Al-Baqarah ayat 187

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 187by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 187SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 187   أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 187

 

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

[Dihalalkan bagi kalian pada malam hari (bulan) puasa bercampur dengan isteri-isterimu; (karena) mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan diri, maka Allah mengampuni dan memaafkan kalian. Karena itu sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah Allah tetapkan untukmu, serta makan dan minumlah hingga nyata bagimu (perbedaan antara) benang putih dari benang hitam di waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. Dan janganlah mencampuri mereka sedang kalian berittikaf di masjid. Itulah ketentuan-ketentuan Allah, maka janganlah kalian melanggarnya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, dengan harapan mereka bertakwa.]

[Permitted to you, on the night of the fasts, is the approach to your wives. They are your garments and ye are their garments. Allah knoweth what ye used to do secretly among yourselves; but He turned to you and forgave you; so now associate with them, and seek what Allah Hath ordained for you, and eat and drink, until the white thread of dawn appear to you distinct from its black thread; then complete your fast Till the night appears; but do not associate with your wives while ye are in retreat in the mosques. Those are Limits (set by) Allah: Approach not nigh thereto. Thus doth Allah make clear His Signs to men: that they may learn self-restraint.]

 

1). Bulan Ramadlan menjadi bulan yang suci karena diturunkan Alquran padanya. Orang beriman harus menghormati dan mempertahankan kesucian bulan ini, misalnya, dengan tidak boleh meninggalkan puasanya secara sengaja tanpa alasan syar’i. Pertanyaannya, demi menjaga kesuciaannya itu, apakah suami-istri juga tidak boleh bercampur di malam hari selama bulan suci Ramadlan? Karena bukankah bercampur akan secara otomatis menyebabkan pelakunya berstatus junub alias berada dalam keadaan tidak suci? Apakah keadaan junub yang disengaja tidak mengotori kesucian bulan Ramadlan? Sebetulnya, ya. Akan tetapi عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ [‘alimallaɦu annakum kuntum takhtānūna anfysakum fatāba ‘alaikum wa ‘afā ‘ankum, Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan diri (untuk tidak bercampur selama satu bulan), maka Allah mengampuni dan memaafkan kalian]. Artinya dilihat dari sisi kesucian bulan Ramadlan, mencampuri istri selayaknya ditinggalkan (untuk sementara) selama satu bulan. Akan tetapi, dilihat dari sisi ketahanan biologis, hal itu tidak mungkin. Allah mengetahui betapa sucinya sebua kitab yang berasal dari diri-Nya, sebagaimana Dia mengetahui betapa lemahnya susunan anatomis dan kemampuan biologis manusia untuk bertahan dari rangsangan-rangsangan eksternal. Maka larangan bercampur lantas diniscayakan di siang hari saja, sementara di malam harinya tidak. “Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash ra(ma) berkata; Rasulullah saw berkata kepadaku: ‘Wahai Abdullah, apakah benar berita bahwa kamu puasa seharian penuh lalu kamu shalat malam sepanjang malam?’ Aku jawab: ‘Benar, wahai Rasulullah’. Beliau berkata: ‘Janganlah kamu lakukan itu, tetapi puasalah dan berbukalah, shalat malamlah dan tidurlah, karena untuk jasadmu ada hak atasmu, matamu punya hak atasmu, isterimu punya hak atasmu dan isterimu punya hak atasmu……” (Shahih Bukhari no. 1839)

 

