewan kurban) adalah membunuh simbol-simbol kesenangan psikologis (apa yang dirasakan), dan puasa meninggalkan simbol-simbol kepuasan biologis (apa yang mengenakkan). Kepaduan antara ketiganyalah yang melahirkan kesempurnaan. “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (22:27:29)

 

6). Yang mengusik untuk dipertanyakan ialah, apa hikmah di balik kata-kata “maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kalian telah kembali (ke kampung halamannya)”. Kenapa mesti angka 3 (tiga) dan 7 (tujuh) kaitannya dengan berpuasa? Karena Alquran adalah Kitab Suci yang berarti tak satupun kata-katanya yang sia-sia, maka tentu tidak salah manakala kita coba mencari-cari hikmah di balik angka-angka tersebut. Ingat, puasa adalah perang melawan sifat-sifat yang menjauhak seorang hamba dari Khaliq-nya. Karena sifat-sifat itu bergradasi, maka perang pun bergradasi. Gradasi paling rendah ialah sifat-sifat kesenangan biologis yang diwakili oleh 3 (tiga) musuh utama: makan, minum, dan syahwat. Ketiga musuh ini tidak boleh memasuki Tanah Haram, maka puasa yang 3 (tiga) hari harus dilakukan di sini; tiap satu hari puasa masing-masing membunuh satu musuh. Sekembali ke tanah air, masih ada 7 (tujuh) lagi musuh yang menunggu: 5 (lima) indera lahir dan 2 (dua) indera batin. Yang 5 (lima) indera lahir adalah panca indera: mata, telinga, mulut, hidung, dan kulit. Yang 2 (dua) indera batin adalah: akal dam bashirah. Akal adalah alat untuk mengetahui benar salahnya suatu keberadaan. Dan karena keberadaan ini bertingkat-tingkat, dari yang paling rendah ke yang Paling Pinggi, dari yang majemuk ke yang Tunggal, maka akal menjadi lalai manakala berhenti memikirkan hal-hal yang cetek saja. Di sinilah akal menjadi musuh. Padahal fungsi akal adalah untuk mengantarkan pemiliknya sampai ke Puncak. Sedangkan bashirah adalah alat untuk menyaksikankan keberadaan (wujud) Paling Tinggi. Untuk mengikat pemiliknya menjadi satu kesatuan tak terpisahkan dengan Yang Tunggal, sehingga yang menyaksikan dan yang disaksikan menjadi utuh. Inilah kesenangan sejati, yang di dalamnya inheren ketenangan dan kemenangan. Ini pulalah hakikat tauhid. Sayangnya, mayoritas manusia menganggurkan bashirah-nya di dalam timbunan kesenangan-kesenangan semu yang tak sedikit pun mengandung ketenangan, apalagi kemenangan. Di sinilah bashirah menjadi musuh. Tujuh (7) hari puasa di kampung halaman adalah perlawanan terhadap ketujuh musuh bebuyutan itu. Setelah berpuasa 3 (tiga) hari di Tnah Suci dan 7 (tujuh) hari di tanah air, Tuhan lantas mengatakan: تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ [tilka ‘asyaratun kāmilatun, itulah sepuluh (hari) yang sempurna]. Itulah kesempurnaan. Itulah saat ketika Alquran hadir pada jiwa seseorang. “Bahkan manusia itu pada dirinya ada bashirah. (Sehingga dapat menyaksikan sendiri perbuatan-perbuatan, dan tak mungkin menyangkalnya) meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (tergesa-gesa membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” (75:14-17)

 

