Al-Baqarah ayat 188

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 188by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 188SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 188   وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُواْ بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقاً مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ [Dan janganlah (saling) memakan harta di antara kalian dengan (cara yang) batil dan (jangan pula) membawa (urusan harta) itu kepada hakim (untuk kalian menangkan) dengan (cara) dosa agar kalian dapat memakan sebahagian […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 188

 

وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُواْ بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقاً مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

[Dan janganlah (saling) memakan harta di antara kalian dengan (cara yang) batil dan (jangan pula) membawa (urusan harta) itu kepada hakim (untuk kalian menangkan) dengan (cara) dosa agar kalian dapat memakan sebahagian harta orang lain, padahal kalian mengetahui.]

[And do not eat up your property among yourselves for vanities, nor use it as bait for the judges, with intent that ye may eat up wrongfully and knowingly a little of (other) people's property.]

 

1). Huruf وَ (wa, dan) di awal ayat ini mengisyaratkan masih adanya hubungan dengan pembahasan puasa di ayat-ayat sebelumnya (183-187). Kata لاَ تَأْكُلُواْ (lā ta’kulū, janganlah memakan) adalah bentuk naɦyi (larangan) dari amr (kata kerja perintah) كُلُواْ (kulū,makanlah) yang kita temukan di ayat 187 (baca poin-4). Pada dasarnya keduanya sama-sama perintah; satu perintah untuk meninggalkan (naɦyi), dan yang satunya lagi perintah untuk melaksanakan (amr). Pada bentuk amr-nya Allah berfirman: وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ [wa kulū wasyrabū hattā yatabayyana lakumul-khaythul-abyadlu minal-khaythil-aswadi minal-fajri, serta makan dan minumlah hingga nyata bagimu (perbedaan antara) benang putih dari benang hitam di waktu fajar]. Artinya, begitu sudah nyata atau jelas perbedaan benang putih dari benang hitam, maka aktivitas makan harus dihentikan. Secara batiniah, benang putih dan benang hitam bisa dimaknai sebagai hak dan bātil. Tujuan puasa ialah takwa (ayat 183), sementara takwa menjadi prakondisi munculnya furqān (kemampuan jiwa untuk membedakan antara yang hak dan yang batil)—(8:29). Orang yang berpuasa, kalau begitu, adalah orang yang mampu membedakan mana hak dan mana batil. Orang yang berpuasa adalah orang yang dapat berlaku amr (perintah) terhadap yang hak dan naɦyi (larangan) terhadap yang bātil. Maka, ayat 188 ini, dapat dikatakan sebagai buah dari puasa. Yaitu, orang-orang yang berhasil puasanya adalah mereka yang mampu mengamalkan ayat ini: وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ [wa lā ta’kulū amwālakum baynakum bil-bāthil, dan janganlah (saling) memakan harta di antara kalian dengan (cara yang) batil]. Apabila ada orang yang setiap tahun berpuasa tetapi masih saja doyan memakan harta sesamanya dengan cara yang batil, maka pada dirinya belum ada tanda ketakwaan. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kalian. Dan janganlah kalian membunuh dirimu; (karena) sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (4:29)

 

2).  Yang menarik ialah, kenapa Allah menggunakan kata dasar “makan”? Padahal objeknya jelas disebutkan أَمْوَال (amwāl, harta benda). Kenapa misalnya tidak menggunakan kata dasar “ambil”? Bukankah harta benda itu “diambil” dan bukannya “dimakan”? Sehingga kalimatnya seharusnya berbunyi: وَلاَ تَأْخُذُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ [wa lā ta’khudzū amwālakum baynakum bil-bāthil, dan janganlah (saling) mengambil harta di antara kalian dengan (cara yang) batil]—perhatikan kata yang digarisbawahi. Ini semakin mempertegas bahwasanya urusan harta benda sebetulnya adalah urusan perut, urusan piring, urusan makan. Perbuatan “mengambil” hanyalah aksi sementara dan perantara untuk selanjutnya dikirim ke perut. Perutlah yang menjadi pusat gravitasi seluruh hasrat-hasrat duniawi dan material kita. Secara geometris, perut aslinya sangat sempit, paling menampung dua tiga piring makanan, tetapi saat bersinergi dengan hasrat (desire, hawa nafsu) perut tiba-tiba memiliki kemampuan imajiner yang tak terbatas. Kita sebut ini Teori Perut. Selain berhasrat mencoba semua jenis makanan dan di semua tempat (restoran-restoran, kota-kota, negara-negara) yang dapat menyimbolkan status sosialnya, perut juga ingin menyelamatkan seluruh anggota keluarganya sebanyak tujuh turunan. Pada tingkat tertentu, perut sontak menjadi bendera dinasti. Di titik ini, perut mencari sesamanya perut, yang dia dapat temukan di kalangan ‘intelektual’, kalangan ‘ulama’, kalangan ‘seniman’, ‘penulis’ sejarah, ‘panglima’ perang, ‘politisi’ kawakan, ‘periset’ dukungan, dan sebagainya. Teori Perut inilah yang menjelaskan mengapa banyak raja absolut, presiden borjuis, dan diktator proletar dapat bertahan di puncak kekuasaan selama berpuluh-puluh tahun. Melelui perut, mereka dapat mengontrol semuanya: membangun argumen, melahirkan fatwa, membangun galeri, membuat sejarah, mengalahkan negara-negara, mengecoh lawan politik, memenangkan referendum, dan seabrek ‘prestasi’ lainnya. “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar alim-alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta manusia dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.” (9-34-35)

