Al-Baqarah ayat 185

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 185by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 185SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 185   شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [(Beberapa hari yang ditentukan itu […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 185

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

[(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang padanya diturunkan (permulaan) Alqur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau safar (bepergian)—lalu ia berbuka—maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu di hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran. Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah (pula) kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kalian bersyukur.]

[Ramadhan is the (month) in which was sent down the Qur’an, as a e to mankind, also clear (Signs) for ance and judgment (Between right and wrong). So every one of you who is present (at his home) during that month should spend it in fasting, but if any one is ill, or on a journey, the prescribed period (Should be made up) by days later. Allah intends every facility for you; He does not want to put to difficulties. (He wants you) to complete the prescribed period, and to glorify Him in that He has ed you; and perchance ye shall be grateful.]

 

1). Di dalam frase أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ (ayyāman ma’dūdāt, beberapa hari yang tertentu) masih belum jelas “kapan”-nya. Yakni di bulan apa diwajibkan berpuasa selama beberapa hari yang tertentu itu. Awal ayat 185 ini menjawabnya: شَهْرُ رَمَضَانَ (syaɦru ramadlān, satu bulan ramadhan). Yang namanya شَهْر (syaɦr, satu bulan), dalam perhitungan qamariah (lunar system), hanya dua kemungkinan: 29 atau 30 hari. Tidak mungkin kurang tidak mungkin lebih. Tapi masalahnya belum selesai sampai di situ. Masih ada satu pertanyaan lagi: Kenapa kewajiban puasa yang beberapa hari tertentu itu dipilih pelaksanaannya di bulan Ramadlan, kenapa bukan di bulan yang lain? Allah memahami keresahan kita; Dia langsung membeberkan alasannya: الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ [alladzī unzila fīɦil-qur’ān, (karena bulan Ramadlan itulah) yang padanya diturunkan Alqur’an]. Jadi, bisa dikatakan, pewajiban صِيَام (shiyām, puasa) di bulan Ramadlan adalah dalam rangka peringatan hari ulang tahun (milad) Alquran. Kalau Mekah menjadi Tanah Suci karena dibuka dan dihuni kembali oleh manusia-manusia suci (Ibrahim, Ismail, dan Hajar), Madinah menjadi Tanah Haram karena adanya jasad suci Nabi Muhammad saw bersemayam di sana, maka Ramadlan menjadi bulan suci karena adanya Kitab Suci yang di turunkan di dalamnya. Dari sini kita bisa melihat adanya korelasi positif antara Alquran dan صِيَام (shiyām, puasa). Korelasinya bisa kita lihat pada tujuan puasa yang tertera di ayat 183 dan siapa saja yang terpicu menjadikan Alquran sebagai هُدًى (ɦudan, petunjuk) yang disebutkan di ayat 2. Tujuan puasa: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (la’allakum ttaqūn, agar kalian bertakwa). Yang dapat menjadikan Alquran sebagai petunjuk: هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ (ɦudan lil-muttaqīn, petunjuk bagi orang bertakwa). Kata yang mempertemukan keduanya ialah TAKWA. Bisa disimpulkan: صِيَام (shiyām, puasa) itu bermuara kepada Alquran. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam laylatul qadr (kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam laylatul qadr itu? Malam laylatul qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (97:1-5)

 

2). Ketika mengungkapkan turunnya Alquran sebagai alasan di balik pewajiban puasa di bulan Ramadlan, Allah sekaligus menjelaskan fungsi kitab suci itu. Yaitu: هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ [ɦudan linnāsi wa bayyinātin minal-ɦudā wal-furqān, (Alquran itu berfungsi) sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan furqān (pembeda)]. Ada tiga poin penting di sini. Pertama, هُدًى لِّلنَّاسِ (ɦudan linnāsi, sebagai petunjuk bagi manusia). Di sini Allah memaklumatkan kitab suci-Nya sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Sementara di ayat 2, Dia membatasinya bagi orang bertakwa saja. Apakah ini kontradiksi? Bukan. Ini adalah hirarki. Sebagai ajaran, Alquran cocok bagi semua orang dan di sebarang zaman karena kandungannya bersifat universal dan aktual. Tidak ada tempat dan waktu yang tidak mendukung keberlakuan ajarnnya. Tetapi—di sinilah hirarkinya—hanya mereka yang percaya akan keilahian manusia dan berjalan menuju ke puncuk keilahiannya yang menganggap bahwa petunjuk yang cocok baginya ialah yang juga bersifat ilahiah. Dan yang memenuhi kriteria itu ialah orang yang bertakwa. Karena takwa artinya sikap “menegasi” kebergantungan kepada seluruh eksistensi biologis seraya menegaskan eksistensi ruhaniah dan berusaha terus menggapai Puncak-nya melalui هُدًى (ɦudan, petunjuk) yang juga datang dari Puncak.

