Al-Baqarah ayat 184

Category : Al-Baqarah, Tafsir Alquran
Al-Baqarah ayat 184by Muhammad Rusli Malikon.Al-Baqarah ayat 184SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 184   أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ [(Kewajiban berpuasa itu ialah) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kalian sakit atau […]

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 184

 

أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

[(Kewajiban berpuasa itu ialah) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kalian sakit atau safar (bepergian), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya di hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah (pengganti), (yaitu) memberi makan satu orang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kalian mengetahui.]

[(Fasting) for a fixed number of days; but if any of you is ill, or on a journey, the prescribed number (should be made up) from days later. For those who can do it (With hardship), is a ransom, the feeding of one that is indigent. But he that will give more, of his own free will,- it is better for him. And it is better for you that ye fast, if ye only knew.]

 

1). Di ayat 183 disebutkan status hukumnya puasa tetapi tidak disebutkan berapa hari lamanya. Maka di awal ayat 184 ini, Allah memberikan jawabannya: أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ (ayyāman ma’dūdāt, beberapa hari yang tertentu). Kata مَّعْدُودَاتٍ (ma’dūdāt) secara harafiyah sebetulnya artinya “terhitung”. Artinya ke-tertentu-annya itu harus berdasarkan format perhitungan yang bisa dipertanggungjawabkan. Tidak asal-asalan. Alhasil, puasa bukan satu dua hari tapi beberapa hari. Sehingga sangat mungkin ada orang yang, karena satu dan lain hal, tidak sanggup melakukannya. Agama bukanlah keserampangan, namun bukan juga fatalisme. Agama adalah keteraturan. Tetapi agama juga—dalam bingkai keteraturan itu—memberikan fleksibilitas terhadap hal-hal yang dapat dikecualikan dari keadaan-keadaan normal. Agama, secangkih dan selengkap apa pun disain peraturannya, selalu menyediakan emergency exit (pintu darurat). Hanya saja, yang namanya emergency exit, nanti sah (secara hukum) digunakan manakala situasinya benar-benar berada dalam keadaan emergency (darurat). Menggunakan emergency exit dalam keadaan normal justru merupakan sebuah pelanggaran. Dan yang berhak menentukan keadaan emergency itu ialah agama itu juga, demi menghindari masuknya pengaruh hawa nafsu (subjektivitas) pribadi. “Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.” (23:62)

 

2). Dalam hal puasa, pintu darurat itu ialah, pertama: فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ [faman kāna minkum marīdlan aw ‘alā safarin fa’iddatun min ayyāmin ukhar, maka barang siapa di antara kalian sakit atau safar (sedang bepergian), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya di hari-hari yang lain]. Di sini disebutkan dua hal yang bisa menjadi penyebab seseorang berbuka: مَرِيضاً (marīdlan, sakit) dan عَلَى سَفَرٍ (‘alā safarin, sedang bepergian). Tapi tolong perhatikan, di dalam ayat tidak menggunakan kata sambung وَ (wa, dan), melainkan أَوْ (aw, atau); artinya tidak harus berkumpul keduanya baru berlaku keizinan untuk berbuka. Salah satu dari keduanya sudah bisa menjadi alasan untuk berbuka. Yang disebut مَرِيض (marīdl, sakit) ialah seseorang yang kondisi kesehatannya keluar dari keadaan normal (atau seperti biasanya) sehingga menyebabkannya tidak sanggup berpuasa, atau kalau berpuasa dapat memperburuk keadaannya atau memperlambat kesembuhannya. Alasan syar’i-nya, sakit itu berbahaya dan sesuatu yang membahayakan manusia diharamkan. Tapi perlu diketahui bahwa lemah tidaklah menjadi sebab dibolehkannya berbuka, selama kelemahan itu sudah biasa bagi dirinya, karena yang menjadi sebab diharuskan berbuka adalah sakit itu sendiri, bukan kelemahan, keletihan dan kelelahan.

Sementara yang disebut سَفَر (safar, bepergian)—orangnya disebut musafir—ialah perbuatan bepergian yang dilakukan seseorang dengan tujuan yang dibenarkan syariat, melampaui radius kegiatan sehari-harinya atau daerah tempat tinggalnya atau batas wilayahnya, hingga pada jarak tertentu yang jarak itu juga menjadi sebab di-qashar-nya salat. Orang yang memenuhi kategori مَرِيض (marīdl, sakit) atau سَفَر (safar, bepergian) ini, maka harus (ada yang mengatakan boleh) berbuka; dengan catatan: فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ [fa’iddatun min ayyāmin ukhar, maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya di hari-hari yang lain]. Mengganti puasa sejumlah hari yang ditinggalkan itu, dalam Ilmu Fiqih, disebut qadla. Lamanya waktu untuk menunaikan qadla puasa ini membentang di sepanjang 11 bulan antara bulan Syawal dan Sya’ban, atau hingga sebelum memasuki bulan Ramadlan tahun berikutnya, tentu saja selain hari-hari yang diharamakan berpuasa padanya (Idul Fithri, Idul Adha, dan hari-hari tasyrik: 11, 12, dan 13 Zulhijjah). “(Demikianlah keadaan orang-orang yang ingkar itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal saleh yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan (penyesalan) yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan’.” (23:99-100)