 

3). Ketika perut menjadi paradigma sosial maka pranata hukum turut menjadi carut-marut. Institusi-institusi yudisial berjumpalitan. Karena hukum tak lagi berdasarkan keadilan sosial, tetapi berdasarkan kekuasaan finansial. Pihak-pihak yang punya banyak stok ‘makanan’ dapat mensuplai kebutuhan perut oknum-oknum tertentu guna menggandakan sertifikat lantas membawanya ke pengadilan untuk mereka menangkan dan mengusir pemilik yang sesungguhnya yang tak berdaya. Pemilik asli yang tak punya apa-apa lagi itu tergusur ke pinggir, dan di tempatnya semula dengan serta-merta berdiri mercusuar-mercusuar simbol kemajuan. Sepintas negara kelihatan semakin membaik dan mengalami proses modernisasi, tetapi, secara sosiologi, yang terjadi sesungguhnya ialah: marjinalisasi. Yaitu peminggiran kelompok mayoritas yang tak punya tabungan ‘makanan’, dan pemberian akses yang seluas-luasnya kepada sekelompok kecil orang yang memiliki segala-galanya. Dalam hubungan inilah penggalan ayat berikut ini memiliki daya dobrak yang luar biasa: وَتُدْلُواْ بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقاً مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ [wa tud’lū biɦā ilāl-hukkāmi lita’kulū farīqan min amwālin-nāsi bil-itsmi wa antum ta’lamūn, dan (jangan pula) membawa (urusan harta) itu kepada hakim (untuk kalian menangkan) dengan (cara) dosa agar kalian dapat memakan sebahagian harta orang lain, padahal kalian mengetahui]. Penggalan ayat ini menutup seluruh rangkaian pembahasan Allah tentang ibadah puasa Ramadlan. Kini, coba renungkan dalam-dalam, apa sesungguhnya yang dituju oleh ibadah puasa itu? Apabila tidak bermuara kepada terlaksananya penggalan ayat ini—yaitu terwujudnya sistem sosial yang egaliter—maka puasa hanyalah rutinitas belaka yang—seperti kata Nabi saw—tidak mendatangkan apa-apa kecuali lapar dan haus.  “Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya’. Dan mereka berkata: ‘Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab’.” (34:34-35)

 

4). Sebelum kita akhiri, ada dua kata yang tak selayaknya kita lewatkan begitu saja. Satu, kata بِالْبَاطِلِ (bil-bāthil, dengan batil). Dua, kata بِالإِثْمِ (bil-itsmi, dengan dosa). Keduanya sama-sama didahului oleh harfu-jar (kata depan) بِ (bi, dengan), dan juga sama-sama dalam bentuk ma’rifah (menggunakan definit articleال”, al) yang menunjukkan keterdefenisiannya dengan jelas. Kata الْبَاطِلِ (al-bāthil, kebatilan) adalah terma ontologi, sementara الإِثْمِ (al-itsmi, dosa) adalah terma psikologi. Yang kedua (al-itsmi, dosa) adalah konsekuensi logis dari yang pertama (al-bāthil, kebatilan). Artinya, jiwa disebut berdosa bilamana melakukan perbuatan yang berstatus “batil”. Sehingga, agar terhindar dari dosa, jiwa harus terlebih dahulu mengenal hal-hal yang batil. Sayangnya, kebatilan hanya bisa dikenali oleh mereka yang sudah memiliki furqān dalam jiwanya, sementara furqān hanya bisa diraih oleh mereka yang sudah ber-takwa (8:29), dan tujuan puasa ialah takwa. Di sinilah kelihatan keluarbiasaan susunan penggunaan kata dalam ayat-ayat Alquran. Penempatan suatu kata di awal atau di akhir pun punya rasionalitasnya sendiri. By the way, pelajaran yang bisa kita petik dari ayat ini ialah: Bahwa persoalan perutlah yang menggerakkan seseorang untuk berbuat dosa dengan melakukan kejahatan dan kezaliman kepada sesama. “Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (4:111-112)

