Al-Baqarah ayat 195

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 195by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 195SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 195   وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [Dan infakkanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, (karena) sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.] [And spend of your substance in […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 195

 

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

[Dan infakkanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, (karena) sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.]

[And spend of your substance in the cause of Allah, and make not your own hands contribute to (your) destruction; but do good; for Allah loveth those who do good.]

 

1). Masalah perang untuk pertama kali dibicarakan di ayat 190, permulaan ayatnya berbentuk perintah: وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ (wa qātilū fī sabĭlillāɦi, dan perangilah di jalan Allah). Kemudian untuk sementara tema perang dihentikan di ayat 195 ini, dan permulaan ayatnya pun berbentuk perintah: وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ (wa anfiqū fī sabĭlillāɦi, dan berinfaklah di jalan Allah). Apa yang bisa kita tangkap dari kedua permulaan ayat itu? Karena keduanya muncul di awal dan akhir rangkaian ayat yang membincang soal perang, bisa dipastikan keduanya mempunyai makna yang paralel. Kata وَقَاتِلُواْ (wa qātilū) bermakna “berjihadlah dengan jiwa kalian”, sementara kata وَأَنفِقُوا (wa anfiqū) bermakna “berjihadlah dengan harta kalian”. Kesempurnaan perjuangan manakala melibatkan keduanya secara padu, sebagaimana firman Allah (61:11): وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ (wa tujāɦidūna fī sabīlillāɦi bi amwālikum wa anfusikum, dan berjihad(lah) di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian). Perang diasaskan adalah dalam rangka melindungi jiwa dan harta benda warga suatu komunitas, termasuk aset-aset negara yang ada di dalamnya. Pada saat yang sama, perang tidak bisa berjalan tanpa dukungan personil (jiwa) dan logistik (harta benda). Maka indikasi kesadaran bela negara bisa dilihat dari dua sisi sekaligus: semangat mengorbankan jiwa, dan semangat mengorbankan harta benda. Jikalau kedua hal itu tidak ada, jangan berharap sebuah komunitas bisa eksis tanpa sokongan pihak musuh-musuhnya sendiri. Dan eksistensi semacam itu niscaya tidak dalam makna “tegak dan tegar dengan penuh percaya diri.” Renungkan ayat ini dalam-dalam: “Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah hendak mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir. Dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): ‘Berimanlah kalian kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya’, niscaya orang-orang yang mempunyai kelapangan (harta) di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: ‘Biarkanlah kami tetap bersama orang-orang yang tinggal.Mereka rela tetap bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad). Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung.” (9:85-88)

 

2). Setelah memahami arti pentingnya infak kaitannya dengan jihad fī sabīlillāɦ, penggalan berikut dari ayat 195 ini seharusnya dengan mudah juga difahami: وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ (wa lā tulqū bi aydīkum ilāt-taɦlukati, dan janganlah kalian menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan). Keengganan untuk membelanjakan harta di jalan Allah, lambat laun, hanya akan merendahkan martabat suatu komunitas, bahkan pada akhirnya, membinasakannya. Pada awalnya mereka dilemahkan dari berbagai sisi, kemudian diadudomba dan dicerai-beraikan (ingat adagium: divide and rule, pecah-belah dan kuasai), lalu karena kemiskinan dan kebodohan, dimunculkan pemimpin-pemimpin dan kelompok-kelompok bayaran untuk saling membunuh satu sama lain. Ending-nya, mereka (musuh-musuh, harimau-harimau lapar itu) datang melakukan finishing-touch (sentuhan akhir). Namanya saja touch (sentuhan), tidak perlu mengorbankan banyak nyawa dan dana. Ibarat pohon yang sudah dikampak sendiri oleh pemiliknya, maling datang tinggal menyentuhnya pakai telunjuk, dengan sekedip mata pohonnya langsung roboh. Penggalan ayat ini, dengan begitu, hendaknya menyadarkan semua pihak di dalam tubuh umat Islam bahwa infaq (mendonasikan harta di jalan Allah), peruntukan pertama dan utamanya ialah demi terbangun dan berdirinya pohon keumatan. Dan karena pemimpin umat adalah ulama pewaris Nabi, maka pemegang otoritas dalam penerimaan dan pengelolaan infaq juga mereka. Apabila ini tidak dilakukan, maka sama saja dengan melucuti senjata ulama di medan perang. Buntutnya, ulama dengan mudah didikte oleh pihak-pihak yang justru tidak menghendaki pohon itu berdiri tergak. “Berangkatlah kalian (ke medan perang) baik dalam keadaan ringan ataupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kalian mengetahui. Kalau yang kamu (Muhammad) serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: ‘Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersamamu’. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (9:41-42) Maka janganlah kalian mengikuti orang-orang kafir itu, dan berjihadlah melawan mereka melalui (petunjuk) Alquran dengan jihad yang besar.” (25:52)