2). Itu sebabnya permulaan ayat ini berbunyi: أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ [uhilla lakum lailatash-shiyāmir-rafatsu ilā nisāikum ɦunna libāsun lakum wa antum libāsun laɦunna, dihalalkan bagi kalian pada malam hari (bulan) puasa bercampur dengan isteri-isterimu; (karena) mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka]. Ada dua hal penting yang menarik di sini. Pertama, penggalan ayat ini menjelaskan status hukum dari hubungan suami-istri di malam hari bulan Ramadlan; baru kemudian—seperti telah diuraikan pada poin 1—Allah menjelaskan alasannya. Maknanya, dari sisi amalan ubudiah, agama mendahulukan aspek-aspek hukumnya, baru aspek-aspek rasionalnya. Karena dalam hal peribadatan, tidak semua penganut agama membutuhkan argumen. Mayoritas mereka menjalankannya begitu saja sebagai suatu kewajiban, karena dengan begitu pun mereka sudah merasakan suatu kenikmatan ruhaniah tertentu yang tak bisa mereka katakan. Kedua, walaupun temanya puasa, tetapi Allah menggunakan momen ini untuk juga menjelaskan relasi eksistensial antara suami dan istri—ini tentu sangat penting karena menyangkut hubungan yang sangat krusial dalam membangun sebuah institusi rumah tangga. Relasi itu mengatakan begini: هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ [ɦunna libāsun lakum wa antum libāsun laɦunna, mereka itu (para istri) adalah pakaian bagimu, dan kalian (para suami) pun adalah pakaian bagi mereka]. Coba cermati betapa emansipatorisnya ayat ini. Allah menempatkan suami dan istri setara dalam hubungan kerumah-tanggaan. Mereka itu (para istri) adalah لِبَاسٌ (libāsun, pakaian) bagimu, dan kalian (para suami) pun adalah لِبَاسٌ (libāsun, pakaian) bagi mereka, menunjukkan bahwa relasi suami-istri bukan relasi subjek-objek, tapi relasi subjek-subjek. Maka alasan penghalalan hubungan suami-istri di malam hari bulan Ramadlan berlaku bagi suami ataupun istri. Karena masing-masing pihak merupakan لِبَاسٌ (libāsun, pakaian) bagi yang lainnya. Sehingga adalah salah menurut ayat ini manakala suami memperlakukan istrinya sebagai objek pelampiasan birahi belaka. Hasrat suami kepada istri persis sama dengan hasrat istri kepada suami. Bilamana salah satu pihak mengecewakan apalagi menyakiti pihak lainnya, maka bersiap-siaplah menuai badai petaka rumah tangga. “Dari Anas bin Malik ra berkata: Ada tiga orang mendatangi rumah isteri-isteri Nabi saw dan bertanya tentang ibadah Nabi saw. Dan setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata; ‘Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah saw, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?’ Salah seorang dari mereka berkata, ‘Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya.’ Kemudian yang lain berkata, ‘Kalau aku, maka sungguh, aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka.’ Dan yang lain lagi berkata, ‘Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya.’ Kemudian datanglah Rasulullah saw kepada mereka seraya bertanya: ‘Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur, serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku’.” (Shahih Bukhari no. 4675)

 