7). Itu sebabnya haji tamattu’ dan aturan 3 (tiga) dan 7 (tujuh)-nya hanya diberlakukan bagi mereka yang bukan penduduk Msjidil Haram: ذَٰلِكَ لِمَن لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ [dzālika liman lam yakun aɦluɦu hādlirīl-masjidil-harām, (kewajiban membayar fidyah) itu (berlaku) bagi orang-orang yang keluarganya tidak menetap (di sekitar) Masjidil Haram (yaitu yang bukan penduduk kota Mekah)]. Karena secara simbolis Baitullah adalah Rumah Allah, maka praktis—secara maknawi—penduduk Masjidil Haram adalah orang-orang yang sudah berada di Puncak dan menyatu dengan Yang paling Tinggi. Perjuangan mereka sudah selesai. Mereka tidak mungkin lagi dikerjain oleh Iblis dan bala tentaranya. Mereka sudah terpelihara. Mereka ini diwakili oleh Ahli Bayt-nya Nabi Ibrahim dan dzurriyat-nya (baca kembali ayat 124-130). Dan merekalah yang punya hak ulayat dan hak wilayah terhadap Masjidil Haram dan orang-orang dari seluruh penjuru dunia yang mengikatkan jiwanya dengan tempat suci itu. Untuk pengakuan ini dibutuhkan takwa, karena pengingkaran atasnya akan mengundang azab yang keras: وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (wattaqūllāɦa wa’lamū annallāɦa syadīdul-‘iqāb, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya). Bandingkan dengan buntut ayat 194: وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (wattaqūllāɦa wa’lamū annallāɦa ma’al-muttaqīn, bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa). Ayat 194 berisi harapan, sedangkan ayat 196 ini berisi ancaman. Artinya, siapa saja yang melanggar hak Ahli Masjidil Haram tadi, niscaya akan berakhir dengan penderitaan dan kebinasaan, individu ataupun kelompok, oligarki ataupun monarki.  “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: ‘Dan kepada orang yang ingkarpun Aku beri kesenangan sementara, (tetapi) kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali’.” (2:126)

 

8. Hadis Nabi saw.:

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي مُوسَى عَنْ أَبِي مُوسَى أَنَّهُ كَانَ يُفْتِي بِالْمُتْعَةِ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ رُوَيْدَكَ بِبَعْضِ فُتْيَاكَ فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ فِي النُّسُكِ بَعْدُ حَتَّى لَقِيَهُ بَعْدُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ عُمَرُ قَدْ عَلِمْتُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ فَعَلَهُ وَأَصْحَابُهُ وَلَكِنْ كَرِهْتُ أَنْ يَظَلُّوا مُعْرِسِينَ بِهِنَّ فِي الْأَرَاكِ ثُمَّ يَرُوحُونَ فِي الْحَجِّ تَقْطُرُ رُءُوسُهُمْ

[Dan Telah meceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar—Ibnul Mutsanna berkata—telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far; telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari al-Hakam dari Umarah bin Umair dan Ibrahim bin Abu Musa dari Abu Musa bahwa ia memberi fatwa bolehnya haji tamattu', maka seseorang pun berkata kepadanya: “Tangguhkanlah fatwamu, karena kamu tidak tahu kebijakan apa yang akan diambil oleh Amirul Mukminin nanti mengenai tata cara Manasik.” Setelah itu, Abu Musa menjumpai Umar dan bertanya kepadanya. Kemudian Umar berkata: “Saya tahu bahwa Nabi saw dan para sahabatnya telah melakukannya. Akan tetapi saya tidak suka bila mereka terus-menerus bergaul dengan isteri-isteri mereka di al-Arak, kemudian mereka beristirahan di dalam haji dengan rambut basah meneteskan air.”] (Shahih Muslim no. 2145)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Agama samawi yang ada sekarang bisa dilacak asal-usulnya hingga ke Nabi Ibrahim as. Karena semua nabi dan rasul setelahnya berasal dari sulbinya. Itu bermakna biologis dan teologis. Secara biologis, pemangku hak ulayat Masjidil Haram adalah dzurriyat atau keturunan-nya. Secara teologis, pemangku hak wilyah atas penganut agama tauhid juga dzurriyat-nya. Puncak agama tauhid ialah ber-haji. Dan ber-haji artinya, bersama Nabi Ibrahim, ber-tamattu’, bersenang-senang dengan Sang Kekasih yang telah lama dirindu. Maka kalau Anda mampu, berhajilah untuk merasakan sentuhan kasih-Nya.

Related Posts

Leave a Reply