Kedua, وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى (wa bayyinātin minal-ɦudā, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu). Yang terfahami dari sini, bahwa selain berperan sebagai هُدًى (ɦudan, petunjuk), Alquran juga sekaligus bertugas sebagai penjelasan terhadap هُدًى (ɦudan, petunjuk) tersebut. Sederhananya: “Alquran menjelaskan dirinya sendiri.” Materinya bersifat swadesi; penalarannya bersifat swasembada. Apabila kita mengalami kesulitan memaknai suatu ayat atau suatu kata, maka cara paling baik ialah dengan merujuk kepada ayat-ayat atau kata-kata yang serumpun, yang tema dan subjek bahasannya sama. Cara ini menghindari seminimal mungkin bias dan distorsi akibat masuknya pengaruh hawa nafsu dan subjektivitas pengkaji. Ketiga, وَالْفُرْقَانِ (wal-furqān, dan furqān atau pembeda). Kalau kita simak dengan saksama, Alfurqan (al-furqān) seakan-akan berbeda atau lepas dari kata Alquran. Kata “Alquran” dengan berbagai variannya muncul sebanyak 70 kali, sementara “Alfurqan” dan variannya hanya 7 kali. Alquran hanya dikaitkan dengan Nabi Muhammad saw, sementara Alfurqan juga dikaitkan dengan Taurat dan Injil (3:2-4), (dan juga diturunkan kepada) Nabi Musa as dan Nabi Harun as (21:48). Nama kitab suci bisa berbeda, tetapi sama-sama dikaitkan dengan nama Alfurqan. Nama nabi berbeda, namun mereka sama-sama menerima Alfurqan. Allah juga menyebut hari bertemunya dua pasukan (pasukan kebenaran dan pasukan kebatilan) di medan perang sebagai يَوْمَ الْفُرْقَانِ (yawmal-furqān, hari pembeda). Jika demikian apa gerangan Alfurqan itu? Secara harafiah artinya “pembeda”, yakni pembeda antara yang hak dan yang batil, antara kebaikan dan keburukan, antara agama sejati dan agama palsu, antara Hzbullah dan Hizbussyaithan, antara Khalifah Ilahi dan Khalifah Duniawi. Dan Alfurqan ini hanya diberikan kepada mereka yang mendekati kitab suci dengan jiwa yang berkualitas takwa. “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian ber-takwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqān (jiwa pembeda) dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (8:29)

 

3). Setelah menyebut kata وَالْفُرْقَانِ (wal-furqān, dan furqān atau pembeda) kaitannya dengan Alquran sebagai هُدًى (ɦudan, petunjuk), tiba-tiba Allah memalingkan perhatian kita kembali kepada masalah bulan Ramadlan dan puasa: فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ [faman syaɦida minkumusy-syaɦra falyashumɦu, karena itu barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) bulan (Ramadlan) itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu]. Pesannya jelas; صِيَام (shiyām, puasa) dimaksudkan sebagai wahan untuk mamfasilitasi orang beriman agar menjadikan Alquran sebagai Alfurqan, agar tak sekedar sebagai bacaan belaka yang berhenti di tenggorokan. Bentuk lahir dari صِيَام (shiyām, puasa) ialah “tidak makan tidak minum tidak campur suami-istri”. Bentuk batinya: TAQWA. Sedangkan bentuk lahir dari Alquran ialah “tulisan dan bacaannya”. Bentuk batinnya: FURQAN. Sehingga hanya orang yang mencapai batinnya صِيَام (shiyām, puasa) yang juga dapat mencapai batininya Alquran. Kini kita bisa tentukan bahwa berseteru soal terminologi شَهِدَ (syaɦida, menyaksikan) hilal (awal Ramadlan) hingga membingungkan dan memecah-belah ummat, adalah perdebatan seputar “kulit” seraya mencampakkan “isi”. Jiwa kita kehilangan kacamata FURQAN dalam membedakan kawan dan lawan; kawan kita jadikan musuh dan lawan kita jadikan sahabat. Kita kehilangan rasa malu mempertontonkan aib-aib keummatan kita di depan penganut agama-agama lain. Kita lupa bahwa Ramadlan adalah Bulan Suci, bulan tempat meleburnya seluruh kepentingan hawa nafsu dan subjektivitas (pribadi dan golongan) kita ke dalam Kebesaran Allah swt: “Puasa itu untuk-Ku, maka Akulah yang akan membalasi jazanya”. Kita lupa bahwa tujuan صِيَام (shiyām, puasa) ialah TAKWA. Dan takwalah yang menghasilkan FURQAN. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Nya). Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai; dan ingatlah akan nikmat (agama) Allah kepadamu ketika kalian dahulu (di masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu (dengan Islam), lalu menjadilah kalian, karena nikmat (agama)-Nya orang-orang yang bersaudara; padahal (saat itu) kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kalian mendapat petunjuk.” (3:102-103)