 

3). Pintu darurat kedua: وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ [wa ‘ala-lladzīna yuthīqūnaɦu fidyatun tha’āmu miskīn, dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah (pengganti), (yaitu) memberi makan satu orang miskin]. Az-Zamakhsyarī dalam Tafsir al-Kasyāf-nya mengatakan bahwa salah satu makna dari kata يُطِيقُونَهُ (yuthīqūnaɦu) ialah يكلفونه (yukallafūnaɦu) yang artinya “terbebani” atau “kesulitan” baginya untuk berpuasa. Termasuk tidak sanggup lagi membayar qadla puasanya di sepanjang masa yang tersedia. Maka yang umumnya masuk dalam kategori ini ialah manula (orang yang sudah sangat tua sehingga secara fisik, walaupun sepintas kelihatan sehat, tidak memungkinkan lagi untuk berpuasa), wanita hamil, dan ibu menyusui. Orang yang سَفَر (safar, bepergian) sudah pasti tidak masuk dalam kategori ini. Tetapi orang yang مَرِيض (marīdl, sakit) masih ada kemungkinan masuk; yaitu jikalau penyakitnya bersifat menahun dan tidak ada peluang baginya untuk meng-qadla puasa yang ditinggalkan. Kepada mereka semua ini, yang wajib baginya ialah فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ (fidyatun tha’āmu miskīn, membayar fidyah dengan memberi makan satu orang miskin).  Fidyah ialah semacam pengganti atau tebusan puasa yang dikonversi ke dalam bentuk makanan setara satu hari makan per satu hari puasa yang ditinggalkan. Adapun takarannya, disesuaikan dengan nilai makanan yang dikonsumsi. Pertanyaannya sekarang, masuk kategori yang manakah wanita menstruasi? Oleh hukum, wanita yang datang bulan diperlakukan sebagai orang yang مَرِيض (marīdl, sakit), sehingga yang wajib baginya ialah qadla dan bukan (atau tanpa) fidyah. Berapakah jarak perjalanan untuk disebut safar? Apakah semua wanita hamil dan menyusui mutlak berbuka dan lalu membayar fidyah? Adakah pihak yang harus membayar qadla dan fidyah sekaligus? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan semacamnya, silahkan merujuk kepada buku-buku fiqih mazhabnya masing-masing!!! “Maka pada hari ini tidak diterima fidyah (tebusan) dari kalian dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kalian ialah neraka. Itulah tempat berlindungmu. Dan itu adalah sejahat-jahat tempat kembali.” (57:15)

 

4). Segala sesuatu yang telah Allah wajibkan, bisa diyakini, pasti خَيْرٌ (khair, baik). Karena tidak mungkin Allah mewajibkan sesuatu kalau itu شَرٌّ (syarr, buruk). Maka semua bentuk peribadatan yang telah Allah tetapkan bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun sampai ada dalil khusus yang melarangnya. Hanya saja, ibadah-ibadah yang tak lagi berkategori wajib, kedudukannya menjadi sunat, yang dalam istilah lainnya disebut تَطَوّع (tathawwu’). Kendati sunat (sukarela) tetapi berketetapan hati melaksanakan ibadah-ibadah seperti itu termasuk mustahab (amalan terpuji). Sehingga dikenallah adanya salat sunat, sedekah sunat, haji sunat, dan sebagainya. Hal yang sama terjadi pada puasa. Paling tidak, puasa wajib ada empat jenisnya: puasa ramadhan, puasa qadla, puasa kifarat, dan puasa nazar. Puasa yang dilakukan di luar itu disebut puasa sunat. Puasa (sunat) boleh dilakukan kapanpun dan dimanapun selama tidak di hari-hari yang memang ada dalil khusus mengharamkan berpuasa padanya, atau sepanjang tahun, atau menyebabkan pelanggaran atas kewajiban-kewajibannya yang lain. Dalam kaitan inilah Allah memaklumatkan: فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ (faman tathawwa’a khairan faɦuwa khairun laɦu, barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya). Di ayat 158 yang berbicara tentang haji dan umrah, penggalan ayatnya berbunyi seperti ini: وَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ (wa man tathawwa’a khairan fa innallāɦa syākirun ‘alĭm, dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Menerima kebaikan, Maha Mengetahui). Jadi sesuatu yang berkategori خَيْرٌ (khair, baik) jika dilakukan dengan تَطَوّع (tathawwu’, secara sukarela) Allah niscaya akan menerima dan mencatatnya berdasarkan ilmu-Nya. Tidak ada kebaikan manapun yang akan menguap begitu saja. “Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: ‘Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hati kalian, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampunimu’. Dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (8:70)

 