 

5). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ الْحَضْرَمِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ وَرَجُلٌ مِنْ كِنْدَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الْحَضْرَمِيُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هَذَا غَلَبَنِي عَلَى أَرْضٍ كَانَتْ لِأَبِي فَقَالَ الْكِنْدِيُّ هِيَ أَرْضِي فِي يَدِي أَزْرَعُهَا لَيْسَ لَهُ فِيهَا حَقٌّ قَالَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْحَضْرَمِيِّ أَلَكَ بَيِّنَةٌ قَالَ لَا قَالَ فَلَكَ يَمِينُهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ فَاجِرٌ لَا يُبَالِي مَا حَلَفَ عَلَيْهِ لَيْسَ يَتَوَرَّعُ مِنْ شَيْءٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ لَكَ مِنْهُ إِلَّا ذَاكَ فَانْطَلَقَ لِيَحْلِفَ لَهُ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا لَئِنْ حَلَفَ عَلَى مَالٍ لِيَأْكُلَهُ ظَالِمًا لَيَلْقَيَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ عَنْهُ مُعْرِضٌ

[Telah menceritakan kepada kami Hannad bin as-Sari, telah menceritakan kepada kami al-Ahwash dari Simak dari Alqamah bin Wail bin Hujr al-Hadhrami, dari ayahnya, ia berkata; terdapat seorang laki-laki yang datang dari Hadhramaut dan seorang laki-laki dari Kindah kepada Rasulullah saw, kemudain berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang ini telah menguasai tanah yang dahulu adalah milik ayahku.” Kemudian orang Kindi tersebut berkata: “Tanah tersebut adalah tanahku dan ada ditanganku serta aku yang menanamnya, dia tidak memiliki hak pada tanah tersebut.” Alqamah bin Wail berkata; kemudian Nabi saw berkata kepada orang Hadhrami: “Apakah engkau memiliki bukti?” Orang Hadhrami menjawab: “Tidak.” Kemudian Nabi saw berkata: "Bagimu sumpahnya." Orang Hadlrami itu menyelah: “Wahai Rasulullah, ia adalah orang yang suka berbuat dosa, ia tidak peduli apa yang sumpahi. Ia tidak menjaga diri dari sesuatupun.” Kemudian Nabi saw bersabda: "Engkau hanya memiliki hal tersebut darinya." Kemudian orang tersebut hendak bersumpah, dan tatkala ia telah berpaling, Rasulullah saw bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya apabila ia bersumpah untuk memakan harta secara zalim, niscaya ia akan bertemu dengan Allah Azza wa Jalla dalam keadaan berpaling darinya."] (Sunan Abu Daud no. 2824)

 

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ رَبِّ الْكَعْبَةِ قَالَ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ جَالِسٌ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ وَالنَّاسُ مُجْتَمِعُونَ عَلَيْهِ فَأَتَيْتُهُمْ فَجَلَسْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَنَزَلْنَا مَنْزِلًا فَمِنَّا مَنْ يُصْلِحُ خِبَاءَهُ وَمِنَّا مَنْ يَنْتَضِلُ وَمِنَّا مَنْ هُوَ فِي جَشَرِهِ إِذْ نَادَى مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ جَامِعَةً فَاجْتَمَعْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا بَلَاءٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ مُهْلِكَتِي ثُمَّ تَنْكَشِفُ وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ هَذِهِ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الْآخَرِ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَقُلْتُ لَهُ أَنْشُدُكَ اللَّهَ آنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَهْوَى إِلَى أُذُنَيْهِ وَقَلْبِهِ بِيَدَيْهِ وَقَالَ سَمِعَتْهُ أُذُنَايَ وَوَعَاهُ قَلْبِي فَقُلْتُ لَهُ هَذَا ابْنُ عَمِّكَ مُعَاوِيَةُ يَأْمُرُنَا أَنْ نَأْكُلَ أَمْوَالَنَا بَيْنَنَا بِالْبَاطِلِ وَنَقْتُلَ أَنْفُسَنَا وَاللَّهُ يَقُولُ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا } قَالَ فَسَكَتَ سَاعَةً ثُمَّ قَالَ أَطِعْهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَاعْصِهِ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

[Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim, Ishaq berkata; telah mengabarkan kepada kami, sedangkan Zuhair berkata; telah menceritakan kepada kami Jarir dari al-A'masy dari Zaid bin Wahb dari Abdurrahman bin Abd Rabbil Ka'bah dia berkata; Ketika saya masuk masjid, maka terlihat olehku Abdullah bin Amru bin Ash duduk di bawah naungan Ka'bah di kelilingi orang banyak. Lalu aku datangi mereka dan duduk di dekat Abdullah. Dia berkata: “Kami pernah mengadakan suatu perjalanan bersama Rasulullah saw, lalu di suatu tempat pemberhentian kami berhenti. Sebagian kami ada yang memperbaiki tempat tidur, sebagian lagi berlatih memanah, sebagian lagi memberi makan hewan dan sebagainya. Tiba-tiba terdengar utusan Rasulullah saw menyeru, memanggil kami untuk shalat berjamaah, lalu kami berkumpul di dekat beliau. Beliau bersabda: ‘Para Nabi sebelum saya diutus menuntun umatnya kepada kebaikan yang telah diajarkan Allah kepada mereka, dan mengingatkan bahaya yang mengancam mereka. Ummatku yang sempurna dan selamat ialah angkatan yang pertama-tama, angkatan sesudah itu akan ditimpa berbagai cobaan berupa hal-hal yang tidak disenanginya, seperti timbulnya fitnah. Di mana-mana sebagian mereka menghina sebagian yang lain, oleh karena itu timbullah bencana. Orang-orang Mukmin berkata, 'Inilah kiranya yang membinasakanku', Setelah hilang bencana tersebut, timbul pula bencana yang lain. Dan orang Mukmin berkata, 'Ini..! Ini..!’ Siapa yang ingin bebas dari neraka dan ingin masuk ke surga, hendaklah dia menemui kematiannya dalam keimanan kepada Allah dan Hari Akhirat, dan hendaklah dia berjasa kepada ummat manusia sesuai dengan yang diinginkan oleh masyarakat itu. Siapa yang baik dengan seorang pemimpin (penguasa) lalu dia memenuhi baiatnya dengan sepenuh hati, hendaklah dia mematuhi pemimpin itu semampunya. Jika yang lain datang memberontak, penggallah lehernya’." Abdurrahman berkata; Aku lebih mendekat lagi kepada Amru, lalu saya berkata: “Dengan nama Allah, saya bertanya kepada anda; 'Apakah kamu mendengar sendiri hadis ini dari Rasulullah saw?’ Dia menunjuk tangannya ke telinga dan hatinya seraya berkata; ‘Saya mendengarnya dengan kedua telingaku dan kusimpan ke dalam hatiku.’ Lalu kukatakan kepadanya, ‘Ini anak pamanmu, Muawiyah! Dia menyuruh kami memakan harta sesama dengan cara yang haram dan memerintahkan untuk saling membunuh sesama. Padahal Allah telah berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesamamu dengan cara yang haram, kecuali berjual beli dengan cara suka sama suka, dan janganlah kalian membunuh saudaramu (sesama Muslim). Sesungguhnya Allah Maha penyayang kepadamu)’. (4:29). Amru diam sebentar kemudian berkata; ‘Patuhilah perintahnya bila sesuai dengan perintah Allah dan langgarlah perintahnya bila melanggar perintah Allah!.....’.”] (Shahih Muslim no. 3431)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Perut memang luar biasa. Daya tampungnya sedikit, tetapi hasrat dan keinginannya tak mengenal batas. Termasuk tak mengenal batas-batas halal dan haram. Perut akan mendorong pemiliknya untuk mendapatkan apa saja dan dengan cara apa pun. Perut akan menakut-takuti pemiliknya agar mau menghindari lapar sejauh tujuh turunan. Maka berhati-hatilah dengan perut Anda. Kuasailah dia dengan memahami makna puasa. Karena, perut itu tidak mengenal hak dan batil. Sehingga, dari perut itulah bermulanya perbuatan dosa.

Related Posts

One Response

  1. Tania2013-08-02 at 7:15 pmReply

    I tried to search for one with that meaning but I couldn’t find . Anything says that ?

    Thanks for your answers . God bless .

Leave a Reply