 

3). Selanjutnya: وَأَحْسِنُوا (wa ahsinū, dan berbuat baiklah). Kata kerja perintah ini seasal dengan terma yang sangat terkenal: حَسَنَة (hasanah, kebaikan); lawannya: سَيِّئَة (sayyiah, keburukan). Artinya, membelanjakan harta di jalan Allah demi tegak berdirinya pohon keumatan tadi adalah suatu kebaikan; sebaliknya, berpangku tangan, menjadi penonton yang pasif, adalah suatu keburukan. Dan penilaian Allah tentang حَسَنَة (hasanah, kebaikan) dan سَيِّئَة (sayyiah, keburukan) ini ialah: “Barangsiapa yang membawa kebaikan maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa keburukan maka dia tidak diberi balasan melainkan sebanding dengan keburakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (6:160) Dengan demikian, bisa difahami, bahwasanya berinfak di jalan Allah, yakni berbuat حَسَنَة (hasanah, kebaikan) sama dengan menggerakkan progresifitas umat sebesar 10 (sepuluh) kali lipat. Sungguh luar biasa. Sementara tidak berbuat apa-apa sudah sama dengan keburukan itu sendiri, walaupun nilainya hanya 1 (satu). Keburukan-keburukan itulah yang kelak menggerogoti pohon keumatan hingga mencapai titik kebinasaannya. Sangat wajar kalau di dalam ayat tentang perang, tiba-tiba Allah mengeluarkan perintah untuk berbuat baik. Sehingga mengertilah kita sekarang makna daripada doa sapu jagat yang paling sering dan paling banyak dipanjatkan (2:201): رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (rabbanā ātinā fid-dun’yā hasanatan wa fīl-ākhirati hasanatan wa qinā ‘adzāban-nār, wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari azab neraka).

 

4). Orang yang berbuat حَسَنَة (hasanah, kebaikan) disebut الْمُحْسِنِينَ (al-muhsinīn). Dan siapakah penghulu dari kaum muhsinīn itu? Tentu para nabi dan umatnya yang patuh, terutama Nabiullah Ibrahim as: “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan حَسَنَة (hasanah, kebaikan) bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (perjumpaan dengan) Allah dan (keselamatan pada) Hari Akhir. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Kaya Maha Terpuji.” (60:6) Begitu dzurriyat (keturunan) Nabi Ibrahim yang paling agung, Rasulullah Muhammad saw. Cermatilah petunjuk Allah ini: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan حَسَنَة (hasanah, kebaikan) bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (perjumpaan dengan) Allah dan (keselamatan pada) Hari Akhir serta banyak menyebut Allah.” (33:21) Jadi sama sekali tidak tepat jikalau membaca doa sapu jagat tadi sambil membayangkan figur-figur duniawi yang berhasil mengumpulkan sejumlah besar harta benda atau menduduki jabatan-jabatan penting dengan mengandaikan حَسَنَة (hasanah, kebaikan) bersama mereka. Berdasarkan ayat-ayat yang barusan dikutip, sosok Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad-lah yang harus dirujuk oleh pikiran pada saat memanjatkan doa sapu jagat tersebut kepada Allah. Dan pikiran saat itu membayangkan pengorbanan keduanya di dalam berjuang menegakkan pohon agama tauhid. Barulah nyambung antara doa yang dibaca (Alquran), yang membaca doa (orang beriman), dan yang dipintai doa (Allah swt). Setelah begitu, penutup ayat 195 ini baru terasa proporsional: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (innallāɦa yuhibbul-muhsinīn, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik). “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (3:133-134) “Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya (Ibrahim). Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (6:84)

 

5). Hadis Nabi saw. :

و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ حَدَّثَنِي شَيْبَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ دَعَاهُ خَزَنَةُ الْجَنَّةِ كُلُّ خَزَنَةِ بَابٍ أَيْ فُلُ هَلُمَّ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَلِكَ الَّذِي لَا تَوَى عَلَيْهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ

[Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Zubair telah menceritakan kepada kami Syaiban—dalam jalur lain—Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim—lafazh juga miliknya—telah menceritakan kepada kami Syababah telah menceritakan kepadaku Syaiban bin Abdurrahman dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah saw bersabda: “Barngsiapa yang berinfak sepasang kuda perang fī sabīlillāɦ (untuk membela agama Allah), maka ia akan dipanggil kelak oleh penjaga surga, bahkan setiap penjaga pintu surga mengatakan, ‘kemarilah’.” Kemudian Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, itulah orang yang tidak ada kebinasaan baginya.” Rasulullah saw bersabda: “Sungguh, saya berharap kamu termasuk salah seorang dari mereka.”] (Shahih Muslim no. 1706)

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ السَّرْحِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ حَيْوَةَ بْنِ شُرَيْحٍ وَابْنِ لَهِيعَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ أَسْلَمَ أَبِي عِمْرَانَ قَالَ غَزَوْنَا مِنْ الْمَدِينَةِ نُرِيدُ الْقُسْطَنْطِينِيَّةَ وَعَلَى الْجَمَاعَةِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَالرُّومُ مُلْصِقُو ظُهُورِهِمْ بِحَائِطِ الْمَدِينَةِ فَحَمَلَ رَجُلٌ عَلَى الْعَدُوِّ فَقَالَ النَّاسُ مَهْ مَهْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يُلْقِي بِيَدَيْهِ إِلَى التَّهْلُكَةِ فَقَالَ أَبُو أَيُّوبَ إِنَّمَا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِينَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ لَمَّا نَصَرَ اللَّهُ نَبِيَّهُ وَأَظْهَرَ الْإِسْلَامَ قُلْنَا هَلُمَّ نُقِيمُ فِي أَمْوَالِنَا وَنُصْلِحُهَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ } فَالْإِلْقَاءُ بِالْأَيْدِي إِلَى التَّهْلُكَةِ أَنْ نُقِيمَ فِي أَمْوَالِنَا وَنُصْلِحَهَا وَنَدَعَ الْجِهَادَ قَالَ أَبُو عِمْرَانَ فَلَمْ يَزَلْ أَبُو أَيُّوبَ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى دُفِنَ بِالْقُسْطَنْطِينِيَّةِ

[Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Amr bin as-Sarh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari Haiwah bin Syuraih, dan Ibnu Luhai’ah, dari Yazid bin Abu Habib, dari Aslam Abu Imran, ia berkata; Kami pergi berperang dari Madinah menuju Konstantinopel, dan kami dipimpin oleh Abdurrahman bin Khalid bin al-Walid, sementara orang-orang Romawi menempelkan punggung mereka pada dinding kota. Kemudian terdapat seseorang yang menyerbu musuh, lalu orang-orang berkata: Tahan, tahan! Lā ilāha illāllāɦ, ia telah melemparkan dirinya kepada kebinasaan. Kemudian Abu Ayyub berkata: Sesungguhnya ayat ini turun mengenai kami, orang-orang Anshar. Tatkala Allah membela Nabinya dan memenangkan Islam, kami berkata: Mari kita mengurusi harta kita dan memperbaikinya. Kemudian Allah ta’ala menurunkan ayat: “Dan infakkanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (2:195) Menjatuhkan diri sendri ke dalam kebinasaan adalah mengurusi harta kami dan memperbaikinya serta meninggalkan jihad. Abu Imran berkata: Abu Ayyub terus berjihad di jalan Allah hingga ia dikuburkan di Konstantinopel.] (Sunan Abu Daud no. 2151)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Terkadang kehendak individual berbeda dengan kehendak sosial. Secara personal, menumpuk harta akan membuat seseorang jadi kaya. Tetapi kalau semua anggota suatu masyarakat berfikir seperti itu, apa gerangan yang akan terjadi? Yang terjadi ialah, komunitas sosial akan melemah. Dan pada gilirannya mengundang pihak luar ikut campur tangan, yang pada gilirannya merampas kedaulatan komunitas tersebut. Inilah yang menjadi sebab-musabab binasanya suatu umat dan komunitas. Kalau Anda masih ingin melihat masyarakat Anda eksis, maka hindarilah sikap individualisme.

Related Posts

One Response

  1. Pablo2013-08-02 at 7:54 pmReply

    I wondered once why different verses from different surahs were revealed at different times, this was the case with especially long surahs like Al Baqarah (2nd chapter), Aal Imraan (3rd) etc. But with shorter surahs like surah al falaq, nas etc – they were usually revealed all at once.

    But why weren’t they revealed altogether?

Leave a Reply