3). Persepsi yang berkembang sebelumnya—yang dapat kita ketahui melalui buku-buku Asbabun Nuzul—bahwa Ramadlan tidak selayaknya dinodai kesuciannya oleh hubungan suami-istri di malam hari, terjawab sudah. Selanjutnya: فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ (fal-āna bāsyiruɦunna wabtagū mā kataballaɦu lakum, karena itu sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah Allah tetapkan untukmu). Sekarang bukan lagi status hukumnya yang ditegaskan melainkan caranya. Di sini juga ada dua hal penting. Pertama, dalam kata بَاشِرُوهُنَّ (bāsyiruɦunna), yang diterjemahkan dengan ungkapan “campurilah mereka (para istri)”, masih terkandung makna-makna lain. Dari kata dasar (tiga huruf) بشر [ba-sya-ra (yab-syu-ru)], antara lain artinya: “mengupas atau memotong tipis sampai kelihatan isinya”. Kemudian berubah menjadi bentuk empat huruf باشر [bā-sya-ra (yu-bā-syi-ru)] yang berarti “menggauli, mengurus, mengendalikan”. Bentuk lain yang muncul dari kata ini, yang sering kita temukan di dalam Alquran, ialah: بَشِيرٌ (basyīrun, pembawa berita gembira) dan بَشَرٌ (basyarun, manusia biologis). Kalau kita rangkai semuanya, maka kata بَاشِرُوهُنَّ (bāsyiruɦunna) dapat bermakna: “Tunaikanlah hajatmu (para suami) kepada mereka (para istri) sampai tuntas dengan cara mengurus, mengupas dan mengendalikan hajat mereka sebagai suatu kebutuhan biologis dan psikologis diantara kalian.” Dengan pengertian ini, hubungan suami-istri tak sekedar rutinitas melampiaskan hasrat, tapi sekaligus sebagai instrumen untuk saling membahagiakan. Kedua, dalam kata وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ (wabtaghū mā katabal-laɦu lakum, dan carilah apa yang telah Allah tetapkan untukmu). Kata كَتَبَ (kataba) di penggalan ayat ini merupakan bentuk ma’lūm (aktif) dari كُتِبَ (kutiba)—yang Allah gunakan saat mewajibkan puasa di ayat 183. Memahami kedua kata ini di dalam konteksnya masing-masing sangat perlu guna mengungkap rahasia puasa dan hubungan suami-istri. Penggunaan kata كُتِبَ (kutiba) dalam hal puasa menunjukkan bahwa rukun Islam yang satu itu bukan sekedar perintah yang datang dari Allah, tetapi sekaligus merupakan kebutuhan biologis dan psikologis yang inheren di dalam jati diri manusia. Sehingga menentang puasa sama dengan menentang kebutuhan asasi diri sendiri. Begitu juga, penggunaan kata كَتَبَ (kataba) dalam hal hubungan suami-istri menyingkapkan bahwa menunaikan hajat yang satu ini akan membuat lapang jiwa dan ringan tubuh sepertimana dengan puasa. Hubungan suami-istri, seperti juga puasa, merupakan kebutuhan biologis dan psikologis yang inheren di dalam jati diri manusia. Kalau puasa adalah rukun Islam, hubungan suami-istri adalah rukun rumah-tangga. “Dialah Yang menciptakan kalian dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: ‘Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur’.” (7:189)

 

4). Itu tentang hubungan suami-istri. Sekarang soal kapan puasa dimulai. Alias kapan aktivitas hubungan suami istri dan makan minum harus berhenti. Jawabannya ada di penggalan ayat ini: وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ [wa kulū wasyrabū hattā yatabayyana lakumul-khaythul-abyadlu minal-khaythil-aswadi minal-fajri, serta makan dan minumlah hingga nyata bagimu (perbedaan antara) benang putih dari benang hitam di waktu fajar]. Kata حَتَّى (hattā, hingga) sengaja digaribawahi karena kata itu bermakna “akhir” dari aktivitas sebelumnya dan “awal” dari aktivitas setelahnya. Aktivitas sebelumnya ialah afirmasi terhadap hubungan suami-istri dan makan minum, sementara aktivitas setelahnya ialah negasi terhadapnya. Afirmasi di sini difahami sebagai “kebolehan” dan bukan “keharusan”; sedangkan negasi difahami sebagai “ketidakbolehan” (larangan mutlak). Artinya, permulaan puasa bukan pada saat berhentinya seseorang makan minum. Tapi boleh makan minum (termasuk sahur) sampai titik (waktu) permulaan tersebut tiba. Kalau bukan pada (waktu) berhentinya seseorang makan minum, lalu apa yang menjadi tanda permulaan puasa? Kalau permulaan haji dan umrah ialah LAKU (perbuatan menanggalkan pakaian duniawi seraya mengenakan pakaian ihram di Miqat), dan permulaan salat ialah WICARA (ucapan takbiratul ihram), maka permulaan puasa bukan LAKU bukan WICARA. Bukan beduk bukan azan—beduk ialah tanda waktu dan azan ialah panggilan salat. Permulaannya ialah WAKTU. Yaitu waktu ketika “nyata bagimu (perbedaan antara) benang putih dari benang hitam di waktu fajar”. Namun harus segera disampaikan bahwa WAKTU itu bukan pada fajarnya. Karena durasi fajar cukup panjang—sampai terbitnya matahari. WAKTU itu ialah tepat pada saat “nyata bagimu (perbedaan antara) benang putih dari benang hitam”. Dengan kata lain, WAKTU dimulainya puasa itu ialah suatu momentum di dalam bentang durasi fajar. “Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Kitab Suci) semua hal sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): ‘Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik. Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.” (7:145-146)