5). Maka Allah kembali menegaskan: وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ (wa an tashūmū khairun lakum in kuntum ta’lamūn, dan berpuasa lebih baik bagimu jika kalian mengetahui). Ini semacam pengulangan—untuk memberikan penekanan—bahwa puasa itu akan selalu mendatangkan kebaikan, bagi kesehatan jasmani dan bagi kesehatan ruhani. Dari sisi jasmani puasa adalah detoksifikasi dan normalisasi kadar unsur-unsur di dalam tubuh (seperti kolestrol, gula darah, trigliserida, asam urat, dan sebagainya) yang kalau keseimbangannya terganggu akan menyebabkan penyakit. Dari sisi ruhani, selain negasi yang telah diuraikan di ayat 183, juga mempertajam kesadaran sosiologis (rasa kebersamaan) dan eskatologis (nasib di akhirat). Dengan berpuasa, dengan lapar dan haus, kita bisa merasakan nafas kehidupan orang-orang yang hidupnya kurang beruntung, sehingga diharapkan melahirkan sikap simpati dan empati kepada nasib mereka. Dengan menahan lapar dan haus, kita bisa membayangkan bagaimana beratnya kelak penderitaan akhirat, terutama kalau tidak memiliki bekal yang cukup. Bagi hamba-hamba Allah yang sejati, inilah yang selalu menghiasi doa-doanya di malam-malam yang penuh tangis. “Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab (neraka) Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal’. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (25:65-66)

 

6). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ جَمِيعًا عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْحَسَنِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَرَأَى رَجُلًا قَدْ اجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ وَقَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ مَا لَهُ قَالُوا رَجُلٌ صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ أَنْ تَصُومُوا فِي السَّفَرِ

[Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammad bin al-Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar semuanya dari Muhammad bin Ja’far–Abu Bakar berkata—telah menceritakan kepada kami Ghundar dari Syu’bah dari Muhammad bin Abdurrahman bin Sa’d dari Muhammad bin Amru bin al-Hasan dari Jabir bin Abdullah ra(ma), ia berkata; Suatu ketika Rasulullah saw berada dalam suatu perjalanan, lalu beliau melihat seorang laki-laki dikerumuni oleh orang banyak dan dibawa ke tempat yang teduh. Beliau bertanya, “Mengapa dia?” mereka menjawab, “Ia sedang berpuasa.” Maka Rasulullah saw pun bersabda: “Bukanlah termasuk kebaikan, jika kalian berpuasa saat dalam perjalanan.”] (Shahih Muslim no. 1879)

 

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ قَالَ أَنْبَأَنَا وَرْقَاءُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ { وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ } يُطِيقُونَهُ يُكَلَّفُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ وَاحِدٍ { فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا } طَعَامُ مِسْكِينٍ آخَرَ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ { فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ } لَا يُرَخَّصُ فِي هَذَا إِلَّا لِلَّذِي لَا يُطِيقُ الصِّيَامَ أَوْ مَرِيضٍ لَا يُشْفَى

[Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid dia berkata; telah memberitakan kepada kami Warqa’ dari Amr bin Dinar dari Atha dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Azza wa Jalla: “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” Berat menjalankannya artinya: dibebani membayar fidyah, memberi makan satu orang miskin.”Barangsiapa yang dengan kerelaan mengerjakan kebajikan.” (Dengan) memberi makan seorang miskin yang lain, bukanlah ayat yang mansukh, “tapi itulah yang baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu” dalam hal ini tidak diberikan keringanan kecuali bagi orang yang tidak mampu berpuasa atau sakit yang tidak diharapkan sembuhnya.”] (Sunan Nasa’i no. 2278)

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُغِيرَةَ قَالَ سَمِعْتُ مُجَاهِدًا عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صُمْ مِنْ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ قَالَ أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَمَا زَالَ حَتَّى قَالَ صُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا فَقَالَ اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ قَالَ إِنِّي أُطِيقُ أَكْثَرَ فَمَا زَالَ حَتَّى قَالَ فِي ثَلَاثٍ

[Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Ghundar telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Mughirah berkata, aku mendengar Mujahid dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra(ma) dari Nabi saw berkata: “Puasalah dalam sebulan sebanyak tiga hari“. Dia berkata: “Aku sanggup yang lebih banyak dari itu“. Dia terus saja mengatakan kemampuanya itu hingga akhirnya Beliau berkata: “Kalau begitu berpuasalah sehari dan berbuka sehari“. Beliau juga berkata, kepadanya: “Bacalah (khatam) Alqur’an dalam sebulan“. Dia berkata: “Aku sanggup yang lebih banyak dari itu“. Dia terus saja mengatakan kemampuannya itu hingga akhirnya Beliau bersabda: “Kalau begitu kamu khatamkan dalam tiga hari“.] (Shahih Bukhari no. 1842)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Agama adalah wahana untuk mengalahkan hawa nafsu. Apabila seseorang memaksakan diri melakukan suatu ibadah yang oleh Pembuat Syariat telah diberi lampu hijau untuk meninggalkannya, maka cara beragamanya justru memperturutkan hawa nafsu. Orang seperti itu tidak akan mendapatkan apa-apa selain dari semakin berbangga diri dengan banyaknya ibadahnya. Ternyata, dalam pelaksanaan ibadah pun perlu banyak introspeksi diri.

Related Posts

Leave a Reply