 

4). Kemudian Allah menegaskan kembali bahwa tujuan صِيَام (shiyām, puasa) itu bukan pada aspek “kulit” atau lahirnya. Sehingga manakala pada perakteknya صِيَام (shiyām, puasa) dapat membahayakan tubuh pelakunya atau mengganggu tujuan kehidupan sehari-harinya, maka diharuskan berbuka: وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ [waman kāna marīdlan aw ‘alā safarin fa’iddatun min ayyāmin ukhar, dan barang siapa sakit atau safar (sedang bepergian), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya di hari-hari yang lain]. Kita telah berjumpa anak kalimat ini di ayat sebelumnya (184). Bedanya hanya sedikit. Di penggalan ayat 185 ini tidak ada kata مِنكُمُ (minkum, di antara kalian) yang memisahkan kata كَانَ (kāna) dan مَرِيضاً (marīdlan). Kenapa? Karena kata مِنكُمُ (minkum, di antara kalian) sudah tertera di klausa sebelumnya: فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ [faman syaɦida minkumusy-syaɦra falyashumɦu, karena itu barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) bulan (Ramadlan) itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu]. Itu dari sisi teknis kebahasaan. Lalu apa maksudnya sehingga Allah mengulangi anak kalimat yang jelas-jelas sudah disebutkan di ayat seblumnya? Yang terang, itu pasti bukan karena kurang efektifnya Allah menyusun kalimat—kita berlepas diri dari perbuatan mengalamatkan sifat cacat kepada Allah. Na’udzu billaɦi min dzālik. Pengulangan itu adalah tanda bahwa Allah memberikan perhatian yang besar terhadap urgennya mengecualikan orang sakit dan orang bepergian dari pelaksanaan kewajiban berpuasa. Bahwa puasa tidak dimaksudkan untuk mencederai tubuh dan tujuan hidup manusia. Karena tubuh dan tujuan hidup itu juga Allah yang menciptakannya.  Dan bahwa tujuan puasa bukan pada aspek-aspek lahiriah, aspek-aspek raga dan jasmani. Pengumuman-Nya: يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ (yurīdullaɦu bikumul-yusra wa lā yurīdu bikumul-‘usra, Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran). Tujuan puasa ialah pengendalian diri terhadap hawa nafsu, penaklukan ego dan pemenangan fithrah. Tujuan puasa ialah menumbuh-kembangkan jiwa dan menuntun pelakunya menjadi penghuni surga. “Adapun orang yang melampaui batas (karena memperturutkan hawa nafsunya). Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (79: 37-41)

 