 

5). Manakala batas awal permulaan puasa ialah WAKTU, lantas apa gerangan batas akhirnya? Dengan kata lain, apa yang menjadi tanda sempurnanya pelaksanaan puasa dalam satu hari? Firman-Nya: ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ (tsumma atimmūs-shiyāma ilāllayli, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam). Kata yang perlu digarisbawahi di sini ialah إِلَى (ilā, sampai), yang di sini menunjukkan adanya aktivitas atau perbuatan yang berjalan menuju ke dan berakhir pada tujuan yang disebutkan di belakang kata إِلَى (ilā) ini. Sehingga ahli bahasa menyebutnya intiɦā’ (penghabisan,  kesudahan, batas, maksud, akhir dan tujuan). Karena kata yang berada di belakangnya ialah الَّليْل (āllayl), waktu malam, maka jenis إِلَى (ilā) ini disebut إنتهاء الغاية الزمانية (intiɦā’ al-gāyati az-zamāniyah, batas akhir waktu). Artinya, puasa secara otomatis berakhir dan selesai secara sempurna ketika WAKTU malam tiba. Sehingga kalau permulaan haji dan umrah ialah LAKU, penghujungnya pun LAKU (menggunting rambut, tqshir atau tahallul), dan permulaan salat ialah WICARA, penutupnya pun WICARA (mengucapkan salam); maka puasa yang berawal pada WAKTU juga berakhir pada WAKTU. Jadi bukanlah makan minum yang menyudahi (dalam pengertian selesai dengan sempurna) puasa, melainkan tibanya WAKTU malam. Makan minum membatalkan puasa jikalau batas WAKTU-nya belum tiba. Tetapi tanpa makan minum, puasa dengan sendirinya berakhir saat datangnya malam. Itu sebabnya Allah menggunakan kata kerja perintah أَتِمُّواْ (atimmū, sempurnakanlah), dan bukan kata صوموا الى الليل (shūmū ilā al-layli, berpuasalah sampai malam). “Dan orang-orang yang berpegang teguh kepada Kitab Suci serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beramal saleh. Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka (Bani Israil) seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Lalu Kami katakan kepada mereka): ‘Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa’.” (7:171-172)

 

Karena menyangkut soal sempurna dan tidak sempurnanya atau batal dan tidaknya puasa, maka istilah الَّليْل (āllayl, malam) perlu defenisi yang akurat. Dan agar terhindar dari campur tangan hawa nafsu dan subjektivitas—yang menjadi penyebab rusaknya agama-agama samawi pra-Islam—maka defenisi الَّليْل (āllayl) ini harus dikembalikan kepada Alquran. Bukankah Alquran sendiri yang menyebut dirinya هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ [ɦudan linnāsi wa bayyinātin minal-ɦudā wal-furqān, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan Alfurqān (pembeda)]? Allah memunculkan kata الَّليْل (āllayl) ini sebanyak 74 kali. Dan dari kesemuanya itu, defenisi الَّليْل (āllayl) mengacu kepada ayat-ayat berikut ini. Satu, Surat Yasin ayat 37 (36:37): “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.” Berdasarkan ayat ini, ada dua unsur penting yang membuat suatu keadaan disebut malam: (a) siang telah tanggal, dan (b) gelap telah datang. Dua, Surat Al-an’am ayat 76 (6:76): “Tatkala malam menjadi gelap bagi Ibrahim, dia melihat sebuah bintang….”. Di sini ada tambahan, bahwa diantara tanda malam ialah manakala bintang mulai kelihatan. Tiga, Alfurqān ayat 47 (25:47): “Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (lihat juga 78:10) Yang disebut pakaian ialah sesuatu yang menutupi, sedemikian rupa sehingga yang tertutupi benar-benar tidak kelihatan. Empat, Surat Allayl ayat 1-2 (92:1-2): “Demi malam apabila menutupi. Dan siang apabila menerangi.” (lihat juga 13:3 dan 91:4) Menutupi apa? Termasuk menutupi benang putih dan benang hitam sehingga keduanya tidak lagi dapat dibedakan. Sehingga WAKTU sempurnanya puasa adalah lawan dari WAKTU dimulainya puasa.

“Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Syuja’ bin Makhlad seluruhnya dari Ibnu Ulayyah, Zuhair berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim, telah menceritakan kepadaku Abu Hayyan, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Hayyan dia berkata: “Pada suatu hari saya pergi ke Zaid bin Arqam bersama Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim. Setelah kami duduk, Husain berkata kepada Zaid bin Arqam. Hai Zaid, kamu telah memperoleh kebaikan yang banyak. Kamu pernah melihat Rasulullah. Kamu pernah mendengar sabda beliau. Kamu pernah bertempur menyertai beliau. Dan kamu pun pernah shalat jama’ah bersama beliau. Sungguh kamu telah memperoleh kebaikan yang banyak. OIeh karena itu hai Zaid, sampaikanlah kepada kami apa yang pernah kamu dengar dari Rasulullah saw!” Zaid bin Arqam berkata: “Hai kemenakanku, demi Allah sesungguhnya aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah saw. Oleh karena itu, apa yang bisa aku sampaikan, maka terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan maka janganlah kamu memaksaku untuk menyampaikannya.” Kemudian Zaid bin Arqam meneruskan perkataannya: “Pada suatu ketika, Rasulullah saw berdiri dan berpidato di suatu tempat air yang di sebut Khumm, yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan serta berkata; ‘Ketahuilah hai saudara-saudara, bahwasanya aku adalah manusia biasa seperti kalian. Sebentar lagi utusan Tuhanku, malaikat pencabut nyawa, akan datang kepadaku dan aku pun siap menyambutnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dua hal yang berat kepada kalian, yaitu: Pertama, Alquran yang berisi petunjuk dan cahaya. Oleh karena itu, laksanakanlah isi Alquran dan peganglah.’ Sepertinya Rasulullah sangat mendorong dan menghimbau pengamalan Alquran. ‘Kedua, keluargaku. Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku’.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali). Husain bertanya kepada Zaid bin Arqarn: “Hai Zaid, sebenarnya siapakah Ahlul Bait (keluarga) Rasulullah itu? Bukankah istri-istri beliau itu adalah Ahlul Bait (keluarga) nya?” Zaid bin Arqam berkata: “Istri-istri beliau adalah Ahlul Bait-nya. tapi Ahlul Bait beliau yang dimaksud adalah orang yang diharamkan untuk menerima zakat sepeninggalan beliau.” Husain bertanya: “Siapakah mereka itu?” Zaid bin Arqam menjawab: “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas.” Husain bertanya: “Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima zakat?” Zaid bin Arqam menjawab.”Ya.”…. Di dalam Hadits Jarir ada tambahan: “Yaitu Kitabullah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Barang siapa yang berpegang teguh dengannya dan mengambil pelajaran dari dalamnya maka dia akan berada di atas petunjuk. Dan barang siapa yang menganggapnya salah, maka dia akan tersesat.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkar bin Ar-Rayyan; telah menceritakan kepada kami Hassan yaitu Ibnu Ibrahim dari Sa’id yaitu Ibnu Masruq dari Yazid bin Hayyan dari Zaid bin Arqam dia berkata; kami menemui Zaid bin Arqam, lalu kami katakan kepadanya: “Sungguh kamu telah memiliki banyak kebaikan. Kamu telah bertemu dengan Rasulullah, shalat di belakang beliau…” dan seterusnya sebagaimana Hadis Abu Hayyan. Hanya saja dia berkata; Rasulullah saw bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat besar. Salah satunya adalah Alquran, barang siapa yang mengikuti petunjuknya maka dia akan mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia akan tersesat.” Juga di dalamnya disebutkan perkataan: “Lalu kami bertanya: ‘Siapakah Ahlu Bait-nya, bukankah istri-istri beliau?’ Dia menjawab: ‘Bukan, demi Allah, sesungguhnya seorang istri bisa saja setiap saat bersama suaminya. Tapi kemudian bisa saja ditalaknya hingga akhirnya dia kembali kepada bapaknya dan kaumnya. Yang dimaksud dengan Ahlu Bait beliau adalah keturunan beliau yang diharamkan bagi mereka untuk menerima zakat’.” (Shahih Muslim no. 4425)

 

6). Kendati ada lampu hijau bagi hubungan suami-istri di malam hari bulan Ramadlan, tetapi dalam situasi tertentu lampu itu bisa menjadi merah kembali. Yaitu pada saat mengambil keputusan untuk ber-‘itikaf (berdiam beberapa hari) di masjid: وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ (wa lā tubāsyirūɦunna wa antum ‘ākifūna fīl-masājid, dan janganlah mencampuri mereka sedang kalian berittikaf di masjid). Itikaf, dengan adanya larangan itu, dapat dianggap sebagai sebentuk ibadah khusus. Kendati hukumnya tidak wajib dan bukan merupakan rangkaian dari ibadah puasa Ramadlan, akan tetapi sangat utama jikalau dilaksanakan di bulan Ramadlan. Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah-nya mengartikan itikaf sebagai “bertekun pada sesuatu, baik atau buruk, seraya menghentikan semua yang lain”. Allah berfirman: “ (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadat kepadanya’?” (21:52) Kata itikaf yang kita temukan di ayat (21:52) ini bermakna berserah diri atau tenggelam dalam beribadah—yang dalam konteks ayat 187—untuk mendekatkan diri kepada Allah Rabbul Alamin. Apabila seseorang berniat untuk itikaf di masjid, maka tidak diperbolehkan kembali ke rumah untuk mencampuri istrinya. Jika melanggar, yang bersangkutan wajib membayar kifarat. “Telah menceritakan kepada kami Abu Mush’ab al-Madani secara qira’ah, dari Malik bin Anas dari Ibnu Syihab dari Urwah dan Amrah dari Aisyah berkata: ‘Rasulullah saw apabila itikaf sering memasukkan kepalanya ke kamarku, lalu aku menyisir rambutnya. Beliau tidak pernah masuk rumah kecuali jika akan buang hajat.’ Abu Isa berkata: ‘…. Para ulama mengamalkan hadits ini, yaitu seseorang yang itikaf hendaknya tidak keluar dari tempat itikaf kecuali untuk buang hajat. Mereka bersepakat dalam hal ini, yaitu keluar untuk menyelesaikan hajat besar dan hajat kecilnya. Kemudian mereka berselisih pendapat (dalam hal) bolehkah menengok orang sakit, menghadiri shalat jumat, dan mengantarkan jenazah bagi seorang mu’takif (orang yang sedang itikaf)? Sebagian ulama dari kalangan sahabat Nabi saw dan yang lainnya membolehkan menengok orang sakit, menghadiri jenazah, mendatangi shalat jum’at, jika dia mensyaratkannya. Ini adalah pendapat Sufyan ats-Tsauri dan Ibnu al-Mubarak. Sebagian ulama lain berpendapat, seorang mu’takif tidak boleh melakukan itu semua. Jika dia tinggal di suatu kota, hendaknya dia beritikaf di masjid jami’. Mereka membenci jika harus keluar dari tempat itikafnya untuk shalat jum’at. Padahal mereka berpendapat bahwa tidak boleh meninggalkan shalat jum’at. Mereka berkata, tidak boleh beritikaf kecuali di masjid jami’, sehingga dia tidak perlu keluar dari tempat itikafnya selain untuk buang hajat. Karena keluarnya yang besangkutan dari tempat itikaf untuk keperluan selain itu, menurut mereka, membatalkan itikaf. Ini adalah pendapat Malik dan Syafi’i.’ Imam Ahmad berkata: ‘(Seorang mu’takif) tidak boleh menjenguk orang sakit dan mengantarkan jenazah berdasarkan hadis Aisyah.’ Ishaq berkata: ‘Jika mensyaratkan sebelumnya, maka dia boleh menjenguk orang sakit dan mengantarkan jenazah.’.” (Sunan Tirmidzi no. 733)