5). Kegelisahan yang cukup banyak berseliweran: Lantas kenapa wanita menstruasi diwajibkan meng-qadla puasanya sementara salatnya tidak? Kenapa perlakuan Tuhan berbeda? Bukankah penyebab dari keduanya (puasa dan salat) tidak tertunaikan adalah sama? Jawabannya, kewajiban salat tidak punya batasan jumlah hari tertentu. Pokoknya sepanjang hayat, sampai kematian menjemput. Kalau tidak bisa berdiri, duduk. Kalau tidak bisa dengan gerakan, dengan isyarat. Pada saat yang sama, masa menstruasi datang setiap bulan, rata-rata sekitar satu minggu. Dapat kita bayangkan betapa terzaliminya wanita melalui kejadian yang bukan kehendaknya andaikata mereka diwajibkan meng-qadla salatnya. Kewajiban puasa hanya sebulan dalam setahun. Ada senjang waktu selama 11 bulan untuk membayar qadla puasanya yang hanya kurang lebih 7 hari. Bahkan seandainya sebulan pun utang puasanya, masih berada dalam ambang toleransi, dibanding dengan lamanya waktu yang tersedia untuk membayar utang. Itu argumen aqlinya. Dalil naqlinya: وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ (wa litukmilūl-‘iddata wa litukabbirūllaɦa ‘alā mā ɦadākum, dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah (pula) kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu).  Karena kewajiban puasa itu selama satu bulan Ramadlan—yang lamanya 29 atau 30 hari—maka perintah وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ (wa litukmilūl-‘iddata, dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya) berlaku pada salah satu dari dua angka tersebut. Maka utang harus dibayar sejumlah hari yang ditinggalkan agar bilangannya kembali bulat (sempurna) menjadi 29 atau 30. Siapa yang tidak melakukan itu, berarti tidak membesarkan Allah tetapi membesarkan hawa nafsunya. Yang bersangkutan telah dikalahkan oleh egonya. Dan orang yang dikuasai egonya tidak akan pernah dapat ber-takbir kepada Allah. Dan siapa yang tidak ber-takbir kepada Allah, berarti tidak mengakui Alquran atau petunjuk-Nya sebagai ajaran yang membebaskan. Pada akhirnya, tidak pantas meneriakkan jargon pembebasan ini: Allahu akbar…Allahu akbar… Allahu akbar…wa lillaɦilhamd. “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.” (7:146)

 

6). Setelah membicarakan hubungan erat antara صِيَام (shiyām, puasa) dan Alquran, bagaimana jalinan keduanya melahirkan FURQAN, serta membebaskan manusia dari kesulitan dengan membesarkan Tuhannya, Allah lalu menutup ayat-Nya dengan penggalan yang menggoda:وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (wa la’allakum tasykurūn, supaya kalian bersyukur). Bersyukur artinya menerima sesuatu beserta nilai-nilai telogis yang melekat padanya. Ini pertanda bahwa puasa dan Alquran adalah dua karunia besar yang Allah berikan kepada manusia; atau semacam uluran tangan Tuhan yang ditawarkan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka mau mengikuti-Nya. Karena hanya dengan mengikuti—petunjuk—Nyalah dan menegasikan selainnya, manuia akan keluar dari lumpur hitam yang selama ini menguasai jiwanya, dan yang menghambatnya mencicipi kebahagiaan sejati. Manusia yang tidak sanggup keluar dari cengkeraman lumpur hitam egonya, juga tidak akan sanggup membebaskan sesamanya dari penjara-penjara kezaliman dan kejahatan. Alquran adalah هُدًى (ɦudan, petunjuk), dan صِيَام (shiyām, puasa) adalah pressure (tekanan) terhadap jiwa untuk mengiktu هُدًى (ɦudan, petunjuk) itu. Kombinasi keduanya inilah yang harus disyukuri. “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab Suci: ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip’. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: ‘Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari-Nya. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia’.” (27:40)

 

7). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

[Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad berkata, aku mendengar Abu Hurairah ra berkata; Nabi saw bersabda, atau katanya, Abu al-Qasim saw telah bersabda: “Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah jumlah bilangan hari bulan Sya’ban menjadi tiga puluh“.] (Shahih Bukhari no. 1776)

 

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ عَنْ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ الْمُغِيرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَقُومُ لِيُصَلِّيَ حَتَّى تَرِمُ قَدَمَاهُ أَوْ سَاقَاهُ فَيُقَالُ لَهُ فَيَقُولُ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

[Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim berkata, telah menceritakan kepada kami Mis’ar dari Ziyad berkata; aku mendengar al-Mughirah ra berkata; “Ketika Nabi saw bangun untuk mendirikan shalat (malam) hingga tampak bengkak pada kaki atau betisnya, Beliau dimintai keterangan tentangnya. Maka Beliau menjawab: ‘Apakah tidak sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?’.”] (Shahih Bukhari no. 1062)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Puasa diwajibkan di bulan Ramadlan karena padanya diturunkan Alquran. Sebagai Kitab Suci, Alquran hanya bisa dijangkau maknanya (baca: disentuh) oleh orang yang suci pula (56:79). Puasa adalah peranti ibadah untuk mensucikan jiwa dari kotoran ego dan subjektivitas (pribadi dan golongan). Maka alangkah pandirnya kita manakala kita mendahulukan ego kelompok seraya mengabaikan kesatuan umat hanya karena cara penentuan awal Ramadlan dan Syawal.

Related Posts

Leave a Reply