 

7). Ada tiga unsur penting yang dibicarakan di ayat 187 ini: pertama, hukum bolehnya hubungan suami-istri di malam hari bulan Ramadlan; kedua, hukum penetapan WAKTU mulai dan WAKTU sempurnanya puasa; dan ketiga, hukum larangan kembali ke rumah melakukan hubungan suami-istri ketika sedang melakukan itikaf di masjid. Kemudian Allah memperkenalkan itu semua melalui anak kalimat ini: تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا [tilka hudūdullāɦ falā taqrabūɦā, itulah ketentuan-ketentuan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya (untuk melanggar)]. Kata حُدُودُ (hudūd) adalah bentuk jamak taksir (tidak beraturan) dari حَدّ (haddun) yang dalam Al-Mawrid Al-Qareeb Arabic-English diartikan sebagai: boundary (batas), border (perbatasan), frontier (tapal batas), borderline (garis perbatasan), serta penalty (penalti, denda, pidana) dan punishment (hukuman). Dari kata حُدُودُ (hudūd) ini lahir bentuk kata yang lain, yaitu حَدِيدٌ (hadīd, besi). Dengan begitu حُدُودُ اللّهِ (hudūdullāɦ) bisa diartikan sebagai “batasan-batasan hukum yang keras bagai besi yang Allah tetapkan untuk menjaga hamba-Nya agar tetap berada di dalam wilayah risalah-Nya, sehingga pelanggaran atasnya akan berakibat pada hukuman atau denda.” Sedemikian kerasnya batasan-batasan itu sehingga pelanggarnya membutuhkan hati yang keras (angkuh dan sombong) untuk menerabasnya dan Allah menyemati mereka dengan istilah “zalim” atas dirinya sendiri: “…barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri….” (65:1) Itu sebabnya Allah tidak mengatakan “janganlah kalian melanggarnya”, melainkan dengan ungkapan yang bersifat preventif, “janganlah kalian mendekatinya”. “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (4:14)

 

7). Hukum Allah beda dengan hukum (buatan) manusia. Hukum Allah, karena terjelma dari Dri-Nya, maka sekaligus menjadi ayat (tanda) kebaradaan dan kekuasaan-Nya. Melanggar hukum Allah sama dengan menentang keberadaa-Nya dan menantang kekuasaan-Nya. Hukum-hukum Allah bersifat edukatif-ontologis dan protektif-teologis, dan karenanya mempunyai tujuan yang jelas: كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (kadzālika yubayyinu-llāɦu ayātiɦi linnāsi la’allaɦum yattaqūn, demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, dengan harapan mereka bertakwa). Buntut ayat ini, لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (la’allaɦum yattaqūn, dengan harapan mereka bertakwa), mengingatkan kita pada buntut ayat 183 (tentang tujuan dari diwajibkannya berpuasa): لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (la’allakum ttaqūn, dengan harapan kalian bertakwa). Artinya, agar puasa benar-benar mengantarkan pelakunya kepada derajat takwa, yang bersangkutan tidak boleh melanggar hukum-hukum atau ketentuan-ketentuan yang telah Allah tetapkan atasnya. Dan penggunaan kata يُبَيِّنُ اللّهُ (yubayyinu-llāɦu, Allah menerangkan) menunjukkan bahwa tidak ada yang samar di dalam hukum-hukum itu. Betapa tidak, satu, yang menerangkan ialah Allah sendiri, Gurunya para guru; dan dua, menggunakan kata “menerangkan” yang mengindikasikan tidak perlunya lagi penjelasan tambahan. “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kalian sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). (Padahal alquran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (3:137-138)

 

8). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَائِمًا فَحَضَرَ الْإِفْطَارُ فَنَامَ قَبْلَ أَنْ يُفْطِرَ لَمْ يَأْكُلْ لَيْلَتَهُ وَلَا يَوْمَهُ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنَّ قَيْسَ بْنَ صِرْمَةَ الْأَنْصَارِيَّ كَانَ صَائِمًا فَلَمَّا حَضَرَ الْإِفْطَارُ أَتَى امْرَأَتَهُ فَقَالَ لَهَا أَعِنْدَكِ طَعَامٌ قَالَتْ لَا وَلَكِنْ أَنْطَلِقُ فَأَطْلُبُ لَكَ وَكَانَ يَوْمَهُ يَعْمَلُ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ فَجَاءَتْهُ امْرَأَتُهُ فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ خَيْبَةً لَكَ فَلَمَّا انْتَصَفَ النَّهَارُ غُشِيَ عَلَيْهِ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ

{ أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ }

فَفَرِحُوا بِهَا فَرَحًا شَدِيدًا وَنَزَلَتْ

{ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ }

[Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Musa dari Israil dari Abu Ishaq dari al-Bara’ ra berkata: “Diantara para sahabat Muhammad saw ada seseorang yang apabila sedang berpuasa lalu tiba waktu berbuka dia pergi tidur sebelum berbuka sehingga tidak memakan sesuatu pada malam dan siang hari hingga petang hari. Dan pada suatu ketika Qais bin Shirmah al-Anshariy ketika sedang melaksanakan puasa lalu tiba waktu berbuka dia mendatangi isterinya seraya berkata kepada isterinya: ‘Apakah kamu punya makanan?’ Isterinya berkata: ‘Tidak, namun aku akan keluar mencari makanan buatmu’. Kemudian di siang harinya dia bekerja keras hingga mengantuk lalu tertidur. Kemudian isterinya datang. Ketika isterinya melihat dia (sedang tertidur), isterinya berkata: ‘Rugilah kamu’. Kemudian pada tengah harinya Qais jatuh pingsan. Lalu persoalan ini diadukan kepada Nabi saw, maka turunlah firman Allah Ta’ala Surat al-Baqarah ayat 187: ‘Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isttri-isteri kalian’. Dengan turunnya ayat ini para sahabat merasa sangat senang, hingga kemudian turun sambungan ayatnya: ‘Dan makan minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam di waktu fajar’.] (Shahih Bukhari no. 1782)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Karena agama adalah untuk orang berakal maka tak satu pun hukum-hukum Allah yang tidak sejalan dengan akal budi. Jikalau penganut agama mengklaim suatu hukum berasal dari Allah tapi faktanya bertentangan dengan akal, pertanda hukum tersebut telah mengalami campur-tangan manusia. Itu sebabnya, hukum-hukum Allah adalah batasan-batasan yang rigid, yang pelangaran atasnya berarti penyimpangan dari akal bsehat. “Itulah ketentuan-ketentuan Allah, maka janganlah kalian melanggarnya”.

Related Posts

Leave a Reply